
“Amara! Ayo pulang!" ajak Daren.
“Iya! sebentar! Em ... Pak Johan Amara duluan ya! Sampai ketemu lagi!" Amara menyalami Johan kemudian berlari menghampiri Daren.
Johan hanya menggeleng kepalanya. lalu melihat- lihat buku yang ada di rak.
“Kak! Cari makan dulu yuk Kak. Aku laper!" renggek Amara pada Daren saat di kasir buku.
“Iya, Nanti mampir ke kafe Mama.”
“Asyik!” Amara sekilas mencuri pandang Johan yang terlihat dari kasir. Daren membayar bukunya setelahnya merangkul adiknya keluar.
Daren merangkul adiknya keluar dari area toko buku. Siapa saja yang yang melirik adiknya, siap- siap berhadapan dengan tatapan tajam darinya.
“Pakai helmnya.” Daren membantu Amara mengenakan helmnya kemudian ia juga mengenakan helmnya, setelahnya mereka menuju kafe sang Mama.
Sesampainya di kafe Amara dan Daren langsung masuk dan meminta pada pegawainya makanan yang di tunjuk Amara dan Daren.
“Jangan lama- lama ya Mbak. Oh ya minumnya jus jeruk. Jangan lupa air putihnya juga.”
“Baik Nona. Mohon ditunggu!"
“Ok! Oh ya Mbak. Mama tadi ke sini gak?"
“Tidak Nona. Bu Laras sudah dua hari ini tidak datang ke kafe?"
“Oh. Ya sudah. Aku tunggu di tempat biasa ya Mbak!"
“Baik Nona!”
Amara kemudian duduk menghampiri Daren yang sudah duduk lebih dulu di tempat favorit mereka. Daren sepertinya sedang menghubungi seseorang.
“Iya. Nanti langsung pulang!” balas Daren mengakhiri panggilannya.
“Siapa kak?” Arsy duduk di sebrang meja di depan Daren.
“Mama!”
“Disuruh pulang?"
“Hm!"
Amara menghela nafas panjang dan melihat ke arah pintu masuk. Tidak sengaja ia melihat Fatma dan Johan masuk ke dalam kafe.
“Oh udah baikkan.” batin Amara melihat Johan dan Fatma yang sudah tertawa.
Melihat Johan dan Fatma hati Amara sedikit kecewa dan perih. Ia juga tidak tahu perasaan apa yang tiba-tiba muncul begitu saja. Amara tersenyum tipis dan berfikir tidak perlu repot lagi menjalankan misi membantu Johan mendapatkan hati Fatma. Tapi melihat Johan terlihat akrab ada rasa cemburunya yang menjalar di hatinya.
“Nona ini pesanannya.” pelayan meletakkan pesanan Amara dan Daren di meja.
“Terima kasih Mbak!” balas Amara.
“Sama-sama Nona! permisi.”
“Eh! Mbak tunggu!” Amara berdiri dan berbisik pada pelayan kafenya.
__ADS_1
“Mbak tolong kasih gratis sama pasangan di meja no 16 itu ya! Biar saya yang bayar. itu guru saya sama pacar barunya," bisik Amara.
“Siap Nona!”
Amara dan pelayan tersebut tersenyum kemudian Amara duduk kembali dan pelayan kafenya menjalankan perintah Amara, anak pemilik kafe.
Amara dan Daren kemudian makan. Sesekali Amara melihat ke arah Johan. Amara mengamati cara bicara Johan dan cara minum dan makan. terlebih melihat senyumannya.
“Pak Johan,” gumamnya dalam hati dan tersenyum tipis.
“Amara ... Ayo cepat habiskan makannya. Kamu lihat apa sih?" cicit Daren melihat adiknya makannya begitu pelan. Bukannya tadi ia yang merengek minta makan.
“Iya!" balas Amara lalu mempercepat makanya.
Setelah selesai makan Amara dan Daren kemudian pulang. Namun sebelumnya Amara membayar pesanannya dan juga pesanan Johan dan Fatma. setelah itu Amara menghampiri Johan dan Fatma sedangkan Daren lebih dulu keluar dari kafe.
“Selamat malam, Pak Johan, Bu Fatma!" sapa Amara lalu menyalami keduanya.
“Hai Amara. Ada disini?" tanya Johan.
“Iya Pak. Tadi habis dati toko buku. langsung kemari. lapar!" ketiganya tertawa kecil.
“Sama dong kalau gitu. habis dari toko buku Bapak dan Bu Fatma janjian di sini.”
“Oh, sudah janjian. Cie..." ledek Amara membuat Fatma malu.
