TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 43 GENTLEMAN


__ADS_3

Amara menunggu sopir nya di pos satpam. Sudah cukup lama ia menunggu sedangkan Daren sudah pulang lebih dulu. Begitu juga Arsy dan Devan. Jika tau menunggu sang sopir terlalu lama, mungkin Amara sudah bersama Arsy menuju rumah sang Oma. karena Syasa sedang mengadakan acara tujuh bulanan Luna. Tetapi sudah kepala tangung, sang sopir sudah di perjalanan menuju sekolahnya. Mau tidak mau ia harus menunggu sang sopir.


“Ya Tuhan ... mana pak Sholeh! Astaga! ganti sopir boleh gak sih!” gerutu Amara berdiri di post satpam.


'Tintin' suara klakson mobil. Amara melihat ke arah mobil yang melintas di depannya.


“Belum pulang?" tanyanya.


“Pak Johan! Em ... belum pak! Nunggu jemputan, tapi lama!"


”Bapak antar ya!” Johan turun dari mobil.


“Gak usah, Pak! Sebentar lagi Pak Soleh sampai.” Johan berdiri di depan Amara lalu melepas topinya yang sudah menjadi ciri khasnya kemudian memakaikannya ke kepala Amara.


“Sudah gerimis! mau di pos satpam sama Pak Sugeng?" Amara menolah ke arah satpam yang tengah asyik melihat ponselnya lalu melihat Johan dan menyunggingkan senyumnya.


“Mending sama Bapak yang ganteng, kan!”


‘Bukk.' Amara menepuk lengan Johan.


“Aduh! Sakit!"


“Sok gantang, Bapak!” Keduanya tertawa kecil.


“Ya udah. Bapak antar!" Amara mengangguk lalu Johan membukakan pintu mobilnya.


Saat Amara masuk ke dalam mobil, Johan melindungi kepala Amara dengan telapak tangannya agar tidak terantuk pinggiran pintu mobil. Amara tersenyum dengan sikap guru favoritnya yang ternyata seorang pelindung. Johan masuk ke dalam mobil.


“Mari pak Sugeng!” seru Johan pada Satpam sekolah saat henda menekan pedal gasnya


“Mari, Pak! Hati-hati.” Johan mengacungkan jempolnya kemudian menekan gas mobilnya.


Amara merogoh tasnya dan mencari Ponselnya untuk menghubungi sang sopir.


“Pak Soleh!" serunya saat sambungan ponselnya tersambung.


“Ya, Non. Ini Non, saya kejebak macet di perempatan jalan utama.” jelas sang sopir.


“Astaga ...! Untung aku gak nunggu Pak Soleh. Kalau gak. Udah kayak jemuran gak di angkat-angkat!” Johan tertawa mendengar Amara mengoceh dengan sopir pribadinya.


“Ya sudah. Pak Soleh puter balik aja. Aku udah dapat tumpangan!"


“Siapa, Non? Gak boleh numpang sembarangan loh, Non.”


“Sama pak guruku, pak Johan. Gak apa-apa! Bye ... pak Soleh!" Amara memutuskan sambungan ponselnya.


“Benar, kan feelingku , kalau pak Soleh kena macet!" cicit Amara sambil meletakkan ponselnya kedalam tasnya.


“Oh iya! Ini Pak Johan, topinya!" seru Amara melepaskan topinya.


“Ya udah. Pakai aja.”

__ADS_1


“Tapi!"


“Topi Bapak banyak!” Amara menyibikan bibirnya lalu mencium topi Johan bagian dalam.


Ada aroma khas yang membuat Amara begitu la menghirup topi milik Johan. Johan tertawa kecil kemudian meraih topinya dan memakaikan lagi pada Amara.


“Gak usah di cium-cium topinya. Orangnya aja, ni!


“Aish ... Bapak kepedean. Amara cuma memastikan bauk gak.” Johan hanya menggelengkan kepalanya dan fokus mengendarai mobilnya.


“Kamu udah makan?" tanya Johan tiba-tiba sekilas melihat Amara menggeleng sambil yang berusaha melepaskan penyangga tangannya.


“Belum, Pak!"


“Makan dulu mau gak?" ajak Johan.


“Nanggung, Pak!”


”Peka sedikit dong, Bapak itu lapor eh lapar!" Amara tertawa kecil mendengar candaan gurunya.


“Jadi Bapak itu secara gak langsung laporan kalau lapar!” Amara masih tertawa begitu juga dengan Johan.


Johan memang sangat dekat dengan anak-anak didiknya. Dirinya mempunyai cara tersendiri untuk lebih di sukai muridnya. khususnya pelajaran yang ia ajarkan. Karena masih banyak murid yang tidak menyukai pelajaran olahraga, dengan banyaknya alasan yang takut berkeringat, Panas, dan membosankan. Johan sendiri mempunyai trik agar anak-anak tidak bosan.


