
“Jangan ngebut!” ucap Arsy saat di pelukan Daren.
“Hm! Sekolah yang pinter!" balas Daren lalu melepaskan pelukannya kemudian mengecup keningnya baru Daren menuju kampusnya.
Ya ... setiap pagi Daren mengantarkan Amara ke sekolah, dan di sekolah ia selalu menunggu Arsy hanya untuk berpamitan dan melihat senyumannya.
“Kalian bisa tidak sih gak mesra di depan ku terus!” protes Amara jengah.
“Makanya punya pacar seumuran!" Goda Arsy memeluk erat Daren di depan Amara.
“Heehhhh! Amara kesal lalu meninggalkan mereka berdua lalu berjalan menelusuri lorong sekolah. Arsy dan Daren hanya tertawa.
Amara berjalan melewati ruang guru. Saat melewati pintu ruang guru ia tersenyum melihat Johan, begitu juga Johan. Amara tersenyum malu dan terus melangkah menuju kelasnya.
Johan menundunduk malu mengingat pertama kali ia mencium Amara di hari lamarannya. Johan sendiri juga tidak menyangka bakan bertahan dan sampai tahap lamaran bersama Amara yang notabene adalah muridnya.
Tinggal selangkah lagi hubungannya akan ke tahap lebih serius. Tinggal menunggu beberapa bulan kelulusan Amara ia siap mempersuntingnya.
Amara masuk kedalam kelasnya dan langsung duduk di bangkunya. Ia duduk sambil membuka tasnya dan mengambil bukunya. Amara membaca buku pelajarannya sambil tersenyum membayangkan Johan. Namun, tiba-tiba ada darah menetes dari hidungnya dan mengenai bukunya. Amara mengerutkan dahinya sambil menyentuh hidung. ia terkejut saat melihat darah yang ada di jarinya.
“Amara!" panggil Arsy. Amara mendongak dengan darah yang terus mengalir dari di hidungnya.
“Astagfirullah Amara! Kamu kenapa?"
“Gak tau! Tiba-tiba keluar darah!” Amara bangkit dari duduknya sambil mengusap hidungnya.
Berapa kali pun ia mengusap darah dari hidungnya. Darah tersebut terus mengalir membuat Arsy panik.
“Apa yang terjadi padamu?" tanya Arsy.
“Elga tolong panggil guru! Papaku atau siapapun.”
“I-iya!” Elga pun berlari mencari bantuan guru.
“Arsy kok gelap sih? mati lam...,” ucap Amara yang tidak melanjutkan kalimatnya ia pun sudah jatuh tidak sadarkan diri di pundak Amara.
“Amara kamu kenapa?” Teman-temannya juga panik melihat Amara jatuh pingsan.
__ADS_1
Elga berlari menuruni tangga dengan panik membuat yang lainnya heran melihat dirinya berlari di pagi hari.
“Pak, Bu! Amara!” Elga terengah-engah dan membuat semua guru saling pandang.
“Amara pingsan!"
‘Dreeetttt' Johan tanpa tanya langsung berlari keluar ruangan dan semakin membuat yang lainnya saling pandang. Neha berdiri dan berjalan menghampiri Elga
“Amara kenapa?" tanya Neha.
“Hidungnya keluar darah, terus pingsan, Bu.” Neha kemudian mengambil ponselnya lu keluar ruangan menuju ruangan Ardan.
Sementara itu Johan sudah membopong Amara keluar dari kelasnya di ikuti Arsy membawakan tasnya. Arsy juga panik dan langsung menghubungi Daren. Saat berlari kecil membawa Amara, Johan berpapasan dengan Ardan.
“Apa yang terjadi?” tanya Ardan mengikuti langkah Johan.
“Tidak tahu, Pak! Saya akan membawanya ke rumah sakit!”
“Baiklah. Arsy kamu temani Pak Johan. Papa dan Mama akan menyusul nanti.”
“Iya Pa!"
Arsy membantu Johan membukakan pintu mobilnya, lalu Arsy masuk dan di susul Johan membaringkan Amara di pangkuan Arsy. Tak lama Johan masuk kebagian kemudi dan melanjukan mobilnya ke rumah sakit keluarga Amara.
“Amara kamu kenapa? kenapa hidung kamu keluar darah terus." Arsy menangis melihat sahabatnya tak berdaya dan terus menyeka darah yang keluar dari hidungnya dengan Sapu tangan Johan.
