
Keadaan Johan dan Amara sudah membaik. Akan tetapi mereka masih di rumah dan belum masuk ke sekolah, Ardan memberi waktu Amara dan Johan untuk istirahat selama sebulan, terlebih Amara yang sepertinya masih trauma. Semenjak kejadian itu, Amara sering ketakutan apa lagi mendengar bunyi yang sangat keras seperti letusan balon atau letusan mercon dan bunyi sejenisnya. Bahkan ia takut melihat api walau dengan wujud gambar.
Ia pun malu saat melihat dirinya di cermin karena alis dan sebagian rambutnya pun hilang. Rambut panjang kebanggaannya hanya tersisa separuh. Mau tidak mau ia harus memotong dan merapikan rambutnya seperti potongan rambut laki-laki. Ia sering murung dan mengurang diri di kamar. Martin dan Laras khawatir dengan kondisi Amara saat ini, yang berubah drastis. benar-benar menjadi pendiam dan tidak ingin bertemu orang lain walau dengan sahabatnya sendiri, Arsy.
Mendengar kabar Amara yang tidak baik-baik saja. Johan akhirnya memutuskan untuk menjenguk Amara di rumahnya. walau kondisinya masih belum cukup membaik.
“Sayang! Ada yang mau bertemu denganmu!" ucap Martin pada Amara yang sedang duduk di teras belakang rumah.
Amara hanya diam dan merapatkan jaket yang ia kenakan. Jaket milik Johan yang Johan pakaikan sewaktu kebakaran. Johan tidak datang sendiri, ia datang bersama Fatma, Devan dan Arsy serta Alex sedangkan Bella ia tidak ikut..
“Amara tidak mau bertemu siapa pun, pa!"
“Beneran kamu tidak ingin bertemu dengan Bapak!” Amara terdiam mendengar suara yang tidak asing baginya. Suara orang yang katanya Ingin menunggunya dewasa.
Perlahan Amara menutup kepalanya dengan penutup dari jaketnya dan masih tetap diam. Johan perlahan mendekati Amara lalu duduk di sampingnya. Arsy dan yang lainnya memilih meninggalkan mereka berdua dan ikut bersama Martin di ruang santai.
Johan melihat Amara yang masih menunduk dan tersenyum. Tidak ada respon dari Amara, Johan pun berlutut di depannya.
“Hai! Kenapa kamu murung?” Amara menggeleng pelan.
“Terus!”
“Amara malu!” Seketika Amara menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Johan tersenyum lalu memegang tangan Amara dan membukanya.
“Malu kenapa? Kamu masih cantik.”
“Alisku hilang, Rambutku!” Amara semakin menangis dan menutupi wajahnya kembali. Johan menariknya kedalam pelukannya.
“Nanti, kan bisa panjang lagi. Walau rambut mu begini masih cantik.” Johan mengusap punggung Amara.
“Kamu gak lihat, rambut Bapak juga di potong. Karena sama kena api.” Johan membuka topinya. Amara melepaskan pelukan Johan dan melihat Johan.
“Rambut Bapak di potong juga?" Johan mengangguk dan tersenyum.
“Masih ganteng gak?” Seketika Amara tertawa kecil dan memukul pundak Johan.
“Bapak kepedean!”
__ADS_1
“Harus dong!” Johan kembali duduk di samping Amara.
“Jangan malu ya! Harus percaya diri walau gak punya alis, sementara minta sama Mama buatkan alis pakai pensil alis punya Mama kamu atau bisa sulam alis.”
“Sulam alis?"
“Hm. Tanya Mama kamu yang lebih tahu.” Amara mengangguk dan tersenyum.
“Pacar kamu ikut kesini, kamu gak mau ketemu sama dia dan sahabat kamu.”
“Devan?"
“Hm!" Amara terdiam lalu perlahan membuka penutup kepalanya.
“Tapi Amara malu, pak. Rambut Amara kayak cowok!”
“Kan keren, cewek tomboy, jago bela diri. Kamu harus percaya diri ya. Tidak usah dengarkan kata orang. Karena hidup kita, kita yang tahu.”
