
“Kau ngapain?"
“Astaqfirllah!!” Ardan tersentak saat Nathan tiba tiba berdiri bdi belakangnya selang yang ia pegang pun terjatuh dari tangannya, beruntung selang yang ia pegang tidak ia arahkan ke wajah Ardan.
Nathan tertawa melihat wajah kesal Arda. Ardan mengambil selangnya lalu menyemprot wajah Nathan. Nathan gelagapan sedangkan Ardan tertawa puas.
“Stop!!" Ardan masih tertawa melihat Nathan yang wajahnya basah kuyup.
“Kau!!" Nathan meraih kerahbkaos Ardan.
“Eh!! Ini ngapain?” teriak Siena saat melihat Suami menarik kerah baju Nathan. Siena berjalan ke arah mereka.
“Ini kenapa tarik-tarik baju Pak Ardan." Siena menarik tangan Nathan.
“Ini kenapa basah?" Siena mengacak rambut Nathan sedangkan Ardan menahan tawa melihat Nathan tak berkutik di depan istrinya.
“Dia yang nyemprot!" adu Nathan seperti anak kecil.
“Arrrrqq! Astaga!! Sudah pada tua masih seperti anak kecil! Hah!" Siena menepuk lengan Nathan lalu masuk kembali ke dalam rumah.
“Mampus! Istrimu marah!" Ardan kemudian masuk kedalam rumah.
“Dasar menatu kurang ajar!” teriak Nathan lalu mengusap wajahnya.
“Papa mana, Ma!" tanya Neha saat melihat Ardan di belakang Mamanya.
“Lagian main air!”
“Main air?" Neha melihat Ardan dan Ardan hanya mengangkat kedua bahunya.
“Sayang!" suara Nathan terdengar di ruang depan.
“Siena! Istri kecilku, minta handuk!" Nathan berjalan menuju ruang makan.
Siena jengah jika sudah mendengar Nathan bersuara sedikit manja. Siena beranjak dari duduknya dan menuju kamarnya yang tidak jauh dari ruang makan.
“Papa kenapa bisa basah begini?" tanya Neha melihat sang Papa yang duduk di kursi meja makan.
“Gara-gara suami kamu.” Neha melihat Ardan. Namun Ardan bersikap santai sambil meminum kopinya.
“Mas?" Ardan sekilas melihat Neha mengerutkan dahinya.
“Mas, tidak tahu!" balas santai Ardan.
“Ini Handuknya!” seru Siena tiba-tiba datang membawa handuk dan baju ganti untuk Nathan.
“Keringkan sayang...," balas Nathan menahan tangan Siena agar mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Siena mengusap rambut Nathan dengan handuk dan tersenyum. Rasanya ingin marah dengan Nathan pun ia tidak bisa. memang pada dasarnya Siena tidak bisa marah dengan Nathan. walau kadang ulah Nathan menyebalkan.
“Nath... kamu itu sudah punya cucu. kurangi sikap konyol kamu. sudah tua.” ujar Siena yang baru saja selesai mengeringkan rambutnya Nathan lalu memberikannya baju ganti.
__ADS_1
“Cucu? Memangnya Neha sudah hamil?”
Neha tertawa dan melihat Ardan yang duduk santai di sampingnya.
“Belum Nath. Maksud Siena itu Arsy sama Devan.” sambung Ardan.
“Oh! Mereka. Ya gak masalah.”
“Mama!" seru Arsy tiba-tiba datang berapa Devan.
“Hai! Kalian sudah pulang?" Neha beranjak dari duduknya dan menghampiri anak- anak sambungnya. Neha memeluk satu persatu anak-anaknya.
"Ma ... lapar!” ucap manja Arsy.
“Ya sudah. kalian cuci tangan terus makan.”
Arsy dan Devan mengangguk senang lalu mereka menyalami Ardan, Nathan serta Siena lebih dulu kemudian mencuci tangan dan makan malam bersama.
“Bagaimana les hari ini?” tanya Neha di sela makanya.
“Begitulah Ma. Seperti yang biasa. tapi hari ini Kak Daren gak masuk les. jadi kurang seru. Gak ada di ajak berantem.” cerocos Arsy.
“Daren kenapa?"
“Sakit!"
“Oh... pantes aja tadi pagi gak masuk sekolah. " sambung Ardan .
“Amara tadi masuk. Tapi waktu pulang tadi kayaknya lagi nunggu sopir jemput.
“Sudah! Jangan menggosipkan orang." saut Ardan yang tidak ingin terlalu dalam membahas keluarga Laras. Baginya Laras adalah orang lain.
