
"Mas ... biar aku aja yang susun belanjaannya. Mas istirahat aja," ucap Neha saat sampai rumah.
"Tidak apa-apa. Mas bantu ya!"
“Ya sudah. Aku buatkan jus dulu ya.” Neha mulai membuatkan jus Alpukat. Hanya butuh beberapa menit jus alpukat sudah berpinda di gelas.
"Mas ... ini jusny.” Neha memberikan segelas jus Alpukat di depan Ardan. Ardan tersenyum sambil meraih pinggang sang istri dan mendudukkannya dipangkuannya.
“Aku mau masak buat anak-anak dulu, Mas!"
"30 menit aja cukup,” bisik Ardan penuh arti. Neha tertawa kecil lalu mengangguk tanda menuruti keinginan suaminya. Tanpa pikir panjang Ardan kemudian membopong Neha ke kamar dan meninggalkan jus alpukatnya begitu saja. sang bibi yang melihat Ardan dan Neha hanya tersenyum. Mengetahui sang majikan sedang ingin bercinta dengan istrinya.
Sesampainya di kamar. Mereka berciuman dengan panas di atas tempat tidur. Menuruti bahasa tubuh masing-masing. Neha pikir sang suami sedang mengalami puber keduavatau entah yang ke berapa. Melihat Ardan yang begitu bersemangat saat bercinta membuat dirinya harus bisa mengimbanginya.
Ardan juga tidak tahu mengapa dirinya saat ini begitu bergairah dan selalu mesum saat melihat sang istri. Hingga ia lupa jika usianya sudah tidak muda lagi.
Setelah selesai bercinta Ardan melihat Neha. Keduanya tersenyum mengekpresikan rasa bahagia mereka.
"Terima kasih sayang'' ucap Ardan, seraya mengusap lembut pipi Neha dengan ibu jarinya.
"Sudah kewajibanku, Mas. Kapanpun Mas minta aku bersedia."
Tidak dapat di pungkiri. Keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Dunia terasa milik mereka berdua. Mereka tidak sadar sudah tertidur 2 jam dan melupakan makan siang.
Neha terbangun lalu Melihat jam dinding. Ia buru-buru mengenakan kemeja milik sang suami. Ardan juga terbangun saat mendengar langkah kaki Neha yang buru-buru masuk kamar mandi. dan tak lama Neha keluar dengan Masih menggunakan kemeja Ardan seraya menjepit rambutnya asal.
"Mas! Aku mau masak. Anak-anak pasti sudah pulang!" ucap Neha melangkah keluar.
"Percuma sayang. Mereka belum pulang les!" balas Ardan seraya mengenakan celana pendeknya. langkah Neha terhenti lalu membalikkan badannya kemudian melihat jam dinding.
“Astaga! kenapa aku lupa!" Neha menepuk keningnya sendiri.
__ADS_1
"Ya sudah. Aku masak untuk kita berdua. Aku lapar, Mas.” Ardan meraih pinggang Neha. lalu tersenyum dan memandangi wajah Neha.
"Belum kenyang udah makan sosisku spesial pakai telor!" Neha tertawa. Mengerti yang di maksud suaminya.
"Sosisnya ini ... bisa buat aku kenyang 9 bulan!” Keduanya terkekeh kemudian mereka keluar kamar.
Neha memasak sekaligus untuk makan malam, agar nanti saat anak-anak pulang les bisa langsung makan. Tak lupa ia membuatkan puding kesukaan Devan dan Arsy. Tentunya ia juga membuat puding untuk sang suami dengan gula rendah kalori.
Ardan tersenyum melihat Neha yang sedang memasak. Neha masih menggunakan kemeja miliknya dan itu terlihat seksi di matanya. Bagaimana Ardan tidak bahagi. Di masa tuanya ada gadis cantik dengan suka rela menawarkan cinta dan menemaninya di sisa usianya. Tentu saja Ardan tidak menolak dan menyambut dengan tangan dan hati terbuka.
Disisi lain di tempat les di salah satu bimbingan belajar. Devan, Amara, Arsy dan Daren, serta banyak murid lainnya. Mereka sedang istirahat. Sebagian ada yang pergi ke kantin ada pula berada di lorong depan kelas masing masing dan juga ada yang menetep di dalam kelas. Daren yang usianya kini memasuki 17 tahun, Devan 16 tahun, Arsy 14 tahun dan Amara 15 tahun. Mereka sudah mulai ada rasa ketertarikan pada lawan jenis, rasa jatuh cinta untuk pertama kalinya. Banyak orang mengatakan itu adalah cinta monyet.
