
Amara menangis saat Johan juga memangkas habis rambutnya, tepat di hadapannya. Amara terharu dengan sikap Johan. setelah selesai memangkas habis rambutnya, Johan berlutut di hadapan Amara.
“Kamu gak sendirian, kakak akan selalu temani kamu.”
Laras menangis di pelukan suaminya, melihat anak dan calon menantunya, terlebih melihat Amara yang harus kehilangan rambutnya. Rambut yang dulu panjang, yang sering ia sisir dan ikat dengan rapi kini sudah tidak ada.
“Jangan nangis lagi ya, Rambutnya Nanti bisa tumbuh lagi!” ucap Johan mengusap lembut pipi Amara. Amara tersenyum tipis lalu memeluk Johan.
“Terima kasih, kak. terima kasih.” Hanya itu yang bisa terucap di bibir Amara. ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Johan masih mau menunggunya saja ia sangat bersyukur.
Erick tersenyum dan salut dengan kesetiaan Johan menunggu Amara bertahun-tahun dan dalam keadaan sakit pun masih setia menunggunya.
“Aku tidak mungkin masuk dalam kisah cinta kalian,” batin Erik lalu tersenyum.
Erick melangkah keluar, Namun saat hendak membuka pintu ada seorang yang membuka pintunya, membuat dirinya terantuk daun pintu.
“Auh!” pekiknya sambil menunduk memegang keningnya. Semua yang berada di ruangan Amara melihat ke arah pintu.
“He ...! Aduh dok, maaf! saya pikir tadi gak ada orang! Maaf dok, gak ada yang bocor kan dok?"
“Kau pikir genteng! Bocor!” pekik Erick yang masih mengusap keningnya dan masih menunduk.
“Kau ini! Itu Jidat bukan genteng!” sambung Abi yang sedari tadi di belakangnya. Rupanya Abi datang bersama sang anak Tasya, Tasya saat ini sudah berusia 23 tahun.
“He ... Iya, pa. Maaf ya dok. Mari saya obati!" Tasya membantu Erick duduk di sofa lalu mengambil salep memar di tasnya dan ia oleskan di kening Erick, Erick memandangi gadis yang di sampingnya, wajah cantik dengan bibir menggoda.
“Tidak perlu melihat saya seperti itu, dok. Kalau suka bilang aja. Tenang saya jomblo kok.”
“Tasya!" seru Abi di iringi tawa seisi ruangan.
“Ais! Papa ...! Ssstttt.” Abi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol sang Anak.
Erick hanya bisa menahan tawa melihat Tasnya, yang menurutnya begitu humoris.
“Terima kasih! kalau begitu saya permisi.”
“He ... dokter mau kemana? Gak minta nomor telepon saya gitu?" Erick hanya tersenyum lalu bangkit kemudian melangkah keluar. sedangkan Tasya hanya melongo merasa Erick acuh padanya.
“Kau ini jual mahal sedikit kenapa, Tasya!" seru Abi di iringi tawa semuanya.
“Jual mahal? Memangnya saya dagangan!" Tasya lalu menghampiri Amara dan Johan.
“Halo cantik! Bagaimana keadaan kamu. Halo pak Johan.” Amara tersenyum dan menyambut pelukan Tasya.
__ADS_1
“Halo kak. kapan pulang dari London?” tanya Amara.
“Seminggu yang lalu, terus hari ini kemari sama Papa, sama opa Bram dan Oma Wina. tapi Oma sama Opa masih di rumah Tante Syasa.
Tasya mendorong kursi roda Amara menuju brankar di ikuti Johan. sementara sisa rambut mereka sudah di bersihkan cleaning servis.
“Apa kabar, sayang!” sapa Abi pada Amara.
“Masih sakit, Opa. Gak tau kapan sembuhnya.”
“Sabar ya. Kamu pasti sembuh.” Abi mengusap pipi Amara.
Amara tersenyum tipis lalu melihat Johan yang sedang mengenakan topinya. Tak lama ia pun mengambil penutup kepalanya dan mengenakan.
“Kak, ini kak Tasya, anak apa Abi.” Amara memperkenalkan Johan pada Tasya.
