
“Kamu lihat itu. Itu siswa terkenal di sekolah ini. Yang duduk di pojok sambil merangkul cewek itu, Daren."
“Udah tau!"
“Dengar dulu! Daren itu anak tuan Martin dan nyonya Laras. Donatur terbesar di sekolah ini. Nah ... kalau yang di rangkul itu, pacarnya. Anaknya yang punya sekolah, namanya Arsy. kalau yang duduk sendiri itu. Namanya Amara, adiknya Daren, sahabat Arsy. Kalau yang duduk cewek,cowok bersebelahan itu Devan, anak pemilik sekolah dan Kakak Arsy, satunya itu Bella. Anak rekan bisnis pemilik sekolah. Mereka itu Siwa terkenal di sekolah ini, selain kaya, cantik, ganteng. Mereka juga pintar-pintar.” Jelas Ardi.
Alex tersenyum lalu merangkul Ardi menghampiri mereka berlima.
“Mau ngapain?”
“Gabung sama mereka, kau mau juga kan terkenal!" Alex dan Ardi menghampiri mereka.
“Hai guys! Boleh gabung?" semua melihat ke arah Alex, Daren kemudian berdiri dan menyuruh Arsy duduk di pojok.
“Silahkan!" balas Daren lalu mereka duduk di bangku kosong. Amara melihat tidak suka kearah Alex yang tiba-tiba duduk di sampingnya tanpa permisi. Lalu Amara melihat Ardi dengan tatapan tajam, seolah bertanya siapa anak baru yang duduk di sebelahnya. Ardi hanya bisa menunduk tidak berani melihat tatapan tajam Amara.
Alex mengulurkan tangan ke arah Amara. Dengan ragu Amara menyambutnya.
“Alexander!"
“Amara!" lalu Alex berkenalan dengan yang lainnya. Namun saat Alex mengulurkan tangan kearah Arsy. Daren secepat kilat menjabat tangannya.
“Aku wakilkan. Arsy, pacar Daren.” Arsy hanya mengulum senyum lalu sekilas melihat Daren dan Alex bergantian.
Hanya dengan melihat wajah dan ekspresi Alex, Arsy sudah bisa menebak karakternya yang tidak jauh berbeda dengan Daren. Dingin, egois. Sedikit banyaknya Arsy belajar ekspresi wajah dari sang Papa.
“Amara hanya diam dan cepat-cepat menghabiskan makanannya.”
“Guys! Aku ke toilet ya!" pamit Amara.
“Kebiasaan habis makan ke toilet!" sambung Bella.
“Panggilan alam! Bye!" Amara bergegas ke toilet milik ibu kantin yang ada di dalam kantin.
“Itu bocah benar-benar!” cicit Bella dan yang lainnya hanya tertawa kecil.
Alex melihat Daren begitu mesra dan manis pada Arsy. Sepertinya ada saja yang di bicarakan mereka.
"Ardi! Pesankan makanan untukku" perintah Alex sambil memberikan uang pada Ardi. Ardi mengangguk patuh dan menuruti Alex.
__ADS_1
"Apa saja?" tanya Ardi sebelum melangkah menuju pantry kantin.
“Apa saja!" Ardi melangkah ke pentry.
Ardan, Neha dan guru lainnya melihat murid favorit di sekolah itu akur dan bersahabat dengan Siswa baru pun tersenyum. Memang pada dasarnya mereka welcome dengan siapa saja. Namun karena ketua mereka berparas dingin membuat siapa saja takut untuk berteman dengan mereka.
Mata Johan melihat ke sana kemari mencari keberadaan Amara. Ia tidak tahu jika Amara masuk ke bagian dalam kantin.
“Doorrr" Suara ledakan di dalam kantin. semua orang terkejut, menjerit dan berhamburan keluar. Ardan seketika merangkul Neha dan mengamankan dan menjauh dari kantin. kemudian menyusul yang lainnya.
tampak api berkobar dari dalam kantin. suara riuh semua murid. Daren terus memeluk Arsy.
“Amara!" seru Devan tiba-tiba.
“Amara!” seru Daren dan langsung ingin masuk, namun ia di tahan Alex
“Kau mau mati!”
“Amara Mana!" tanya Ardan.
“Masih di didalam!" saut Arsy.
“Amara masih di dalam!"
