TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 8 TERBAWA SUASANA


__ADS_3

“Jangan! Pergi!” igau Neha dalam tidurnya. Ardan yang sayup-sayup mendengar bergegas ke kamar Neha. Ardan melihat Neha mengigau langsung menghampiri.


''Neha,'' panggilnya lembut seraya mengusap pipinya.


“Pergi!” jeritnya yang masih memejamkan mata Terlihat jelas Neha begitu ketakutan.


''Neha! Bangun Neha.” Neha membuka matanya dan tanpa sadar mendorong Ardan lalu ia bangkit kemudian duduk sambil menarik selimutnya. Neha menutupi tubuhnya dengan selimut.


“Jangan mendekat! Pergi!!'' teriaknya yang belum sadar. Ardan memegang kedua pundaknya dan sedikit mengguncangkannya.


''Neha! Ini om Ardan!”


''Pergi...!!''


''Neha...!'' ucap Ardan sedikit meninggi dan mengguncang lagi tubuh Neha.


''Om..!'' Neha memperhatikan wajah Ardan kemudian langsung menghambur ke pelukannya.


''Takut om! Neha takut Rohit kembali. Jangan-jangan Rohit tadi mati. Karena aku memukulnya terlalu keras, om!''


Ardan menatap wajah ketakutan Neha lalu menangkup wajahnya kemudian menyeka air mata Neha ibu jarinya.


''Ssstttt...! Jangan takut lagi. Ada Om yang akan selalu menjaga kamu.” Yakin Ardan mengecup kening Neha lalu memeluknya kembali.


''Sepertinya kamu jangan tinggal di Apartemen sendirian. Om antar ke rumah Oma syasa ya. Sementara waktu tinggal di sana.'' Neha melepaskan pelukan dan menggelengkan kepalanya.


''Tidak om! Neha tidak mau merepotkan keluarga Oma. Keluarga Oma banyak masalah, dan sepertinya masalah mereka baru saja selesai. Neha tidak mau menambah masalah baru. Biarkan mereka tenang,'' lirih Neha.


Neha tahu jika di keluarga syasa baru saja damai dari semua permasalahan keluarga mereka. Neha tidak ingin menjadi beban baru.


“Ke rumah nenek?” Neha menepuk dada Ardan membuat Ardan mengaduh.


“Aduh! Salah om apa?” cicit Ardan

__ADS_1


''Om Ardan ... Yang masih tampan dan gagah tapi sepertinya sudah pikun. Nenek sudah lama meninggal!” Ardan menepuk keningnya sendiri dan terkekeh. Bisa-bisanya ia lupa jika orang tua Nathan sahabatnya tak lain Nenek Neha sudah lama tiada.


''Astaga!! Om lupa! Maklum sudah tua.'' Neha terkekeh melihat Ardan.


''Ya sudah! Sekarang sudah jam 5 sore. kamu mandi. Setelah mandi terus makan, baru ke kantor polisi untuk memberikan keterangan pada polisi. Baju yang ini jangan di buang untuk barang bukti.” Neha mengangguk kemudian ia bangkit dan menuju kamar mandi sementara itu Ardan memasak di dapur.


setelah selesai mandi Neha keluar dari kamar dan sudah terlihat segar dengan riasan tipis di wajahnya. Walau saat ini berpenampilan biasa ia tetap saja terlihat cantik. Neha sedikit lega dengan keberadaan Ardan yang akhir-akhir ini ada untuknya, saat ia membutuhkan bantuan Ardan selalu ada. jika tidak ada entah apa yang terjadi dengan dirinya.


Neha berjalan keluar menuju dapur melihat Ardan sedang memasak. Sejenak Neha memperhatikan Ardan yang masih menggunakan setelan kemeja. lengan kemejanya yang di gulung ke atas sampai siku membuat Ardan tampak lebih maskulin. Neha melihat Ardan dari atas sampai bawah membayangkan jika dirinya berdiri di depannya lalu berciuman.


Jantung Neha berdegup kencang saat membayangkan adegan berciuman dengan pria yang sedari tadi ia perhatikan. Namun ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Neha menghela nafas mengatur rasa gugupnya. kemudian menghampiri Ardan di dapur.


"Om...!” Neha berdiri di samping Ardan dan memperhatikannya memasak.


“Hm! Kamu lapar, sebentar ya. Sebentar lagi matang.” Neha tersenyum canggung saat Ardan melihatnya.


"Om masak apa?" tanya Neha melihat Ardan dengan cekatan mendadar telur dengan campuran sosis dan daun bawang kemudian Neha duduk di kitchen set di dekat Ardan.


''Om masih ingat?''


