
Beberapa hari kemudian.
Amara masih di rumah sakit karena harus menjalani serangkaian tes darah, ct scan, dan tas lainnya. kondisinya masih sama, belum ada perubahan membuat Martin dan Laras terlebih Johan begitu khawatir. Apalagi terkadang Amara masih mengeluarkan darah di hidungnya dan mengeluh semua tulangnya ngilu dan merasa kelelahan. Banyu sang opa yang tak lain tak bukan Om dari Laras juga sangat mengkhawatirkan kondisi cucunya itu.
“Maaf Ras, dengan berat hati hasil tes Darah dan hasil tes lainnya Amara menunjukkan Kalau Amara terkena leukemia stadium 4.” Banyu melihat Laras dan Martin lemas di kursinya. ia tidak menyangka putri satu-satunya mengidap penyakit kanker darah. Pantas saja ia terlihat lesu dan gampang lelah. Namun Laras hanya mengira Amara hanya kelelahan karena sering karate.
“Lalu kami harus melakukan apa Om?”
“Tidak perlu khawatir, Amara akan mendapatkan pengobatan terbaik. kalian berdua beritahu Amara pelan-pelan, jaga mentalnya jangan membuat dirinya bersedih dengan penyakitnya, dukungan orang-orang yang mencintainya lebih penting.”
“Bagaiman kalau langsung di bawa ke Singapore untuk menjalani pengobatan di sana ?” usul Laras.
“Mungkin Lebih baik Amara tau dulu apa penyakitnya dan ingin menjalani pengobatan di mana? Dokter dan pengobatan terbaik, jika Amara tidak nyaman berobat di sana pasti sia-sia. Kamu tahu maksud Om, kan?” Laras dan Martin saling pandang, ada benarnya jika mengutamakan kenyamanan Amara apalagi saat ini ia nyaman di samping Johan.
“Baiklah nanti kami bicarakan dengan Amara dulu. Terima kasih ya, Om.”
“Jangan khawatir, Om juga sudah mendatangkan Dokter dari Singapore khusus untuk menangani Amara saja.”
“Terima kasih Om!” Laras dan Martin kemudian keluar ruangan Banyu lalu menuju ruangan perawatan Amara.
Laras dan Martin masuk ke ruangan Amara. Mereka melihat Johan sedang berbaring di brankar memeluk Amara begitu juga Amara. Martin dan Laras menghampiri mereka berdua.
“Johan!” panggil Laras. Johan membuka matanya lalu bangkit dari tidurnya.
“Ya, Ma!" balas Johan yang sudah memanggil Laras dan Martin dengan sebutan Mama, papa atas permintaan Martin. Johan turun dari brankar dan menyalami Martin dan Laras.
“Amara sakit apa, Ma! kenapa banyak tes ini itu?” tanya Johan
Laras dan Martin tersenyum tipis. Laras mendongak menahan air matanya. Martin mengusap lembut rambut sang putri.
“Amara janji ya! jangan sedih. Papa dan Mama sebenarnya berat mengatakannya. Tapi Kami juga tidak mau menyembunyikan. Kamu ... kamu sakit leukemia.”
Amara tersenyum tipis, sebenarnya ia sudah tahu jika gejala yang selama ini ia rasakan adalah gejala leukemia. Namun ia hanya diam tidak ingin membuat orang-orang sekitarnya khawatir.
Amara menundukkan pandangannya dan meneteskan air mata. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan mengatakan apa. Johan menghapus air matanya lalu mencium punggung tangannya.
“Kakak akan selalu sama kamu. Kamu harus sembuh ya!” Amara mengangguk lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
“Maafkan Amara ya Kak.”
“Maaf untuk apa? kamu gak ada salah!”
“Maaf sudah mengambil waktu kakak untuk menunggu gadis penyakitan kayak Amara.”
“Ssssstttt. Kamu pasti sembuh! Kakak senang waktu Kakak selalu buat kamu!” Amara menangis lalu memeluk Johan.
“Kamu harus semangat, harus sembuh! Janji!" ucap Johan diangguki Amara.
Amara tidak bisa berkata apapun. ia tahu kemungkinan kecil untuk sembuh dari penyakitnya sangatlah tipis. Amara melihat Laras menangis di pelukan Martin dan tersenyum tipis.
