
Jam istirahat anak TK telah tiba. Neha dan yang lainnya mengawasi murid-murid TK yang sedang bermain di Taman bermain. Fatma dan Nurul serta Neha duduk di kursi sambil melihat anak-anak yang lain dan guru lainnya mengawasi murid-muridnya dari kelasnya masing-masing.
Dari kejauhan tampak Ardan berjalan menghampiri mereka. Neha tersenyum saat melihat suaminya berjalan ke arahnya.
”Ahem...! Pak Ardan tidak akan hilang, Bu. Jangan di lihat seperti itu! goda Fatma. Neha tersenyum malu lalu sekilas melihat Fatma kemudian Kemabali melihat Ardan.
"Memang kalau jatuh cinta itu. Rasanya pisah satu jam saja seperti satu abad," goda Fatma dan ketiga keduanya tertawa kecil.
”Bu Fatma bisa saja!”
Sadar sang istri terus melihatnya, Ardan kemudian mempercepat langkahnya menghampiri sang istri. Senyum keduanya tidak Pudar sedikit pun dan membuat keduanya terus berdebar.
“Selamat pagi menjelang siang ibu guru semua!" sapa Ardan, Namun matanya terus tertuju pada sang isteri.
“Pagi pak Ardan!" balas Fatma.
"Bu Fatma. Apa bu Fatma hari ini merasa panas tidak?" Sarkas Nurul di dekat Neha sambil mengibaskan tangan di wajahnya.
"Iya Bu! Sedikit. Saya mau beli es cendol di kantin." Fatma berdiri di ikuti Nurul.
"Saya ikut Bu!" balas Nurul yang tidak mau menjadi obat nyamuk untuk Ardan dan Neha.
“Sebentar ya, Bu Neha, permisi pak Ardan!" Ardan mengangguk kemudian duduk di samping Neha.
Fatma dan Nurul berjalan ke kantin. Rupanya di kantin ada Johan yang sedang duduk dan minum sambil memainkan ponselnya. Ada pula beberapa murid-murid juga membeli minuman selepas olahraga di jam pelajaran Johan.
“Ada dia lagi!" pekik Fatma, namun sudah terlanjur ke kantinsu tidak mau Fatma ke kantin.
Fatma membeli minuman botol dan beberapa cemelin, lalu ia duduk bersama Nurul. Johan melihat Fatma pun langsung berdiri dan menghampirinya.
“Bu Fatma, Bu Nurul!" Sapa Johan lalu duduk di samping Fatma tanpa izin.
“Pak Johan, Istirahat pak?" tanya Nurul basa-basi.
“Iya Bu, selesai pelajaran olahraga di lapangan. haus. Anak-anak minta istirahat."
__ADS_1
Fatma hanya diam dan tidak menggubris apa yang di sampaikan Johan pada Nurul.
“Oh ... begitu!"
“Kok, Kalian cuma berdua? Bu Neha mana? Biasanya sudah kayak AB three, bertiga terus.” Nurul tertawa kecil sambil melihat Fatma yang wajahnya datar.
“Iya. Kami sengaja kemari. Karena ada pak Ardan menghampiri Bu Neha.”
“Oh!" Johan melirik Fatma yang sedang minum. Namun rupanya air minumnya sudah habis.
Johan berdiri menuju lemari pendingin untuk mengambil air minum untuk Fatma. Namun, saat Johan kembali Fatma sudah berdiri.
“Bu Fatma!" panggil Johan berlari kecil menghampiri Fatma.
“Apa?" tanya datar Fatma.
“Ini buat ibu!" Fatma melihat botol minuman yang ada di tangan Johan lalu tersenyum tipis
“Terima kasih, Pak!" Fatma mengabaikan pemberian Johan dan langsung keluar dari kantin di ikuti Nurul.
Johan hanya bisa melongo melihat penolakan Fatma beberapa kali. Tidak menyangka Fatma begitu dendam dengan Johan hanya gara-gara tidak boleh menumpang mobilnya waktu itu.
”Amara ini buat kamu!" Johan meletakkan minumannya di depan Amara. Semua temannya hanya melongo melihat Johan.
“Terima kasih, Pak!" Johan tersenyum tipis lalu mengusap rambut Amara kemudian Johan melangkah pergi.
