TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 34 MERELAKAN


__ADS_3

Pesta terus berlanjut hingga sore hari. Semua berkumpul di ruang keluarga. Neha berada di dapur sedang membuatkan minuman untuk Devan dan Arsy. Tiba-tiba Ardan menyusulnya dan memeluknya dari belakang.


''Sayang!” Neha melihat sekilas lalu tersenyum


''Mas mau sirup!”


''Mas mau susu,'' bisik Ardan sekilas meremas dada Neha. Neha hanya tertawa, pasalnya semenjak menikah Ardan semakin mesum padanya. Neha membalikkan badannya lalu mengalungkan kedua tangannya dan melihat Ardan.


''Sepertinya suami ku ini semakin mesum!''


''Aku hanya mesum denganmu.'' balas Ardan lalu mencium bibir Neha.


''Susunya nanti di rumah.'' ucap Neha mengusap bibir Ardan.


''Pulang sekarang?''


''Iya sebentar lagi.” Neha kemudian melanjutkan membuat minumannya.


''I love you."


''I love you too.” Ardan mengecup pipi Neha lalu bergabung kembali dengan keluarga Syasa. Tanpa mereka sadari Laras melihat mereka berciuman.


''Kamu gak malu berciuman di dapur?'' seru Laras tiba-tiba. Neha berhenti dari aktivitasnya membuat sirup dan menoleh ke arah Laras yang duduk di kursi.


''Sebenarnya aku tidak tahu maksud Tante apa tanya seperti itu? Aku sering melihat keluarga di rumah ini saling berciuman dengan pasangannya masing-masing. Termasuk Tante dan om Martin. Waktu aku kecil aku sering melihat Tante berciuman dengan suami Tante yang dulu. Dan sekarang ... menjadi suami ku. Lalu masalahnya di mana Tante? Kenapa aku harus malu. Aku berciuman dengan suamiku dan kami melakukannya saat tidak ada anak anak. kecuali orang itu memang mengintip dan ingin tahu bagaimana aku dan suamiku lakukan!'' jawab Neha tegas di akhir Kalimatnya dengan sorot mata yang tajam melihat Laras. kemudian melanjutkan membuat es sirup untuk Arsy dan Devan.


''Ma ...,'' Panggil Arsy menghampiri Neha.


“Ya sayang!"

__ADS_1


''Sirup lecinya mana?"


“Ini. Yang satu kasih kakak Devan!''


''Terima kasih,Ma!'' Arsy matanya berbinar melihat sirupnya.Neha hanya mengangguk lalu Arsy keluar dari dapur.


''Permisi tante!'' Pamit  Neha. Namun saat hendak melangkah, Neha teringat masih ada gelas di tempat ia membuat sirup. Neha menyingkirkannya dan meletakkan di tempatnya kemudian melihat Laras.


''Maaf Tante, jangan membanting apapun, kasihan mbok Mira! '' ucap Neh lalu tersenyum dan meninggalkan Laras di dapur. Neha tahu betul bahkan seisi rumah tahu bagaimana jika Laras kesal pasti akan membanting apa yang ia lihat didepan matanya.


Malam tiba Ardan dan Neha serta anak-anak ingin pulang ke rumah. Ardan hendak melangkah setelah berpamitan dengan keluarga Syasa, Namun saat ingin melangkah keluar, Laras memanggilnya.


''Kak! Bisa bicara sebentar?'' tanya Laras. Ardan melihat Neha sekilas dan Neha hanya tersenyum dan mengangguk.


Laras dan Ardan berbicara sedikit menjauh dan hanya mereka berdua di sudut ruangan.Ardan sudah menduga, jika Laras pasti membicarakan pernikahannya dengan Neha.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Ardan melihat punggung Laras karena Laras memunggunginya. Laras tidak berani menatap langsung mata Ardan.


"Ras ... aku rasa cukup! Jangan membahas ini lagi, ini masalah pribadiku. Tolong jangan ikut campur. Kamu bertanya kenapa harus Neha? Kamu tanyakan saja pada Tuhan, Kenapa Tuhan mengirim Neha padaku dan juga rasa itu."


“Rasa yang dulu ada untuk ku sudah tidak ada?"


"Sudah tidak ada!" Tegas Ardan. Ardan tahu pasti Laras sakit hati dan kecewa, tampak dari raut wajahnya. Akan tetapi begitu lah kenyataannya.


