TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 39 MERESAHKAN


__ADS_3

“Sakit, Pak!” lirih Amara. Amara merasakan sakit luar biasa di pergelangan tangannya. Ia sendiri juga tidak tahu kondisi tangannya. Yang ia rasakan hanya sakit luar biasa.


“Iya ... Bapak oleskan obat dulu ya." Johan mengoleskan obat pereda bengkak.


“Amara!” teriak Daren lalu menghampiri Amara di brankar.


“Kamu kenapa. siapa yang berani dorong kamu?”


Daren begitu khawatir dan merasa gagal menjaga adiknya. Seharusnya tidak ia tinggal sendiri.


“Arheta kak!”


“Anak itu lagi!” geram Daren. tapi bukan saatnya untuk mencari anak tersebut. Saat ini yang paling penting kondisi adiknya.


“Apa yang terjadi?" tanya Ardan yang baru saja datang bersama Neha setelah mendengar aduan dari salah satu siswa.


“Astaga Amara!" Neha menghampiri Amara.


“Kakak!” cicit Amara pada Neha.


“Mas! bawa rumah sakit aja. Tangannya takut kenapa!"


“Iya pak. Bawa ke rumah sakit saja! Saya khawatir tulang tangannya patah atau retak!” saut Johan.


“Baiklah Ayo!” balas Ardan.


“Aku ikut!” seru Daren yang tak kalah khawatir dengan kondisi adiknya yang sedari tadi meringis kesakitan.


“Daren, kamu tetap di sekolah. Kamu ada ujian hari ini." ucap Ardan.


“Tapi Om!”


“Amara biat kami yang mengurusnya.”


“Johan kemudian membopong Amara menuju mobil milik sekolah yang sudah di siapkan Ardan.


Ardan dan Johan membawa Amara ke rumah sakit milik keluarga Bram. Amara mendapatkan penanganan terbaik.


Johan berjalan ke sana kemari seperti seterika. Ia begitu cemas dengan salah satu murid favoritnya setelah Arsy dan Bella. Selain cantik mereka juga pintar dan cepat memahami pelajaran. Namun Amara sedikit istimewa bagi Johan. Karena tingkahnya yang ceria dan candaannya yang spontan membuat tawa tersendiri bagi teman-temannya khususnya dirinya. Disisi lain ia juga memikirkan Fatma. Ia begitu senang saat Fatma memaafkan dirinya, tetapi kasus Amara dan Aretha sudah membawa namanya.


Ardan yang melihat Johan ke sana kemari mengingatkan dirinya saat masih bersama Laras. Johan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Tetapi Ardan yakin cemasnya Johan murni mencemaskan muridnya bukan mencemaskan kekasihnya.


“Pak Johan!" Johan berhenti dan menoleh ke arah Ardan.


“Ya!"


“Duduklah. Amara sudah mendapatkan penanganan terbaik dari Opanya. Sebentar lagi orang tua Aretha dan Papanya Amara datang kemari. Tidak perlu cemas!"

__ADS_1


“Bagaimana saya tidak cemas, Pak! Mereka bertengkar dan membawa-bawa nama saya! Maaf tadi, Bapak bilang Opa? " Ardan tertawa kecil lalu menepuk pundak Johan.


“Nanti kita selesaikan secara kekeluargaan. Iya Opanya! Om dari Mamanya, Laras.” Johan berfikir keras siapa lagi Om alias Opa dari Amara. Rasa-rasanya silsilah keluarga muridnya ini terlalu rumit.


Bayu dan dokter yang menangani Amara pun keluar dari ruang UGD lalu menghampiri Ardan.


“Bay! Bagaimana Amara?” tanya Ardan.


“Pergelangan tangannya sedikit ada keretakan, mungkin waktu jatuh lengan kanannya jatuh duluan.”


“Retak dok? butuh pemulihan berapa lama?” Johan semakin khawatir dan merasa bersalah.


“Kurang lebih tiga bulan.”


“Selama itu dok?” Bayu tertawa kecil.


Haruskah ia jelaskan panjang lebar, seharusnya Johan sebagai guru olahraga sudah mengetahui berapa lama pemulihan untuk tulang retak dan patah. Bayu memaklumi mungkin saja Johan terlalu khawatir dan cemas dengan cucunya. Tak lama Martin datang dan menghampiri mereka!


“Bay! Amara bagaimana?”


“Martin!” Amara baik-baik saja tapi tulang pergelangan tangannya retak.” Ardan menepuk Pundak Martin agar tidak panik dengan kondisi Anaknya.