“Amara apa sih!" cicit Fatma.
“Ya suda. Kalau gitu saya pamit dulu pak. nanti beruang kutub meraung di luar. Da Bapak. sampai ketemu lagi. Permisi Bu Fatma." Amara sedikit berlari karena Daren sudah menggeber motornya.
“Ya sudah. Kalau begitu Saya antar Bu Fatma pulang!" Fatma tersenyum tipis lalu mengangguk.
“Saya ke kasir dulu ya, Bu!"
“Iya!” Johan bangkit dari duduknya dan menuju ke kasir.
“Mbak berapa semua tagihan meja no 16?” tanya Johan.
“Maaf Mas! Semua gratis.”
“Gratis?" tanya Johan heran.
“Iya Mas sudah ada yang membayarnya.”
“Siapa?”
“Nona Amara! Anak pemilik kafe ini.”
“Oh... terima kasih Mbak!" Johan kembali menghampiri Fatma lalu mereka juga pulang.
Daren dan Amara baru saja sampai rumah. Laras sudah menatap tajam dari kejauhan. Laras tidak menyukai jika sang anak pulang terlambat.
"Kalian dari mana, Kenapa jam 8 malam baru sampai rumah?" selidik Laras melihat kedua anaknya.
"Astaga Mama! Daren sudah bilang. Tadi ke kafe Mama. makan! kecuali Mama masak buat kami di rumah!" jawab Daren menatap Mamanya yang tak kalah tajam.
__ADS_1
Melihat sang Mama kesal Amara buru-buru berlari kecil naik ke lantai atas. Amara paling takut jika melihat sorot mata Laras jika sedang marah.
***
Pagi harinya Johan berdiri di lorong untuk menunggu kedatangan Amara. Ia harus mengucapkan terima kasih sudah mentraktir dirinya dan Fatma.
Johan tersenyum saat melihat Amara dan Daren sedang berjalan. Amara sendiri tiba-tiba gugup saat melihat Johan berdiri di lorong, tetapi ia harus tetap berjalan melewati lorong untuk menuju lantai atas kelasnya.
“Selamat pagi, Pak!" sapa Amara menyembunyikan gugupnya.
“Pagi! Oh ya Bapak mau ngomong sebentar!" Amara melihat Daren. Daren pun langsung meninggalkannya.
“Mau ngomong apa pak?"
“Kamu yang bayarin Bapak di kafe tadi malam?" Amara menyunggingkan senyumnya.
“Maaf sebelumnya, Pak. Tapi saya ikut seneng Bapak udah bisa jalan sama Bu Fatma atau mungkin Bapak udah jadian?"
Johan tertawa kecil. Tidak di pungkiri Johan senang Fatma sudah memaafkan dirinya. itu artinya dirinya lebih mudah mendapatkan hati Fatma.
“Jadian sih belum. Tadi malam itu tanda minta maaf Bapak sama Bu Fatma. Dulu ada sedikit masalah.”
“Oh ... begitu!"
“Semoga cepat jadian ya, Pak! Itu artinya Bapak gak nunggu saya sampai 18 tahun dong?" Canda Amara. Johan tertawa kecil mendengar candaan Amara.
“Kamu bisa saja. Sekolah dulu yang benar.”
“Iya, pak bercanda. Kalau gitu, Amara ke kelas ya Pak!”
“Iya! Terima kasih ya!" balas Johan mengusap kepala Amara lalu Amara bergegas naik tangga menuju kelasnya.
“Amara, Amara!” gumam Johan menggeleng kepalanya lalu masuk kedalam ruangannya.
Johan duduk dan tersenyum lalu mencuri pandang Fatma yang sedang memainkan ponselnya.
“Permisi, Pak! Ada yang jatuh dari tangga!”
‘Dreeetttt' Semua guru bangkit Sampai kursi mereka berbunyi.
“Siapa?"
“Amara! Anak kelas dua SMP!" Johan sontak berlari di ikuti guru lainnya. Dalam pikiran Johan Kenapa gadis itu sering sekali jatuh. Apa belum sarapan atau bagaimana.
“Amara! Astaga!” Johan kemudian membopong Amara dan membawanya ke unit kesehatan.
“Sakit!” lirih Amara.
“Kamu kenapa bisa jatuh lagi dari tangga?" Tanya Johan saat sampai di ruang kesehatan dan membaringkan Amara di brankar.
“Amara di dorong Aretha, Pak!" adu salah satu murid yang melihat kejadian Aretha berselisih dengan Amara di tangga karena berdebat masalah Johan, guru tampannya.
***
komentar dong biar semangat..
__ADS_1
sesuai isinya ya