
Acara lomba untuk guru tahap pertama sudah selesai. lalu di lanjut lomba memasukkan bola basket kedalam ring. pesertanya hanya beberapa guru saja yang ikut. Diantaranya Ardan, Johan, Neha, Fatma, Andi dan kepala sekolah. Sebelum lomba di mulai mereka duduk di tempat masing-masing di dekat tribun penonton. Arsy, Daren dan Amara serta Devan dan para siswa lainnya melihat perlombaan bersama-sama.
“Pak Johan. Arsy dukung bapak! Gak dukung pak Ardan! Ayo pak. I love you pak!” teriak Arsy yang seketika mendapat tatapan tajam dari Daren. Namun seruan Arsy membuat gelak tawa seisi lapangan basket.
”I love you too Arsy!" jawab Johan menimpali seruan Arsy dan menambah gelak tawa. Daren semakin mengeraskan rahangnya melihat tajam Arsy.
“Kan cuma kasih semangat, kak!” cicit Arsy takut melihat tatapan Daren.
“GAK BOLEH!" seru Daren penuh penekanan.
“Iya!"
Johan berhasil memasukkan bola basket kedalam ring sebanyak delapan kali dari total kesempatan sepuluh kali. Kini giliran Neha yang memasukkan bolanya. Neha hanya bisa memasukkan bola enam kali Fatma tujuh kali, kepala sekolah lima kali dan Andi tujuh kali. Dan terakhir giliran Ardan.
Ardan dengan santai memasuki lapangan dengan membawa bola. sekilas ia melihat Neha yang begitu antusias memberi dukungan padanya. Ardan tersenyum melihat Neha lalu melihat Arsy yang bersorak menyemangatinya.
“Papa! Semangat! I love you pa!" seru Arsy yang sudah berubah haluan mendukung papanya.
Johan mengerutkan dahinya dan melihat Arsy dan Devan, lalu melihat Ardan bergantian. ia baru sadar dan kini tahu jika kedua muridnya itu adalah anak Ardan. Namun ia belum mengetahui identitas Ardan yang sebenarnya.
Ardan mulai mengikuti aba-aba juri, barulah memasukkan bolanya. Johan terus melihat Neha yang begitu semangat menyemangati Ardan. Begitu juga Ardan setiap kali berhasil memasukkan bola ia akan melihat Arsy lalu melihat Neha dengan tatapan penuh cinta. Hingga akhirnya Ardan berhasil memasukkan bola 8 kali. Itu artinya seri dengan Johan dan mereka masuk ke babak final.
Neha berjalan ke tengah lapangan membawakan handuk kecil dan minuman untuk Ardan yang masih berdiri di lapangan. sebagian murid dan guru yang menonton sudah membubarkan diri dan pertandingan di lanjutkan esok hari setelah selesai jam pelajaran.
“Pak Ardan. Minim dulu! ” ujar Neha memberikan botol minumnya.
“Terima kasih! Kita duduk di sana. Gabung dengan guru yang lain." Neha mengangguk lalu mengikuti langkah Ardan gabung bersama kepala sekolah dan guru lainnya yang masih di ruangan basket. Mereka duduk di pinggir tribun penonton sambil minum. Neha duduk di samping Ardan.
__ADS_1
“Om! lapar,” cicit pelan Neha di belakang punggung Ardan. Ardan menoleh dan tersenyum melihat Neha.
“Ya sudah. Mau ke kantin atau mau langsung pulang. Makan di luar?"
“Di luar aja. sekalian sama anak-anak.”
Adan tersenyum lalu bangkit dan mengulurkan tangannya pada Neha. Neha meraih uluran tangan Ardan.
“Pak Burhan, Pak Johan. Dan semuanya kami pamit. Lapar, mau cari makan sekalian pulang.” pamit Ardan.
“Oh ya pak! Silahkan,” balas Pak Burhan, kepala sekolah.
“Arsy! Devan!" seru Ardan memanggil Sang anak yang tengah asyik mengobrol dengan Daren dan juga Amara.
“Ya Pa!" balas Arsy.
Mereka berempat jalan keluar dari ruangan basket. Arsy dan Daren jalan lebih dulu sedangkan Neha jalan di samping Ardan.
“Pak Burhan. Mereka ada hubungan apa?" tanya Johan memastikan saat Neha dan Ardan sudah benar-benar keluar dari ruangan basket.