“Pak Johan!" Panggil Amara sambil berdiri. Johan menoleh ke arah Amara.
“Maaf sebelum, Pak! Tiga hal penting yang Bapak harus ketahui. Pertama. Jika Bapak tidak di undang, jangan datang. Kedua, jika seseorang tidak mau berkorban untuk Bapak, jangan membuang waktu untuk bertahan. Ketiga, jika Bapak tidak dianggap, Pergilah. Jangan memaksa, jangan memohon.”
Johan tersenyum mendengar kata bijak dari muridnya. Ada benarnya apa yang di sampaikan Amara. Mungkin selama ini dirinya terlalu memakasa Fatma.
“Terima kasih!"
“Iya pak. Kami akan membantu Bapak mendapatkan hati Bu Fatma." Johan tersenyum dan melihat satu persatu muridnya khususnya Amara. Arsy dan yang lainnya mengacungkan jempol tanda bersedia membantu.
__ADS_1
“Beneran?"
"Hm!!" mereka berempat mengangguk.
“Ok!" balas Johan mengulurkan tangannya tanda setuju. Satu persatu muridnya meletakkan tangan di atas punggung tangan Johan.
“Misi taklukkan Bu Fatma!" celetuk Arsy dan semuanya tertawa.
“Semoga berhasil ya, Pak!" ucap Amara. Johan tersenyum lalu sekali lagi mengusap kepala Amara. kemudian melangkah pergi dari kantin.
Jam pelajaran terus berlanjut sampai jam pulang sekolah. Neha dan Ardan pulang lebih dulu sedangkan anak-anak langsung menuju tempat les.
Diperjalanan Neha meminta Ardan berhenti di supermarket. karena ia ingin berbelanja kebutuhan dapur yang sduah habis.
"Oh iya!” Ardan mengeluarkan dompetnya mengeluarkan kredit card dan juga Kartu ATM memberikannya pada Neha.
"Ini untuk mu. Urusan rumah tangga Mas serahkan semua padamu. Mulai gaji untuk asisten rumah tangga. Jajan anak-anak. keperluan pribadi kamu dan lainnya. Kalau nanti kurang beritahu Mas!" ucap Ardan mempercayakan semuanya pada Neha .
"Mas percaya pada ku?" tanya Neha memastikan.
"Kamu istriku sayang. Apa yang sudah aku berikan, semua terserah padamu!" jelas Ardan.
"Terima kasih, Mas Akan aku pergunakan dengan baik dan sesuai kebutuhan rumah tangga kita."
"Di luar dari kebutuhan juga tidak apa-apa sayang, aku bekerja untuk anak-anak dan kamu. Doakan saja semua urusan pekerjaan suami kamu di mudahkan. Karena doa istri untuk suaminya pasti didengar Tuhan." Neha tersenyum kemudian mereka turun dari mobil dan masuk ke supermarket.
Ardan mempercayakan semuanya pada Neha. Ia tahu Neha pasti bisa menjadi istri dan Mama sambung serta menjadi nyonya yang baik untuk orang-orang yang bekerja di rumahnya. Beda halnya dulu saat bersama Laras, ia yang mengatur semuanya Karena Ardan tahu, Laras tidak mungkin sempat mengurusi hal hal kecil yang ada di rumah, sebab Laras saat itu juga kuliah dan mempunyai bisnis sendiri. Ardan hanya meringankan beban Laras agar tidak banyak pikiran dan menjadi uring-uringan. Memang kala itu Laras masih sangat muda dan manja.
Neha dan dan Ardan menyusuri rak-rak di supermarket. Mengambil bahan makanan yang sekiranya sudah habis di rumah. Tak lupa ia juga mengambil coklat kesukaan Arsy dan minuman kesukaan Devan. Neha sudah hapal betul ala yang di sukai anak-anak sambungnya.
“Mas! kesana.” Neha merangkul lengan Ardan dan mengajaknya ke stand makeup.
“Aku mau beli serum wajah, Mas."
“Iya ... sayang. Bu saja apa yang kamu mau dan kamu butuhkan. Mas juga mau beli sesuatu." Kedua terkekeh menuju stand Makeup.
__ADS_1
***
komentar Mana ini aku dah up banyak.🤧🤧