“Pak Johan! Ayo pak!" pekik Arsy.
“Iya sabar Arsy! Ini hari senin, jalanan macet.” Arsy kemudian mengambil Ponselnya dan menghubungi Daren.
“Kakak di mana!” tanya Arsy di balik sambungan ponselnya.
“Kakak ada di simpang jalan, Kakak kena macet!”
“Ya Tuhan. kami juga kena macet kak!"
“Sial!” umpatnya.
__ADS_1
“Ya sudah kamu tenang, kamu jangan buat pak Johan juga panik! Kakak akan minta bantuan sama teman-teman anak motor kakak yang ada di daerah sana untuk membukakan jalan.” Daren mematikan sambungan ponselnya lalu ia menghubungi teman yang anak motor untuk membukakan jalan untuk mobil Johan.
Selang beberapa menit rombongan motor besar terlihat memecah jalanan dan membuka jalur mobil. Anggota motor itu juga tidak sembarangan membuka jalan, mereka melibatkan polisi. Salah satu pengendara mengetuk pintu mobil Johan agar Johan melajukan mobilnya dan mengikuti beberapa motor di depannya.
“Kak Daren kau memang penuh kejutan, terlihat cuek sama Amara tapi kau begitu perhatian. Gak sia-sia gabung Club motor besar. padahal aku sudah melarangnya.”
Hanya beberapa menit rombongan motor itu mengantar Mobil Johan masuk ke rumah sakit dan langsung menuju UGD. Amara pun langsung mendapat pertolongan.
“Kakak!” seru Arsy saat melihat Daren datang dengan beberapa teman motornya. Arsy memeluk Daren dan menangis.
“Amara kak! Amara.” Daren mengecup puncak rambut Arsy.
“Amara tidak apa-apa! dia sudah di tangani dokter,” hibur Daren mencoba menenangkan Arsy jika sahabatnya itu baik-baik saja, walau sebenarnya ia tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan sang adik.
“Pak Johan, sebenarnya Apa yang terjadi pada Amara?”
“Aku tidak tahu, yang aku lihat tadi pagi Amara masih baik-baik saja dan belum ada setengah jam Ada yang memberitahu kalau Amara jatuh pingsan dan hidungnya mengeluarkan darah!” jelas Johan yang begitu terlihat cemas.
“Kenapa anak itu? habis dari pantai kemarin dia latihan karate di rumah, terus ikut gym di rumah sama Papa. Apa dia kelahan?” batin Daren mengingat aktif kemarin.
Tak lama Daren melepaskan pelukan Arsy dan menemui polisi lalulintas yang membantunya untuk mengucapkan terima kasih. Siapa yang tidak mengenal nama Garmond jika di sebut sudah pasti semua orang tahu jadi mudah saja bagi Daren untuk meminta bantuan.
Setelah menemui polisi Daren kembali bergabung bersama Johan yang duduk menunggu Amara yang masih di ruang UGD.
“Apa yang terjadi denganmu sayang.” Johan mengusap kasar wajahnya dan terlihat lesu.
“Hay bro! Kami ke kampus ya. Kami doakan adikmu sehat kembali!” ujar salah satu teman motor Daren.
“Iya Frans, terima kasih bantuannya.” Frans menepuk pundak Daren lalu menyalami Johan dan Amara, Namun saat Amara hendak membalas uluran tangan Temannya itu, Daren menepisnya.
“Maaf bro. yang ini tidak sembarangan boleh di pegang." Temannya tertawa kecil dan mengerti.
“Ok! aku mengerti! see you next time!” Kemudian mereka kembali ke rutinitas masing-masing.
“Daren!” panggil dokter UGD yang kebetulan Banyu, sang Opa.
“Opa! bagaimana Amara?"
__ADS_1
“Untu sementara kami menduga dia kelelahan. tapi kami akan segera tes darah dan memeriksa luka luka lebam di tubuhnya. untuk sementara luka itu mungkin karena dia sering berlatih karate.”
“Amara hanya kelelahan. Jangan khawatir!" Banyu menepuk pundak Johan dan tersenyum. Banyu juga belum bisa mendianosa apa yang terjadi pada Amara sebelum hasil tes darah keluar. Tapi dari luka lebam Banyu sedikit khawatir.