
Pada akhirnya Amara sudah sah menikah dengan Johan, usia yang terpaut jauh tidak menjadi penghalang keduanya. Karier dan bisnis Amara pun berkembang dengan dukungan keluarga dan sang suami. Kesehatan semakin membaik dan saat ini sedang mengandung buah cintanya dengan sang suami. Usianya pun kini sudah menginjak 20 tahun dan sang suami 28 tahun.
Sementara Arsy tengah sibuk menyelesaikan pendidikan S1-nya. Untuk Daren sendiri ia sudah selesai kuliah dan bekerja di perusahaan sang Mama dan menjabat sebagai direktur utama di bawah pengawasan Martin, sang Papa. Ia juga tengah menempuh S2-nya sambil bekerja. Hubungannya dengan Arsy juga mengalami pasang surut. Walau begitu, cinta mereka semakin kuat. Usia Arsy kini menginjak 19 tahun dan Daren 25 tahun dan mereka pun sepakat untuk melangkah ke jenjang lebih serius, yaitu pernikahan.
Untuk Devan sendiri, ia sedang menempuh pendidikan S2 di luar negeri bersama Bella, Alex, dan Ardi. Mereka tak hanya kuliah, mereka juga mendirikan bisnis kuliner bersama di Singapore.
Daren tengah berdiri di samping mobilnya. Ia tengah menunggu Arsy keluar dari kampus. Sesekali ia melihat jam tangannya lalu melihat orang-orang sekitar yang terus menatapnya dengan rasa ingin memiliki.
Arsy yang baru keluar dan melihat pujaan hatinya tengah menunggu pun langsung berlari menghampiri.
“Kakak!” serunya dan masih berlari.
Daren melihat Arsy sambil tersenyum kemudian merentangkan tangannya untuk menyambut Arsy. Arsy menghambur ke pelukannya dan mereka saling berpelukan erat.
“Kangen,” desis Arsy sambil mendongak ke arah Daren. Daren pun langsung mendaratkan ciumannya ke kening Arsy.
“Baru dua hari di tinggal ke luar kota, udah kangen? Hem.”
“Memangnya kakak gak kangen sama aku?”
“Kangen dong. Siapa sih yang gak kangen sama calon istri Kakak yang cantik dan manis ini. Hem.” Keduanya tertawa dan sekali lagi Daren memeluk Arsy lalu keduanya masuk ke dalam mobil.
Daren melajukan mobilnya, membelah jalanan kota Jakarta.
“Mau kemana?” tanya Daren.
“Makan siang dong kak. Aku belum makan.”
“Ok. ke kafe Amara ya. Sekalian Kakak mau ketemu dia. Kangen juga sama itu bocah.”
“Iya. Aku juga kangen sama Amara, semenjak dia udah nikah. jarang ketemu. Apa lagi sekarang dia lagi hamil.”
Keduanya tersenyum dan begitu bahagia dengan kehamilan Amara. Sebab anggota keluarga akan bertambah.
Sesampainya di kafe, mereka masuk dan duduk di tempat favorit mereka. pelayan yang melihat kedatangannya pun menghampiri mereka.
__ADS_1
“Selamat siang, tuan Daren, Nona Arsy. Bisa saya bantu, ingin pesan apa?”
“Seperti biasa aja deh mbak. minumnya juga. Oh ya, Amara mana?” tanya Daren melihat meja kerja sang adik yang terlihat dari meja pengunjung.
“Nona Amara ada. Beliau sedang mengecek dapur. Mungkin sebentar lagi keluar. Apa mau saya Panggilkan?”
“Iya, Mbak. bilang aja kakaknya ke sini.”
“Baik, mohon di tunggu tuan.” Pelayan kemudian menuju dapur untuk memanggil Amara serta mengambilkan pesanannya.
Arsy dan Daren duduk santai mereka mengobrol, bercanda dan tertawa hingga tidak menyadari kedatangan Johan.
Johan tersenyum melihat muridnya dahulu yang kini menjadi iparnya. Johan hanya melewati mereka berdua untuk mencari sang istri lebih dulu.
“Sayang ... dari mana?” tanya Johan saat berpas-pasan di lorong.
“Dari dapur, ngecek bahan dapur.” Amara kemudian Salim pada Johan lalu Johan memeluk dan mengusap perutnya.