“Mama gak usah khawatir. Amara akan sembuh. Pasti opa mengusahakan yang terbaik buat cucunya. Amara pasti sembuh!”
“Iya, Nak kamu harus sembuh.” Laras kemudian mengusap lembut rambutnya lalu memeluknya.
“Kamu harus sembuh. Kamu putri Mama satu-satunya. Kebanggaan Mama. Maafkan Mama mengabaikan kesehatanmu selama ini sayang.”
“Tidak Ma, Mama sudah memberikan yang terbaik. Oh ya Ma. Kak Daren mana?” tanya Amara.
“Kak Daren antar Arsy pulang. Nanti juga kemari lagi.” Laras mengusap pipi Amara.
“Gak! kakak mau tetap di sini nunggu kamu sampai sembuh!" Amara tertawa kecil dan menepuk lengan Johan.qq
“Memangnya kakak gak makan, gak mandi, gak ganti baju?”
“Apa yang di katakan Amara benar, Johan. Kamu pulang dulu. Nanti kesini lagi, kamu juga harus jaga kesehatan, butuh makan,” jelas Martin menepuk pundak Johan.
Cinta Johan yang begitu besar terlihat jelas di mata Martin dan Laras. Martin berharap Johan benar-benar laki-laki yang tepat untuk putri kesayangannya.
“Ya sudah. Kakak pulang dulu ya. Nanti kakak kesini lagi.” Amara mengangguk kemudian Johan mengecup keningnya kemudian ia pun pulang lebih dulu.
Amara tersenyum tipis melihat Johan keluar dari ruangannya. Ia bingung harus bagaimana, saat ini ia hanya bisa pasrah dengan semua kemungkinan yang terjadi.
“Selamat sore!” sapa Banyu yang masuk dengan beberapa suster dan dokter spesialis penyakit dalam yang nantinya akan menangani Amara.
“Selamat sore!” balas Martin.
__ADS_1
Banyu dan dokter tersebut berjalan menghampiri Amara dan di brankar. Banyu mengusap lembut rambut cucunya dan tersenyum.
"Everything will be fine,” ucap Banyu.
“Thanks Opa!”
“Oh Iya! perkenalkan ini dokter Erick, nantinya dokter Erick yang akan menangani Amara sampai Amara sembuh.” Erick mengulurkan tangannya pada Martin. Martin dan Laras menyalami dokter Erick lalu mengulurkan tangannya ke arah Amara.
“Erick Willson,” ucap Erick pada Amara.
“Amara.” Amara tersenyum tipis melihat Erick yang terus memandanginya. Amara melepaskan jabatan tangannya lalu menundukkan pandangannya.
“Dokter Erick ini anak teman Opa dan dia dokter dari Singapore, sewaktu Opa tahu penyakit kamu, Opa langsung menghubungi Dokter Erick, karena dia lebihbdulu tahu penyakit kamu dan hanya khusus untuk menangani kamu saja.”
“Terima kasih Opa! Tapi kenapa dokter Erick mau datang jauh-jauh kemari. Dokter di Indonesia juga banyak, kan.”
“Opa Bryan kamu yang meminta langsung Amara. Opa hanya perantara saja.” Banyu tersenyum lalu sekilas melihat Erick yang sedari tadi mencuri pandang Amara.
“Benar kan Dokter Erick?"
“Ah! Em ... iya dok! dan Nona minta kerja samanya ya!"
“Kerja sama, memangnya saya suster,” gumam Amara membuat gelak tawa.
“Ya sudah! mulai hari ini Dokter Erick akan selalu mengawasi kesehatan kamu dan dokter Erick saya serahkan tanggung jawab ini pada Anda,” ujar Banyu.
“Baik dok! Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Nona Amara. Saya juga berharap Nona Amara segera sembuh seperti sedia kala.” Erick tersenyum melihat Amara kemudian melihat Banyu lalu berjabat tangan dengannya.
“Kalai begitu saya tinggal ya! Ras ... Martin!”
“Iya Om, terima kasih! Banyu kemudian keluar dari ruangan Amara lalu Erick mulai memeriksa Amara.
Martin dan Laras duduk di sofa sambil melihat dokter Erick memeriksanya Amara. Martin berharap di tangan dokter Erick Amara bisa pulih seperti sedia kala dan penyakitnya hilang dari tubuh putrinya.
****
dokter Erick
__ADS_1