“Tidak usah di tanya, Pak Johan. Sudah terlihat dari gestur tubuh mereka. Mereka punya hubungan khusus.”
“Tapi Pak Ardan?”
“Pak Ardan itu duda. Bu Neha juga sendiri. jadi tidak ada masalah kan, mereka dekat. Lagipula Neha juga anak sahabat Pak Ardan. Ardan itu kenal Bu Neha dari kecil dari bayi malah.”
“Usia mereka?"
__ADS_1
“Usia mereka gak masalah Pak! Yang jadi Masalahnya itu kalau Bapak ingin mendekati Bu Neha. Itu tidak mungkin bisa. Saingan Bapak berat!” saut Fatma sedikit ketus lalu pergi meninggalkan ruangan basket. kepala sekolah dan guru lainnya terkekeh melihat Fatma kesal dengan Johan.
“Bu Fatma tunggu!” seru Johan yang semakin penasaran dengan Neha dan Ardan. Ia berniat mencari tahu tentang Neha dan Ardan dari Fatma.
“Permisi Pak, Bu!” Johan berlari mengejar Fatma.
“Lama-lama kalian nanti pasti juga cinlok!" kelakar kepala sekolah di iringi tawa guru yang lain.
“Bu Fatma tunggu!"
“Apa lagi sih, Pak Johan!" Fatma terus berjalan berjalan menyusuri lorong sekolah.
“Bu Fatma, Saya mau tanya.”
“Saya gak mau jawab!” Fatma terus berjalan dan Johan terus berjalan mengimbangi langkah Fatma. Fatma benar-benar dendam pada Johan saat ingin menumpang di mobilnya tapi dengan teganya Johan mengabaikannya.
“Bu Fatma! Maksud Anda mengatakan jika pak Ardan saingan berat saya, maksudnya apa? Pak Ardan kan cuma guru BK. Apa yang bisa di harapkan.” Fatma benar-benar kesal, Fatma berhenti dan melihat tajam Johan. Fatma menghela nafas dan mengatur emosinya agar tangan lembutnya yang sering untuk mengusap anak didiknya itu tidak mendarat cantik di pipi Johan.
“Pak Johan ... Sebelum Anda memutuskan mengajar di sekolah Mahendra Internasional School. Apa Anda tidak mencari tahu dulu siapa pemilik sekolah ini. Minimal tahu namanya.”
“Yang punya sekolah Bu Nadia, kan?”
“Ya Benar! Tapi yang berkuasa di sekolah ini adalah Adiknya. Ardan Mahendra, pemilik sekolah dan kepala yayasan. Seorang psikolog. dan pengusaha berlian. Jadi urungkan niat bapak untuk menjadi saingan Pak Ardan untuk mendapatkan Bu Neha. Lagian Duda itu lebih menjanjikan. Dan Bapak tahu Siapa Ayah Bu Neha, menantu tuan Bryan Ahmad Akbar. Suami dari Nyonya Syasa Pandita Kusuma. Ibu dari Nyonya Laras Donatur terbesar di sekolah ini dan Nyonya Laras dulunya mantan istri Pak Ardan. Butuh penjelasan lagi?" jelas Fatma secara rinci Siapa Ardan sebenarnya. Johan menahan nafas sejenak mendengar deretan nama orang ternama di negeri yang ia cintai.
“Satu lagi. Nyonya Laras itu cucu dari Nyonya Wina Wijaya, istri dari Tuan Bram Sanjaya. Walau Bu Neha bukan keluarga kandung dari tuan Bryan, tetapi sedikit saja Bapak mengganggunya. Karir Bapak bisa tamat detik itu juga. Dan tuan Jonathan Ayah Bu Neha tidak akan sembarangan menerima pinangan laki-laki untuk anak sulungnya. apa lagi laki-laki seperti Bapak. Tidak menghargai dan menghormati wanita. PERMISI!” Fatma berlalu begitu saja dari hadapan Johan. Fatma begitu puas melihat ekspresi syok Johan. Kini Fatma yakin Johan pasti ciut untuk mendekati Neha, apalagi bersaing dengan Ardan.
“Kalau kayak gini aku udah kalah sebelum perang! Senjataku cuma pistol mainan! Lawan ku senjata nuklir plus mobil teng! Haduh...! Kalah saing, satu minggu di sini. Rupanya sekeliling ku orang hebat semua.
__ADS_1