
beberapa bulan kemudian.
Amara sudah membaik, tinggal beberapa kali lagi kemoterapinya selesai. Walau setelahnya masih banyak serangkaian tes kesehatannya
ia juga sudah kembali ke rumah dan dokter Erick datang seminggu tiga kali untuk mengecek perkembangan dan dalam seminggu datang ke rumah sakit.
Devan saat ini sedang berkunjung ke rumah Martin untuk menjenguk Amara, ia berlutut di hadapan Amara lalu meraih tangannya. Ia ingin memberikan semangat dengan orang yang sangat ia cintai dalam diamnya.
“Semangat ya! Kamu pasti sembuh total, kami semua ada untuk kamu.” ingin rasanya Devan memeluk Amara tetapi itu tidak mungkin mengingat Amara sudah milik orang lain.
Semakin ia berusaha melupakan Amara, Semakin ia tidak bisa. Padahal Bella selalu ada untuknya. Hati memang tidak bisa berbohong, apa lagi Amara adalah cinta pertamanya.
“Terima kasih ya kak. kakak beruntung tidak jadian terlalu lama denganku.” Amara tertawa kecil sambil menepuk pundak Devan.
“Jika kamu mencintaiku, aku Juga akan tetap bertahan denganmu dan melakukan hal yang sama seperti pak Johan. Tapi ...,” Devan tersenyum tidak ingin melanjutkan kalimatnya. Cukup dengan diam ia mencintai Amara.
“Oh ya! Kamu mau kuliah di mana?” tanya Devan mengalihkan pembicaraan dan pindah posisi duduk di sofa.
“Belum tau, kak. Aku mau fokus kesehatan dan hari pernikahanku.”
“Pernikahan?”
“Iya... orang tua kak Johan dan orang tuaku sudah sepakat pernikahanku di percepat.” Amara tersenyum bahagia sebentar lagi ia akan menikah dengan cinta pertamanya. Namun, Devan sepertinya syok mendengar kabar pernikahan Amara yang begitu cepat apalagi Amara masih terlalu muda.
“Kamu yakin, mau menikah muda?”
“Niat baik tidak boleh di tunda Kak. Aku juga sudah cukup umur untuk menikah. Tidak ada yang salahkan. Lagian takdir orang, bahkan takdirku sendiri tidak tahu. Satu tahun ke depan, iya ... kalau aku masih ada umur, kalau tidak. Setidaknya Aku menghabiskan waktu terakhir dengan orang yang mencintaiku dan aku mencintainya dan penantian kami tidak sia-sia.” Amara menghapus air matanya. Ia tahu suatu saat penyakitnya pasti kambuh.
“Lakukan apa saja yang membuat kamu bahagia. Kakak hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu.” Devan mengusap pundak Amara. Jika sakit orang yang ia cintai bisa ia gantikan, mungkin nyawapun akan Devan berikan pada Amara.
“Gila ya, jalanan Jakarta macet kayak semut! Huh!” gerutu seseorang dari ruang tamu.
Devan dan Amara terdiam mendengarkan suara yang tidak asing mereka dengar beberapa bulan ini. Siapa lagi kalau bukan Tasya. Tasya saat ini memang mondar-mandir Surabaya- Jakarta, Karena harus mengurusi restoran milik Abi, sang Papa.
“Hai cantik! Kau ngapain?” tanya Tasya pada Amara yang kini kursi roda di dorong Devan.
Amara memang masih menggunakan kursi Roda, sebab ia tidak di perbolehkan terlalu capek.
“Lagi nunggu kakak datang kemari,” balas Amara tertawa kecil melihat Tasya duduk asal di sofa.
“Huh! Terima kasih. Kakak tersunjang eh ... tersanjung, kau nungguin kakak.” Tasya tertawa di ikuti Devan dan Amara.
__ADS_1
“Kakak bisa saja.” Amara berdiri dan di bantu Devan berpindah duduk di sofa.
“Kakak itu bisa apa saja. cuma satu yang gak Kakak bisa!” canda Tasya.
“Apa itu kak?”
“Buat cowok jatuh cinta.” ketiganya tertawa sampai Daren keluar dari kamarnya dan turun dari lantai atas.
“Woy ... berisik!” seru Daren dari anak tangga.
“Hai ...! orang campuran. Sini turun!” Amara dan Devan tertawa terpingkal-pingkal dengan sebutan Tasya pada Daren. Ada saja setiap hari julukan-julukan yang di berikan Tasya. mengingat Daren mempunyai darah London dari sang Papa.
