
''Oh ya Ma. Neha baru ingat. Tante Laras kemarin datang tidak waktu acara pernikahan ku. Kok, Neha gak lihat tante.''
Semua terdiam, Neha melihat Mama dan Papanya serta suaminya bergantian. Ardan hanya tersenyum dan mengusap punggung telapak tangan Neha.
''Aku tahu. Tante Laras masih menyimpan rasa cinta untuk Mas Ardan. Mungkin tidak terima dengan pernikahan kita,” ucap Neha menerka walau kenyataan memang benar adanya.
''Apa mas masih menyimpan rasa itu juga?" Selidik Neha melihat lekat Mata suaminya. Mencari jawaban berharap rasa itu tidak ada lagi untuk Laras. Ardan merubah posisi duduknya dan menghadap kearah Neha lalu menakup kedua pipinya.
''Kalau Mas masih mencintainya, lalu untuk apa Mas menikahi kamu saat ini dan seterusnya sampai akhir usiaku kamulah istriku. Orang yang aku cintai sampai aku menutup mata. Rasa itu sudah tidak ada setelah kamu hadir dalam hidup Mas. Kamu sudah merubah semuanya. Merubah duniaku dan duniaku hanya dirimu!'' jelas Ardan mengusap lembut pipi Neha lalu mencium keningnya. Setelahnya mereka berpelukan.
Nathan dan Siena tersenyum haru, Mereka tahu benar Ardan bagaimana, jika sudah jatuh cinta, ia Akan mencintai pasangannya melebihi dirinya sendiri.
* * *
"Ya ma ... Siena dan Nathan pasti datang, besok kami sudah pulang ke Indonesia.” ucap Siena dilalu mengakhiri ujung sambungan ponselnya..
Setelah menerima panggilan dari Syasa, Siena menghampiri Nathan yang sedang duduk di kursi meja makan. Sementara itu Ardan yang baru saja bangun berjalan menuju ruang makan, seraya mengretakkan badannya ke kiri dan ke kanan lalu leher nya ke kiri dan ke kanan.
''Usia memang tidak pernah bohong," gumamnya seraya mengambil gelas dari tempatnya lalu mengambil air minum.
Pertempuran tadi malam bersama istri barunya membuat seluruh badannya remuk redam terlebih Neha yang sudah pintar memegang kendali. sampai ia pun kewalahan mengimbanginya. Ardan tersenyum mengingat adegan panasnya bersama Neha.
Begitu bahagianya ia sampai tidak menyadari kedatangan Nathan yang memperhatikan dirinya.
''Allahhu Akbar!'' teriak Ardan terkejut saat membalikkan badannya. Nathan terkekeh melihat ekspresi terkejut Ardan sedangkan Siena terkekeh sambil duduk di kursi ruang makan seraya menikmati jusnya.
''Brengsek kau Nath! Untung aku gak punya riwayat sakit jantung!'' ucapnya kesal lalu meninju lengan Nathan.
''Ada apa mas?" tanya Neha yang keluar dari kamar saat mendengar suara Suaminya berteriak dan masih menggunakan piyama tipis dan rambut masih berantakan.
''Tidak sayang! Tidak ada apa-apa. Papamu saja jail!" jawab Ardan melihat Nathan yang masih tertawa.
''Oh aku pikir mas kenapa-kenapa,” jawab Neha yang langsung memeluk Ardan.
Neha saat ini mempunyai hobi baru yaitu memeluk sang suami. Pelukannya begitu nyaman dan membuat Neha begitu tenang. Tidak peduli orang tua mereka melihatnya.
“Kalian sudah membereskan barang-barang kalian?” tanya Nathan sambil m ngambil gelas.
__ADS_1
“Sudah, Pa. Besok tinggal ke bandara.”
“Sepertinya Mama dan Papa juga Pulang ke Indonesia lagi.” Neha mengerutkan dahinya, kenapa sang Mama dan Papanya tiba-tiba memutuskan pulang kembali.
“Ada acara apa, Ma?” tanya Neha lalu duduk di kursi meja makan di ikuti Ardan dan Nathan.
“Oma Syasa merayakan ulang tahun pernikahan yang ke 28 dan kalian juga harus datang.”
“Pasti. Datang ya, Mas!" Ardan hanya tersenyum dan mengangguk ragu.
Ardan sepertinya belum siap jika harus menginjakkan kakinya di rumah mantan mertuanya . Rasanya sakit jika harus mengingat semuanya.
***
“Terima kasih, pak tumpangannya,” ujar Amara pada Johan sebelum Amara turun dari mobil.
“Sama-sama. Maaf Bapak Cuma bisa antar kamu sampai sini.”
“Tidak apa-apa.” Amara kemudian turun dari mobil Johan.
