TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 22 MAMA SAMBUNG.


__ADS_3

Ardan dan Neha sudah sampai rumah. Mereka di sambut asisten rumah tangga. Bibi yang bekerja bersama Ardan tersenyum melihat tuannya pulang bersama wanita yang akhir-akhir ini membuat Ardan tersenyum.


“Siang Pak, Non!" sapa Bibi pada keduanya h yang baru keluar dari mobil.


“Siang Bi.” Neha tersenyum di samping Ardan.


“Bi... Bini pasti sudah tahu Neha!" ujar Ardan sambil merangkul Neha.


“Iya Pak! Bibi tau si Non dari jaman SMA. Dulu sering main kemari sama tuan Nathan dan istrinya,” balas Bibi sedikit heran mengapa Ardan bertanya lagi.


“Iya. Tapi sekarang Nona cantik ini sudah menjadi istri saya. Sah!”


“Hah? Bapak nikahnya kapan?” tanya Bibi penasaran.


“Tadi subuh Bi, tapi memang baru secara agama. Mungkin satu atau dua Minggu kami akan meresmikannya secara negara.” jelas Ardan melihat Neha penuh cinta.


“Syukur kalau begitu Pak. Malah bagus gak jadi fitnah kemana-mana?”


“Iya Bi.”


“Oh ya, Bi. Anak-anak sudah pulang?” tanya Neha.


“Sudah Non. Mereka sedang istirahat di ruang tengah. Tadi Arsy pulang-pulang nangis.”


“Nangis?” tanya Neha penasaran lalu melihat Ardan.


“Iya, Non. Tapi Bibi gak tau kenapa?" Neha kemudian bergegas masuk kedalam rumah diikuti Ardan.


Neha berjalan masuk menuju ruang tengah dan melihat Devan sedang bermain game sedangkan Arsy tampak bersedih. Neha berjalan menghampiri Arsy yang sedang berbaring tengkurap di sofa.


Neha mengusap lembut rambut Arsy dan tersenyum. Arsy mendongak melihat Neha.


“Kakak?” Neha bangkit dari sofa dan duduk di ikuti Neha duduk di sampingnya. sementara itu Ardan duduk di samping Devan dan ikut bermain game.


“Kamu kenapa nangis?"


“Kue yang tadi kakak kasih di habiskan sama kak Daren!" Neha tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


“Sudah. Besok kakak buatkan lebih untuk kalian semua. Untuk kamu, kak Devan, Daren sama Amara.”


“Terima kasih ya, kak.” Arsy kemudian menghambur ke pelukan Neha. Neha sedikit ragu mengusap rambut Arsy. Namun ia tersenyum. Apa seperti ini rasanya menjadi seorang ibu.


“Permisi! Ini minumnya Non,” ujar Bibi meletakkan empat gelas di atas meja di depan Neha dan Arsy.


“Terima kasih Bi!"


“Sama-sama, Non. Permisi!" Bibi menuju ke dapur.


“Ini minum dulu.” Neha memberikan gelas berisikan jus mangga pada Arsy.


“Mas! Ini jusnya!”


“Mas?” saut Devan dan Arsy bersamaan. mereka saling pandang lalu melihat Neha yang salah tingkah. Ardan tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan berdiri.


“Oh ya, Tadi Papa bilang ada kejutan, kan!" ujar Ardan melihat Neha.

__ADS_1


“Apa itu Pa? Arsy penasaran.”


“Papa dan Kak Neha sudah menikah tadi pagi.”


“Uhhk...uhuk...uhukk!!” Arsy tersedak saat mendengar kalimat sang Papa sedangkan Devan berhenti memainkan gamenya dan melihat Ardan dan Neha bergantian.


“Pelan-pelan, sayang!” Neha mengusap punggung Arsy.


“Serius kak. Kakak udah nikah sama Papa.” Neha mengangguk dan tersenyum sambil melihat Ardan.


“Hore!! Arsy punya Mama?” Seketika. Arsy langsung memeluk Neha.


Sementara itu Devan masih melongo tidak percaya. harapannya yang dulu ingin Neha menjadi Mama sambungnya terwujud.


“Kamu gak mau meluk Mama barumu, Hm!" Neha merentangkan tangan satunya untuk Devan. Devan tersenyum lalu berdiri dan menghampiri Neha dan mereka bertiga berpelukan.


Ardan tersenyum lalu menghampiri mereka dan memeluknya dari belakang. Rasanya ia begitu bahagia. Ardan menciumi pucuk rambut mereka satu-satu.


“Sudah. kalian sudah makan?” tanya Ardan melepaskan pelukannya.


“Belum Pa!”


“Ya sudah. Ayo makan. Bibi sudah masak!” Kemudian mereka menuju ruang makan.


Neha melayani mereka untuk pertama kalinya berperan menjadi istri dan ibu Sambung. Neha mengambil kan makan untuk Ardan dan kedua anaknya dan juga membuatkan mereka jus.


Ardan tersenyum melihat Neha begitu tulus melayani dirinya dan ke dua anaknya. Devan juga terharu Neha bertindak seperti sang Mama. Bukan ingin menyamakan tetapi sisi keibuan Neha membuat Devan merasakan kasih sayang sang Mama kembali begitu juga Arsy. Ia seolah mendapatkan tempat untuk bermanja dan keluh kesah.


