
Bryan masuk masih merangkul Johan dan Amara. Johan begitu takjub melihat isi rumah Syasa yang begitu luas dan mewah.
“Halo semua! Opa bawa cucu mantu!" seru Bryan membuat seisi rumah terpaku dan mematung melihat Johan dan Amara yang juga terdiam mendengar ucapan Bryan. Amara melihat Bryan dan Johan bergantian begitu juga Johan.
“Kamu jadian sama pak Johan!” celetuk Arsy menyadarkan semua orang dan melihat Arsy serta Amara dan Johan bergantian.
“Gak! Opa aja berlebihan!" jawab Amara sedikit gugup. Johan menjadi lega. Hampir saja dirinya tidak kuat menahan nafas di lihat keluarga besar Syasa. Amara berjalan menghampiri Martin lalu memeluknya.
“Gak bener, Pa! Tadi pak Soleh kena macet. Jadi pak Johan nawarin antar Amara pulang. Kalau gak! Amara masih di sekolah.”
“Gak apa-apa.”
“Sudah, Sudah! Ayo makan. kalian pasti lapar. Ayo nak Johan makan dulu ramai-ramai.” Syasa menengahi ketegangan situasinya. Syasa tahu. Johan seperti tidak enak hati dan takut salah paham.
“Sudah, Mas. Jangan buat Johan tidak enak hati. Ayo-ayo!" Syasa menarik Johan untuk bergabung dengan keluarganya dan membaur.
Arsy masih sangat penasaran melihat Amara dan Johan sudah pulang bersama. Apa lagi dengan ucapan Bryan yang mengatakan Johan cucu mantu. Sedangkan Devan melihat tajam Amara. Devan begitu cemburu melihat Amara pulang bersama gurunya.
“Nak Johan! Jangan ambil hati ucapan Opanya Amara. Opanya memang senang bercanda." Johan tersenyum sopan.
“Iya, Nyonya. Tidak apa-apa."
“Jangan panggil Nyonya. memangnya aku Nyonya kamu. panggil Oma, Ini opa.” protes Syasa yang tidak ingin di panggil Nyonya oleh Johan.
“Em ... iya O-oma!" balas Johan sedikit ragu.
Melihat raut wajah Johan Ardan dan Neha hanya tertawa kecil begitu juga semuanya. Sepertinya dugaan Ardan salah bahwa Johan akan menjalin hubungan dengan Fatma. Namun, Ardan masih belum yakin.
“Makan. Habiskan! Jangan pulang sebelum kenyang!" ujar Syasa pada Johan sambil menambahkan lauk di piringnya.
“Cukup Oma ... iya nanti saya makan semuanya.” balas Johan pelan dan sopan.
Johan melihat Amara yang sedang di suapi Martin lalu Bryan juga menyuapi Amara. Kini ia tahu bahwa muridnya yang menurutnya mandiri itu adalah kesayangan Papa dan opanya, dan terlihat jelas Amara juga sangat manja dengan keduanya. Mereka makan bersama saling bercanda dan tertawa.
Acara tujuh bulanan Luna di mulai. Johan mau tidak mau mengikuti acara tersebut. Johan mengganti kemejanya dengan baju Koko. Kebetulan ia selalu membawa baju Koko di dalam mobilnya untuk shalat ketika waktu sholat tiba dan ia masih di perjalanan.
Sebelum acara di mulai meraka semua shalat berjamaah di ruangan tengah yang begitu luas. Bryan menghampiri Johan sebelum shalat di mulai .
__ADS_1
“Johan!" panggil Bryan.
“Ya Opa!"
“Jadi imam ya!"
Johan terdiam sejenak, Kenapa tiba-tiba dirinya di tunjuk menjadi imam. padahal ia hanya tamu yang tak di undang, tetapi kenapa seolah seperti tamu istimewa.
Anggota keluarga lainnya hanya saling pandang. Amara semakin tidak enak hati dengan Johan. Amara merasa Opanya sudah mengetes gurunya seperti calon suami untuk putrinya.
“Iya, Opa!"
Johan berjalan menuju tempat imam. lalu melihat barisan makmumnya, sekilas ia melihat Amara yang begitu berbeda saat menggunakan mukenah tampak terlihat Lebih cantik dan tidak seperti usianya. Johan hanya menggelengkan kepalanya lalu menghadap ke arah kiblat. Sebelum memulainya ia menarik nafas dalam-dalam mengurangi rasa gugupnya, sebab ini pertama ia menjadi imam di rumah orang lain.
