TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 50 TUNGGU KAMU


__ADS_3

Pagi ini sekolah Mahendra School kedatangan murid baru. Murid baru tersebut datang bersama kepala sekolah. wajahnya yang tampan, tatapannya yang tajam membuat siapa saja yang melihat terpesona. mempunyai paras campuran dan tinggi badan yang ideal untuk sekelas pelajar.


Kepala sekolah mengantarkan Siswa baru tersebut ke kelasnya, yang ternyata satu kelas dengan Daren.


"Selamat pagi anak-anak" sapa kepala sekolah didepan kelas.


"Pagi, pak...!" balas semua murid.


"Pagi ini kelas kalian kedatangan murid baru, murid pertukaran dari sekolah Pak Ardan yang ada di bandung," jelas kepala sekolah sambil memegang pundak murid tersebut.


"Ayo perkenalkan nama kamu!" pinta kepala sekolah.


“Good morning! My name is Alexander. I am 17 years old, thank you!”


“Ok. Baiklah. Alex kamu duduk di sebelah Ardi ya!" Kepala sekolah menunjuk Ardi lalu Alex mengangguk dan berjalan ke arah Ardi.


“Ok! kalau begitu Bapak tinggal ya! Sebentar lagi psk Andi datang!"


Kepala sekolah kemudian keluar dari kelas dua SMA A. Seketika Alex menjadi pusat perhatian. Sosoknya yang dingin, sama dengan Daren membuat yang lain hanya bisa melihatnya dari bangkunya masing-masing.


“Siapa yang terpopuler di sekolah ini?" tanya Alex pelan dengan Ardi.


“Kalau di kelas ini, itu." Ardi menunjuk Daren.


“Yang lainnya?"


“Nanti pas jam istirahat. Aku kasih tau! Tapi yang jelas Kalau istirahat mereka berkumpul di satu meja di kantin. Ada 5 orang dan dari kelas yang berbeda.”


“Hm! I see.”


Pelajaran di mulai. Mereka semua mengikuti pelajaran dengan baik. Tetapi Amara memilih diam di kantin di saat jam pelajaran berlangsung. Amara bersembunyi di dalam kantin dan justru ikut membuat kue bersama ibu kantin. Entah kenapa saat ini ia tidak bersemangat mengikuti mata pelajaran Fisika. Baginya itu sangat membosankan.


“Bu, ini kuenya vsudah selesai!” ujar Amara saat selesai membantu membungkus kuenya.


“Iya Non, terima kasih. Malah merepotkan." Ibu kantin mengambil bok tempat kue dari Amara.


“Sama-sama,Bu! Oh ya, kenapa gak dari dulu jual kue risoles sih, Bu! Enak loh Bu. isiannya juga enak, Ibu pinter loh di kasih varian keju." puji Amara sambil memakan satu kue risoles.


“Si Non bisa aja. Kemarin itu coba Non. Anak-anak pada suka."


“Permisi, Bu kopi hitam satu!" suara seseorang terdengar membuat Amara menolah.


“Amara! Kamu gak ikut kelas?"

__ADS_1


“He ... Pak Johan! He... gak Pak, laper. belum sarapan." Jawab santai Amara. Johan kemudian ikut masuk kedalam ruangan Dalam kantin.


“Bapak ngapain ikut masuk!"


“Lapar Juga!" Johan tertawa kecil sambil mengambil kue risoles.


“Sebentar ya pak Johan!” seru Ibu kantin.


“Iya Bu, santai saja.” Johan duduk di samping Amara lalu mengusap kepala Amara seperti biasa.


“Emang kamu gak sarapan dari rumah?" tanya Johan.


“Gak! Mama, kan hamil. jadi gak sempet bikin sarapan."


“Bibi kamu?"


“Gak suka buatan Bibi. kadang asin. kadang terlalu manis. Enakan di kantin.” Kedua tertawa.


Entah Kenapa saat berdua, mereka sangat akrab dan nyaman satu sama lain. Itu semua terjadi begitu saja sebelum terjadi kejadian Amara dan Aretha.


“Ini pak kopinya!"ucap Ibu kantin meletakkan kopinya.


“Bu, aku mau jus Alpukat dong, ada?” pinta Amara.


“Ada Non! Sebentar ya!"


“Siap, Non."


