
Ardan menunggu Neha di depan ruang guru sambil melihat jam tangannya. Neha hanya tersenyum melihat suaminya sepertinya gelisah menunggunya. Tak lama Neha selesai membereskan bukunya lalu keluar menghampiri Ardan dan mengabaikan tatapan Johan yang sedari tadi memandangnya padahal Johan sedang berbicara dengan salah satu guru. Namun Neha pura-pura tidak tahu jika Johan memperhatikannya.
“Mari semua, Saya pulang dulu!" pamit Neha pada rekan guru lainnya sebelum sampai di pintu.
“Mari Bu,” Jawab sebagian melihat Neha tersenyum kemudian Neha keluar.
“Maaf mas, Lama ya?” ujar Neha.
“Gak kok, ya sudah ayo pulang!” Ardan meraih tangan Neha.
“Sebentar, Mas. Tunggu Arsy dulu. Bekalnya aku belum sempat antar ke kelasnya. Ini aku kirim pesan biar di ambil. Nah itu orangnya.”
Neha dan Ardan melihat Arsy berlari kecil ke arah mereka dengan senyum bahagia. Walau ia belum tahu jika Neha sudah menjadi Mama Sambungnya ia begitu antusias saat Neha mengirim jika Neha membawa bekal untuk nya dan untuk Devan.
“Papa! kakak!” sapa Arsy.
“Hai. ini Kakak bawakan buah sama kue buatan Mama Siena.” Arsy menerima kotak makanannya.
“Terima kasih ya kak!"
“Sama-sama sayang. Yang satu buat kak Devan ya!”
“Iya! Kalau begitu Arsy langsung ke kantin. Sebentar lagi Istirahat.”
“Iya!”
“Arsy nanti Papa gak bisa jemput. kalian pulang nanti sama pak sopir. Papa ada kejutan buat kalian.” Ardan dan Neha saling pandang. Mereka sepakat memberitahu pada anak-anak setelah di rumah.
“Kejutan? kejutan apa!"
“Sayang! kalau kejutan di kasih tahu ya... Bukan kejutan namanya.” Arsy tertawa kecil.
“Iya deh, nurut aja.”
“Papa sama Kak Neha pulang dulu ya!" pamit Ardan mengusap lembut rambut Arsy.
“Iya, Pa. Hati-Hati.” Arsy kemudian menuju kantin.
Ardan dan Neha tersenyum lalu mereka berjalan keluar. Tidak di sangka Johan dan guru lainnya mengintip mereka dari balik pintu. Fatma yamg melihat Johan seperti itu pun semakin geram lalu ia berjalan dan sengaja menyikat Johan
'Dukk'
“Aduh!”
__ADS_1
“Oh...,maaf Pak. Saya tidak sengaja! Habisnya Pak Johan sama Pak Andi di jalan.”
“Bu Fatma memang kebiasaan!” kesal Johan lalu keluar dari ruangannya sedangkan Fatma tertawa kecil lalu Fatma pun pulang bersama Nurul.
***
Ardan dan Neha tidak langsung pulang ke rumah. Ardan membawa Neha ke hotel yang sudah ia pesan saat di mobil. Ia benar-benar tidak tahan melihat istrinya.
Ardan berjalan menuju kamarnya dan sepanjang lorong kamar hotel tangannya tak lepas dari tangan Neha. Sesampainya di kamar Neha meletakkan tas di meja dan melepas sepatunya. Neha melihat suaminya yang sudah membuka kancing kemejanya. Ia tahu suaminya itu menginginkannya. Neha tersenyum dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Ardan.
“Sudah tidak tahan ya. Jadi dari tadi gelisah Mas menginginkannya?”
“Tidak salahkan. Mas menginginkannya dari istri sendiri.” Ardan mulai mencium bibir Neha dan tangannya tidak tinggal diam.
Ardan membuka jas Neha dan semua yang dikenakannya. ciumannya mulai turun kebawah dan menelusuri leher jenjangnya. suara lenguhan Neha membuat Ardan semakin bersemangat. Perlahan Ardan membimbing Neha berbaring di tempat tidur. Ardan dengan ketidak sabaran ya ******* dengan ganas gunung kembar milik Neha sembari membuka celananya.
Ardan menelusuri lekuk tubuh Neha dan berhenti di bagian intinya. Memainkan bagian milik Neha membuat Neha meliuk nikmat sampai Neha meremas kain sprei dan mencengkeram pundak Ardan.
“Ah...!”
“Kamu suka?"
“Hm!" Kini Ardan mulai di atas Neha dan membuat Neha melayang.
“Sedikit! Ah..! Hm... Terus Mas. enak!" racau Neha yang sudah menemukan rasa titik nikmat dan nyamannya.
