
“Terima kasih sayang!” ucap Ardan lalu mengecup kening Neha. Neha masih memejamkan mata dan membiarkan Ardan di atasnya.
perlahan Neha membuka matanya melihat sang suami tersenyum padanya sambil mengusap lembut rambutnya.
“Terima kasih, Mas. Aku pikir akan sakit seperti cerita temanku.”
“Tapi rupanya!”goda Ardan lalu bangkit dari atasannya lalu mengambil tisu membersihkan bagian inti Miliknya dan Neha.
“Sakit, tapi enak.” Keduanya tertawa kecil
Ardan tersenyum dalam hati saat melihat noda darah di seprai. Rupanya Neha masih benar-benar gadis.
Ardan berbaring di sebelah Neha sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Neha. Neha masuk kedalam pelukan suaminya dan menempelkan tubuhnya buang masih polos ke dada sang suami.
“Ini apa yang ganjal?" goda Ardan saat dada Neha menempel di dadanya.
“Apa sih, Mas. Udah nikmatin juga!” kedua terkekeh saling berpelukan. Neha melirik jam dinding, jam menunjukkan pukul setengah enam.
“Mas! Udah setengah enam!” Neha bangkit lalu mengambilkan bajunya lalu memakainya.
“Aku mandi dulu ya, nanti aku siapkan sarapan.” Ardan mengangguk lalu menarik selimutnya sambil melihat Neha berlari kecil ke kamar mandi.
Neha hanya butuh waktu 5 menit untuk mandi lalu keluar dengan menggunakan kimono dan membalut rambut basahnya dengan handuk. Neha melihat Ardan yang rupanya sudah terlelap tidur. Neha membiarkan sang suami tidur dan dirinya mengganti baju. Neha menggunakan kaos panjang ketat dan kerah bajunya sampai ke leher untuk menutupi tanda tanda merah yang di buat suaminya lalu ia padukan dengan rok sepan yang panjangnya di bawah lutut. Tak lupa ia juga menyiapkan jasnya sebelum berangkat ke sekolah.
Neha keluar dari kamar dan langsung menuju dapur. Siena tersenyum melihat putrinya sudah rapi.
“Pagi Ma!"
“Pagi sayang!” balas Siena sekilas menyambut pelukan Neha.
“Mana Suami kamu?” tanya Siena.
“Ketiduran Ma. Mungkin masih ngantuk, pagi-pagi buta sudah dikerjai Papa suruh datang kemari,” balas Neha sambil mengambil cangkir untuk membuatkan kopi sedangkan Siena hanya tersenyum.
“Papa mana Ma!"
“Lagi mandi! Nanti Papa mau mengurus surat-surat buat mengurus berkas surat kamu ke KUA.”
“Ya sudah Mama tinggal ya! Kalau mau sarapan semuanya sudah Mama siapkan. bekal untuk anak-anak kamu nanti bawa ya!”
“Iya Ma! terima kasih.”
“Sama-sama, sayang!" Siena kemudian menyusul Nathan ke kamar.
Neha melanjutkan membuat kopi dan juga menyiapkan piring untuk suami sarapan. setelahnya ia membawa kopinya ke kamar.
Sesampainya di kamar Neha tersenyum melihat Suaminya yang masih tidur. Neha meletakkan kopi di meja nakas. Neha berjalan menghampiri Ardan dan membangunkannya.
“Mas...! Bangun.” Neha mengusap lembut rambut Ardan.
“Hah! Jam berapa?"
__ADS_1
“Jam 6!”
Ardan bangkit lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Arsy untuk membawakan setelan kemeja ke sekolah.
“Mana kopinya.” Neha memberikan kopinya.
“Hm! Kopi buatan kami nikmat, sayang!"
“Terima kasih, Mas!”
“Ya sudah, aku mau mandi!”
“Sebentar aku ambilkan handuk!” Neha berlari kecil menuju lemari dan mengambil handuk untuk suaminya kemudian Ardan mandi.
***
Neha dan Ardan berjalan di koridor sekolah saling melempar senyum. Mereka datang sedikit terlambat. Rambut mereka juga masih basah. Karena mereka tidak sempat mengeringkan rambutnya. Rekan guru lainnya yang melihat mereka hanya terbengong melihat Neha dan Ardan yang datang secara bersamaan dengan keadaan rambut basah. Apa lagi jalan mereka saling menggenggam tangan.
“Mas! Aku masuk ya.” Ardan melepaskan genggamannya lalu mengusap lembut pipi Neha.
Sepertinya Neha dan Ardan lupa jika sedang berada di lingkungan sekolah sampai-sampai guru yang lain melongo melihat mereka dari ruangannya. karena terlihat jelas dari pintu dan jendela guru. beruntung anak-anak sudah masuk ke dalam kelas.
“Nanti jam pulang sekolah anak TK. kita langsung pulang ya!" bisik Ardan lalu tersenyum melihat Neha yang juga tersenyum malu.
“Iya!” Neha langsung berbalik masuk ke ruangan guru dan langsung mengisi absensinya.
