
Setelah sedikit membaik, Neha keluar dari UkS. Neha menuju kantin untuk memesan teh hangat. Namun saat berada di kantin, Neha melihat Bryan di kantin bersama Johan.
“Astaga! Opa! Kenapa jadi ganggu orang kerja!” Neha lalu menghampiri Bryan dan Johan.
“Opa ...! Anak TK sudah mau pulang. Opa siap- siap ya, jemput Aryan Tante Elsa juga sudah datang mau jemput Wisnu.” Bryan melihat jam tangannya.
“Ok. baiklah! Opa pulang dulu ya! Johan! Opa tunggu malam minggu ya, di kafe Laras." seru Bryan lalu menepuk lengan Johan.
“Iya, Opa! Saya usahakan.” Bryan berdiri kemudian ia berjalan menuju ke las TK.
“Pak Johan. Maafkan Opa ya. Opa sudah mengambil waktu mengajar Bapak!”
“Tidak apa-apa, Bu. Maklum orang tua. Kalau begitu saya permisi. Mau kembali mengajar.” Neha mengangguk kemudian Johan kembali ke lapangan.
“Aduh ... Kenapa Opa jadi begini sih! Bu Fatma tahu gak ya! Duh jadi gak enak!" Gumam Neha.
Neha mengetahui jika Fatma sudah mulai membuka hati dan mencoba dengan Johan. Tetapi ia juga belum yakin Fatma benar- benar membuka hatinya. Sebab Johan sebenarnya bukan typenya. Ia juga tidak tahu sudah sejauh mana keseriusan mereka berdua.
“Ah ...! Sudahlah. Bukan urusanku. Pusing!" cicit Neha lalu berjalan menemui Ibu kantin dan memesan teh hangat.
Jam terus berjalan. Neha pun pulang lebih awal. Badannya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. Janjinya untuk memasak untuk anak-anaknya pun tertunda dan meminta anak-anak pulang menggunakan taksi.
Di jam istirahat, Arsy dan Amara keluar dari kelasnya. Amara dan Arsy berjalan santai di lorong sekolah. Namun tiba-tiba ada yang menyiram Amara dengan air es. Namun Karena Arsy melindungi Amara, Arsylah yang menjadi basah kuyup. Baju Arsy basah. Orang yang menyiram Arsy pun tertawa.
“Arsy!” cicit Amara mengusap wajah Amara yang basah lalu menatap tajam orang yang menyiram Arsy.
“Kau!!" geram Amara.
“Ups salah sasaran! aturan kena kamu! Jangan marah, tangan kamu belum sembuh, Loh!" Amara semakin emosi melepas penyangga tangannya dan membuangnya asal. kemudian menarik kerah baju orang yang menyiram Arsy. Amara mendorongnya ke tembok.
“Amara!” seru Arsy menghampiri Amara dan mencoba melerainya. Namun Amara sudah terlanjur emosi dan justru mendorong Arsy. Arsy terhuyung dan hampir saja terjatuh.
“Salah kami apa sama Kak Aretha. Aku gak pernah mengusik kakak selama ini. Bahkan aku gak kenal sama kakak!!" geram Amara. yang masih menyudutkan Arheta.
Aretha tersenyum sinis lalu meremas pergelangan tangan Amara yang cidera. Amara meringis . Namun ia menahan rasa sakit di pergelangan tangannya, lalu mendorong Aretha hingga terjatuh. Amara menarik lagi kerah baju Aretha. Aretha tidak tinggal diam. Ia menarik rambut Amara membuat Amara semakin bringas dan perkelahian tak terelakkan. Arsy dan yang lainnya menjerit dan berusaha memisahkan.
“Amara cukup!" Arsy begitu ketakutan ingin mendekati. ia juga takut terkena pukulan. Karena baik Arheta dan Amara, mereka menguasai bela diri.
Akhirnya Arsy dengan seragamnya yang basah ia turun memanggil guru dan meminta tolong. Sesampainya di lantai bawah Arsy melihat Bara, Johan dan Fatma.
“Pak Johan!" tariak Arsy. tidak peduli teman-temannya melihatnya.
“Arsy!” Mereka bertiga saling pandang melihat Arsy berlari ke arah mereka. Tanpa pikir panjang Bara dan Johan menghampiri Arsy.
“Arsy! Ada apa? Kenapa kamu basah begini?" tanya Bara
__ADS_1
“Amara berkelahi!"
“Apa?" jawab mereka bertiga. Johan dan Bara pun bergegas berlari naik ke lantai dua. sementara itu Arsy bersama Fatma.
"Kamu ikut Ibu ya, baju kamu basah!" Arsy mengangguk.
Johan dan Bara melihat Amara menahan leher Aretha dengan kakinya.
“Amara!" teriak Johan dan Bara. Mereka berdua berlari menghampiri Amara dan Aretha.
“Sekali lagi kau menggangguku atau Arsy. aku pastikan kamu keluar dari sekolah ini!" Amara begitu emosi, sedangkan Arheta sudah menepuk nepuk kaki Amara. sebab hampir tidak bisa bernafas.
Johan merengkuh Amara dari belakang. Amara terus memberontak dan ingin menyerang Aretha. Bara mengamankan Aretha dari serangan Amara.
“Lepas!” Amara terus memberontak. Bara membawa Arheta menjauh dari Amara.
“Mau kemana kamu! Urusan kita selesai! Lapasin aku!” Johan terus merengkuh Amara.
“Amara!!” teriak Johan. Amara terdiam lalu melihat Johan yang kini. berdiri di hadapannya dan memegang kedua pundaknya.