“Hai, anak ayah lagi ngapain. Hem.”
“Ya sudah kak. Aku temui Kak Daren dulu ya.”
“Iya. Kakak taruh tas dulu di ruangan kamu ya. Nanti kakak nyusul.”
Amara tersenyum kemudian melangkah menghampiri Daren dan Arsy. Dengan kehamilannya yang sudah masuk usia 7 bulan, ia begitu sedikit kesusahan untuk berjalan.
“Kak!” Serunya. Daren menoleh lalu sontak berdiri menghampiri sang adik yang kesulitan untuk duduk.
“Pelan-pelan, Ra.” Devan menarik kursi agar Amara lebih mudah duduk.
“Terima kasih, kak. Hai Arsy!”
“Hai, wah ... perut kamu makin besar. aku udah gak sabar liat calon ponakan.” Arsy. kemudian mengusap perut Amara.
“Sabar dong Tante. Dua bulan lagi, aku lahir.” ketiganya tertawa kecil. Daren terus melihat sang adik yang tampak begitu bahagia dengan pernikahannya. Sampai ia rela melepaskan masa mudanya demi cintanya pada sang guru.
__ADS_1
Mengingat perjalanan Amara yang tidak mudah beberapa tahun kebelakang. Antara hidup dan mati melawan sakitnya, Namun di sisi lain Daren begitu bersyukur ada seseorang pria dewasa yang selalu mencintai dan menemani, memberikan semangat untuk sembuh dan melanjutkan hidup. Terkadang ia iri dengan sikap Johan yang setia menanti sang adik. Apakah ia mampu menjadi seperti Johan jika Arsy mengalami hal yang sama.
Diam-diam ia juga memperhatikan pujaan hatinya, Arsy. Gadis yang begitu ia cintai dari saat remaja. Bahkan hingga saat ini cintanya semakin kuat dan yakin Arsy adalah gadis yang tempat untuk mendampingi dirinya hingga tua nanti.
“Kalian sudah makan?” tanya Amara.
“Kami datang juga mau makan di sini, calon adik ipar.” Ketiga tertawa seperti biasanya yang selalu mengeluarkan candaan.
“Calon terus, kapan dong di nikahi. Nikah muda seru, loh!” goda Amara meledak Daren dan Arsy. Daren hanya tersenyum lalu meraih jemari Arsy.
“Selesai Wisuda, Kakak akan melamar kamu.”
“Hah?” Arsy melongo mendengar ucapan Daren yang begitu serius, begitu juga Amara yang tidak menyangka sang kakak sudah mengutarakan keinginannya.
“Iya sayang. Sudah cukup kakak kenal kamu dari kecil. saatnya kamu kakak pinang jadi istri kakak. Kakak pastikan kamu bahagia sepanjang hidup kamu.”
“Gombal!” Arsy tersenyum malu sambil melihat Amara yang tertawa menggodanya.
“Kayaknya ada yang seru!” sambung Johan yang tiba-tiba datang lalu duduk di samping Amara kemudian mengusap sang istri.
“Pak Johan. Iya ini, Pak. mantan murid bapak mau melamar saya. Bapak nanti jadi adik ipar saya.”
“Hm ... begitu ya. Nanti mantan guruku menjadi adik iparku.” sontak ketiganya tertawa mendengar ucapan Johan.
“Bapak bisa saja.” Arsy lalu melihat Daren yang sedari tadi melihatnya.
“Oh iya. Seminggu lagi acara 7 bulananku. kalian datang ya ke rumah. Bantu-bantu ngapain gitu,” seru Amara yang akan mengadakan acara 7,. bulanan di rumahnya sendiri.
“Ok. Tapi anak-anak yang lain kan masih di singapore.”
"Tenang, Aku sudah hubungi kak Devan biar nanti mereka datang dan harus datang,” jelas Amara.
Walau mereka sudah mempunyai kesibukan dan kehidupan masing-masing. Mereka tetap menjalin hubungan persahabatan dengan baik.
Pada akhirnya mereka menjalani takdir masing-masing dengan jalan hidup masing-masing. Penantian dengan tulus dan ikhlas pasti akan membuahkan kebahagiaan dan tidak di pungkiri Ardan, Laras serta anak dari keduanya juga menjalin kasih dan hubungan mereka sakin erat.
__ADS_1
TAMAT