
Hari ulang tahun Amara yang ke 16 tahun tiba. Namun kali ini ia tidak ingin di rayakan. Ia hanya meminta di izinkan mengelola satu kafe milik Mamanya.
“Selamat ulang tahun sayang. Semoga apa yang kamu inginkan tercapai.” ucap Martin lalu memeluk putrinya.
“Terima kasih, Pa?”
“Selamat ulang tahun sayang, seperti permintaan kamu, ini hadiah dari Mama, Ini surat dan sertifikat kafe sudah atas nama kamu dan semua milik kamu, Mama percayakan tiga gerai kafe buat kamu! kelola dengan baik ya!" Laras memberikan dokumen tersebut ke tangan Amara.
“Ma, Amara cuma minta satu gerai, kenapa di kasih tiga?"
“Karena Mama yakin kamu mampu! Kalau kamu butuh bantuan, Mama dan Papa siap membantu kamu!”
“Terima kasih ,Ma. Amara akan mengelolanya dengan baik. Terima kasih atas ilmunya yang Mama papa berikan selama ini. Amara akan mencoba dan bertanggung jawab dengan semuanya.”
Martin dan Laras tersenyum melihat putrinya yang sudah mempunyai pola pikir seperti orang dewasa.
Diam-diam Amara dan Daren mulai belajar bisnis dari orang tuanya. Jika ada kesempatan Daren ikut ke kantor dan melihat Martin bekerja, cara berbicara dengan klien dan mengatasi masalah di tempat bekerja.
“Selamat ulang tahun ya! Jadi adik yang lebih baik lagi. Jangan nyusahin!" ucap Daren.
“Siapa yang nyusahin Kakak!” protes Amara namun mereka tetap berpelukkan.
Amara memang sengaja mengalihkan rasa cemburunya pada Fatma dengan belajar dan mengelola kafe, serta sesekali belajar karate di rumah bersama Daren.
Amara tidak ingin memberitahu Johan apa yang di lakukan Fatma dengan Bara. Biarlah itu menjadi urusan mereka dan membiarkan Johan mengetahuinya sendiri. Amara hanya yakin suatu saati Johan tahu sendiri.
“Ya sudah, kalau begitu kami berangkat ya Ma, Pa!" pamit Daren lalu menyalami Laras dan Martin di ikuti Amara. kemudian Amara memberikan dokumen pentingnya itu pada Mamanya agar di simpan.
“Hati-hati ya! Daren jangan ngebut bawa motornya!”
“Iya Pa!” Mereka berdua berangkat bersama, Namun Amara tetap di antar sopir.
Sesampainya di sekolah, Amara berjalan santai di samping Daren tak lama suara Arsy memanggil mereka.
“Kakak! Amara!” Daren dan Amara menoleh ke arah Arsy. Arsy berlari dan langsung memeluk Daren.
__ADS_1
Amara memutar bola matanya saat Arsy memeluk Daren, lama-lama ia jengah melihat kemesraan mereka. Amara berjalan meninggalkan mereka menuju lantai atas.
Saat melewati ruangan guru, Amara tidak sengaja melihat Johan sedang mengobrol dengan rekan guru lainnya begitu juga Johan yang tidak sengaja melihat Amara.
Tidak ada senyuman seperti biasanya di bibir Amara, Amara seolah menyimpan semua rasanya walau perih mengingat orang yang Kagumi dicurangi kekasihnya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab ia hanya orang luar di hubungan Johan.
Amara dengan cepat mengalihkan pandangannya, melanjutkan langkahnya. Johan hanya tersenyum tipis mengingat ucapan Amara.
“Amara...!happy birthday!” teriak seseorang, membuat Johan dan rekan guru lainnya keluar.
Rupanya orang yang teriak memanggil nama Amara adalah Alex. Ia berteriak dari lapangan basket sambil membawa kue ulang tahun. Diam-diam Alex juga menyukai Amara, sebab yang ia tahu Amara sedang sendiri.
Amara kembali turun dari anak tangga melihat Alex membawa kue dan sederet tulisan seperti di sepanduk.
"Kau ngapain?" tanya Amara.