“Ma!” panggil Arsy pada Neha.


“Ya, Sayang!”


“Bisa! Mama kan bisa masak apa saja. Mama juga bisa masakan India.” Neha tersenyum lalu melihat Ardan yang juga tersenyum.


“Kamu mau Mama masak sop ayam?" tanya Neha.


“Iya Ma. kalau tidak merepotkan Mama.”


“Tidak! Siapa bilang merepotkan. ya sudah! besok Mama kan tidak mengajar. Besok Mama masak buat kita semua.”


“Asyik!” Arsy tersenyum senang lalu mereka melanjutkan makan siangnya.


***


“Mas! Ah...! Sudah Mas.”


“Sedikit lagi, Sayang!”


Ardan dan Neha sepertinya benar-benar di mabuk cinta. Mereka tidak ada merasakan lelah bercinta. Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, Namun mereka masih bergumal di tempat tidur.


“Mas! Sudah ya. Anak-anak sebentar lagi bangun. Aku harus siapkan mereka sarapan.” lirih Neha di sela permainannya.


“Baiklah. Kamu yang menyelesaikan!" Ardan bangkit dan berpindah posisi. Neha kini berada di atasnya


Ardan tersenyum melihat raut wajah Neha yang begitu menikmati dan menguasai permainannya. Ia hanya diam dan memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Neha semakin menggebu. hingga akhirnya mereka berdua puas. Neha menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Ardan. Ardan memeluknya sambil mengusap punggungnya.

__ADS_1


“Di atas rasanya lain Mas." lirih Neha dengan nafas yang belum stabil.


“Lain bagaimana?" goda Ardan tertawa kecil.


“Mentok!” Keduanya tertawa dan Ardan mempererat pelukannya.


“Ya sudah, Mas! Aku mandi dulu.” Neha bangkit dan mengambil bajunya yang berada di lantai kemudian berlari kecil ke kamar mandi.


Neha mempercepat mandinya karena ia harus menyiapkan sarapan. Setelah selesai Neha menggunakan daster dan menggulung rambutnya dengan handuk dan langsung keluar kamar untuk membuat sarapan. Sedangkan Ardan ia juga mandi.


Neha membuat sarapan roti dan membuat susu untuk kedua anak sambungnya. Tak lupa ia juga membuat kopi untuk Ardan lalu membuatkan bekal untuk Arsy dan Devan.


“Pagi Ma!" Sapa Arsy saat berjalan menghampiri Neha yang masih menyiapkan bekal untuknya.


“Pagi sayang,” balas Neha lalu meletakkan dua kotak makanan di hadapan Arsy dan Devan yang sudah duduk di kursi meja makan.


“Sarapannya habiskan ya! Susunya jangan lupa di minum. Oh ya! Devan kenapa rambut kamu berantakan. Mas! tolong bawakan sisir!" ujar Neha melihat Ardan yang baru saja keluar kamar lalu ia pun kembali untuk mengambil sisir.


“Rambut kamu di potong ya sayang. Ini sudah panjang!” Seru Neha sambil merapikan rambut Devan. Devan hanya diam dan tersenyum dalam hati ada yang memperhatikannya.


“Ini sisirnya!" ujar Ardan memberikan sisirnya pada Neha. Neha menerima sisirnya lalu merapikan rambut Devan.


“Arsy kamu juga ya. Rambutnya di ikat.” Arsy hanya mengangguk sambil memakan sarapannya.


Ardan tersenyum melihat pemandangan indah seperti saat ini. kehebohan pagi hari dengan istri yang cerewet untuk kebaikan satu rumah. Saat bersama Andin. Suasana tidak seperti saat ini. Karena Andin tidak begitu banyak bicara dan hanya menuruti apa kemauan anak-anak. Apa lagi mengomentari apa yang ia kenakan dan anak-anak kenakan. Kontak mata saja dengan Ardan saat bicara Andin tidak berani. Setiap bicara Andin hanya sekilas menatap Ardan lalu menunduk.


Neha kini menyisir rambut Arsy lalu mengepangnya lalu setelah Neha membuka handuk yang masih membungkus rambutnya. kemudian meletakkan handuknya di kursi kosong dan sedikit menjauh dari meja makan untuk menyisir rambutnya.


“Nanti setelah kalian pulang sekolah. kalian berdua ke salon ya. Devan potong rambut. Arsy rapikan rambut. Mas juga potong rambut, rapikan kumis dan bala tentaranya.” Ketiga orang yang ada di meja makan sontak tertawa mendengar kalimat terakhir Neha. Mereka paham apa yang di maksud bala tentara yaitu jambang dan Jenggot sang Papa.


“Mama bisa saja. Jenggot Ma!" jelas Arsy Neha hanya tertawa kecil lalu duduk di samping Ardan kemudian ia menyeruput kopi Ardan.


***


Maaf ya baru bisa update kemarin Sibuk ngurusin akun novelku yang logo unggu.


Neha



Ardan



Arsy remaja



Devan remaja



Derren remaja


__ADS_1


Amara remaja



__ADS_2