Ardan memandangi wajah cantik dan pasrah Neha. ia tersenyum saat melihat wanita di bawahnya begitu menikmati permainannya sama seperti Laras dan Andin dahulu. Sekilas bayangan Laras melintas namun dengan cepat ia tepis dan langsung mencium bibir Neha.
Ardan kini mulai sedikit kasar dengan permainannya sedangkan Neha justru menyukai aksi nakal suaminya. Ia sangat bersemangat ternyata sang suami masih mempunyai tenaga bak kuda liar.
Selang tiga puluh menit mereka menudai semuanya. Dengan nafas yang tidak teratur mereka tertawa kecil dan saling memuji.
“Terima kasih Mas! Rasanya tidak seperti pertama. Ini lebih nikmat dan membuat aku ketagihan.” Ardan tertawa lalu mengecup kening Neha.
“Aku akan membuat istriku selalu ketagihan, sayang! dan tidak akan bisa melupakannya.”
“Pantas saja Tante Laras gak bisa move on dari Mas!”
“Kamu bisa Saja. Gak boleh begitu. hubunganku sama Laras sudah tidak ada, sayang. Hanya sebatas teman tidak lebih. Kalau Tante Laras gak bisa Move on itu masalah dirinya sendiri. Dan Mas gak mau kamu cemburu begitu saja, kamu harus ingat, aku hanya mencintai satu wanita ketik wanita itu selalu di samping Mas dan tidak akan pernah melirik wanita lain!”
“Iya Mas, Aku percaya. Aku kenal Mas seperti apa mencintai wanitanya. Papa itu selalu bercerita ketulusan hati mas jika sudah mencintai, Tapi jika aku pergi lebih dulu bagaimana? Mas mau nikah lagi!"
“Kamu tidak boleh bicara seperti itu. Hanya kamu yang nantinya menemani masa tua Mas.”
__ADS_1
“Terima kasih, Mas!" Neha memeluk Ardan. Ia lega mendengar Jawaban suaminya. Walau ia tahu tidak bisa melawan takdir jika suatu saat dirinya pergi lebih dulu pergi. Ia akan diam-diam mengikhlaskan Ardan mencari pengganti dirinyanya.
“Ya sudah, Mas. Ayo pulang, keburu anak-anak pulang!"
“Iya. Mandi bareng ya. Biar lebih cepat.”
“Hm! Tapi janji ya hanya mandi, terus pulang.”
“Iya...!" Mereka berdua mandi bersama.
Mereka keluar dari kamar hotel dan berjalan saling merangkul dan saling melempar senyum. Namun tiba-tiba mereka berhenti saat tidak sengaja bertemu Laras di depan pintu lift.
“Kalian?” Laras melihat Neha dan Ardan dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu pandangan Laras tertuju pada leher Ardan yang terdapat tanda merah serta melihat rambut keduanya yang masih setengah basah. Neha sedikit menahan malu dan tersenyum tipis sedangkan Ardan bersikap biasa.
“Tante!” Sapa Neha lalu menyalaminya.
“Kalian ngapain berdua di hotel?” selidik Laras penuh tanya.
“Em!”
“Gak nyangka Tante sama kamu Ne!”
“Cukup Ras! Aku tahu kamu pasti berpikir yang aneh-aneh, tapi memang iya sesuai yang kamu pikirkan. Tapi ini bukan urusan kamu, kan?"
’Plak!’ Laras menampar Ardan.
“Tante!” Seru Neha menarik Ardan agar sedikit menjauh dari Laras.
“Kalian benar-benar! Kalau Papa kamu tahu bagaimana, Hah!” Neha menghela nafas agar tidak lebih emosi seperti Laras.
“Tante ... Kami sudah menikah.”
“Apa!”
”Ya! Tadi pagi sebelum subuh. Papa sendiri yang menikahkan kami,” jelas Neha lalu memperlihatkan video ijab Kabul nya dari ponselnya pada Laras. Laras sedikit syok dan tidak percaya.
“Jadi terserah kami mau berbuat apa, seperti apa. Tidak akan melanggar norma apapun. dan tidak merugikan siapapun. Kami saling mencintai, Tante! Neha harap Tante mengerti. Untuk peresmian secara Negara. Tunggu saja undangannya Tante. Permisi! Ayo Mas, kita pulang, anak-anak pasti sudah pulang.” Ardan Dan Neha berlalu begitu saja dari hadapan Laras sedangkan Laras menatap kepergian mereka.
***
PLEASE KOMENTARNYA.
VOTE ,LIKE,RATE,GIFT
__ADS_1
TERIMA KASIH.