
Ardan dan Neha kini berbulan madu Bulan ke New York. Ini adalah pertama kalinya Ardan menginjakkan kaki lagi ke New York setelah menikah dengan Neha. Sebelumnya saat masih bersama Laras.
Mereka di sambut Siena dan Nathan serta kedua adiknya, Joshua dan Naina. Mereka lebih dulu terbang ke New York setelah acara pesta pernikahan Ardan dan Neha seminggu yang lalu. Mereka tidak bisa berlama-lama, Karena sang adik sekolah. Ardan dan Neha di sambut di apartemen yang nantinya mereka tinggali untuk bulan madu.
'Dor' Suara letusan balon
"Selamat datang pengantin baru!" seru Nathan dan Siena bersamaan saat Ardan dan Neha membuka pintu.
"Allah huAkbar!" Ardan terkejut dan memegang dadanya, sedangkan Neha memejamkan Mata. Nathan dan Siena serta kedua adik Neha tertawa melihat ekspresi mereka berdua. Tidak terima dengan Nathan. Ardan pun mengejarnya sampai masuk ke dalam apartemen.
"Brengsek kau Nath!” umpatnya, sembari memukul lengan Nathan, Nathan terus menghindar, Namun Ardan terus mengejarnya. setelah itu Ardan merangkul leher Nathan dan mengguncangkannya sementara Nathan hanya tertawa.
"Sudah Mas!" lerai Neha. Ardan melepaskan Nathan lalu keduanya tertawa dan sekilas berpelukan.
"Jojo, Naina. Tolong bawakan koper kakak kalian ke kamar, sayang!" titah siena pada kedua anaknya. Naina dan jojo mengangguk dan membawa koper sang kakak ke kamarnya. Kemudian Siena dan Neha menghampiri suami masing masing, siena mengusap punggung suaminya dan tersenyum agar menyudahi tawanya. sedangkan Neha memberikan minum pada Ardan.
"Bagaimana perjalanan kalian?" tanya Siena.
"Melelahkan. Aku ngantuk Ma,” jawab Neha yang langsung berbaring di pangkuan Ardan, mereka berdua memang benar-benar sangat kelelahan, tampak jelas dari raut wajah mereka.
Tak lama jojo keluar bersama Naina. Mereka bergabung di antara mereka, Neha tersenyum melihat adiknya sudah tumbuh dewasa jojo yang kini berusia 18 tahun pun, tampak tampan dan gagah seperti sang papa waktu muda, dan Naina sangat mirip dirinya waktu remaja.
"Jo bagaimana kuliahmu," tanya Neha.
"Lancar kak, aku masuk lewat jalur prestasi dan diterima di fakultas kedokteran," jawab Jojo penuh semangat. cita citanya ingin menjadi seorang dokter jantung dan ia ingin seperti banyu dan Bayu.
"Eum ... bagus! Kamu Naina?"
”Lancar kak. Tapi sebenarnya aku lebih suka sekolah di Indonesia. Kalau istirahat ada bakso. Disini mana ada!"
"Kamu bisa datang ke restoran Asia yang ada di sini, di sana bukannya ada bakso?"
"Rasanya beda!" Neha hanya tertawa melihat sang adik yang cemberut hanya karena menginginkan bakso.
__ADS_1
"Besok kakak buatkan, kakak sudah membawa bahannya tinggal membeli dagingnya saja, besok kamu yang beli dagingnya di supermarket, ya!"
"Baik kak, Besok Naina bantu!" balas Naina penuh semangat.
Neha begitu menyayangi adik-adiknya. Sisi keibuannya tumbuh alami seperti Siena, Siena ternyata berhasil mendidik anak tirinya itu tumbuh menjadi wanita yang bijak, penuh kasih, sabar, lemah lembut, sedikit manja serta memiliki sifat tegas dan adil.
Ardan sangat bersyukur memiliki Neha. Mungkin Neha adalah hadiah dari Tuhan. Berkat kesabarannya dan keikhlasannya selama ini yang memang ia patut mendapatkan semuanya.
Waktu terus berjalan Siena dan Nathan, serta anak-anak mereka. memilih untuk pulang ke apartemen mereka sendiri. Sebelum pulang Siena memberikan kado pernikahan mereka berupa kunci hotel.