“Ya sudah. Terserah Bapak. Kalau mau cari makan dulu gak apa-apa.”


“Tapi ... nanti kamu terlambat pulang!"


“Ok ... kita cari apa ya! Em ... Martabak aja deh!”


Johan mulai perlahan memperlambat laju mobilnya dan mencari tukang martabak di sekitar pinggir jalan. Johan menepikan mobilnya saat melihat tukang martabak.


“Mau ikut turun?"


“Gak, Pak. Gerimis!"


“Ya udah! tunggu ya. Kamu mau martabak apa? Manis, asam, asin, ramai rasanya” Amara tertawa sambil menutup wajahnya dengan satu tangan. Ada saja ucap gurunya itu yang menggelitik.


“Apa saja, pak. makmum ikut saja, tapi jangan ada kacangnya, soalnya saya alergi kacang!”


“Ok!” Johan mengambil payung lipat di laci mobilnya kemudian turun dan memesan martabak.


Tak butuh waktu lama, Johan sudah mendapatkan martabaknya. Tak lupa ia juga membeli air minumnya.


Saat masuk ke dalam mobil, Johan melihat Amara sedang bersandar dan memejamkan mata.


“Kamu tidur?” tanya Johan sambil mengenakan sabuk pengamannya.


“Ah ... gak Pak. Cuma merem sebentar." Johan mulai melajukan mobilnya sambil menggunakan Handsanitizer , lalu mengarahkan Handsanitizer ke arah Amara. Amara dengan pun mengarahkan tangan kirinya.


“Maaf, Pak. Saya pakai tangan Kiri.”

__ADS_1


“it's ok. No problem. Mau Bapak siapin?" ujar Johan sambil membuka kotak martabaknya.


“Gak usah! Pak. Kalau makan masih bisa kok. cuma kayak gak sopan aja, makan pakai tangan kiri. Maaf ya, Pak!" Johan tersenyum lalu memakan martabaknya begitu juga dengan Amara.


Tidak terasa mobil Johan sampai di depan rumah Syasa. Johan begitu takjub saat melihat rumah Syasa dari balik pintu gerbang. Rumah yang begitu besar dan luas. Amara membuka pintu mobilnya saat petugas keamanan menghampiri mobil Johan.


“Pak buka gerbangnya!”


“Maaf, Nona Amara! orang asing harus laporan lebih dulu.”


“Orang Asing? Bapak ... Kalau datangnya sama saya itu bukan orang asing!”


“Maaf, Nona. Saya hanya menjalankan tugas.”


“Iya! Tapi kalau saya turun di sini terus, jalan kaki masuk kedalam! Hujan Bapak! Buka gerbangnya, Saya bilangin sama Oma!”


“Tapi ... maaf Nona. Tuan ini siapa?"


“Pacar saya!” balas Amara sedikit meninggi.


“Buka! Ngeselin lama-lama Bapak ya!" Amara menutup kaca mobilnya, kemudian satpam bergegas membuka gerbangnya. Sedangkan Johan hanya tertawa kecil melihat Amara.


“Ngeselin ya!” grutu Amara.


Rumah Syasa( Sumber Pinterest)



Johan berhenti tepat di depan rumah Syasa dan di sambut dua satpam. Kebetulan Bryan ada di luar. Bryan melihat Amara dan Johan turun dari mobil.


“Opa!" Amara bergegas menghampiri Bryan lalu memeluknya.


“Sayang! Kok baru sampai. Terus mana pak Soleh. Pak solehnya berubah jadi muda gini!” canda Bryan yang masih memeluk cucunya.


“Opa ...! Ini guru Amara.” Johan dengan berani mengulurkan tangannya. Sejenak Bryan memperhatikan wajah Johan lalu tersenyum dan menyambut uluran tangannya.


Tidak perlu bertanya siapa Johan yang sebenarnya. Melihat dengan berani masuk kedalam rumahnya, apa lagi dengan gentleman mengantarkan Cucunya sampai di depan rumah dan tidak kurang satu pun, itu sudah membuat nilai lebih di mata Bryan.


“Saya Johan, Tuan. Guru olahraga Amara!"


“Ya! terima kasih. Sudah mengantarkan Cucuku pulang.” balas Bryan menepuk pundak Johan.


“Kalau begitu, Ayo masuk!" Ajak Bryan hendak merangkul Johan.


“Tapi...,”


“Tidak ada tapi. Yang sudah masuk kedalam rumah saya, tidak bisa pulang begitu saja.” Bryan mengambil kunci mobil Johan lalu melemparkannya pada sopir rumahnya untuk memarkirkan mobil Johan.


“Maksud tuan?" Amara tertawa melihat wajah Gurunya antara takut dan heran.


“Maksud Opa itu ... tidak boleh pulang sebelum makan.”

__ADS_1


“Oh!" Bryan juga tertawa lalu merangkul keduanya masuk kedalam rumah.


__ADS_2