Amara duduk termenung membayangkan wajah guru olahraganya, yang beberapa kali sudah menolongnya. Amara tersenyum membayangkan wajah yang tadi pagi ia cium dengan tidak sengaja.
Daren yang menaruh hati pada Arsy hanya bisa melihatnya dari kejauhan dan itu sudah membuatnya senang. Bak gayung bersambut, Arsy juga merasakan hal yang sama. Namun, keduanya belum menyatakan perasaan masing-masing begitu juga Devan yang menaruh rasa pada Amara. Devan Hanya bisa mencuri-curi pandang.
Arsy sedang berjalan di lorong di depan kelas Daren dan melewati Daren yang sedang berdiri bersama teman lesnya. kali ini Daren memberanikan diri untuk berbicara dengan Arsy.
"I ... iya!" Daren menghampiri
"Bisa bicara sebentar?"
"Eum.. boleh." jawabnya lembut. Daren melihat teman-temannya. Mereka hanya mengacungkan jempol. Kemudian Daren menarik lembut Arsy agar menjauh dari teman-temannya. Daren membawa Arsy ke taman dan duduk berdampingan.
"Ini untuk mu," ucap Daren sambil memberikan coklat pada Arsy. Daren tahu Arsy sangat menyukai coklat.
"Terima kasih, kak!" balas Arsy malu-malu.
"Kakak suka sama kamu!" ucap Daren tiba-tiba tanpa basa-basi membuat Arsy terkejut dan terperangah melihat Daren. pasalnya Daren begitu Daren terkenal dingin dan hanya hangat dengan sahabatnya dan tidak suka basa basi. Persis seperti Martin.
" Mau jadi pacar kakak?" ucap Daren melihat Arsy yang Masih terperangah melihatnya.
__ADS_1
"Arsy!”
"Ah... eng..., tapi kita masih sekolah kak," jawab Arsy Asal, karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Iya kakak tahu!"
"Arsy takut sama papa!" Daren tersenyum mendengar jawaban Arsy.
"Baiklah, cukup kamu tahu kakak menyukaimu, dan tunggu kakak sampai kakak dewasa!dan sukses. kakak akan datang melamarmu!" ucap Daren sambil mengusap lembut rambut Arsy. Ucapan Daren yang tanpa basa basi membuat Arsy berfikir keras.
Daren kemudian meninggalkan Arsy di taman, ia menuju kelasnya, ia lega setelah menyatakan perasaannya. Arsy masih duduk termenung memikirkan ucapan Daren.
"Apa itu artinya dia kak melamarku? Ais.. uang jajan saja masih di jatah om Martin, ini sudah berani melamar. Ah... kak Daren hanya bercanda!" batinnya kemudian ia pun masuk ke kelasnya.
Arsy tidak tahu ucapan Daren suatu saat akan ia buktikan. Hanya saja menunggu waktu. Bagi Daren laki- laki yang baik adalah laki- laki yang ang bisa memegang ucapannya.
Tidak terasa jam pulang tiba Arsy dan Devan pulang bersama dan di jemput sang sopir sedangkan Amara dan Daren, mereka pulang bersama dengan mengendarai motor. Di tengah perjalanan Daren mengajak Amara singgah ke toko buku.
Daren dan Amara menyusuri rak buku di bagian terpisah. Amara tersenyum kala melihat buku-buku yang tersusun rapi di raknya. kemudian ia mengambil salah satu buku yang di carinya laku ia membalikkan badannya dan.
‘Brukk!’ Amara menabrak seseorang membuat bukunya terjatuh dan buku orang yang ia tabrakpun terjatuh.
“Maaf...” Amara mengambil bukunya tanpa melihat orang yang ia tabrak begitu pun orang yang ia tabrak.
“Maafkan say..., Pak Johan. Maaf Pak, saya tidak sengaja.” ucap Amara setelah tahu siapa yang ia tabrak.
“Iya tidak apa-apa. ” mereka kemudian berdiri dan memegang bukunya masing-masing.
“Sama siapa kamu di sini?” tanya Johan. Amara mendekatkan wajahnya ke telinga Johan dan berbisik.
“Sama beruang kutub!" keduanya terkekeh. Johan tahu yang di maksud beruang kutub adalah Daren. Karena sikapnya yang dingin dan cuek.
__ADS_1