
Acara berlanjut dengan makan malam dan menambah keakraban dua keluarga. Johan dan Amara duduk terpisah dan hanya berdua. Sedangkan Arsy dan Daren bergabung dengan keluarga. Namun, ada saja tingkah mereka yang membuat gelak tawa.
Johan terus menggenggam jemari Amara dan terus memandangi wajahnya. Gadis kecil yang dulu kini perlahan berubah menjadi dewasa walau belum sepenuh matang.
“Saya harus memanggil Bapak apa di luar sekolah?”
“Em ... apa ya. Mas! Ah wajah kamu kan campuran gak cocok manggil Mas. Kakak saja.”
“Kakak? Ok, no bad!” Mereka tertawa kecil dan masih saling menggenggam.
“Setelah lulus kita nikah? Mau gak?” tanya Johan.
“Kak, kecepatan. Aku pengen kuliah!” Johan tertawa kecil melihat wajah serius Amara.
“Iya ... Kakak bercanda. Kakak pasti tunggu kamu dua tahun lagi. pokonya kamu genap 20 tahun kita menikah.” Amara tersenyum dan semakin erat menggenggam tangan Johan.
“Tapi kalau gak di kasih umur panjang bagaimana? tiba-tiba Kakak mati!”
“Kakak ngomong apa sih? nyebelin. Baru aja ngelamar aku, masak ngomong gitu! Kakak gak asyik.” Amara bangkit lalu berjalan ke arah taman. Para orang tua melihat mematung apa yang baru saja terjadi. Martin hendak menghampiri Namun Laras dan Bryan mencegahnya.
“Biarkan mereka!” ujar Bryan.
Amara mengusap air matanya. Kenapa Johan berkata seperti itu. Seharusnya membicarakan rencana untuk kedepannya bagaimana.
Johan memeluk Amara dari belakang lalu mencium pucuk rambutnya. “Maaf ya! Kakak bicara seperti itu karena takdir hidup seseorang kan gak ada yang tau.” Amara membalikkan badannya lalu melihat Johan begitu lekat.
“Jangan membicarakan hal seperti tadi ya kak. aku gak suka.” Amara kemudian memeluk Johan dengan erat.
“Besok hari libur mau kemana?” tanya Johan mengalihkan pembicaraan.
“Ke pantai!” Amara mendongak lalu tersenyum.
“Boleh! ajak pasukan huru hara.”
“Ok!” mereka tertawa kecil lalu kembali berpelukan.
“Ya sudah kita pulang. Sudah malam.” Amara mengangguk lalu mereka menghampiri orang tua mereka.
Amara memeluk Martin dari belakang lalu mencium pipinya. Amara begitu bahagia orang tuanya merestui hubungannya dengan Johan.
“Sudah?” tanya Martin.
“Sudah. pulang! ” Amara kemudian bangkit lalu berdiri di samping Johan dan merangkul pinggangnya.
“Kak Daren Arsi! besok kita ke pantai ajak pasukan huru hara. Khusus mereka saja.”
“Siap nanti aku kirim pesan sama mereka satu-satu.”
“Kelamaan Oneng kirim pesan satu-saru! kan ada grup chat!” sambung Daren.
“Oh iya, iya. Lupa!” lalu mereka semua tertawa. Akhirnya mereka pulang bersama orang tua masing-masing.
***
__ADS_1
Kini mereka sudah berada di pantai. saling berbeda gurau bermain di tepi pantai. Namun Johan dan Amara hanya duduk melihat sahabatnya bermain. Johan berbaring di pangkuan Amara dan melihat penuh arti. Amara mengusap lembut rambut Johan dan senyum mereka tidak pernah pudar.
“Amara!”
“Hm!”
“Tetap bersamaku!” Amara tersenyum lalu mencium pipi Johan.
“Kakak yang harus tetap bersamaku. Apa pun yang terjadi.” Johan bangkit lalu memeluk Amara.
“Ya sudah ikut gabung mereka yuk!” Amara mengangguk lalu ikut bergabung bermain di bibir pantai.
Setelah semua merasa lelah mereka duduk bersama sambil membeeskan barang bawaan masing-masing lalu mereka menuju restoran milik Abi yang berada tak jauh dari pantai.
“Opa!” seru Amara saat melihat Abi yang kebetulan sedang berkunjung. Amara berlari kecil menghampiri Abi lalu memeluknya.
“Astaga! Amara.” pekik Abi.
“Sama siapa kamu datang?” tanya Abi.
“Itu sama pasukan huru hara dan tunangan Amara.
“Tunangan. Kapan kamu tunangan?" tanya Abi yang memang belum mengetahui jika Amara di lamar.
