TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 16 MASA TUA


__ADS_3

Fatma begitu syok lalu melihat wajah orang yang menolongnya yang ternyata adalah Johan. Nafas Fatma sudah tidak teratur karena syok lalu Johan memapahnya duduk di kursi.


“Bu Fatma tidak apa-apa!”


“Tidak Pak. Terima kasih.” Johan memberikan air minum untuk Fatma. dengan tangan gemetar Fatma meminumnya.


Johan yang tidak tega melihat Fatma minum dengan tangan gemetaran pun refleks membantu Fatma minum.


“Ada apa ini! Kok ada yang teriak?" Suara bariton seseorang di ambang pintu.


“Pak Burhan! Tidak ada apa-apa Pak. Bu Fatma hampir terjatuh dari atas meja,” balas Johan. kepala sekolah menghampiri Fatma yang masih syok dan gemetar.


“Kenapa bisa mau jatuh di atas meja?"


“Maaf Pak, tadi saya mengganti baterai jam dinding dan saya kurang hati-hati. Jadi saya terpeleset, beruntung ada pak Johan yang menangkap saya."


“Kenapa bukan pak Johan atau tukang yang ganti!" tanya sekolah melihat Fatma yang masih gemetar dan wajahnya berubah pucat lalu melihat meja yang dinaiki Fatma.


“Maaf Pak. Saat saya masuk ke ruangan. Saya sudah melihat Bu Fatma di atas meja.”


“Jangan di ulangi ya Bu. Bahaya. Biar tukang saja yang menggantinya nanti.”


“Iya Pak Burhan. Maaf!”


“Kalau begitu saya permisi. Tapi benar, Bu Fatma tidak apa-apa? wajah ibu pucat sekali loh!”


“Tidak apa-apa Pak. Saya hanya syok!”


“Ya sudah saya tinggal dulu.” Fatma mengangguk dan tersenyum tipis.


“Permisi, Pak Johan. Saya kelas dulu," pamit Fatma lalu berdiri dan mengambil buku tugas anak-anak yang ia letakkan di meja Johan kemudian ia berjalan keluar dengan gemetaran.


Johan menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya lalu ia mengambil buku materi olah raga di mejanya. Setelah itu ia menggeser meja yang di gunakan Fatma berpijak membenarkan jam dinding lalu ia keluar menuju kelasnya.


“Maaf, bu Neha. Lama menunggu.” ujar Fatma saat sampai kelasnya.


“Tidak apa-apa Bu, anak-anak sudah berdoa. Sekarang sedang menyalin. Ibu kenapa kayak gemetar terus pucat begini, Bu Fatma sakit?” tanya Neha memegang tangan Fatma.


“Gak apa-apa, Bu. Cuma sedikit syok tadi hampir jatuh dari atas meja!”


“Hah? jatuh?” Fatma lalu menceritakan kronologis kejadiannya.


“Astaga! Untung ada Pak Johan kalau tidak, Bu Fatma sudah di bawa rumah sakit.”

__ADS_1


“Iya Bu!” Fatma tersenyum tipis mengingat Johan menolongnya.


Mereka melanjutkan mengajar seperti biasanya. Perlahan rasa gemetar Fatma mulai berkurang.


***


Jam pulang telah tiba, para siswa juga sudah pulang termasuk Arsy dan Devan serta guru lainnya. Arsy dan Devan pulang di jemput sopir pribadi rumahnya dan tidak menunggu sang Papa karena mereka ada les tambahan di tempat lain. Sementara itu Neha menunggu Ardan di ruangannya, Ruang BK.


“Neha? Kamu nunggu Om?” tanya Ardan saat melihat Neha sudah duduk di sofa dan ia baru selesai mengisi pelajaran kosong di salah satu kelas. Ardan berjalan menghampiri Neha dan Neha berdiri saat Ardan menghampirinya. Kini mereka berdiri saling berhadapan.


“Iya! Katanya suruh nunggu waktu istirahat tadi.”


“Om pikir, kamu udah pulang naik taksi. Kan bisa naik taksi.”


“Om!” rengeknya sambil memegang lengan Ardan sedangkan Ardan memegang kedua pinggang Neha.


“Ya sudah! Besok-besok aku gak mau nunggu!” kesal Neha melepaskan tangan Ardan dari pinggangnya Namun Ardan justru menariknya hingga hidung mereka bersentuhan.


