
Terdengar suara tangisan dari ruangan depan . Amara, Laras dan dokter Erick, Daren serta Johan saling pandang lalu melihat ke arah sumber suara yang semakin jelas.
“Jono aku Mbak Laras ...!” suara itu terdengar jelas.
“Ya Allah ... kak Tasya kenapa? Jono kenapa?” tanya Amara. mendekati Tasya yang berdiri di belakang sofa sambil menggendong kucing barunya.
“Jono mati. Padahal baru mau aku kenalin sama cipi?” Tasya menunjukkan kucing barunya yang ia beri nama cipi dan Jono adalah nama kucingnya yang ada di Surabaya.
“Mati kenapa?”
“Ditabrak mobil!” Tasya menangis sambil memeluk kucing barunya.
Semua yang melihat ekspresinya hanya menahan tawa, tidak tahu harus berkata apa.
“Terus?” lanjut Amara.
“Aku mau pulang ke Surabaya, hari ini mau di kubur sama papa. Aku ke sini mau pamit sama mbak Laras. Mbak aku pulang ya!”
“Itu cipi gak di tinggal aja di sini. Nanti biar Mbak yang rawat.” Laras mendekati Tasya.
“Gak! Cipi mau aku ajak ngelayat. Biar ketemu calon pacarnya si bubul.”
Daren tidak tahan menahan tawa. ia tertawa melihat kakak sepupunya itu begitu absurd. Ada saja yang di bicarakan segala kucing di carikan pacar.
“Kenpa ketawa, jahat! Eng ... kucingku mati.”
“Kakak aneh!”
“Aneh bagaimana? seharusnya kamu ikut ngelayat.”
“Ogah!”
Amara dan Laras hanya mengangkat bahunya, lalu duduk kembali di sofa.
“Ya udah, aku mau balik ke Surabaya!” ujar Tasya sambil mengusap air matanya.
“Iya hati-hati. Mau di antar?” jawab Daren.
“Gak usah! Aku naik pesawat pribadi Papa aja. lebih cepat. Bye!”
Tasya berbalik menuju arah depan, tak lama ia berbalik kembali melihat Erick.
“Dokter Erick!” panggilnya.
“Ya!”
“Dokter Erick gak ikut ngelayat?”
“Em ... maaf Nona. Saya masih ada pekerjaan lain, mungkin next time saya zirah ke makam Jono.” Ingin sekali Erick tertawa, tapi tidak mungkin. Sebab ia tidak ingin menambah kehebohan isi rumah Laras. padahal jawaban nya saja sudah bisa membuat tawa kecil semua orang.
__ADS_1
“Ya sudah! Bye dokter Erick. Nanti kalau cipi sakit tolong obati.” Erick melihat Laras yang menahan tawa lalu melihat Tasya kembali.
“Em ... iya Nona.” Tasya melambaikan tangan lalu berjalan keluar sambil menggendong cipi, kucing barunya.
Setelah Tasya keluar mereka semua tertawa. Mereka geleng-geleng kepala melihat tingkah Tasya.
“Kak Tasya sama opa Abi sebelas dua belas. Beda sama kembarannya kak Tara, yang sedikit pendiam,” celetuk Amara di iringi tawa semuanya.
“Kembaran?” tanya Johan yang belum mengetahui jika Tasya mempunyai kembaran laki-laki.
“Iya kak. Jadi kak Tasya itu punya kembaran. Namanya Kak Tara. Tapi masih di London. mau selesaikan S2 . Kalau kak Tasya S2 ke Singapore. Makanya akhir-akhir ini sering bolak balik Jakarta-Singapore-Surabaya. kuliah sambil urus bisnis opa!” jelas Amara pada Johan. Erick hanya menyimak dan tersenyum tipis.
Diam-diam Erick jatuh hati pada Tasya. Tetapi ia ragu untuk mendekatinya. Karena melihat Tasya bukan anak orang sembarangan.
“Maaf Nyonya. Nona Amara saya pamit. Hari ini saya langsung kembali ke Singapore. Semoga acara pernikahan Nona Amara dan tuan Johan berjalan lancar.” Erick kemudian berdiri dan menyalami semuanya.
Amara sudah kembali pulih dan sehat. Tugas Erick sudah selesai. Walau berat meninggalkan Indonesia yang setahun terakhir ini, ia menemukan banyak pelajaran, tidak hanya menjadi dokter pribadi Amara namun belajar bagaimana melihat penantian dan kesetiaan Johan untuk Amara serta hidupnya lebih berwarna saat bertemu Tasya.
