
Akhirnya Ardan pulang dari Bandung. Ardan mempercepat kepulangannya dari bandung. Sebab mendengar keributan di sekolahnya, di tambah mendengar Neha kurang sehat.
Ardan pulang tanpa sepengetahuan Neha dan anak-anaknya. Ardan masuk ke dalam dan mendapati rumahnya begitu sepi. Ya, karena hari sudah malam . Ardan kemudian masuk kedalam kamarnya.
Ardan tersenyum saat melihat anak-anaknya tidur bersama. Dengan posisi Neha di tengah dan Arsi memeluk Neha, sementara Devan memegang tangan Neha.
“Kalian begitu manis,”batin Ardan lalu meletakan tasnya di meja, kemudian mencium kening anak dan istrinya
Neha terbangun lalu melihat Ardan dan tersenyum. kemudian ia bangun tanpa membangunkan anak-anaknya, lalu memeluk Ardan.
“Mas, Kangen!” Ardan memeluk Neha lalu mencium keningnya beberapa kali.
“Mas, juga Kangen,” jawab Ardan pelan lalu membopong Neha keluar menuju kamar tamu.
“Mas bersihkan badan dulu ya! Aku buatkan jahe hangat.” Neha menahan Ardan saat Ardan membuka kemejanya.
“Sudah gak tahan,” lirih Ardan mencium kembali bibir sang Istri.
“Mas ...!” Ardan tertawa kecil lalu bangkit dari atas tubuh Neha lalu menuju kamar mandi.
Neha keluar dari kamar lalu menuju dapur dan membuatkan Ardan jahe hangat. Belum selesai membuat jahe hangat, sudah ada yang memeluknya dari belakang.
“sudah, tidak usah buat jahe. Ayo! mas udah ga tahan.”
“Mas ... emang Mas gak capek.”
“Yang itu Mas gak ada capeknya, sayang.”
Neha tertawa kecil lalu membalikkan badannya, kemudian mereka berciuman.Tidak tinggal diam, Ardan langsung membawa Neha ke kamar tamu.
“Mas! Pelan ya, jangan di keluarin didalam.”
“Kenapa?” Neha kemudian meraih tangan Ardan lalu ia letakkan di perut Ardan
Seketika Ardan terdiam dan mengerti maksud Neha. Ardan langsung memeluk Neha dan menciumi pipinya.
“Terima kasih sayang! Kamu akan memberikanku anak lagi.”
“Iya,Mas.” mereka tersenyum kemudian berciuman dan berakhir di ranjang.
***
Paginya Ardan dan Neha memutuskan untuk ke dokter kandungan. Saat dokter memeriksa dengan USG terlihat ada janin kembar di sana.
"Selamat tuan, istri anda hamil bayi kembar," ucap sang dokter. Ardan terharu dan meneteskan air mata melihat layar monitor USG istrinya.
__ADS_1
"Kita akan mempunyai bayi, kembar sayang. terima kasih," ucap Ardan lalu mengecup kening istrinya.
"Iya Mas."
"Usia kandungannya memasuki 8 Minggu Nyonya. harus di jaga, tuan harus siaga sebagai suami." Neha terkekeh mendengar ucapan Sang dokter.
"Dok, suami saya sudah mempunyai anak dua dengan almarhum istrinya, dan saya isteri barunya. sudah pasti Suami saya ini selalu siaga, dok!" balas Neha.
"Oh... Bagus, Anda suami siaga!" balas sang dokter.
Dokter bangkit dari duduknya lalu duduk di kursinya. Dokter melihat data diri Ardan dan Neha, ia mengerutkan dahinya saat mengetahui Usia Ardan dan Neha terpaut dua puluh dua tahun.
"What?" batin sang dokter tidak percaya, lalu melihat Ardan dan Neha bergantian. Dokter itu tidak menyangka Ardan sudah berumur. Sebab di lihat dari wajah Ardan nampak masih begitu muda sepertinya tiga puluhan.
"Baiklah. Saya akan memberikan resep vitaminnya.” Dokter menuliskan resep untuk Neha.
“Ini resep vitaminnya dan ada juga obat mual. Obat mual di minum kalau merasa mual saja ya, Nyonya."
“Baik dok. Terima kasih.” Ardan dan Neha kemudian pamit undur diri.
Ardan dan Neha berjalan di lorong rumah sakit dan menuju apotik untuk menebus resepnya. Saat keluar menuju apotik mereka berdua melihat Martin dan Laras keluar. rumah sakit.