Amara melihat Johan yang sedang menyeruput kopinya, lalu mengambil kue risoles di bok makanannya. Amara tersenyum melihat wajah Johan dari samping. Baginya menenangkan. Merasa di perhatikan, Johan menoleh ke arah Amara.


“Hai! Nanti suka sama Bapak, Loh?" seru Johan sedikit menyenggol tangan Amara.


“Ya ... ya memang.” Johan tertawa mendengar Jawaban Amara yang sekenanya.


“Makanya Bapak tunggu saya, ya! Lulus SMA deh ya!" Johan makin tertawa terpingkal-pingkal tentunya ia tidak menganggap Omongan Amara itu serius.


“Iya, Bapak tunggu kamu, tapi kamu sekolah yang bener dulu. kuliah yang bener, Kerja sesuai bidang kuliahmu,” balas Johan sambil mengelap sisa makanan di ujung bibir Amara. Johan bicara seperti itu hanya memberi semangat untuk Amara agar lebih giat belajar


Amara semakin berdebar saat Johan mengusap ujung bibirnya. Padahal perhatian yang di berikan Johan murni tidak disengaja.


Secepatnya Amara mengalihkan pandangannya lalu minim air putih yang disediakan Ibu kantin. Amara mengatur nafasnya agar rasa gugupnya sedikit hilang, kemudian tersenyum ke arah Johan.


“Kerja? Saya mana boleh kerja, Pak!"

__ADS_1


“Oh iya! Bapak lupa kamu Cucunya siapa!"


“Tapi nerusin usaha kafe Mama, iya."


“Kamu suka gak?"


“Suka gak suka, Pak! Keluarga saya sudah di didik menjadi pengusaha semua. Sudah mendarah daging dan turun temurun. Tapi mengingat perjuangan Mama membuat kafe di usia 18 tahun dan mempunyai banyak cabang. Saya jadi bangga dengan Mama yang secara tidak langsung menciptakan lapangan pekerjaan buat orang banyak. Di usia 18 tahun Mama sudah sesukses itu. Didikan Oma, Opa dan Opa Dewa patut di acungi jempol. Dan itu semua diterapkan ke cucunya.” Johan tersenyum dan mengangguk mengerti. Namun ia mengerutkan dahinya saat mendengar Dewa di sebut.


“Opa Dewa?"


“Papa kandung Mama, Suami pertama Oma.”


“Oh ... ya sudah Bapak kembali ya! sudah kenyang!" pamit Johan sambil mengusap rambut Amara.


“Kamu gak balik ke kelas?" Amara menggeleng.


“Ya sudah di sini saja. Jangan berkeliaran." Johan mengambil sejumlah uang dan meletakkannya di meja.


“Bu! Ini uangnya sekalian punya Amara.”


“Iya, pak!”


“Terima kasih ya, Pak. Besok lagi."


“Kamu! Besok gak ada lagi bolos kelas! Untung kamu pinter!" Johan tertawa lalu keluar dari kantin.


“Pak Johan aneh ya! Murid bolos malah di suruh di sini aja. di hukum gitu, di laporin ke guru BK yang sok dingin kayak kutub Utara dan Selatan itu,” oceh Amara di sambut tawa Ibu kantin dan suaminya serta 4 orang karyawannya.


“Mana ada yang berani sama Nona-nya tuan Martin." sambung Ibu kantin sambil meletakkan segelas jus alpukat


di meja.


“Ibu bisa saja. Tapi ada kok Bu, yang berani sampai saya masuk rumah sakit dua kali."


“Berarti memang orang itu cari masalah.”


Amara tertawa lalu meminum jusnya. Ucapan Johan yang akan menunggunya menjadi semangat untuk rajin belajar.


“Bu! Nanti istirahat siapkan pesanan kami berlima ya. Seperti biasa" ujar Amara sambil berdiri.


“Siap, Non!" Amara kemudian keluar kantin dan menuju kelasnya.


Amara berjalan santai menuju kelasnya dan tidak sengaja melihat Bara dan Fatma sedang mengobrol. Amara melihat Bara memegang lengannya dan keduanya tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Amara memilih segera naik ke lantai atas menuju kelasnya. Namun sepanjang jalan ia terus teringat ucapan Johan yang akan menunggunya sampai menjadi Orang.


“Yes!!!” Serunya. Namun seketika ia menutup mulutnya dan tertawa kecil.


__ADS_2