
Jam istirahat tiba, sebagian guru dan murid istirahat di kantin. Kecuali Neha yang sudah pulang lebih dulu. karena ia juga kuliah lagi untuk mendapatkan sertifikat mengajar. Fatma dan Johan duduk berdampingan tak lupa Nurul dan Andi serta yang lainnya bergabung dengan mereka.
Tak lama Ardan dam Bara datang. Mereka berdua menjadi menjadi bahan perhatian murid dan guru lainnya. Sebab Ardan belum mengenalkan Bara pada semuanya. Ardan dan Bara mengambil minum di lemari pendingin lalu bergabung dengan yang lainnya.
“Selamat siang semua!" sapa Ardan.
“Siang, pak!"
“Oh ya! Ini perkenalkan, Pak Bara Alexander! Guru BK yang baru!" Johan berdiri dan tersenyum lalu mengulurkan tangannya dan berjabat tangan.
“Johan. Guru olahraga!"
“Bara!"
“Fatma!"
“Bara!”
Mereka berkenalan satu persatu. Bara dan Ardan duduk di ujung meja. Sesekali Bara melirik Fatma dan Johan yang begitu Akrab. Namun pandangan Johan terus mengarah ke arah Amara yang kesulitan membuka botol minumannya. Johan menjadi merasa bersalah sudah menjadi penyebab gadis tersebut cidera.
Amara terlihat kesusahan saat membuka air minumnya. Mau meminta tolong pun Arsy masih memesan makanan. seketika Johan refleks berdiri lalu menghampiri Amara. Semua guru hanya melihat Johan menghampiri Amara.
Johan mengambil alih minum dari tangan Amara tanpa permisi dan langsung membuka tutup botolnya.
“Ini! kalau butuh bantuan Bapak, bilang ya!” ujar Johan lalu meletakkan botolnya di depan Amara. Amara hanya bengong melihat sikap Johan yang tiba-tiba perhatian dengannya.
“Iya Pak. Terima kasih!" balas Amara. Johan menepuk kepala Amara kemudian bergabung dengan guru lainnya lagi.n
“Ngapain?" tanya Fatma.
“Itu. Amara kesusahan buka tutup botol air minumnya.”
“Oh!"
“ Ya sudah. lanjutkan makannya." Amara tersenyum dalam hati lalu mencuri pandang Johan.
"Hai...!” Sapa Devan tiba-tiba membuat Amara terkejut.”
__ADS_1
“Kakak! kaget tau kak!" kesal Amara melihat Devan duduk di depannya.
“hai-hai! Ini pesanan kalian.” Arsy meletakkan nampan berisi kan bakso dan soto pesanan Amara juga pesanan Devan dan Daren serta Bella.
“Kak Daren Mana?" tanya Arsy lalu duduk di samping Devan.
“Daren sebentar lagi kesini."
“Kak Devan tolong, ini” seru Bella yang membawa minuman. Devan bergegas membantu Bella meletakkan minuman di meja.
“Hay guys. Maaf telat datang.Tadi habis dari toilet!" Seru Daren yang baru saja datang dan langsung duduk di samping Arsy.
“Kakak selalu telat!"protes Arsy.
“Sudah. Ayo makan!" Daren mengusap rambut Arsy.
Ardan tersenyum saat melihat keakraban anak-anaknya dengan teman-temannya. Ia begitu terharu anak-anaknya tumbuh menjadi anak manis dan patuh pada orang tua. Andin memang tidak punya hati sudah memisahkan dirinya dengan Laras, tetapi ia sukses mendidik anaknya menjadi anak yang manis, pengertian,sopan santun tentunya pintar.
Johan mencuri pandang Amara. ia kasihan melihat Amara seperti kesusahan saat makan. padahal Arsy sudah mau menyuapinya. Namun ia berusaha makan dengan menggunakan tangan kirinya.
Jam istirahat telah usai. semua murid dan guru kembali ke kelas dan guru-guru kembali mengajar. untuk Fatma sendiri ia pun langsung pulang.
Amara hanya diam saat Johan menerangkan mata pelajaran olahraga. Di saat yang lainnya menulis materi yang di sampaikan Johan. Amara hanya bisa menyimak.
