
Neha dan Ardan baru saja selesai memasak untuk makan malam. Neha bersandar di kitchen set dan Ardan berdiri di hadapannya. Mereka saling pandang dan tersenyum.
Neha mengalungkan Kedua tangannya di leher Ardan dan Ardan memegang pinggangnya lalu menyatukan keningnya.
“Om pulang ya!” lirih Ardan.
“Makan dulu, Mas.”
“Makan kamu, boleh?” Ardan mulai mencium bibir Neha. perlahan tapi pasti ciuman mereka semakin panas. Ardan sampai menaikan Neha di atas kitchen set.
Mereka masih saling berciuman tanpa tahu ada yang memperhatikan mereka berdua dengan rasa tidak percaya.
'Brakkk’ Suara benda jatuh.
”Kalian.” ucap seseorang seiring jatuhnya barang yang ia bawa. Ardan dan Neha sontak melepaskan ciumannya dan melihat kearah sumber suara.
“Mama!”
“Siena!" seru mereka bersamaan. Neha turun dari kitchen set dan merapikan bajunya yang berantakan sedangkan Ardan merapikan rambutnya.
''Apa yang kalian lakukan?'' tanya Siena menatap tajam Neha dan Ardan. Neha sangat syok melihat Siena yang tiba-tiba datang tanpa mengabari terlebih dahulu. Bukankah Mama dan papanya masih minggu depan pulang ke Indonesia dan mengapa sekarang ada di hadapannya.
“Mama, kami bisa jelaskan!” Neha menghampiri Siena yang masih berdiri sambil mencerna apa yang baru saja ia lihat. Ardan juga tampak gelisah melihat tatapan Siena yang seolah meminta penjelasan
“Ma! Neha sama Om Ardan...,"
“Papa pulang!” teriak Nathan tiba-tiba membuat Neha tidak melanjutkan kalimatnya.
Nathan melihat Siena dan Neha serta Ardan bergantian. Neha dan Ardan begitu tegang melihat ekspresi Neha dan Ardan
“Ardan kenapa ada di sini? Kok semua pada tegang!” tanya Nathan berdiri di samping Siena dan merangkulnya.
Siena diam dan terus menatap tajam Ardan dan Neha. Neha ketakutan melihat Siena yang diam dan menutut penjelasan.
“Ma!” ujar Neha
'Plak!' tiba-tiba Siena menampar Neha.
Nathan terkejut begitu juga Ardan. Nathan semakin bingung melihat istrinya tiba-tiba menampar sang anak. Walau begitu ia tidak marah sudah pasti sang anak membuat kesalahan yang amat fatal.
“Mama!” Neha syok melihat Siena begitu marah.
“Apa Mama mengajarimu menjadi wanita murahan! Apa yang kalian lakukan, Hah!" Siena benar-benar emosi melihat anak gadis bisa sepanas itu saat berciuman dengan mantan gurunya.
__ADS_1
“Ini ada apa?" tanya Nathan kebingungan melihat mereka bertiga satu persatu.
“Jelaskan Neha! Pak Ardan. Apa harus aku yang menjelaskan semuanya.” ujar Siena penuh emosi.
Ardan dan Neha masih sama-sama bungkam. Mereka juga bingung harus menjelaskan dari mana. Terlebih melihat Siena tampaknya begitu marah.
“Ini ada apa!" Suara Nathan mulai meninggi.
“Pa! Neha...,”
“Aku dan Neha pacaran Nath!” potong Ardan.
“Oh! pacaran!” sejenak Nathan mencerna kalimat Ardan. “Apa Kalian pacaran?”
“Pa! Neha jatuh cinta sama Om Ardan!”
Nathan seketika terdiam, wajahnya sudah tidak bersahabat. Nathan menatap tajam Ardan dan Neha bergantian. Tidak sengaja pandangan Nathan melihat leher sang anak. Nathan melihat ada beberapa tanda merah di sana. lalu melihat Ardan begitu tajam.
“Brengsek kau Ar!!” Nathan mencengkeram kerah kemeja Ardan dan menyudutkannya di tembok. Neha sontak histeris dan mencoba melepaskan tangan Sang Papa.
“Aku memintamu untuk menjaga putriku! Bukan untuk kau pacari. Apa yang kau lakukan pada putriku, hah! Apa tanda merah di lehernya kau yang membuatnya!” Nathan begitu marah.
“Pa! Cukup. Neha mencintai Om Ardan. Kami saling mencintai, Pa!” Nathan terdiam dan mengendurkan cengkraman tangannya dari kerah kemeja Ardan lalu melihat wajah sang anak yang Yanga sudah meneteskan air mata.
