
Sesampainya di rumah Ardan dan Neha serta anak-anak masuk ke kamar masing-masing dan menganti bajunya.
"Neha!'' panggil Ardan
"Ya Mas.”
Ardan menghampiri Neha yang sedang duduk di atas tempat tidur. Neha meletakkan ponsel di meja Nakas. Ardan berdiri di hadapan Neha lalu berlutut di hadapannya. Ardan meraih jemari Neha dan menciumi punggung tangannya Beberapa kali.
"Aku sudah tua, kenapa kamu mau dengan ku?''
''Aku juga tidak tahu Kenapa, Mas. Yang jelas Aku nyaman saat di dekat kamu, Mas!"
Ardan tersenyum membayangkan jika dirinya pergi lebih dulu atau justru sebaliknya. jika ia lebih dulu pergi itu artinya, ia akan sangat merepotkan Neha dan memberikan beban anak-anak padanya. Sedangkan jika Neha lebih dulu. Ia pasti akan sangat kesepian dan rasa kehilangan untuk kesekian kalinya. Ardan berfikir seperti itu bukan tanpa alasan. Karena pada dasarnya usia, jodoh maut adalah rahasia dan takdir Tuhan.
"Kalau Mas pergi lebih dulu. Mas titip anak-anak padamu ya. Dan maaf kalau nanti merepotkanmu, '' ucap Ardan menatap lekat Neha. Neha menggeleng lalu memeluknya.
"Apa yang mas ucapkan! Pernikahan kita baru satu bulan lebih. Tidak mas. Mas tidak boleh pergi dariku dan anak-anak. Aku akan menemani masa tua Mas, jika anak-anak kita sudah menemukan kehidupannya masing-masing.” balas Neha di sela Isak tangisnya.Neha menakup wajah Ardan dan menatapnya.
“Mas tanya kenapa aku milih Mas yang udah tua. sebentar lagi juga sudah tidak menarik. untuk apa aku milih pria sepertimu, Mas. kalau hanya harta. Aku bukan wanita yang gila harta, aku tidak pernah kekurangan dari sejak aku lahir. Aku milih Mas, karena aku memang cinta sama Mas. Aku kenal Mas dari kecil, aku tahu Mas seperti apa dan itu yang membuat aku jatuh hati sama kamu, Mas. Tapi Kalau aku duluan yang pergi, aku tidak akan mengizinkan Mas nikah lagi!”
''Kenapa?” tanya Ardan menyatukan keningnya.
"Mas sudah tua dan aku istri terakhir kamu, Mas!"' jawab Neha lalu kedua tertawa sambil menangis.
''Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, Mas. Aku tahu usia tidak ada yang tahu. Tapi setidaknya kita akan membuktikan sampai akhir Usia kita masing-masing. Aku ada di samping mu saat kamu pergi dan kamu ada di samping ku saat aku pergi.”
''Neha," lirih Ardan.
''Mas,"
Mereka pun saling berpelukan tidak ingin berpisah. Andai saja waktu bisa di putar kembali. Neha ingin lahir lebih dulu dari pada Laras. Bertemu Ardan lebih dulu, setidaknya seumuran dengannya. mungkin mereka sudah menua bersama.
Ardan melepaskan pelukannya lalu melihat Neha, menghapus air matanya. Neha perlahan mendarat bibirnya mencium bibir suaminya. Perlahan tapi pasti mereka saling memberikan sentuhan demi sentuhan dan berakhir panas di atas ranjang.
__ADS_1
Malam ini sangat berbeda dari malam sebelumnya. Mereka Melakukannya dengan lembut penuh cinta di balut hasrat masing masing. Mereka lebih sering berkontak mata, sorot mata yang saling membutuhkan, saling takut kehilangan.
***
Pagi hari mereka sudah menjalankan aktivitas seperti biasanya. Pergi ke sekolah. Ardan dan Neha bejalan bersama menelusuri lorong Sekolah. Arsy dan Devan sudah lebih dulu masuk ke dalam kelasnya masing-masing.
"Mas ... aku masuk ya!" pamit Neha saat di depan ruangan guru.
"Iya." Neha menyalami Ardan lalu Ardan sekilas mencium kening Neha.
"Cie...!" goda salah satu guru yang melihat Ardan mencium kening Neha. Ardan hanya tersenyum lalu berlalu meninggalkan Neha di depan pintu ruang guru. sedangkan Neha wajahnya sudah bersemu merah lalu masuk dan menutup wajahnya dengan buku yang ia bawa.