"Sejak kapan?"


"Semenjak kamu hamil anak Martin lagi! Dari sana Aku sadar. Aku hanya berharap dan berangan saja padamu. Dari situlah aku benar-benar menghapus rasa itu." jelas Ardan.


Laras menatap Ardan berharap semua yang dikatakan itu hanya kebohongan. Namun nihil Laras tidak menemukan dirinya lagi di sorot matanya.

__ADS_1


"Jangan pernah merasa tersakiti. Justru aku yang lebih sakit. Kita berdua tahu awal perpisahan kita adalah dari permasalahan Mama dan Papa Leon. Tapi kita kena getahnya. Pernikahan kita hancur. Andai saja kamu tetap memilih hubungan kita saat itu. Aku akan menerima kamu apa adanya, walau kamu mengandung anak Martin. Martin juga sudah memberikanmu pilihan, memilih kembali pada ku atau tetap bersamanya. Tapi kenyataannya ... dirimu memilih Martin. kamu tahu..., hatiku hancur Ras! Sulit bagiku untuk menerima Andin. Pura-pura pura bahagia! Semua yang aku lakukan padanya adalah bentuk tanggung jawab dan kewajibanku sebagai suaminya. Andai saja kamu tidak begitu cepat menikah saat itu. tapi sudahlah! Sudah suratan takdir. Cintai Martin sepenuh hatimu, Martin sangat mencintaimu. Lupakan aku, aku sudah melupakan cinta dan rasa itu, Aku sangat mencintai Neha!” jelas Ardan panjang lebar hampir tidak ada jeda agar Laras mengerti. Ardan berbalik ternyata Neha berdiri mendengarkan semua percakapannya. Neha tersenyum walau air matanya meleleh, kemudian ia menghampiri Ardan dan memeluknya.


"Terima kasih,Mas!" ucap Neha pelan.


Neha terharu ternyata Ardan benar-enar mencintai tanpa ada bayangan Laras lagi. Neha melepaskan pelukannya lalu tersenyum tanpa mengharukan Laras yang menatapnya.


"Semua sudah jelas Tante, Neha harap Tante mengerti. Tante sudah mempunyai om Martin cintai om Martin setulus hati, bukankah sudah sepatutnya seorang istri mencintai suaminya dengan tulus!" ucap Neha, berharap sekali lagi Laras paham.


''Neha tahu cinta pertama tante Mas Ardan, saat Tante merasa kehilangan opa Dewa, Mas Ardan ada di samping Tante, menguatkan Tante. Neha tahu bagaimana posisi Tante. Tapi tolong tante, biarkan Mas Ardan juga bahagia di sisa usianya. Neha harap Tante mengerti. Permisi Tante!" pamit Neha, Laras hanya diam, sekilas melihat Ardan dan Neha berjalan menjauhinya.


Martin menghela nafas panjang lalu menghampiri Laras. Martin masih tersenyum melihat istrinya yang masih saja menanyakan rasa itu pada mantan suaminya. Martin sadar Laras memang tidak bisa melupakan Ardan.


“Sayang!" Martın memeluk Laras.


“Menangislah. Tapi janji ini untuk yang terakhir kamu menangis untuk Ardan. Setelah itu tolong lihat cintaku.”


“Martin! Maafkan aku. kalau aku tidak bisa keluar dari masa laluku.”


“Sttt! Kamu pasti bisa.” Martin menakup kedua pipi Laras lalu sekilas mengecup bibirnya beberapa kali dan mengusap lembut air mata Laras.


Laras melihat Martin penuh arti dan merasa bersalah. Sudah memberikan cinta semu padanya. Mungkin saatnya kini Laras harus benar-benar merelakan Ardan bersama keponakan tirinya.


“Pulang!” Cicit Laras.


“Tidak menginap? Anak-anak ingin menginap disini."


“Mau pulang!” Rengek Laras manja.


“Ih ... Mama manja!" sambung Amara tiba-tiba di iringi tawa semuanya. Rupanya sedari tadi semua melihat Martin dan Laras berduaan.

__ADS_1


Syasa begitu terharu dengan Martin. menantu tertuanya. ia begitu sabar menghadapi sikap Laras bertahun-tahun. Jika orang lain mungkin Laras sudah menjadi janda lagi.


__ADS_2