Guru yang lain sontak pura-pura tidak melihat dan sibuk dengan buku masing-masing ada pula yang sudah keluar.
“Selamat pagi semua, Bu, Pak!" sapa Neha lalu meletakkan tasnya di kursinya lalu mengambil buku.
“Ceria sekali, Bu! Pak Ardan kasih vitamin apa?” lirih Fatma.
“Ada. Vitamin semangat pagi.”
“Oh begitu.”
“Ya sudah. Ayo ke kelas! Bu Nurul pasti kewalahan sama anak-anak.” ajak Neha lalu keduanya keluar dari ruangan guru. Johan terus mengamati Neha dan semakin penasaran dengannya.
Sementara itu Ardan di ruangannya sedang menganti kemejanya yang di bawa Arsy dari rumah. Devan dan Arsy juga belum mengetahui jika sang Papa sudah menikah. Tak lama Nadia datang ke ruangan tanpa mengetuk pintu.
“Ar!" panggil Nadia di ambang pintu dan melihat Ardan sedang mengancingkan kemeja.
“Ya!” Nadia berjalan ke arahnya lalu mengulurkan tangannya.
“Selamat ya!”
“Selamat apa?” Ardan pura-pura tidak mengerti arti ucapan selamat Nadia
‘Plak' Nadia menepuk pipi Ardan
“Aduh! Salahku apa lagi?"
__ADS_1
“Kamu nikah sama Neha gak bilang-bilang.”
“Kakak tahu dari mana?"
“ Nathan. Tadi pagi di menghubungiku.”
“Oh! Aku juga gak tahu kenapa tiba-tiba Nathan menikahkan kami!” Nadia menarik lengan Ardan lalu mereka duduk di sofa
“Ceritakan, bagaimana ceritanya,”
“Pertama Neha menghubungiku, katanya suruh datang pagi, sekalian berangkat ke sekolah ada yang mau di bicarakan. Jam satu dini hari, Nathan menghubungiku di suruh datang sebelum subuh dan tidak mau tahu harus tepat waktu. Tahunya di sana di nikahkan, siapa yang nolak gadis cantik seperti Neha.”
“Dasar! Duda genit! Bilang aja udah gak tahan!" ledek Nadia sambil mendorong wajah Adiknya.
“Emang!” kekeh Ardan.
“Jadi udah itu?”
“Udah! Udah Ah. Aku mau menemui kepala sekolah! Bye.” Ardan berjalan keluar.
“Bikin Syukuran!”
“Itu urusan Nathan sama Siena! Aku terima beres!" balas Ardan sebelum benar-benar keluar ruangannya. Nadia hanya geleng-geleng sekaligus senang melihat adiknya sudah ada yang mengurusnya.
Sementara itu Neha dan Fatma sedang mendampingi anak-anak TK sedang olahraga. Neha hanya mengawasi Karena ia lupa tidak memakai seragam olahraga. Johan berjalan ke arah lapangan anak TK saat melihat Fatma, Nurul dan Neha serta anak-anak TK sedang olahraga. Saat ini Johan tidak ada kelas jadi ia sedikit ada jam sengang.
Neha duduk di kursi sambil menyemangati anak-anak. Fatma dan Nurul memandu anak-anak olahraga bersama. Johan dengan percaya dirinya mendekati Neha dan duduk di samping Neha.
“Pagi Bu!” Sapa Johan.
“Pak Johan. Pagi Pak!” balas Neha tersenyum ramah.
“Tidak ikut olahraga?” tanya Johan, namun matanya melihat Fatma yang juga menatap tajam.
“Oh...! Tidak Pak, kaki saya sedikit sakit!” balas Neha beralasan Karena pangkal pahanya masih nyeri karena ulah suaminya tadi pagi yang begitu ganas.
“Oh! Terkilir? Boleh saya urut Bu, saya bisa urut kaki yang terkilir.” Johan berusaha meraih kaki Neha, Neha pun sontak menggeser kakinya. Bersamaan dengan itu Fatma melempar bola ke arah Johan dan mengenainya kepalanya.
“Aduh!” pekik Johan mengusap kepalanya.
“Mampus!” batin Fatma.
“Maaf Pak! Aduh maaf Pak!” seru Fatma menghampiri Johan sedangkan Neha tertawa kecil melihat Johan yang sudah berdiri dan mengusap kepalanya.
“Pak Johan gak apa-apa? Mana yang sakit?” Fatma memegang kepala Johan dan mengusap-usapnya sedikit kasar.
“Aduh! Sakit Bu!”
“Maaf ya, pak! Saya tidak sengaja tadi mau mengoper ke arah Bu Nurul tapi malah kena Bapak! Kalau sakit, Ayo pak ke UGD!"
“UGD? Memangnya Saya kena serangan jantung!" Johan kesal lalu meninggalkan mereka menuju ruangannya. Setelah Johan pergi ketiga guru tersebut tertawa.
__ADS_1
***
Pleace komentarnya. setiap komen kalian saya posting di FB dan IG saya buat menarik pembaca yang lain. mohon dukungannya ya. terima kasih sebelumnya.