“Arsy pulang sekolah nanti aku pinjam buku-buku catatan kamu ya! mau aku foto copy,” bisik Amara.
“Iya!" Amara tersenyum lalu kembali menulis.
Johan berjalan ke arah Amara sambil menjelaskan. Setelah sampai di meja Amara Johan mengambil buku catatan Amara kemudian membawanya ke belakang. Amara hanya bengong memutar kepalanya mengikuti arah Johan berjalan.
“Pak Johan bawa buku kamu, mau ngapain!" bisik Arsy.
“Gak tahu? Mungkin mau nulisin.” kedua tertawa tanpa suara lalu Amara menolah ke belakang. benar saja Johan sedang menulis.
“Kalau beneran ditulisin, Aku gak jadi pinjam buku kamu. pinjam catatan fisika aja."
“Sip!" Arsy mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Johan memang menulis materi yang disampaikan di buku Amara. Ia benar-benar merasa bersalah dengan cindera tangan Amara. Johan juga tidak habis pikir kenapa Aretha bisa berbuat seperti itu. Sejauh ia mengajar di sekolah Ardan. Amara tidak pernah mencari masalah dan penyebab masalah.
“Ok! Materi olahraga hari sampai disini. Minggu depan kita praktek di lapangan.” seru Johan yang masih duduk di bangku kosong.
“Untuk Amara kamu bisa lihat saja nanti di lapangan. Kamu praktek kalau tangan kamu sudah sembuh total.” Amara menolah ke arah Johan lalu mengacungkan jempolnya.
“Siap pak!"
“Enak ya! Jadi kamu tinggal duduk manis lihat-lihat kita-kita keringatan!" seru salah satu teman Amara Bernama Beno.
“Emangnya aku minta tanganku sakit kayak gini. Gak kali!" balas Amara sedikit kesal.
“Sudah, Sudah! sekarang kalian kerjakan tugas halaman 34 pilihan berganda dan esaynya. Amara kamu pindah sini. kerjakan biar Bapak bantu nulis!" Amara berdiri dan pindah duduk di samping Johan tak lupa ia membawa buku lembar kerja Siswanya.
“Semua kerjakan bagi yang sudah selesai menyalin materi di papan tulis!” Seru Johan lagi.
Amara duduk di samping Johan sesekali melirik Johan sambil membuka lembar buku tugasnya.
“Lama-lama sakit jantung, kalau dekat-dekat sama pak Johan terlalu lama. Arsy tolong aku! Aku terjebak dengan guru tampan," batin Amara sampai mengercepkan matanya.
“Kamu baca dalam hati, terus kamu tunjuk jawaban yang menurut kamu benar. Nanti Bapak bantu menyilangnya.” Amara melihat Johan sekilas lalu mengangguk.
Dengan sedikit gugup Amara mulai membaca soalnya lalu menunjuk jawabannya yang menurutnya benar lalu Johan menyilangnya dan begitu seterusnya sampai pilihan berganda selesai begitu juga jawaban easynya.
“Yang sudah selesai, kumpulkan di meja!”
Beberapa murid mengumpulkan tugasnya di meja. Johan memberikan buku catatan milik Amara.
“Tetap semangat ya!" Ucap Johan pelan.
“Iya, pak! Terima kasih sudah membantu saya.” Johan tersenyum lalu menepuk lembut kepala Amara kemudian ia berdiri menuju ke depan sambil membawa buku tugas Amara.
“Baiklah pelajaran dari Bapak hari ini sudah selesai. Sampai ketemu Senin depan dan selamat siang!"
“Siang, pak!” balas semua murid yang berjumlah 40 siswa.
Amara terus memandangi Johan yang sedang berjalan keluar sampai menghilang di balik pintu. Akhirnya ia bernafas lega setelah Johan keluar. Sebab sedari tadi ia merasa sesak nafas dan gugup duduk di samping Johan. Terlebih Johan begitu tampan saat di lihat dari dekat. Aroma tubuhnya pun wangi. Pantas saja Kakak kelasnya begitu menggandrungi Johan. Amara pun kembali ke bangkunya duduk di samping Amara.
__ADS_1