
Undangan pernikahan Ardan semua sudah selesai. Tinggal di bagikan dengan rekan kerja dan rekan bisnisnya. Untuk undangan rekan guru Neha yang mengambil alih untuk membagikannya sedangkan Ardan membagikannya untuk rekan bisnisnya.
Neha Dan Ardan sengaja datang lebih pagi agar lebih mempunyai banyak waktu untuk membagikan undangannya. Untuk undangan kepala sekolah Ardan sendiri yang memberikannya, sisanya Neha yang membaginya.
Sebelum ada guru yang datang, Neha meletakkan undangannya satu persatu di meja guru. Setelahnya ia duduk di kursinya lalu ia mengambil sarapannya. Sebab ia sengaja membawa sarapannya ke sekolah.
“Ini punya Mas Ardan!” Neha berdiri ingin mengantarkan bekal milik Ardan. Namun, rupanya sudah di ambang pintu lalu Neha duduk kembali.
“Pagi sayang! Apa yang lain belum datang?" Ardan menarik kursi Fatma lalu meletakkan di sebrang meja Neha.
“Belum Mas. Baru jam Setengah tujuh kurang. kita kepagian datangnya. Sarapan dulu ya! Ini rotinya dan ini kopinya.” Neha memberikan kotak makanannya dan gelas khusus agar kopinya tetap panas.
Mereka makan berdua sarapan bersama bagai ruangan guru milik mereka berdua. Walau memang kenytaannya milik mereka. Tak lama Fatma dan Johan datang bersamaan.
“Eh! Em … pagi bu Neha, Pak Ardan!” sapa Fatma.
“Pagi, Pak Ardan, Bu Neha!” sapa Johan. Ia berjalan ke mejanya dan sekilas melihat undangan dari Neha lalu tersenyum. Kali ini memang ia yakin tidak lagi bisa mendekati wanita cantik yang ia kagumi dari awal masuk sekolah.
“Pagi! Kalian datang kok bareng?” goda Neha.
“Iya! kebetulan saja, Bu. Tadi ketemu di parkiran.” balas Fatma sedikit kesal melihat Johan.
“Oh! Saya pikir kalian janjian,” sambung Ardan bermaksud menggoda mereka.
“Janjian? Malas Pak! mending saya janjian sama sopir Bapak.”
“Heh! Pak Alif udah punya istri!” potong Neha diiringi tawa Ardan. Fatma hanya nyengir kuda dan salah tingkah.
“Bu Fatma itu malu-malu. Sebenarnya Bu Fatma sedang mencari perhatian saya, Pak!” goda Johan dan semua tertawa kecil kecuali Fatma yang merengut melihat Johan menghampirinya.
“Nyebelin!” cicit Fatma lalu keluar dari ruangan guru. Ardan dan Neha hanya tertawa kecil melihat Fatma dan Johan tidak pernah akur.
“Oh ya! Pak Johan. Ngopi dulu. tapi maaf hanya ini.” Ardan menawari kopi.
“Oh ya, Pak! Terima kasih. Saya ke kantin saja. Kebetulan saya juga belum sarapan. Mari!” Neha dan Ardan hanya mengangguk.
“Sebentar lagi mereka juga jadian!” celetuk Ardan.
“Tapi, aku gak yakin Mas. Soalnya Bu Fatma itu sudah tunangan.”
“Hah! Serius! Tapi kok jari manisnya kosong?"
“Iya. Cincinnya di jadikan liontin kalungnya. Katanya biar dekat di hati.” Ardan hanya tertawa kecil tidak menyangka Fatma sudah bertunangan.
“Calonnya masih tugas.”
__ADS_1
“Kerja apa calonnya?" tanya Ardan.
“Kerja di kapal pesiar.”
“Oh! Yah ... semoga saja gak goyah. Hubungan jarak jauh itu godaan besar dan Rawan. Apa lagi perempuan, paling tidak bisa jauh dengan pasangannya. Berat Sayang!"
“Iya sih Mas. Fatma juga curhat. Udah gak tahan hubungan jarak jauh terus. Mau sampai kapan! Walau sudah di ikat. Namanya godaan dari dua belah pihak pasti ada saja. Apa lagi kerjaan calonnya Fatma, sudah pasti banyak wanita cantik. Yah ... mungkin sikap sentimen Fatma pada Pak Johan adalah bentuk rasa
kesalnya pada tunangannya. Intinya ingin diperhatikan. Apa lagi pak Johan juga tampan.”
“Tampan ya!"
“Eh!" Neha langsung menatap wajah suaminya. Takut salah bicara dan membuat salah paham.
“Bukan, Mas. Maksudku....”
“Gak apa-apa! Mata kamu masih Normal. " Ardan tertawa kecil melihat Neha merasa bersalah sudah jujur mengatakan Johan tampan, Beruntung Ardan menyikapinya dengan bijak.
“Ya sudah! Mas Balik ya.” Neha mengangguk lalu berdiri dan menyalami Neha. Ardan pun tak lupa mengecup kening Neha.