Johan mendengar Amara masih di dalam, ia tidak pikir panjang ia langsung merebut ember berisikan air yang di bawa seseorang untuk memadamkan api, lalu mengguyur tubuhnya Kemudian berlari masuk kembali ke kantin dan mencari Amara.
“Pak Johan!" Cegah Fatma. Namun Johan terus menerobos kobaran Api.
Semua cemas dengan Amara dan ibu kantin serta beberapa karyawan yang belum keluar. semua siswa dan penjaga serta guru lainnya ikut turun tangan memadamkan Api karena takut merembet ke sekolah.
Johan mencari Amara dengan keterbatasan pengelihatan karena Asap.
“Amara!"
“Kakak!" jerit Amara.
“Amara!" panggil Johan. Melihat kanan kiri. Johan terus mencari keberadaan Amara sampai ia melihat seorang yang tergeletak di lantai yang hanya terlihat tangannya.
Asap begitu tabal menghambat pengelihatan Johan, dengan menahan pedih asap yang mengenai matanya ia berjalan ke arah seseorang yang ia lihat.
__ADS_1
“Amara!” secepatnya ia mendekatinya kemudahan merengkuh tubuh Amara dan membopongnya keluar.
Johan sempat kebingungan saat ingin keluar, sejenak ia melihat wastafel. kemudian meletakkan Amara di lantai lalu melepas jaketnya dan membasahi jaket tersebut. ia berusaha agar tidak panik. Setelah jaketnya basah, ia kembali menghampiri Amara dan menutupi Amara dengan jaketnya kemudian membopongnya menuju keluar.
Dengan susah payah akhirnya bisa keluar dan sudah ada pemadam kebakaran dan Ambulans. Petugas Ambulans langsung berlari ke arah Johan sambil membawa tandu. Amara ia baringkan di tandu dan langsung mendapatkan pertolongan. Tak lama ia pun jatuh tidak sadarkan diri. karena sesak akibat asap. Rekan kerja dan murid lainnya sudah keluar dari area sekolah dan berada di aula.
Johan pun akhirnya di bawa ke tandu dan di larikan ke rumah sakit bersama Amara.
“Amara!” teriak Arsy melihat Arsy saat di di bawa keluar menggunakan tandu menuju Ambulan dan tak lama di susul Johan di bawa dengan menggunakan tandu.
Daren pun langsung mengejar sang adik dan ikut kedalam Ambulans. begitu juga Arsy ikut di ambulans. Fatma mengejar Johan. Namun, Bara mencegahnya karena harus menangani anak-anak yang ketakutan dan masih banyak yang harus di tolong. Ardan sediri menyuruh Neha mengurus Amara di rumah sakit dan menghubungi Martin.
***
RUMAH SAKIT.
Amara dan Johan serta 2 karyawan kantin mendapatkan pertolongan di UGD. Arsy dan Daren begitu cemas menunggu di luar UGD bersama Neha. Semua diam mencerna semua yang sudah terjadi. Apa lagi melihat Amara yang wajahnya memerah. karena Terpapar panasnya api, begitu juga lengan Johan juga terkena api saat membopong dan melindungi Amara saat keluar.
“Keluarga pasien!" seru suster. Neha berdiri dan menghampiri Suster.
“Saya sus, Saya kakak sepupunya!” balas Neha.
“Keluarga pasien atas nama Johan, siapa?"
“Em ... keluarganya tidak ada sus. Semua pasien korban kebakaran di sekolah Mahendra tanggung jawab saya."
“Baiklah. Tapi maaf, Anda sebagai siapa dalam hal ini?" tanya suster lagi.
“Saya istri pemilik sekolah, Sus!”
“Ok baiklah. Mari ikut saya ke ruangan dokter, dan buat adik berdua boleh menemani pasien di ruang perawatan.” Neha dan Daren serta Arsy mengerti.
Daren dan Arsy menunggu Amara di ruang perawatan. sementara itu Neha menemui dokter yang menangani Amara. Sementara Johan belum ada yang menemani.
“Dok! Bagaimana keadaan sepupu saya, Amara dan guru di sekolah saya?" tanya Neha begitu cemas.
“Kalau keadaannya baik, luka di wajahnya juga tidak begitu parah hanya memerah terpapar panas. Kalau pasien atas nama Johan. Ada luka bakar di lengannya. Mereka berdua beruntung dari pada dua pasien. Mereka cukup parah. Untuk Nona Amara dan Johan mungkin karena bajunya basah jadi tidak begitu.”
“Syukur lah dok, saya lega!".
__ADS_1