Amara tersenyum mendengar nasehat guru kesayangannya dan juga cinta pertamanya. Namun ia sadar ia hanya murid bagi Johan. Ia juga tahu Johan sudah mulai serius dengan Fatma. Amara juga sadar ucapan Johan yang akan menunggunya itu hanyalah untuk menyenangkan hatinya. Tetapi ia selalu berdoa dan yakin takdir Johan akan bersamanya.
“Ya sudah, kita gabung sama mereka yuk!” ajak Johan mengulurkan tangannya.
Amara memandangi wajah Johan lalu beralih melihat uluran tangannya. Amara meraih jemari Johan.
Johan tersenyum lalu membantu Amara berdiri lalu merapikan jaket yang Amara kenakan. Dari ambang pintu Bryan tersenyum melihat cucu tirinya tersenyum kembali.
“Johan akan menjadi takdir kamu, Amara. Tunggu saja takdir itu terjadi!” batin Bryan lalu meninggalkan mereka.
Amara dan Johan menyusul yang lainnya ke ruangan santai, Dari taman belakang Amara dan Johan saling bergandengan tangan, hingga Amara melihat tangan Johan yang terbakar. Amara berhenti dan sedikit menarik tangan Johan. Johan juga berhenti memperhatikan wajah Amara yang terlihat serius melihat pergelangan tangannya.
“Kenapa? Kamu jijik?" Amara menggeleng lalu mengusap lengan Johan dengan lembut. Matanya berkaca-kaca melihat tangan Johan, karena menyelamatkan dirinya tangannya harus menyisakan luka bakar yang cukup lebar.
“Maafkan saya, Pak! Karena Amara tangan Bapak seperti ini.”
“Tidak apa-apa, yang penting kamu baik-baik saja.” Johan kemudian menarik lengan baju panjangnya sampai kebawah lalu tersenyum.
“Ayo!” Johan kemudian meraih jemari Amara lagi kemudian menariknya sampai ke ruangan santai.
“Amara!!” teriak Arsy lalu berlari ke arahnya Amara kemudian mereka berpelukan. Namun tangan Amara masih di genggam Johan.
__ADS_1
“Aduh... pelan Arsy. Aku gak bisa nafas.” Arsy tertawa lalu melepaskan pelukannya. perlahan Johan melepaskan tangannya saat Devan juga menghampiri Amara.
“Hai!" sapa Devan.
“Kakak!” Devan kemudian memeluk Amara lalu mengecup kening Amara beberapa kali, membuat Amara terdiam dan melihat Johan. Johan hanya tersenyum dari duduknya di samping Fatma.
“Woy...! Hargai yang jomblo dong!" seru Alex membuat tawa semuanya.
Laras dan Martin tersenyum melihat putri satu-satu mereka, sudah kembali ceria dan sepertinya sudah percaya diri. Begitu juga Daren ia tersenyum melihat senyum adiknya.
“Ayo semua, di makan hidangannya!” seru Laras pada semuanya.
“Papa!” panggil Laras pada Bryan yang sedang menghubungi seseorang.
“Iya! Sebentar.”
“Rambut kamu keren Amara. keliatan tomboy, cocoklah sama bela diri kamu." ucap Arsy membuka suara.
“Kamu bisa aja. Tapi, kan aku tetep suka rambut panjang.” balas Amara sedikit malu sambil melirik Johan, ia pun berusaha percaya diri
“Bentar lagi juga panjang!" saut Devan mengusap lembut rambut Amara.
“Tante Ini enak banget! Beli di mana Tante!" sambung Alex yang mencoba akrab dengan keluarga Amara.
Martin dan Laras tersenyum dan melihat ke arah Alex. Siapa anak baru ini, tiba-tiba ikut datang dan nimbrung bersama.
“Hei ... Anak baru! Gak usah sok akrab sama orang tuaku!”
“Ye ... kan cuma tanya!”
Semua tertawa melihat kelucuan Alex, yang mengambil piring berisikan kue dan semua ia kuasai.
“Belinya di toko Noni Utari! Sebelah restauran yang di dekat sekolah kalian. Mampir aja ke sana. itu toko opanya Amara dan Daren.”
“Opa? opa kamu banyak banget sih, Ra?"
“Opa adik dari Oma Syasa.” balas Amara sambil memakan kue coklat.
***
__ADS_1
Maaf ya baru up. jangan lupa mampir cerita ku yang di Logo kuda poni warna ungu ya! ada dua di sana.
terimakasih.