“Loh! yang jaga Amara siapa?" tanya Neha.
“Oh ... syukurlah!”
Namun tanpa sepengetahuan Mereka semua. Setelah Martin dan Laras keluar rumah sakit. Rupanya Johan datang ke kamar perawatan Amara. Memang saat ini ia tidak ada kelas. Demi mengunjungi Amara, Johan rela membatalkan janjinya untuk menjemput Fatma dan beralasan sedang sibuk ke tempat gymnya.
“Pagi!" sapa Johan saat masuk ke kamar perawatan Amara.
“Pak Johan!"
“Hai!" Johan menghampiri Amara lalu mengusap lembut kepala Amara.
“Kok Bapak bisa masuk, kan harus pakai kartu akses masuk kemari.”
“Iya ... Bapak tahu. Kemarin Bapak lupa mengembalikan kartunya, Jadi sekarang masih bisa masuk.”
“Alasan!" Amara mencibikkan bibirnya. Namun Johan hanya tertawa kecil.
“Oh iya. Mana orang tua kamu?”
“Pulang sebentar.” Johan duduk di kursi di sebelah brankar Amara. Johan tersenyum melihat Amara sudah duduk dan tersenyum.
“Bapak gak ngajar?”
__ADS_1
“Kebetulan Bapak hari ini tidak ada kelas, jadi kesini saja."
“Oha ya, Bagaimana tangan kamu?" Johan memperhatikan tangan Amara yang masih di balut.
“Ya masih sakit, Pak. Tapi udah mendingan.”
Johan tersenyum lalu membaringkan kepalanya di samping paha Amara dengan menggunakan tangan sebagai bantal. Johan sebenarnya sangat mengantuk, karena tidak bisa tidur memikirkan kondisi Amara. Sebab Karenanya Amara masuk rumah sakit dua kali dan dalam kurun waktu berdekatan.
Johan khawatir bukan karena ada rasa cinta atau sejenisnya. ia murni rasa bentuk rasa bersalahnya dan tanggung jawabnya. Atau bisa jadi Johan belum menyadari perasaannya sendiri.
“Amara!”panggilnya pelan.
“Ya, Pak!"
“Bapak merem sebenar ya. Bapak ngantuk. Tadi malam gak bisa tidur!”
“Gak bisa tidur? Mikirin saya ya, Pak!" Keduanya tertawa kecil dan Johan masih dengan posisi yang sama lalu melihat Amara.
“Tidurlah. Temani Bapak tidur."
“Ya sudah Bapak merem!” Amara mengusap wajah Johan.
“Tangan kamu, Awas!" Amara tertawa kecil lalu menyikirkan tangannya lalu menepuk-nepuk pundak Johan agar tertidur.
Johan memejamkan matanya. Amara tersenyum melihat gurunya yang tampan itu tertidur di sampingnya. Amara dengan ragu mengusap rambut Johan.
“Bapak tidur tetap masih ganteng!" Amara terkekeh kecil dan masih mengusap lembut rambut Johan.
“Bapak masih denger kamu ngomong apa!" lirih Johan.Amara tertawa kecil di ikuti Johan yang masih dengan posisi yang sama. Akhirnya Amara juga berbaring dan memejamkan matanya.
Mereka tidur hampir dua jam sampai-sampai tidak menyadari Martin dan Banyu memperhatikan mereka. Apa lagi Johan yang memeluk kaki Amara sambil mengaitkan jarinya ke jari Amara. Entah di menit berapa posisi Johan berubah.
Banyu dan Martin hanya tersenyum kecil melihat mereka dari Sofa.
“Sepertinya ... kau harus lebih posesif jaga putrimu," ujar Banyu pelan.
“Biarkan saja. yang penting masih bisa jaga jarak. maksudnya jaga diri. Aku yakin Johan itu lebih ke sayang seperti adik, walaupun tidak menutup kemungkinan Kedepannya mereka saling suka. Selama Johan masih menjaga Amara, tidak apa-apa. Dia juga tahu batasannya. Sejauh yang aku lihat Johan laki-laki bertanggung jawab.
“Aku jadi teringat Laras dan Ardan dulu.”
Martin hanya tersenyum. Tidak marah atau pun cemburu. Karena semua masa lalu. Baginya Laras kini sudah melupakan semuanya saja sudah cukup.
***
Author Nunggu komentarnya kok cuma ada 2 3 orang ya. apa udah GK seru LG ceritanya.
__ADS_1