”Sebenarnya apa yang yang terjadi pada anakku Ar?”


“Kami berdua belum mengetahui kronologinya bagaimana? Tapi sepertinya ada sedikit salah paham sesama murid.”


Johan melihat Martin dari atas sampai bawah. Ia heran dengan penampilan Martin yang begitu nyentrik seperti anak muda. rambutnya yang gondrong dan di ikat serta Bulu-bulu di rahangnya membuat kesan garang.


Martin



Laras dan Martin



Johan



“Permisi dok! Pasien sudah kami pindahkan ke ruang perawatan.” seru suster.


“Terima kisah,sus!" Suster tersenyum lalu kembali bekerja.


“Ayo semua ke ruangan Amara!” Ajak Bayu. Mereka bertiga mengikuti langkah Bayu menuju ruangan Amara.


'klekk' suara pintu terbuka.

__ADS_1


Mereka berempat masuk kedalam ruangan perawatan Amara. Johan terpukau saat masuk ke ruangan perawatan Amara yang menurutnya melebihi apartemen mewah.


“Papa!” renggek Amara dan langsung memeluk Martin saat Martin menghampirinya.


“Tidak apa-apa. Nanti juga sembuh! Nanti biar papa hukum yang berani menyakiti princess-nya Papa.” Martin menciumi kening Amara beberapa kali lalu memeluknya kembali.


Martin sangat menyayangi Amara karena ia anak perempuan satu satunya. Anak yang di kandung Laras saat di di perkirakan laki-laki. Sudah tentu Amara menjadi anak perempuan kesayangannya.


“Tapi Kenapa kamu gak ngelawan, hm! kamu kan jago bela diri!”


“Memangnya Amara seperti Mama waktu sekolah. main hajar anak orang!” Bayu dan Ardan yang mendengar pun tertawa kecil mengingat tingkah Laras waktu seumuran Amara yang begitu bar-bar dan susah mengontrol emosi. Sedangkan Johan hanya mendengarkan aduan Amara pada papanya.


“Tadi itu Amara di dorong Pa. Sebelum Amara jelaskan duduk perkaranya. Eh kakak kelas itu main dorong aja. udah nuduh Amara yang gak-gak. Kesel tau pa!" Martin kini pindah posisi duduk di samping Amara lalu merangkulnya.


“Coba ceritakan apa masalahnya?”


“Tadi pagi ... sebelum naik ke lantai atas. Amara ngobrol sebentar sama pak Johan.”


“Pak Johan?" tanya Martin heran karena belum mengetahui jika Johan guru baru di sekolahnya.


“Guru baru, pa! Guru olahraga. orangnya ganteng, Pa!" ujar Amara yang sedari tadi tidak menyadari jika orang yang di bicarakan bada di dalam ruangan perawatannya. Johan hanya mengulum senyum dan sekilas melirik Amara yang memang benar-benar tidak menyadari kehadirannya.


“Terus?”


“kakak kelas itu bilang katanya jangan sok kecantikan di depan Pak Johan, dalam hati Amara, Aku kan emang cantik.” Semua tertawa kecil termasuk Amara sendiri.


“Pak Johan itu punya dia katanya! Lah ... Amara mau ngomong mau jelasin Kalau Pak Johan cuma mau bilang terima kasih Sama Amara. Kakak itu langsung dorong aja. Amara langsung jatuh!”


“Gantengnya kaya apa sih, pak Johan?" goda Martin


“Gantengnya meresahkan, Pa!”


“Akhem!” Suara deheman Johan terdengar. sontak Amara melihat ke arah Johan yang berdiri di belakang Bayu.


“Papa! kenapa gak bilang ada pak Johan di sini! Aku kan malu!” cicit Amara yang bersembunyi di punggung Martin. Martin kini tau siapa yang di maksud sang anak.


Martin tertawa kecil sambil melihat guru yang di maksud Amara. Dan di mata Martin Johan memang tampan. Johan mulai mendekati Amara dan tersenyum.


“Maafkan Bapak ya! Gara-gara muka bapak meresahkan, kamu jadi Korban!" goda Johan.


“Bukk!" Amara memukul lengan Johan.


“Aduh!” semua tertawa melihat Amara dan Johan yang tidak ada jarak diantara mereka dan sudah seperti teman.


“Pak Johan sok ganteng!"


“Kenyataan!" Semua tertawa melihat Amara memukul lengan Johan berulang kali dan sepertinya melupakan rasa sakit di tangannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2