“Hati-hati, Pak. Sampai ketemu besok di sekolah.” Johan mengacungkan jempolnya kemudian melajukan mobilnya.
“Ma!” seru Amara saat membuka pintu.
“Pulang sama siapa kamu?” tanya Laras kesal.
“Mama! Kaget tau Ma!” Amara memegang dadanya.
“Pulang sama siapa?” Laras masih tetap menginterogasi Amara.
“Pak Johan. Guru olahraga.”
“Kamu gak naksir sama guru baru itu, kan?”
“Apaan sih, Ma. Amara itu Cuma numpang sama pak Johan. Karena mobil Pak Soleh mogok. Kebetulan pak Johan tadi lewat. Dan di sana hujan.” Amara menghentak satu kakinya kemudian meninggalkan Laras begitu saja menuju kamarnya.
“Awas aja kalau kamu naksir guru kamu sendiri ya!!” ancam Laras
__ADS_1
“Terserah Mama mau bilang apa!” bantah Amara di anak tangga.
“Aku pulang!” seru Daren yang baru saja pulang dan bajunya basah semua.
“Kamu lagi! Pulang- pulang basah semua!”
“Apa sih, Ma! Daren baru pulang dan kehujanan. Mama marah- marah gak jelas! Kenapa sih Ma, beberapa bulan ini, Mama itu marah- marah terus. Kasihan Ma, bayi yang ada di perut Mama. Buat orang rumah gak betah!” Daren kemudian berlari ke lantai atas menuju kamarnya.
“Mama belum selesai ngomong!”
“Daren gak mau dengar, Ma! Di rumah udah kayak neraka!” teriak Daren di atas tangga
Laras masuk kedalam kamarnya dan menangis. Hatinya begitu sesak mengingat semuanya. Kenapa ia tidak bisa keluar dari masa lalu.
“Papa! Laras rindu pa! Laras rindu masa-masa saat masih bersama Mama, Krisna dan juga Meta.” Laras teringat Papa dan adik- adiknya.
Laras membuka lemari di mana ia menyimpan barang barang kenangannya bersama Ardan saat pertama pacaran sampai menikah. Sebagian ia masih menyimpannya, sebagian sudah ia buang. Ia melihat kedalam lemari terdapat botol minuman, jaket dan kaos cauple. Foto-foto album saat Ia hamil almarhum anaknya Devan serta foto Ardan bersama Neha sewaktu kecil.
"Bertahun tahun aku belajar merelakan segalanya demi Andin. Aku bisa! Tapi kenapa saat kamu bersama Neha hati ku begitu sakit." Laras meremas foto Ardan bersama Neha.
wanita memang sangat sulit melupakan kenangan masa lalunya, begitu juga Laras. Sampai-sampai tidak sadar perbuatannya itu membuat Daren semakin membenci Ardan Dan Devan. Ada alasan tersendiri mengapa Daren sangat membenci Devan. karena nama itu seharusnya di berikan pada anak Laras tetapi di berikan pada Anak Ardan bersama Andin. Daren berasumsi jika itu membuat sang Mama tidak pernah bisa melupakan Ardan.
Daren memergoki Laras sedang melihat Foto dan barang kenangannya bersama Ardan. Daren melihat lekat sang Mama. lalu duduk di samping Laras. Laras terkejut, namun ia bersikap santai sambil memasukkan kembali barang-barangnya satu persatu kedalam lemari.
"Sampai kapan Mama mengenang masa lalu?" tanya datar Daren. Laras hanya diam lalu mengunci lemarinya.
"Sampai kapan Ma!?" teriak Daren sambil mengebrak lemarinya. hingga kaca lemari itu pecah. Laras hanya diam dan memejamkan matanya. Martin yang baru saja pulang pun bergegas menghampiri mereka.
"Ada Apa ini?" tanya Martin.
"Ada apa sayang?" tanya Martin lagi pada Laras. Martin merangkul Laras yang sedikit terhuyung. Laras juga menahan sesak di dadanya akibat bentakan Daren.
"Tidak ada apa-apa, Daren tidak sengaja!" Daren yang mendengar kalimat sang Mama tersenyum sinis.
"Mama hebat! Mama sangat hebat!" ucap Daren melihat Laras tanpa menghiraukan tangan yang berdarah.
"Daren...! Apa maksudmu berbicara seperti itu pada Mamamu! Jaga sikap mu!" teriak Martin tidak terima.
__ADS_1
"Jaga sikap pa? Seharusnya Mama yang jaga sikap dan perasaannya untuk papa! Mana ada seorang istri bertahun-tahun membohongi perasaannya dan masih mencintai mantan suaminya. Lalu Papa dianggap apa? Pelampiasan?" suara lantang Daren melebihi Martin.