“Campuran? Di kira es campur !” kesal Daren sambil berjalan menghampiri mereka di sofa.
“Minuman kau itu sama si Arsy,” balas Tasya.
“Gila ya! sekolah tinggi di London kelakuan masih Indonesia banget! suka lawak!” Kesal Daren sambil melempar bantal sofa.
“Ya ... wajar dong. kan cinta indonesia.” semuanya tertawa mendengar jawaban Tasya.
“Oh ya ...! Mana Mama kalian. Si bule Alano mana?” tanya Tasya melihat sekelilingnya tidak mendapati Laras dan Martin serta si bungsu Alano.
“Ke rumah sakit, Alano dua hari demam,” balas Daren.
“Kakak sakit?” tanya Amara.
“Iya!”
“Sakit apa?”
“Sakit hati! huaa!” Daren seketika melempar bantal sofa dan kesal melihat Kakak nya yang gesreknya gak ketulungan.
“Dasar gak jelas! ” balas Daren lalu berjalan ke arah luar, sebab bel rumah berbunyi dan ia akan membuka pintu depan. Tasya tertawa begitu juga Devan dan Amara.
“Dokter Erick! Silahkan masuk dok!” ujar Daren saat membuka pintu.
“Amara ada di rumah?” tanyanya.
“Ada dok!”
Erick masuk di ikuti Daren di belakangnya. kedatangan Erick untuk memeriksa keadaan Amara.
__ADS_1
“Selamat sore!” sapa Erick pada semuanya.
“Dokter Erick!” pekik Amara.
Erick tersenyum lalu duduk di sofa. Ia juga melihat Amara yang kini sudah merasa jauh lebih baik. Rambut Amara pun sudah tumbuh panjang.
“Erick melihat Tasya yang saat ini sedang sibuk melihat ponselnya. Gadis aneh yang terkadang membuat dirinya geleng-geleng saat bertemu.
“Nona Amara, bisa kita mulai?” tanya Erick
“Bisa, Dok!" Amara melihat Daren dengan maksud meminta bantuan untuk membantunya menuju kamar.
Daren membopong Amara ke kamar di ikuti Devan. Sedangkan Tasya pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk mereka semua. Sebab si bibi sepertinya sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Erick mulai memeriksa tekanan darah Amara dan mengecek denyut jantung serta mata Amara bergantian. Erick tersenyum melihat perkembangan Amara yang hampir satu tahun ini menjalani pengobatan. Erick sungguh salut dengan perjuangan Amara yang sangat menginginkan sebuh seperti semula dan berkat dukungan keluarga besarnya terutama Johan yang tidak absen selalu ada untuk Amara di saat di butuhkan.
“Sudah cukup baik. Perkembangan kesehatan kamu begitu pesat. Ok sampai di sini dulu dan sampai bertemu hari Senin di rumah sakit untuk pengecekan lanjutan.” Erick tersenyum kemudian Merapikan peralatan dokter.
“Terima kasih dok!” Amara tersenyum lalu sekilas melihat Daren yang duduk di sampingnya.
“Kalau begitu Saya permisi!” pamit Erick.
Amara mengangguk dan tersenyum. Daren dan Devan keluar mengantar Erick. Saat Erick dan dua pemuda tanggung itu berjalan ke ruang tengah. Tasya datang membawa nampan berisikan minuman.
“Dokter Erick. Minum dulu, saya sudah siapkan minum.”
Erick sekilas melihat Daren dan Daren mempersilahkan untuk ke ruang tengah lebih dulu. Mereka duduk kembali dan Tasya menyuguhkan minumannya.
“Silahkan dok!” ujar Tasya. Erick mengambil gelas dan meminumnya.
“Dok! ada obat untuk sakit saya gak, dok?” tanya Tasya tanpa sungkan. Devan dan Daren hanya bisa menghela nafas, sebab tahu kemana arah Tasya bicara.
“Nona sakit apa?” Erick kemudian meminumnya.
“Sakit hati, dok!” Seketika Erick menyemburkan minumannya ke samping sementara Devan dan Daren menahan tawa.
“Maaf!” pekik Erick melihat kesal ke arah Tasya. Tasya hanya tersenyum menampakkan gigi putihnya.
“Cewek ini absurd banget, ya Tuhan!” Batin Erick menahan kekesalannya.
***
__ADS_1
yang mau baca ulang Monggo, ceritanya banyak yg saya rubah. mau revisi yang lama gak sesuai babnya.