“Terima kasih dok, Sudah mendampingi saya dan mengobati penyakit saya. Saya doakan urusan Anda di mudahkan dan perjalanan Anda selamat sampai tujuan.” Amara menjabat tangan Erick di ikuti semuanya. Erick tersenyum lalu ia keluar dari rumah Laras.
Setelah Erick meninggalkan rumah. Amara dan Johan menuju taman belakang sementara Daren keluar untuk bertemu Arsy.
Daren menuju kampus Arsy untuk menjemputnya pulang. Sesampainya di sana ia tidak menemukan Arsy. Daren menghubungi ponsel Arsy dan juga tidak aktif.
“Kemana itu anak, bikin cemas saja?” Daren kemudian menghubungi Neha.
“Hem ... ada apa?” balas Neha
“Arsy sudah pulang? Di kampus sudah gak ada, di telpon GK aktif?”
“Belum ? memangnya gak bilang sama kamu mau kemana?” tanya balik Neha seketika ikut cemas dengan putri sambungnya.
“Gak ada kak. Cuma bilang suruh jemput di kampus. Tapi di kampus gak ada!”
“Ya sudah nanti aku hubungi Om Ardan. Tolong cari Arsy dulu di kampus. siapa tau dia ada di taman kampus.”
“Iya.” Daren memutuskan sambungan ponselnya, lalu mencari keberadaan Arsy.
Daren mencari setiap sudut taman dan bertanya pada temannya, Namun tak satupun yang mengetahui keberadaan Arsy. Daren frustasi, mengusap kasar wajahnya kemudian ia menghubungi Devan siapa tahu ada bersamanya.
“Halo Dev,”
“Hem, ada apa?”
“Arsy ada sama kamu?”
“Gak! Aku ada di toko buku sama Bella sama anak-anak yang lain. Kenapa?”
“Arsy gak ada di kampus, ponselnya gak aktif. aku telpon Mama kamu, katanya belum pulang.”
__ADS_1
“Astaga, anak itu kemana?” gumam Devan.
“Ya sudah kami tanya di lingkungan kampus. Aku akan mencari dia di tempat biasa yang dia kunjungi. nanti Alex dan Ardi biar ikut mencarinya.”
“Baiklah!” Keduanya mematikan sambungan ponselnya.
“Kemana anak itu,” batin Daren.
Selanjutnya Daren mencari Arsy ke tempat yang sering ia kunjungi. perpustakaan, toko buku, dan kafe yang sering ia kunjungi. Daren mencari Arsy sudah seperti orang gila, ia takut terjadi sesuatu pada orang yang ia cintai setelah ibunya dan adiknya bahkan lebih. Pikirnya sudah entah kemana.
“Tuhan beri aku petunjuk!” gumam Daren saat mengemudi mobilnya.
Tak lama ponsel Daren berbunyi, ia langsung melihat layar ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
“Kak Tasya.” Daren lalu mengangkatnya.
“Ada apa kak?”
“Daren, Kau dimana?”
“Aku lagi di jalan, cari Arsy.”
“Arsy! Kayaknya tadi aku lihat dia ada di kafe Mama kamu!”
“Kafe? Kafe mana?”
“Dekat mall di jalan sudirman.”
“Ok terima kasih.” Daren pun langsung memutar arah menuju tempat yang di maksud Tasya.
“Ni anak benar-benar bucin ya. langsung di matiin,” gerutu Tasya.
Daren melaju dengan kecepatan tinggi tidak peduli dengan lampu merah dan keselamatannya sendiri. Setelah sampai di kafe. ia buru-buru turun dari mobil dan berlari masuk ke kafe sang Mama.
“Arsy!!” teriaknya di ambang pintu masuk.
Semua orang melihat ke arahnya, suasana menjadi hening dan hanya suara deru kendaraan yang lewat di depan kafenya. Daren masih mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Arsy.
Arsy yang memang berada di sana langsung berdiri melihat Daren yang tatapan begitu cemas, marah dan terharu. Ia berjalan ke arah Arsy dan langsung memeluknya. Daren meneteskan air mata membuat Arsy sendiri juga bingung.
“Jangan pergi tanpa memberitahuku, Oneng!” Daren menakup kedua pipi Arsy lalu mengecup keningnya.
“Kakak kenapa? Kan kita janjian di sini. Makanya aku datang kemari?”
Daren tertawa kecil lalu memeluknya kembali rupanya ia lupa dengan janjinya sendiri.
“Maafkan kakak, kakak lupa. Lain kali kakak tidak akan membuat janji yang membuat kakak panik sendiri.” Arsy tersenyum lalu melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata Daren.
“Terima kasih sudah mencintaiku sampai sekarang.” Arsy memeluk Daren dengan erat dan semua tepuk tangan.
__ADS_1