Johan memulai shalatnya. Bryan dan Martin tersenyum dalam hati. Rupanya bacaan shalat Johan begitu bagus dan pas.
Acara berjalan lancar sampai selesai. Satu persatu tamu pulang ke rumah masing-masing. kecuali keluarga Laras memilih tetap tinggal dan menginap. Sementara Bryan menahan Johan untuk tidak pulang. Bryan mengajak Johan duduk di teras taman.
Johan juga sampai membatalkan janjinya dengan Fatma dan beralasan ada kelas gym. Selain menjadi guru, Johan rupanya mempunyai tempat Gym dan sudah mempunyai banyak cabang. Tak heran Johan mempunyai tubuh Atletis.
“Ini tempat favorit Opa dan Omanya Amara. Dulu waktu Amara masih bayi. Opa sering duduk di sini sambil mangku Amara.” Johan hanya tersenyum.
“Kamu tahu? Amara itu cucuku paling cerdas. Mandiri. Tapi kalau sama Papanya, Opanya manjanya minta Ampun. Dia cerdas tapi satu kelemahan dia kalau udah emosi seperti Mamanya. Ngamuk!" keduanya tertawa.
Bryan bercerita banyak hal tentang Amara. Johan hanya pasrah dan menghela nafas panjang. Mencoba memaklumi Bryan sebagai orang tua yang membanggakan cucunya.
“Mas ...!" panggil Syasa.
“Ya."
“Sudah malam. Biarkan Johan pulang. Anak cucu kita juga sudah tidur. Lihat Amara sampai tertidur di sofa, nunggu pak gurunya pulang. Mau di tinggal ke kamar, gak sopan.”
“Iya, Besok-besok main kesini ya!” Bryan menepuk pundak Johan.
“Iya Opa. Kalau saya tidak sibuk." Johan menyalami Bryan dan Syasa bergantian.
“Saya pamit, Oma, Opa!"
__ADS_1
“Opa bangunkan Amara ya!"
“Tidak perlu Opa, biarkan Amara istirahat. Permisi!" Johan melangkah keluar di ikuti Bryan mengantarkannya sampai pintu depan.
“Hati-hati di jalan." Ucap Bryan menepuk bahu Johan.
“Iya, Opa. Terima kasih.” Johan melangkah Namun, Bryan menahannya lagi.
“Kamu mau nunggu Amara sampai dewasa?" Johan mengerutkan dahinya dan bertanya dalam hati, apa yang di maksud Opa tampan di hadapannya ini.
“Maksud ... Opa?"
“Ya ... nunggu Amara besar dan jadi istrimu!" Johan tertawa dan menggelengkan kepalanya. Ia bingung harus menjawab apa.
“Jika Amara sudah takdir saya. Saya bersedia. Tapi alangkah baiknya. biarkan Amara menggapai cita-citanya. perjalanan Amara masih panjang Opa. Dan Amara pasti mempunyai pilihan sendiri.” jelas Johan tidak menolak dan juga tidak menerima. ia serahkan semuanya pada takdir Tuhan.
“Baiklah. Hati-hati di jalan." Johan mengangguk lalu berjalan menuju mobilnya dan pulang dari Syasa.
***
Pagi hari Amara, Arsy sedang berjalan di lorong sekolah dan hendak masuk ke kelasnya. Sementara itu Devan dan Daren berjalan di belakang mereka.
“Amara! kok Pak Johan bisa ikut ke rumah Opa. Bagaimana ceritanya?"
“Amara tertawa kecil lalu sekilas menoleh ke belakang melihat Devan dan Daren.
“Ada deh! Tapi aku jadi gak enak sama pak Johan. Masak Opa. bilang sama Pak Johan suruh nunggu aku dewasa biar jadi istrinya. Haduh... bisa-bisa bu Fatma ngamuk.”
“Sudah Ah! gak usah bahas pak Johan. Nanti ada yang cemburu buta.” Arsy menoleh melihat Devan lalu tertawa kecil.
“Amara!" suara yang tidak asing itu membuat Amara dan Arsy berhenti lalu menoleh ke belakang dan melihat guru favoritnya itu menghampiri mereka. Daren dan Devan juga ikut berhenti.
“Pak Johan!"
“Ini ketinggalan!" Johan memakaikan topinya yang sudah di berikan pada Amara.
“ketinggalan di mobil,” Sambungnya lagi."
__ADS_1
“Iya pak. Terima kasih.!" keduanya tersenyum lalu Johan kembali lagi ke kelasnya.