“Hai ... Saya Tasya.” Tasya mengulurkan tangannya pada Johan. Johan tersebut lalu menjabat tangan Tasya.
“Johan.”
“Em ... Amara banyak cerita tentang kakak. rupanya kakak keren ya! Pantas bocah ini jatuh cinta sama gurunya sendiri.”
“Kakak!” pekik Amara malu.
Disisi lain Daren masih di kampus bersama Arsy yang sedang mendaftar menjadi mahasiswa baru di universitas yang sama. setelah selesai mendaftar Arsy ikut bersama Daren duduk di kantin kampus.
“Kamu yakin ambil jurusan seni dan budaya?" tanya Daren.
“Yakin kakak ... kakak tau kan, aku suka kesenian.”
“Ya itu artinya, kamu gak sering ketemu kakak karena beda fakultas.”
“Ya gak apa-apa masih satu kampus kan, walau beda gedung dan fakultas kita masih bisa ketemu.”
“Ok, baiklah. Asal kamu jangan lirik-,lirik kakak tingkat kamu ya. Awas kalau iya! kalau kamu berani! kakak nikahin kamu sekalian.”
“Gaya Kakak mau nikahin. kerja! Uang jajan masih minta Tante Laras juga. mau di kasih makan apa aku?"
“Nasilah!” Arsy tertawa lalu memeluk Daren dari samping.
“Sabar ya. Aku akan tunggu Kakak sampai Kakak jadi sukses dengan usaha Kakak sendiri, gak hasil dari orang tua.”
“Itu sudah pasti, sayang. Tapi ujung-ujungnya Kakak juga meneruskan perusahaan Mama Papa, kan. Siapa lagi? Alano. masih SD.”
__ADS_1
“Sukses lah dengan nama mu sendiri. Agar kamu di hargai.” Arsy kemudian mencium pipi Daren. Daren tersenyum kemudian memeluknya. Ia begitu mencintai Arsy Sampai tidak tau dengan apa ia mengungkapkannya.
“Ya sudah habiskan makanan kamu. Setelah makan Kakak antar pulang.” Arsy kemudian menghabiskan makanannya setelah itu mereka pulang.
Di perjalanan rupanya Arsy meminta Daren untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Arsy rupanya ingin menjenguk Amara. Sudah beberapa hari ini ia tidak berkunjung.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan Amara.
“Hai... aku datang!” seru Arsy di ambang pintu.
“Arsy!" lirih Amara. Amara tersenyum melihat sahabatnya itu datang dengan senyum cerianya.
“Halo pak Johan.” Sapa Arsy saat di samping brankar Amara.
“Hai Arsy, Daren." Daren hanya tersenyum lalu menyalami Johan di ikuti Arsy.
“Bagaimana kabar kamu?" tanya Arsy memegang tangan Amara.
“Hari ini Amara itu tertawa terus!" sambung Johan
“Kenapa, Pak?"
“Ada Opa Abi sama Tasya.”
“Ha! kak Tasya sudah balik dari London?" Amara mengangguk.
“Terus kemana semua orang?" Arsy melihat sekeliling ruangan. Namun, tidak menemukan siapa pun .
“Mama, Papa pulang sebentar. Opa sama Tasya lagi menemani Opa Bram sama Oma Wina meeting sama dewan direksi rumah sakit.”
“Oh ...,” balas Arsy mengangguk mengerti.
“Permisi!” ucap suster tiba-tiba membawa makan malam untuk Amara.
“Ya, sus!” balas Arsy
“Ini makan malam untuk Nona Amara!” Suster meletakkannya di meja di sampai brankar Amara.
“Iya sus, terima kasih!” ujar Amara. kemudian suster tersebut keluar ruangan.
“Sayang, makan ya!" ucap Johan.
“Nanti saja Kak, Oh iya kk. Besok kan ujian susulan. Amara mau ikut ujian kelulusan tahap dua.”
__ADS_1
“Boleh ... tapi tetap harus atas izin dokter Erick. Kalau tidak, Nanti kakak minta izin sama Pak Ardan, supaya kamu bisa ujian di rumah sakit.”