Neha dan semuanya saling pandang dan sekilas melihat wajah Ardan yang kurang bersahabat.Neha meraih jemari Ardan dan tersenyum.
“Maaf," lirih Neha dan di sambut senyuman tipis Ardan.
***
Acara pesta pernikahan Ardan dan Neha tiba. tamu undangan sudah mulai memasuki tempat acara. Rumah almarhum nenek Neha di sulap menjadi indah dan sesuai permintaan Neha dan Ardan. dengan nuansa India yang kental dan musik India mengalun merdu. Tak lupa Nathan sang tuan rumah menyuguhkan berbagai hidangan India dan yang lainnya serta hiburan penari India.
Siena sampai beberapa kali menghampiri Nathan yang ikut menari India. Keluarga besar Bram dan Wina pun hadir, anak cucu dan cicitnya pun berkumpul menjadi satu. Bagai Wina Neha adalah Cicit pertamanya yang menikah walau menikahnya dengan mantan suami dari cucunya.
“Oma Wina ...!" seru Neha saat melihat Wina berjalan bersama Bram menghampiri dirinya di pelaminan.
“Oma!” Neha memeluk Wina sedangkan Bram memeluk Ardan. Wina tersenyum begitu juga Bram melihat kebahagiaan Ardan dan Neha.
“Selamat buat kalian berdua ya! Oma dan opa kaget saat tahu kalian menikah. Tapi Oma dan opa senang Ardan kembali menjadi bagian keluarga kita, ya Mas!" Wina melihat Bram.
“Iya sayang!”
“Doakan kami, Opa, Oma semoga pernikahan ini menjadi terakhir untuk Neha dan Mas Ardan.” sambung Neha melihat Ardan yang juga tersenyum.
__ADS_1
“Pasti! Kalau begitu Kami gabung dengan yang lain ya. sekalian ngawasin Opa kamu, Abi."
Neha dan Ardan tertawa saat melihat Abi ikut bergabung dengan penari. Amar dan juga Krisna serta anak cucu Bram yang lainnya mereka bersenang-senang di hari pernikahan Neha.
( Author lupa siapa aja nama cucu Bram wkwkwk)
Sementara itu Fatma dan Johan juga hadir. Mereka hanya datang sendiri- sendiri. Johan menghampiri Fatma sambil membawa minuman.
“Hai Fatma!" sapa Johan.
“Hai pak Johan!” balas Fatma sedikit ketus. Fatma masih saja ketus dengan Johan.
“Ini." Johan memberikan minuman pada Fatma.
“Tidak! Terima kasih!" Fatma menolak minuman pemberian Johan. Johan menghela nafas panjang lalu meninggalkan Fatma sendiri.
“Wanita itu memang susah di mengerti!" gerutu Johan mencari tempat sedikit sepi.
Johan duduk di pojokan sambil melihat keluarga Bram yang begitu heboh. Namun, Saat tengah asyik melihat keluarga Bram. Johan tidak sengaja melihat Amara duduk sendiri di sudut di dekat tembok sambil memainkan ponselnya. Johan perlahan menghampiri Amara.
“Amara!" panggil Johan.
“Pak Johan.”
“Boleh duduk di sini!"
“Silahkan pak.” Johan duduk di samping Amara dan hanya di batasi satu kursi saja."
“Kamu kenapa cemberut?"
“Nunggu Mama, Pak. Tapi kayaknya Mama gak datang!"
“Mungkin Mama kamu sibuk."
Amara tersenyum kecut. Sang Mama bukan sibuk melainkan memang tidak hadir di pernikahan Mantan suaminya.
“Ini minum!" Johan memberikan minumannya pada Amara. Amara dengan senang hati menerimanya.
“Terima kasih, pak."
“Sama-sama. Oh ya usia kamu berapa?"
“Hah? Masak Bapak gak bisa prediksi saya umur berapa?"
“15 tahun." Amara tertawa kecil sambil mengacungkan jempolnya.
“Iya pak. Kenapa. Bapak mau melamar ku!" Johan terkekeh mendengar candaan Amara.
“Kamu bisa saja. sekolah dulu yang benar. Jadi orang dulu, ya!" Johan menepuk lembut kepala Amara.
“Bapak tinggu aku dewasa, ya! tiga tahun lagi Amara 18 tahun."
__ADS_1
“Iya , Bapak sudah Om-om." Keduanya terkekeh saling bercanda tidak tertasa rasa kesal Johan pada Fatma hilang dan rasa kecewa Amara pada Mamanya juga hilang.