Setelahnya Ardan keluar dari ruangannya. Neha membereskan kotak makanannya. lalu duduk kembali.
Sementara itu Johan sedang di kantin. Ia memesan kopi dan duduk sambil membaca berita olahraga dari ponselnya. Sesekali mencuri pandang Fatma yang sedang duduk menikmati roti dan segelas susu coklat. Akan tetapi raut wajahnya sedikit murung.
Cukup lama Johan memperhatikannya. Tak disangka Fatma sekilas mengusap pipinya. Apakah dia menangis? Pikir Johan. Namun, kali ini Johan tidak ingin mengganggunya dan membiarkan Fatma tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Tak begitu lama siswa dan siswi mulai berdatangan dan suasana semakin ramai seperti biasanya. Fatma juga sudah kembali ke ruangan guru dan sangat bersemangat saat melihat undangan dari Neha.
“Jadi acaranya tinggal seminggu lagi dong, Bu Neha!” tanya Fatma yang duduknya berdebat dengan Neha.
“Iya Bu. Datang ya, sama tunangannya Bu Fatma.” Wajah Fatma berubah sendu lalu tersenyum tipis.
“Em..., Iya pasti. Tapi saya datang sendiri. Saya sudah putus dengan tunangan saya.” Jelas Fatma sendu.
“Maaf, Bu Fatma!" Neha merasa tidak enak hati, sudah membuat pagi Fatma bersedih.
“Tidak apa-apa!"
“Ahem!” suara deheman seseorang mengagetkan Fatma tapi tidak Neha dan lainnya karena Neha dan yang lainnya tahu jika seseorang tersebut menghampiri Meha dan Fatma.
“Astagfirullah!” Fatma menoleh ke arah sumber suara.
“Astaga!! Bisa tidak satu hari ini Pak Johan itu tidak mengganggunya saya!” Kesal Fatma.
“Siapa yang ganggu, Bu Fatma! Ge-er! Oh ... atau jangan-jangan Bu Fatma suka saya ganggu ya!"
__ADS_1
“Pak Johan memang ngeselin lama-lama.” Fatma mencoba menepuk Johan dengan buku, namun Johan menghindar.
“Ngeselin atau ngangenin!" goda Johan semakin membuat Fatma kesal sedangkan rekan yang lain hanya tertawa kecil melihat Johan dan Fatma seperti anak SMA.
Fatma berdiri lalu melangkah dari hadapan Johan. Namun Johan menarik pergelangan tangan Fatma.
“Lepas!" geram Fatma. Namun Johan tidak melepasnya. Johan lalu meletakkan ponsel d telapak tangan Fatma.
“Ponsel Ibu ketinggalan di kantin." Fatma menarik tangannya lalu berjalan keluar dengan wajah sendu. Johan hendak mengejarnya Namun Neha melarangnya.
“Biarkan Bu Fatma sendiri dulu, pak Johan.” Johan menghela nafas panjang lalu mengangguk kemudian menuju mejanya sendiri.
“Sayang!” Suara Nathan tiba-tiba terdengar. Neha spontan melihat ke arah pintu.
“Papa!" Neha berdiri dan melihat Nathan masuk menghampirinya.
“Selamat pagi semua! Sapa Nathan pada guru lainnya.
"Pagi!” balas salah satu guru dan yang lainnya hanya saling pandan.
“Papa ngapain kemari?" pekik Neha. Namun Nathan justru memeluk anaknya dengan erat.
“Pa! Lepas!"
“Kenapa? Udah gak mau di peluk Papa!" Protes Nathan. Neha melepas pelukan Nathan.
“Pa! Ini kan sekolah. Dan Papa gak boleh seenaknya dong!"
“Ok! Baiklah. Suamimu ada dimana. Papa cari di ruangannya gak ada!"
“Gak tau. Tadi barusan dari sini mungkin lagi keliling sekolah.”
“Aih... keliling sekolah. Kurang kerjaan menantuku itu.” Neha mengulum senyum melihat ekspresi sang Papa.
“Ya sudah Papa tunggu di ruangannya saja!”
“Hm! Oh ya Pa! Mama ikut?"
“Ikut. Ada di kantin katanya mau reuni sama makanan di kantin.”
Semua guru yang melihat Nathan hanya bisa menahan tawa. Rupanya ayah dari rekannya itu sungguh asyik dan menyenangkan.
Neha pun langsung berlari kecil keluar dari ruangan setelah tahu sang Mama ada di kantin dan meninggalkan Nathan.
“Ini Anak Kalau ada Mamanya pasti!” Nathan menggelengkan kepalanya lalu melihat sekeliling ruangannya yang tampak banyak berubah. Namun kenangan saat menjadi guru di sekolah Ardan, Nathan masih teringat jelas.
__ADS_1
“Ok! Semua, saya permisi. Maaf sudah mengganggu."
“Tidak apa-apa, Pak?" jawab salah satu guru. Nathan keluar dan menyusul anak dan istrinya ke kantin.