Dengan nafas tersengal-sengal dan masih dengan sisa emosinya. Amara menatap tajam Johan. Johan melihat baju Amara sobek bagian lengan. lalu ia membuka jaketnya dan memakaikannya di pundak Amara, Namun beberapa detik kemudian Amara jatuh pingsan di pelukan Johan.
“Amara?” Johan kemudian membopong Amara dan membawanya turun ke bawah.
Murid-murid lainnya hanya bisa diam, seketika takut melihat Amara seringai itu. Selama ini Amara murid yang manis dan baik hati serta ramah. Dan hanya diam jika disentil. Kali ini mungkin emosinya meledak dan tidak bisa terkontrol lagi.
“Pingsan!"
“Bapak mau membawanya kemana?" tanya Fatma yang mengikuti langkah Johan bersama Arsy.
“Ke rumah sakit. Saya takut tangannya kenapa-napa! Bu Fatma tolong bantu saya membuka pintu mobil. Amara hubungi tuan Martin atau Nyonya Laras. Jangan lupa beritahu Daren.
“Baik pak!"
Johan dan Fatma menuju parkiran. Fatma membatu Johan membuka pintu mobilnya. Johan membaringkan Amara di jok belakang.
“Bu Fatma tolong sampaikan kepada kepala sekolah, kalau saya membawa Amara ke rumah sakit.”
“Kepala sekolah belum balik, pak. Masih ada pertemuan."
“Kirim pesan saja.” Fatma mengangguk lalu Johan membawa Amara ke rumah sakit.
Johan mengendarai mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Ia begitu khawatir dengan kondisi Amara. Apalagi mengingat tangannya belum sepenuhnya pulih di tambah Amara tidak sadarkan diri.
Sesampainya di rumah sakit Johan membopong Amara membawanya ke UGD
__ADS_1
“Suster, tolong!" Johan membaringkan Amara di brankar.
“Maaf tuan! Adiknya kenapa?" tanya suster.
“Dua hari yang lalu tulang lengannya retak dan tadi di sekolah dia berkelahi dan akhirnya pingsan.” Johan menjelaskan dengan begitu panik
“Ini kan, cucu dokter Bayu dan Banyu. Anak keponakannya.”
“Iya sus, benar. Tolong panggil dokter Bayu dan dokter yang menangani kemarin!"
“Baiklah, tuan tunggu di luar.”
Johan menunggu di luar dengan perasaan tidak menentu. Benar apa yang di katakan Bryan. Amara justru melebihi Laras jika sedang tidak bisa menahan emosinya
Sementara itu di sekolah Bara, Fatma, Arsy dan Aretha berada di ruang BK. Daren sendiri sudah menyusul Amara ke rumah sakit.
Arsy menceritakan semuanya kejadiannya pada Bara, Guru BK yang baru. Mulai dari dirinya berjalan bersama Amara dan tiba-tiba Aretha menyiram air ke arah Amara, Namun dirinya dengan sigap melindungi Amara dan setelah itu Amara tidak terkendali.
“Jadi di sini jelas ya! Siapa yang salah. Tapi saya heran denganmu Aretha, kenapa kamu melakukannya lagi. Bukannya Bapak sudah memberikanmu surat peringatan? Apa yang kamu mempermasalahkan?”
“Saya tidak menyukai Amara dekat dengan Pak Johan!" balasnya dengan santai.
“Dih ... kepedean! Emang pak Johan suka sama anak ingusan kayak kamu. Pak Johan itu lagi pedekate sama Bu Fatma!” saut Arsy kesal.
Fatma menahan malu sedangkan Bara melihat Fatma penuh arti. Bara mengira Fatma istri Johan tetapi rupanya masih pendekatan.
“Emang kenapa?" balas Aretha lalu melirik Fatma.
“Aretha! CUKUP! Kamu masih kelas dua SMA. Fokus saja belajar. Dan terpaksa saya akan memberikan skorsing selama satu minggu dan memanggil orang tuamu. Kalau kamu mengulanginya lagi, sekolah tidak segan-segan mencabut beasiswa kamu dari orang tua Amara,” ancam Bara yang tahu data-data siswa.
Aretha terdiam dan melihat Arsy dan Fatma bergantian. Ada rasa dendam pada ketiganya. terlebih Bara menyebutkan kelemahannya.
“Ini surat scorsing kamu selama satu minggu dan ini surat panggilan kedua orang tuamu.” Bara memberikan surat peringatannya pada Aretha dan Aretha dengan kasar mengambil lalu pergi begitu saja dari ruangan BK.
“Anak-anak jaman sekarang!" Bara menggelengkan kepalanya.
“Pak kalau begitu saya permisi!" pamit Arsy. Bara mengangguk dan sekilas tersenyum. Setelah Arsy keluar Bara tersenyum melihat Fatma.
“Bu Fatma, Mau langsung pulang?” tanya Bara basa-basi.
“Iya, Pak. Kelas TK sudah bubar dari tadi.”
“Oh ...! Em ... boleh minta nomor hapenya?"
“Ah...?”
__ADS_1
“Maksud saya. Kita kan rekan kerja. Saya juga tidak banyak tahu guru di sini. Karena Ruangan saya berbeda sendiri. Tidak punya temen disini. Boleh dong saya berteman dengan Bu Fatma, Saya hanya tahu nomor hapenya pak Johan dan Pak Ardan dan kepala sekolah.” Fatma menghela nafas panjang. Meminta nomor saja banyak alasan. Fatma mengambil ponsel Bara dari tangannya lalu mengetik Nomornya.
“Sudah, pak! Saya permisi pulang!" Bara mengangguk lalu tersenyum. Fatma kemudian keluar dari ruang BK .