“Pulang ke rumah Om ya! Jadi istri Om!” lirih Ardan lalu sekilas melihat sorot mata Neha kemudian pandangannya turun ke bibirnya.


“Om! Lepas, nanti ada yang lihat!”


“Tidak ada. Sekolah sudah kosong tinggal kita berdua.” Ardan kini mengecup bibirnya, Neha pun sekilas membalasnya.


Ardan tersenyum lalu berjalan menuju mejanya dan mengambil tasnya kemudian mereka keluar dari ruangan BK dan berjalan menuju parkiran.


“Kamu ada acara hari ini?" tanya Ardan saat sudah berada di mobil.


“ Tidak ada Om!”


“Mau ke pantai?” tanya Ardan .


“Boleh! Tapi anak-anak?"


“Mereka masih di tempat les. Mereka pulang jam 5 sama sopir. Papanya pacaran dulu,” kelakar Ardan di iringi tawa Nena.


“Om bisa saja.”


Ardan kemudian melajukan mobilnya menuju pantai. Sesampainya di pantai mereka duduk di bawah pohon sambil menikmati segarnya air kelapa. Neha duduk di depan Ardan di antara dua kakinya dan kepalanya ia sandarkan di dada bidang Ardan sedangkan Ardan merangkul perut Neha.


“Om.”


“Hem!" Ardan melihat Neha yang sedang mendongak melihatnya. Neha menarik tekuk Ardan dan menciumnya.

__ADS_1


“Aku takut Papa gak setuju sama hubungan kita Om.” Neha merubah posisi duduknya menghadapi ke arah Ardan.


“Om akan berusaha meyakinkan Nathan, Sayang.”


“Kita Om, kita berdua akan meyakinkan Papa.”


“Neha! Sekali lagi Om tanya? Kamu yakin dengan semuanya.”


“Om, Apa cintaku belum meyakinkan? Apa perhatianku sebagai wanita dewasa pada Om kurang. Om ... aku sudah dewasa. Aku sudah mempertimbangkan semunya, aku juga mencintai anak-anak Om. Dengan apa aku harus membuktikannya lagi.”


Neha tidak tahu lagi harus dengan apa meyakinkan Ardan, semua perhatiannya sudah ia berikan pada Ardan dan anak-anaknya.


“Aku memang bukan yang pertama di kehidupan Om, dan aku hanya ingin menjadi orang terakhir yang menemani masa tua Om.”


Ardan seketika menarik Neha ke dalam pelukannya. ia begitu terharu saat Neha mengatakan ingin menemani dirinya di masa tuanya.


“Kenapa kamu mau menemani masa tua Om. Bukankah itu akan membuang waktu muda mu!" Ardan menangkup kedua pipi Neha.


“Karena aku nyaman bersama kamu, Om."


Ardan tiba-tiba merogoh kantung kemejanya mengambil cincin yang ia siapkan khusus untuknya. Neha tersenyum saat Ardan memasang cincin ke jari manisnya.


“Aku melamarmu. Mau kah kamu menjadi istri dan Mama bagi anak-anak Om?”


“Iya. Neha mau!" Ardan mencium punggung tangan Neha lalu mencium keningnya setelah itu mereka berpelukan.


Keputusan Neha benar-benar sudah bulat melabuhkan cintanya pada duda beranak dua yang usianya 20 tahun lebih tua darinya. Baginya itu tidak penting dan menganggap itu hanyalah sebuah angka yang bukan menjadi penghalang cintanya.


“Om, aku panggil Mas, ya!” Neha tersenyum mengusap pipi Ardan.


“Kenapa di rubah?”


“Karena Neha bukan ponakan Om lagi. Tapi Calon istri.” keduanya terkekeh.


“Terserah kamu. Senyaman kamu saja, sayang.”


“Mas!” Walau terdengar aneh tapi Neha senang memanggil dengan sebutan barunya untuk Ardan.


“Ya sudah, kita pulang.”


“Sebentar, Mas! Aku mau lihat matahari terbenam.” Ardan tersenyum dan mengangguk lalu merangkul Neha.


Mereka menikmati detik-detik matahari akan tenggelam. Warna jingga di ujung luasnya lautan di depannya membuat kesan begitu romantis. Mereka saling pandang dan akhirnya berciuman seiring matahari tenggelam di ujung lautan .

__ADS_1


__ADS_2