“Neha. Ini kunci hotel dan ini kunci mobil untuk akomodasi kalian selama disini. Selamat bersenang-senang."
"Teima kasih, Ma.” balas Neha sekilas memeluk Siena lalu memeluk Nathan sekilas.
"Uang bensin mana?" canda Ardan seraya berkacak pinggang.
"Tidak ada!" ketus Nathan yang tentunya di buat-buat.
"Jangan pelit sama menantu sendiri.”
"Kapan lagi ngerapok mertua! Sini!” Ardan memainkan jemarinya meminta uang pada Nathan.
"Dasar menantu kurang ajar." Nathan menendang kaki Ardan. Ardan hanya tertawa seraya menepis kaki Nathan.
"Ayolah Nath, Mana uang bensinnya, Aku kan anak mantu!" Goda Ardan lagi. Nathan pun mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang seratus dolar lalu memberikannya pada Ardan dengan cara menempelkan di dahinya.
"Ni...!”
"Aduh! Seratus dolar? kurang Nath!” protes Ardan bercanda.
"Cukup! Bisa sampai full dan itu masih ada kembaliannya!" jawab Nathan lalu meraih pinggang sang istri dan keluar dari apartemen.
“Lama-lama di sini bisa bangkrut!" cicit Nathan sebelum benar-benar keluar pintu.
__ADS_1
Neha masih terkekeh melihat suami dan papanya. Mereka tidak pernah akur jika sedang bersama dan itu justru yang membuat persahabatan mereka awet sampai saat ini.
"Aduh! perutku sakit Mas!" ujar Neha sambil memegang perutnya dan masih tertawa.
"Ya begitulah, Papamu!" balas Ardan tertawa kecil sambil menutup pintu apartemen.
Ardan berjalan mendekati Neha lalu meraih pinggangnya. Melihat wanita yang belum sudah. satu bulan ini menjadi istrinya. Ardan melihat lekat sorot mata sang istri lalu ia memeluknya dengan erat, seolah takut kehilangan. Kali ini, ia tidak akan membiarkan satu orang pun yang mengambil dan mengusik kebahagiaannya.
"Stay with me forever!" lirih Ardan.
"Don't worry! I will always be with you!" balas Neha seraya menyatukan keningnya. Neha tahu bagaimana Ardan. Laki-laki dewasa yang mempunyai segudang cinta dan kesabaran.
"Promise!”
"Yes, I'm promise!"
Rasa takut kehilangan yang di rasakan Ardan, menandakan ia benar-benar tulus menyayangi Neha. Rasa takut yang paling Ardan takutkan adalah takut kehilangan pasangannya kembali. Neha merasakan rasa hal itu. Rasa dimana ia juga pernah merasakannya. Hanya saja cara kehilangan mereka berbeda.
Pagi harinya Adik Adik Neha datang dan membawakan daging ayam yang sudah di giling. Neha pun sudah mempersiapkan semuanya. kuah Dan bahan lainnya sudah matang dan siap di sajikan. Tinggal membuat baksonya saja. Sementara itu Siena dan Nathan sedang ada urusan pekerjaan, otomatis belum bisa datang ke apartemen.
Mereka bertiga memasak bersama- sama membuat bakso. Di selingi canda tawa ketiganya. Ardan tersenyum melihat Sang istri yang begitu akrab dengan adik adiknya. Ia pun teringat sang Anak Devan dan Arsy. Mungkin mereka sudah tidur, karena perbedaan waktu yang sangat jauh. Ardan mengurungkan waktu sejenak untuk tidak menganggu istirahat sang anak.
"Ye...! Akhirnya aku bisa membuat Bakso!” seru Naina penuh semangat.
"Tapi bentuknya gak beraturan!" ejek Jojo lalu tertawa.
"Terserah! Yang penting kalau aku mau bakso, aku tinggal membuatnya sendiri. Dan kakak! Awas saja kalau minta!” Ancam Naina, seraya mengacungkan sendok ke arah Jojo.
"Pasti rasanya Asin," balasnya tertawa.
"Sudah ... ayo makan baksonya, ini sudah selesai!" lerai Neha seraya menyiapkan baksonya di meja makan .
"Mas ... ayo!” Ajaknya.
__ADS_1
Ardan bangkit dari duduknya dan bergabung di meja makan.