TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 33 PERNIKAHAN TERAKHIR


__ADS_3

Kediaman syasa begitu ramai. lni pertama kalinya Ardan menginjakkan kakinya di rumah syasa setelah menjadi bagian keluarganya kembali, Entah dianggap atau tidak. Ardan hanya tersenyum saat langkah pertamanya menginjakkan kakinya di rumah syasa. Rumah yang banyak kenangan bersama Laras. Namun kenyataannya kenangan hanyalah tinggal kenangan, ia sudah melepas semuanya dan saat ini hatinya dan cintanya hanya untuk Neha seorang.


Ardan melangkah seraya menggandeng tangan Neha, Ardan mengenakan kemeja warna putih dan lengannya ia gulung, Satu kancing dadanya ia biarkan terbuka, menambah kesan maskulin dan tampak tidak seperti usianya. Sementara itu Neha menggunakan dress warna putih lengan panjang dan panjang dressnya di bawah lutut membiarkan rambutnya terurai, dengan menggunakan sepatu high heels yang tinggi nya 7cm membuat ia mengimbangi tinggi sang suami, tinggi Neha hanya sebatas bahu Ardan saat tidak menggunakan heels. Itu membuat Ardan begitu ingin selalu memeluknya karna menurutnya Neha sangat menggemaskan.


''Wah...! Pengantin baru datang!'' seruLuna saat melihat Neha dan Ardan. Semua anggota keluarga menoleh ke arah Ardan dan Neha.


''Neha! Aku merindukanmu'' ucap Luna lalu menghambur ke pelukan Neha dan mereka tersenyum.


''Tante bisa saja!'' goda Neha. pasalnya Luna tidak mau di panggil Tante Karena usia Luna dan Neha lebih tua Neha


''Ck... aku tidak setua itu!'' rajuk Luna seraya mengerucutkan bibirnya. Ardan yang melihat pun hanya mengusap kepala Luna.


''Tante lucu,'' goda Ardan dan semuanya tertawa.


''kakak, Luna tidak mau di panggil tante'' balas Luna mengerucutkan bibirnya,.


''Ya sudah Tante kecil,'' godanya lagi


''ck... menyebalkan,'' rajuk Luna lalu meninggalkan Ardan dan Neha dan Semuanya masih tertawa. tapi tidak dengan Laras ia masih santai duduk melihat mereka dari kejauhan.


''Selamat datang kak'' sapa Jane seraya menakupkan keduanya tangannya begitu juga Ardan, setelah Jane dan Neha berpelukan. lalu Neha melihat Amar dan memberi salam seperti  mengangkat satu tangannya lalu ia arahnya ke keningnya seperti salam orang muslim di negaranya. dengan itu mereka sudah saling menyapa lalu tersenyum.


Lalu Ardan dan Neha memberi salam dan bersalaman kepada semuanya. Namun saat hendak menghampiri Laras, justru Laras beranjak dari duduknya dan menuju kamar.


Nathan dan Siena hanya saling pandang begitu juga Neha dan Ardan, Namun mereka tidak mau merusak acara sang Oma dan opa, mereka memilih menemui Syasa dan Bryan yang duduk  di sofa .


''Oma...," sapa Neha lalu memeluk syasa sedangkan Ardan menyalami Bryan.


''Apa kabar, Pa!'' Ardan yang memang tidak pernah merubah panggilannya pada Bryandan Syasa, tapi mungkin saat ini Ardan harus merubah panggilannya. Agar tidak ada yang salah paham di kemudian hari.


''Baik, selamat ya, atas pernikahan kalian,”balas Bryan lalu menepuk pundak Ardan.

__ADS_1


''Iya Pa, Terima kasih. kami bukan pengantin baru lagi. Sudah satu bulan lebih.” sambung Ardan.


“Itu namanya masih pengantin baru. lagi semangat-semangatnya.”


“Papa bisa saja.”


''Mas! Kayaknya panggilannya harus di rubah!” protes Neha di iringi tawa. Ardan menggaruk tengkuknya seraya menyeringai karena merasa aneh.


''Baiklah! Oma dan opa!'' balas Ardan dan semuanya tertawa.


''Anak-anak tidak ikut?'' tanya syasa


''Masih sekolah. Mungkin nanti pulang sekolah langsung ke sini,'' jawab neha lembut.


''Oh ya oma lupa! semuanya tertawa.