"Pak Ardan romantis ya, Bu!" bisik Fatma yang duduk di dekat Neha, Neha hanya tersenyum dengan wajah bersemu merah.
"Bu Fatma bisa saja. Namanya suami sama istrinya, ya ... pasti romantis, Bu. Ah sudah yuk, ke kelas." Neha berdiri dan menahan malu pada guru lainnya.
Neha berjalan menelusuri lorong sekolah bersama Fatma serta Nurul menuju kelas TK. Dengan senyum bahagianya ia membalas sapaan siswa yang menyapanya. Ardan tersenyum di balik jendela ruangaannya saat melihat Neha berjalan menuju kelas TK.
"Neha Adam ... sial Nath! Anakmu memang menggoda imanku!" batinnya, mengusap kasar wajahnya mengurangi rasa gemasnya pada istrinya.
Semua murid mengikuti pelajaran masing-masing. Johan yang saat ini sedang mengajar di lapangan di kelas Amara dan Arsy. Johan sedangkan memberikan arahan bagaimana memasukkan bola basket ke dalam ring yang benar.
“Ayo Arsy coba kamu!" panggil Johan. Arsy berjalan menghampiri Johan.
“Arsy pasti bisa pak! Papa saya aja jago.” Arsy seolah mengingatkan Johan dengan kekalahannya saat melawan Ardan.
“Iya, Bapak tahu. Ayo coba.”
Arsy mulai mengambil sikap kemudian fokus melihat ring. Arsy mengarahkan bola dan Akhirnya mendarat dengan mulus. Semua bertepuk tangan.
“Keren!” seru Arsy dengan bangga pada dirinya sendiri dan membuat teman temannya tertawa.
“Begitu, Bagus!" seru Johan.
__ADS_1
“Ayo Amara!" panggil Johan.
“Pak saya gak begitu bisa." cicit Amara sambil menerima lemparan bola dari Johan.
“Dicoba dulu. Kayak yang Bapak kasih contoh tadi. Ayo pasti bisa.”
Amara mencoba mengambil sikap kemudian matanya fokus dan mendengarkan arahan Johan. Tetapi arahan Bola Amara gagal masuk kedalam ring, membuat Amara kesal sendiri.
“Ang... gak bisa pak!"
“Ayo coba. Daniel Ambil bolanya!" titah Johan pada salah satu murid lainnya. Daniel mengambilkan dan melemparnya ke arah Amara.
Amara mencoba kembali. kali ini Johan membimbingnya sambil memegang tangan Amara. Sekilas Amara melihat wajah Johan dari dekat. Bukannya memperhatikan arahan Johan, Amara justru tersenyum melihat wajah tampannya dari dekat.
“Amara," Bisik Johan menyadari Amara tidak berkonsentrasi.
“Ang ... iya pak! ” Amara mulai fokus melihat ring.
“Fokus ya. Jangan fokus lihat wajah tampan Bapak!" Canda Johan membuat Amara menolah kearah Johan dan malah tidak sengaja bibir Amara mendarat di pipi Johan.
Teman-temannya hanya bisa melongo melihat kejadian yang tidak sengaja tersebut. Namun Johan hanya bersikap biasa. Tetapi Amara merasa malu dan langsung buru-buru mengalikan pandangannya dan mencoba konsentrasi ke arah ring. Dan Akhirnya bola itu pun masuk kedalam ring.
“Hu!!" Seru Johan senang, Amara hanya tersenyum malu dan langsung berlari bergabung dengan Arsy.
Amara duduk di samping Arsy. Arsy pun meledeknya. Karena tidak sengaja mencium pipi Johan.
“Cie...! Aku bilangin sama Kak Devan!"
“Arsy apaan sih! Kan gak sengaja! Jangan gitu nanti aku di tuduh yang gak-gak sama pacar pak Johan Gimana!"
“Iya, ya. Dengar-dengar pak Johan lagi berusaha deketin bu fatma.”
“Masak?" tanya salah satu teman dekat Arsy dan Amara
__ADS_1
“Gosipnya kayak gitu!”
“Oh...!" Amara dan Arsy hanya ber Oh ria. Amara sekilas mencuri pandang Johan yang sedang mengarahkan murid lainnya lalu tersenyum dalam hati.