"Selamat ulang tahun!" Amara tertawa kecil melihat Ardi yang menggunakan topi bertuliskan happy birthday seperti anak kecil. Sudah pasti itu suruhan Alex.
"Terima kasih ya!"
"Potong kuenya dong!" seru Arsy yang juga sudah ikut bergabung bersama Devan dan bella serta teman-teman lainnya.
Amara memotong kuenya lalu pandangannya beralih ke Johan. Namun, ia ragu untuk memberikannya, Akhirnya ia melihat Ardan dan Neha yang berdiri di teras koridor di depan ruangan guru. Amara membawa potongan kue tersebut dan memberikannya pada Ardan.
"Om ... ini buat Om!" Ardan tersenyum lalu mengusap kepala Amara.
“Terima kasih ya.” Amara tersenyum lalu Ardan sekilas memeluk Amara.
Amara beralih bersalaman dengan Neha lalu mereka berpelukan.
“Selamat ulang tahun ya!”
“Terima kasih kak.” Amara kembali ke tengah lapangan lalu memotong kuenya lagi dan ia berikan pada Arsy.
“Untuk sahabat terbaikku.”
__ADS_1
“Ye!! Thanks ya calon adik ipar!" Mereka berdua tertawa lalu saling berpelukan. Setelah itu Amara kembali menghampiri Alex.
“Lex terima kasih ya.” Amara kemudian tersenyum dan mencolek kuenya lalu ia oleskan di hidung Alex.
“Itu tanda pertemanan kita. Tapi jangan berharap lebih.” Amara kemudian melangkah pergi menuju tangga sambil sekilas melihat Johan.
Ardi tertawa keras melihat ekspresi Alex yang belum mengutarakan isi hatinya, namun sudah mendapat penolakan.
“Belum tempur udah di tolak.”
“Arrqq, ini buat kamu aja!” Alex memberikan kuenya pada Ardi. Sementara itu Devan dan Bella hanya tersenyum melihat tingkah Alex.
Rupanya Devan dan Bella jadian. Devan membuka hati untuk Bella agar lebih cepat melupakan Amara dan Johan juga mengetahui hal itu.
Johan tanpa sadar menyusul Amara naik ke lantai atas. Namun lewat tangga lainnya. Setelah sampai Johan menunggu Amara di dekat gudang. Saat Amara lewat, Johan menarik Amara ke pojok dekat gudang.
“Bapak!”
“Sssttt!” Johan membekap mulut Amara dengan telapak tangannya.
Johan melihat mata indah Amara, mata yang yang ia kagumi saat awal bertemu, namun hanya batas kagum semata.
“Dua bulan lagi, Bapak akan menikah dengan Bu Fatma, Bapak harap kamu melupakan rasa ini terhadap Bapak.” Amara melepaskan tangan Johan, lalu tersenyum tipis. Tetapi hatinya begitu pedih saat mendengar Johan akan menikah.
“Sudah saya katakan pada Bapak. Silahkan Bapak lanjutkan hubungan Bapak dengan orang yang menurut Bapak setia dan mencintai Bapak. Untuk urusan perasaan saya terhadap Bapak itu urusan saya,” balas Amara pelan dan melihat dalam-dalam sorot mata Johan.
Johan tidak sanggup menatap mata nanar penuh harap di mata Amara. Johan memeluk Amara dengan erat. Air mata Amara seketika meleleh.
“Maafkan Bapak! Kamu masih muda. sekolah yang tinggi agar menjadi kebanggaan orang tua kamu.”
Amara sedikit mendorong Johan, agar pelukannya terlepas.
“Saya tahu posisi saya sebagai anak dan saya tahu bagaimana cara membuat orang tua saya bangga. Tapi saya tidak tahu bagaimana melupakan rasa ini pada Bapak.” Amara mengusap air matanya lalu sedikit mendorong Johan lalu meninggalkannya.
Johan terdiam dan menyadarkan punggungnya di tembok. Perasaannya begitu di aduk-aduk oleh rasa cinta Amara. Ia juga mencerna semua ucapan Amara membuat dirinya semakin bimbang dengan Fatma.
__ADS_1
“Gadis itu! Arqq sial.” Johan kemudian turun melalui tangga yang sama saat ia naik. Sementara itu Amara menangis di kamar mandi tanpa suara.