''Tentu.'' Ardan menoel hidung Neha dan keduanya tertawa kecil


Ardan kemudian mengambil piring yang letaknya di lemari gantung di atas Neha yang sedang duduk sehingga Ardan kini tempat di hadapan Neha. Neha sedikit mendongak melihat wajah Ardan. Setelah Ardan mengambil piring, pandangan mereka bertemu sejenak. Mereka saling pandang begitu intens. Neha melihat setiap detail wajah Ardan begitu juga Ardan. Namun cepat-cepat Ardan mengalihkan pandangannya dan teringat telurnya yang masih di atas penggorengan dengan kompor menyala lalu menggeser tubuhnya dan mematikan kompornya.


''Om!” panggilnya Neha lalu turun dari kitchen set. Ardan menoleh dan mengerutkan dahinya. Namun Neha justru hanya diam dan memandangi Ardan.


Ardan tersenyum menunggu Neha melanjutkan kalimatnya sambil meletakkan hasil masakan di atas piring lalu melihat kembali Neha yang masih berdiri bersandar di kitchen set.


“Kamu sudah lapar. Ayo makan.” Ardan kembali mengambil piring di lemari gantung di atas Neha.


Neha kembali melihat wajah Ardan dari dekat begitu juga Neha. Tatapan mereka kini lebih intens. Neha tiba-tiba memberanikan diri meraba rahang tegas milik Ardan, Ardan sekilas melihat tangan Neha yang memegang rahangnya lalu kembali melihat wajah Neha dan menunggu apa yang ingin di lakukan gadis cantik di depannya itu. perlahan Neha mendekatkan wajahnya begitu juga Ardan dan dengan terbawa suasana akhirnya mereka berciuman.


Neha mengalungkan Kedua tangannya ke leher Ardan dan Ardan memegang pinggang Neha lalu mengangkat Neha ke atas kitchen set. Ardan masih memegangi pinggang Neha dan tak lama tangan kanan Ardan memegangi tengkuk Neha da memperdalam ciumannya. Mereka begitu menikmati suasana ciuman yang bagi keduanya begitu romantis.

__ADS_1


Ardan menyudahi ciumannya dan saling menyatukan keningnya dan keduanya masih memejamkan mata. Ardan menyudahi lebih dulu karena ia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang akan merusak masa depan Neha.


Keduanya membuka mata secara bersamaan dan saling tersenyum lalu Neha menghambur ke pelukan Ardan.


“Om!”


“Hm!"


“Neha suka sama Om!” Ardan hanya tersenyum kemudian mengecup keningnya.


Neha tersenyum walau Ardan tidak menjawab kalimatnya. Dengan kecupan yang mendarat di keningnya, bagi Neha itu sudah sebagai jawaban jika Ardan juga menyukainya.


"Sekarang makan ya!” Ardan menurunkan Neha lalu keduanya duduk di kursi meja makan. tak lupa Ardan membawa hasil masakannya.


Ini adalah awal kedekatan mereka sebagai wanita dewasa dan pria dewasa tidak lagi seperti dulu antara ponakan dan Om. Mungkin dari segi usia mereka terbilang terpaut cukup jauh. Akan tetapi rasa di hati mereka tidak melihat itu semua. Maka dari itu banyak yang mengatakan cinta itu memang buta.


Begitulah jika rasa suka dan jatuh cinta sudah merajai relung hati dan perasaan dua manusia yang berbeda jenis. Tidak akan pernah memandang status, usia, kaya , miskin, jelek, tampan dan cantik semua itu tidak penting. mereka hanya tahu berdua dengan yang di cintai membuat hari-hari terasa bahagia.


“ Mau tambah makannya?” tanya Ardan saat nasi di piring Neha habis.


“Cukup Om! Sudah kenyang, telurnya saja tambah. ” Ardan mengambilkan sisa telurnya untuk Neha lalu Neha memakannya dengan lahap.


“Nanti setelah dari kantor polisi. kamu, Om antar ke rumah Oma Syasa."


“Tapi Om!”


“Gak boleh bantah. Kamu akan aman di sana untuk sementara waktu. Jika kamu khawatir Oma mengetahui kasus kamu, jangan menceritakan apa yang terjadi barusan. Cukup Om yang tahu.” Neha mengangguk patuh dan tersenyum.


Ada benarnya apa yang di katakan Ardan. untuk sementara ia tinggal di rumah Syasa. Di sana ia jauh lebih aman dan jika sendirian di apartemen di takutkan akan mengingat kejadian yang baru saja ia alami.


***


note: yang mau masuk grup. yang di sini aja ya. jgn masuk grup Ivan witami. terima kasih pengertiannya

__ADS_1


__ADS_2