
Pria bertubuh tinggi tegap dan kekar itu tiba tiba menggigil dan suhu tubuhnya naik. udara new York sedang tidak bersahabat. Mungkin karena salju dan itu membuat Ardan yang tidak terbiasa dengan udara sedingin yang ia rasakan saat ini. membuat tubuhnya sedikit drop.
Terdengar beberapa kali suara ia bersin. Sesekali membenarkan jaket dan selimut tebalnya. Neha dengan sabar mengompresnya dan memberikan obat penurun panas. Ia juga sangat cemas. Walau sebenarnya sudah terbiasa mengurus adik-adiknya saat sakit. akan tetapi kali ini berbeda, ia mengurus orang yang sangat ia cintai. Dan rasa cinta itu berbeda dengan yang ia tunjukkan pada adik adiknya.
Neha tersenyum, walau sebenarnya hatinya cemas melihat sang suami. ia mencoba menghibur sang suami dan memberikan energi ceria pada suaminya. Ardan juga merasa bersalah, karena seharusnya mereka menikmati bulan madu, bersenang-senang menikmati musim salju di New York.
"Maaf,” lirih Ardan keluar dari bibirnya yang pucat. Neha tersenyum, ia tahu sang suami pasti merasa bersalah padanya.
"Tidak apa Mas, nanti kalau mas sudah sembuh, kita lanjutkan lagi destinasi kita di New York," balas Neha, lalu tertawa kecil. Ardan lalu menarik lembut tangannya lalu memeluknya.
"Terima kasih,sudah merawat ku," Ardan memeluk Neha di atas tempat tidur, dan akhirnya mereka tertidur.
Pagi harinya Ardan bangun lebih dulu. Ia sudah merasa lebih baik. Ia melihat Neha masih tertidur dengan lelepnya. Ardan tersenyum kemudian menuju kamar mandi dan mandi dengan air hangat.
Setelah Mandi ia menggunakan bajunya. Tidak lupa menggunakan jaket tebal. Tak lama Neha bangun dan melihat sang suami sedang menyisir rambutnya.
"Mas! Mau menggoda siapa? Pagi-pagi sudah rapi? ” Ardan menoleh ke arah sang istri, yang kini duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
Ardan berjalan ke arah sang istri. menatapnya penuh Cinta lalu mengusap pipinya dengan lembut.
"Aku mau menggodamu," jawabnya, Neha terkekeh lalu memajukan wajahnya. Tidak menyangka suaminya pandai menggoda.
"Tanpa mas goda, aku sudah tergoda saat melihat Mas di pesta reuni dulu," ucapnya lalu mencium bibir Ardan.
Neha memang tergoda dengan paras dewasa Ardan. Tegas ,wibawa dan teduh. Terlebih saat mereka tahu satu sama lain saling menaruh hati.
"Sudah. Mandilah! Mas mau menghubungi anak anak.” Neha mengangguk lalu menuju kamar mandi.
Ardan menghubungi anak anaknya. Mereka berdua untuk sementara waktu tinggal bersama Nadia. jadi Ardan tidak begitu khawatir dengan anak-anaknya.
Setelah selesai menghubungi sang Anak, Ardan membantu Neha membereskan tempat tidur. kemudian ia duduk di sofa sembari melihat email masuk dari ponselnya.
Walau sedang bulan madu, ia tidak lupa menyelesaikan pekerjaannya. ia tidak mau para rekan bisnis berliannya kecewa, terlebih ia tidak mau mengecewakan para pelanggannya.
__ADS_1
Saat tengah serius membaca email di ponselnya. Tiba-tiba sang istri sudah duduk di sampingnya,dan masih menggunakan handuk yang hanya ia lilitkan sebatas dadanya.
Neha tampak menggoda Ardan. Neha mengangkat kakinya ke meja dan memperlihatkan paha mulusnya. Matanya sedikit melirik sang suami yang masih sibuk dengan ponselnya.
Neha memakai pelembab tubuhnya dengan gaya menggoda sesekali mengibaskan rambut basahnya. Sadar sang istri sedang menggoda, perlahan Ardan meletakkan ponselnya. Ardan membuka jaket tebalnya. Namun ia pura-pura tidak melihat Neha dan bersikap santai.
Neha kesal dan berdecih. karena apa yang di lakukan, Ardan tidak melihatnya. Sedangkan Ardan menahan senyumnya melihat sang istri kesal.
Ardan menoleh ke arah sang istri yang bibirnya sudah mengerucut karena kesal. Akhirnya tangan Ardan meraba paha mulus istrinya. Neha sedikit terkejut lalu tersenyum kearahnya kemudian mereka berciuman.