"Nath. Aku akan jelaskan semuanya." Nathan sedikit mendorong Ardan lalu melihat Neha dan Ardan bergantian.
"Sejauh mana hubungan kalian?" selidik Nathan.
"Pa!"
"Jawab saja Neha!" teriak Nathan.
"Nath! Kita bicarakan baik-baik, tidak perlu membentak Neha." Ardan tidak terima jika ada wanita di bentak.
"Duduk kalian berdua!" Ardan duduk di samping Nathan dan Neha duduk di depan Nathan di sebrang meja makan.
Nathan memandangi wajah Neha yang tampak takut dan Ardan bersikap biasa namun tampak jelas ia juga tegang.
“Pa! Neha dan Om Ardan sudah hampir dua bulan menjalin hubungan. Neha mencintai Om Ardan.”
“Kalau Papa tidak setuju bagaimana? Apa kalian masih tetap melanjutkan hubungan kalian?”
“Pa! Neha sudah dewasa tolong hormati keputusan Neha! Om Ardan juga sudah melamar ku,”
__ADS_1
"Apa?" Nathan terkejut lalu melihat Nathan penuh selidik.
'Plakk' Nathan menepuk kepala Ardan.
"Aduh! Sakit, Nath!" pekik Ardan.
"Papa tidak setuju!" Nathan bangkit dan menuju kamarnya.
"Pa! Papa!" Neha berlari mengejar Nathan sedangkan Ardan masih diam dan tidak menyangka sahabatnya itu tidak menyetujui hubungannya dengan Neha.
“Pa! Buka pa! Neha minta restu Pa! Neha mencintai Om Ardan.” Ujar Neha yang sudah sedari tadi berlinang air mata kemudian ia melihat Siena yang masih duduk di sofa lalu menghampirinya
Neha berlutut di hadapan Siena memohon pengertian dan dukungan sert restunya. Neha meraih tangan Neha dan memohon.
”Ma! Neha cinta sama Om Ardan. Boleh ya Ma! Neha dari kecil selalu menjadi anak manis mama dan Papa dan selalu menuruti apa kemauan Mama dan Papa. Tapi kali ini boleh tidak Neha minta Mama dan Papa merestui Neha dengan Om Ardan.”
Siena menatap wajah anak sambungannya itu dan tersenyum tipis. ia teringat saat berjuang mempertahankan cintanya pada Nathan serta meyakinkan Bryan, Papanya.
“Kalau memang ini pilihanmu, Mama tidak bisa berbuat apapun. Mama pernah di posisimu. Tapi berusahalah untuk meyakinkan papa. Tapi tolong Jaga Marwah kamu sebagai wanita sayang. tidak boleh seperti ini, Apa lagi lebih sebelum menikah.” Siena mengusap tanda merah di leher Neha.
“Maaf Ma! Neha tidak akan mengulanginya lagi sebelum ada ikatan resmi.”
Ardan berjalan menghampiri Siena dan Neha. a sangat berterima kasih sudah memberi lampu hijau.
“Kalian berusahalah meyakinkan Nathan. ia hanya belum siap, melepas putri kesayangannya. Karena takut putrinya tidak jadi menikah lagi.”
“Ya udah Ma! Kita berdua langsung nikah aja!"
“Hus!! lagi kayak gini kamu malah melawak. luluh kan dulu hati Papamu.”
“Baik Ma!"
“Om!” Neha berdiri di ikuti Siena. Neha meraih jemari Ardan.
“Om, Maaf jika menjadi seperti ini. aku akan menyakinkan Papa!"
“Bukan kamu. Tapi kita berdua akan meyakinkan Nathan.” Neha kemudian menghambur ke pelukan Ardan.
Siena tersenyum lalu mengusap lembut rambut Neha dan melihat Ardan. Ia yakin cinta mereka tulus. Apa lagi Siena tahu bagaimana Ardan mencintai wanitanya. Sudah tidak diragukan lagi bagaimana Ardan mencintai pasangannya melebihi rasa sakit yang ia alami selama ini.
“Saya akan bantu Pak Ardan untuk meyakinkan si tua itu!" ujar Siena membuat Neha dan Ardan tertawa kecil.
“Terima kasih Siena. Kamu memang terbaik. sebagai murid ku, ibu dari Neha dan juga Calon mertua.”
__ADS_1
“Sama-sama, Pak Ardan bisa saja.”
“ Ya sudah Aku pamit! Sayang Om Pulang ya! Sudah malam.” Ardan mengecup kening Neha lalu sekilas mengusap lengan Siena tanda terima kasih kemudian keluar ke apartemen.