“Aku gak tau tunangan atau apa. tapi tadi malam Amara di lamar sama pak Johan, pak Johan ngomong langsung sama Papa.”
‘Platak!’ Abi menjitak kepala Amara dan ditertawakan semua sahabatnya.
“Ya itu namanya di lamar. kalau udah lamaran. GK boleh lama-lama. Rentan godaan.”
“Godaan? Godaan apa maksudnya?" Perlahan Amara berjalan bergabung dengan semuanya.
Amara terdiam memandangi wajah sahabatnya satu persatu, mereka tampak bahagia dan senang. Amara tersenyum tipis saat Johan memberikan buku menu.
“Kamu mau apa?" tanya Johan.
“Kepiting! Minumnya air putih aja.”
“Kamu gak salah pesan kepiting. kamu kan alergi makanan seafood!” seru Daren.
“Gak ada, gal ada! nyusahin kalau udah kambuh!” kesal Daren.
“Tapi pengen kak. aku bawa obat alergiku kok.”
“Gak!”
“Sudah-sudah, Amara kamu pesan yang lain saja. masih banyak menu lain,” saut Abi menengahi. Amara terlihat kesal lalu bersandar di tembok.
“Mau apa?” tanya Johan.
“Apa saja. Terserah! Uang penting makan!”
“Ayam bakar aja!” ucap Johan. Amara mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di bahu Johan sambil memegang lengannya dan tangan satunya melingkar di perut Johan.
__ADS_1
Alex dan Ardi terbawa suasana dan iri dengan Amara, mereka pun menirukan Amara yang bersandar di pundak Johan dan membuat gelak tawa.
“Makanya Ardi bawa pacar kamu!”
“Tadinya mau di bawa. Tapi Alex bilang gak boleh khusus kita-kita saja!"
“Biarin, nemenin aku jomblo.”
“Makanya punya pacar!" saut Bella.
“Gak ah! nungguin jandanya kalian aja.”
“Plak!” Daren menimpuk wajah Alex dengan buku menu di iringi tawa semuanya.
“Sakit bos!” pekik Alex.
“Jaga ucapan! kau sumpahin kami mati!”
“Bercanda!” ralat Alex takut melihat tatapan tajam Daren.
Pelayan kembali ke belakang untuk mengambil pesanan mereka. Saat menunggu Amara berbaring di pangkuan Johan dan kakinya ia tumpangan di paha Daren.
“Kamu ngantuk?" tanya Johan sambil mengusap rambut Amara.
“Hm!”
“Jangan lari sayang, nanti jatuh!” Suara seseorang terdengar memperingati anaknya. Semua mata menoleh ke arah sumber suara.
Amara yang mengenal suara tersebut pun langsung meraih jaket Johan dan menutupi kepalanya.
“Bu Fatma! Pak Bara!” desis Arsy lalu melihat Amara yang sudah bersembunyi.
Johan kemudian membuang pandangannya dan pura-pura memainkan ponsel. Sesekali tangannya membenarkan jaket yang menutupi kepala Amara.
“Bu Fatma! pak Bara!” sapa Arsy lalu mereka berdiri satu persatu menyalami Bara dan Fatma.
“Kalian ada disini? Apa ada acara reuni?” tanya Bara sekilas melihat Johan dan Abi.
“Ah tidak, pak! Kami memang sering berkumpul kalau hari libur.”
“Mas di bungkus saja deh! Nada gak mau diam!" ucap Fatma menggendong sang anak yang berusia turun dari gendongannya. Nada adalah nama anak Fatma dan Bara yang baru berusia dua tahun.
“Ya udah. Kamu bawa ke mobil. Biar Mas yang pesan.” Fatma mengangguk lalu sekilas melihat Johan dan Amara yang masih berbaring di pangkuannya. Namun Fatma tidak mengetahui jika orang yang berbaring di pangkuannya itu Amara. Fatma lalu keluar dari restoran sambil bertanya dalam hati, siapa gadis yang tidur di pangkuan mantan calon suaminya itu.
“Ya sudah Bapak pesan makanan dulu ya. tadinya mau bergabung sama kalian, tapi anak Bapak tidak mau diam.”
“Iya pak. Tidak apa-apa lain kali saja,” balas Daren lalu Bara berjalan ke Pantry.
“Kak, udah pergi Belum?" tanya Amara pelan pada Johan
“Belum! Udah tiduran aja dulu.”
“Panas tau kak!” Arsy dan lainnya hanya menahan tawa melihat Amara bersembunyi.
“Makanya go publik dong!" ucap Alex yang mendapat tendangan dari Amara dari bawah kolong meja.
__ADS_1
“Aduh Sakit!”
“Diam lo Lex!" Geram Amara.