"Akkhh..." lengkungan Neha terdengar. Ardan tersenyum melihat tubuh istrinya menggeliat di atas sofa, saat Ardan memainkan bagian intinya. Ardan yang memang berpengalaman, sangat mudah memuaskan istri mudanya itu. Ia tahu bagian mana saja yang di sukai pasangannya. jika Laras dahulu sangat menyukai aksinya yang kasar, dan Adin menyukai yang lembut. Kini sepertinya Neha menyukai keduanya. Mereka pindah ke tempat tidur dan menyelesaikannya di sana.
"Eum... Akh... Mas lebih cepat mas. Cepat mas!" racau Neha Ardan tersenyum lalu mempercepat hentakan.
Salju yang turun seeolah menambah keintiman mereka. Udara yang dingin menambah gairah keduanya. kontak mata mereka sangat dalam. menambah bara api gairah masing-masing. Pagi hari memang lebih nikmatvuntuk bercinta, walau sebagian orang enggan melakukannya. Dengan alasan takut terlambat melakukan aktivitas dan rutinitas. padahal itu justru menambah energi positif dan membakar semangat untuk melakukan rutinitasnya masing-masing.
selang satu jam mereka menyudahinya, saling memeluk, dan memberikan kenyamanan. Tanpa di duga, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Mereka saling pandang dan bertanya siapa sekiranya pagi-pagi buta sudah bertamu.
"Ardan! Neha! Apa sudah selesai?" Suara itu terdengar di balik pintu. Mereka sangat hafal dengan suara tersebut. siapa lagi kalau bukan Nathan.
"Iya pa!" jawab Neha. Mereka berdua bergegas mengenakan baju, Ardan berjalan menuju pintu untuk membukanya, sementara Neha menuju kamar mandi.
"Ceklek" suara pintu terbuka.
"Kau pagi pagi sudah mengganggu!" Nathan hanya menampakkan giginya dan langsung masuk kedalam. Melihat tempat tidur mereka yang berantakan ia pun dan tersenyum.
"Tadi malam Neha menelponku, katanya kau sakit, jadi aku dan Siena memutuskan datang kemari!" ucap Nathan tanpa ditanya. Ardan duduk di sofa di seberang meja di depan Nathan.
"Iya. 2 hari kemarin aku sakit. flu berat," jelasnya seraya melihat Neha keluar dari kamar mandi dan sudah rapih.
"Papa!" ia berjalan menghampiri sang papa.
"Hai sayang.” Mereka sekilas berpelukan.
__ADS_1
"Eum.. mama?"
"Masak untuk kalian berdua."
"oh, jam berapa papa kemari."
"kurang tau. Tapi waktu Papa sampai mau gedor pintu kamar kamu malah ada suara. uh ah uh ah! ya sudah, papa memilih ke dapur." Rona wajah Neha bersemu. Ardan pura pura tidak mendengar lalu ia pergi dan menuju kamar mandi.
"Papa! Papa menguping!"
"Suara kamu terdengar sampai ruang depan!" jawab Nathan terkekeh melihat ekpresi putrinya.
"Tahu ah, gelap!" kesal Neha lalu menuju dapur dan membantu sang Mama di susul Nathan.
"Mama!" seru Neha lalu memeluk Siena dari belakang.
"Hai sayang! Baimana keadaan suamimu? sudah lebih baik?"
"Em... sudah Ma. Sudah sehat," balas Neha yang masih memeluk Siena dan menempelkan dagunya di bahu sang mama.
"Syukurlah."
"Mungkin ... Mas Ardan rindu sama anak-anak?" Neha melepaskan pelukannya dan duduk di kitchen set dan melihat sang mama memotong sayuran.
"Kenapa kemarin mereka gak ikut? disini mereka bisa main sama Jojo dan Naina.”
"Mereka yang gak mau. Katanya takut ganggu!" kekeh Neha di ikuti Siena.
"Memangnya papamu tidak menggangu!" balas Siena dan keduanya semakin tertawa.
"Ah... Mama. Papa jangan di tanya lagi! Papa itu super ganggu!”
Nathan hanya tersenyum melihat anak dan istrinya bercanda. Mereka tidak berubah. Selalu Akrab satu sama lain, Siena memang sangat pintar menempatkan dirinya di kala menjadi Mama dan sahabat untuk anak-anaknya serta bisa menepatkan dirinya sebagai istri.
__ADS_1
Anak-anak mereka lebih betah di rumah karena memiliki Mama seperti sahabat. Mau mendengarkan dan memberi masukan. Mereka lebih menyukai bercerita tentang segala hal dengan sang Mama. Nathan sangat bersyukur memiliki istri dengan paket komplit qdan itu ia ajarkan pada Neha sang putri sambung.