''Ardan, Neha. Duduk sini. Oma mau menyampaikan sesuatu pada kalian,'' ucap Syasa. Ardan dan neha saling pandang, sementara itu Bryan memilih pergi karena Krisna memanggilnya. Ardan dan Neha duduk mengampit.


''Ardan. Oma harap ini pernikahan terakhir mu. Untuk Neha ini pertama dan terakhir bagi kamu, Oma rasa kamu sudah dewasa bagaimana cara mendefinisikan kesetiaan itu seperti apa. Oma tidak akan menjelaskan.Oma hanya ingin mengatakan, selalu setia dan jaga cinta kalian, dan kamu Ardan sedikitlah egois. kali ini pertahankan cintamu jangan sampai kamu melepasnya seperti yang kemarin!'' terang syasa  lalu menarik satu tangan Ardan dan Neha lalu menyatukannya.


Pesta di mulai setelah acara pengajian dan santunan anak yatim piatu, Neha meminjam baju panjang Jane, karena ia tidak tahu jika ada pengajian. jadi ia datang hanya menggunakan dress yang panjangnya di bawah lutut, setelahnya ia membukanya dan menggantinya dengan baju yang tadi ia kenakan.


Kini mereka berkumpul di taman belakang, membuat acara panggang memanggang, Ardan dan Nathan yang dulu sangat senang dengan acara tersebut pun tidak mau kalah ia turun tangan bersama Krisna dan para menantu laki-laki lainya. sedangkan Neha dan yang lainnya menyiapkan piring dan sayuran dan pelengkapnya.


"Mas... ini sambalnya!'' ucap Neha memberikan sambal buatannya pada Ardan, Ardan tersenyum lalu mengambil mangkuk berisikan sambal mentah, sambal mentah yang hanya cabai bawang putih dan tomat serta perasaan jeruk nipis, dan tidak lupa sedikit garam.


''Heum.. ini pasti enak! '' balas Ardan Lalu mengajak Neha duduk karena mereka sudah selesai memanggang.


Mereka semua duduk lesehan, menggelar tikar di teras belakang rumah yang terhubung dengan taman.


Neha mengambilkan makanan untuk suaminya, sedangkan Ardan mengambil piring berisikan sosis jumbo bakar pesanan Neha.

__ADS_1


''Ini Mas" ucap Neha melihat Ardan begitu antusias ingin segera makan.


''Oh ya, ini sosis bakar,'' balas Ardan seraya mengangkat kedua alisnya


''heum.. sosis jumbo'' balasnya lalu mengecup pipi Ardan


''Terima kasih.”


Neha mengambil mayonaise lalu menuangkan di atas sosis jumbo bakar miliknya. Saat Neha memasukkan sosis kedalam mulutnya, Ardan tidak sengaja Melihatnya, dan terus melihat tanpa berkedip. Sekilas ia menelan Silvanya membayangkan adegan panas bersama Neha. Ardan sampai mengerecepkan matanya. Nathan yang sadar melihat sahabatnya itu menggelengkan kepalanya. Nathan tahu pikiran Ardan pasti sudah di atas ranjang.


''Sosisnya enak?'' tanya Ardan Ambigu.


''Enak Mas!"


''Kamu suka sosis besar?''


"Heum, lebih enak dan makannya lebih puas!'' Jawab Neha polos dan sukses membuat Nathan terseda. Buru-buru Siena memberikan air minum. Nathan melihat Ardan sekilas dan tersenyum miring.


''Nanti malam mau sosis lagi''


''Boleh! Di rumah kayaknya ada, nanti Mas buati ya. Yang pedas ya!” pinta Neha lalu melanjutkan makan sosisnya.


''Yang Hot,'' balas Ardan.


‘Bukk!' Nathan memukul punggung Ardan.


''Auh...sakit brengsek!'' cicit Ardan. Nathan menatapnya tajam padanya sedangkan yang lainnya hanya tertawa melihat Nathan dan Ardan bercanda. Karena ia memang seperti itulah mereka.


''Otak kau gak usah mesum!'' ucap Nathan pelan. Ardan hanya menyeringai.


''Nikmat Nath,'' balasnya yang juga berbisik.

__ADS_1


''Dasar Brengsek.'' jawab Nathan lalu merangkul leher Ardan.Lainnya hanya terkekeh walau tidak tahu apa yang mereka bicarakan.


''Sakit Nath, lepas!" cicit Ardanvsedikit terbatuk-batuk. Neha hanya tertawa melihat Papa dan suaminya.


__ADS_2