TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 32 KETULUSAN


__ADS_3

“Di mana harga diri mama sebagai istri yang seharusnya mencintai suaminya sendiri bukan mencintai mantan suami!”


‘Plak!!’ tamparan keras mendarat ke pipi Daren. Daren hanya menatap tajam Martin yang sudah tega menamparnya.


"Aku pikir Papa juga tidak mempunyai harga diri. Membiarkan istrinya masih mencintai pria lain. menjijikkan! Mama mengandung anak papa, tapi Mama tidak pernah mencintai papa! Cinta macam apa yang Mama berikan pada papa? Apa hanya nafsu saja"


"ENOUGH!!" teriak Martin dan hendak menampar Daren kembali. Namun Laras menahan tangan Martin. Dengan sorot mata yang tajam Daren pergi begitu saja meninggalkan Laras dan Martin yang  syok dengan ucapan anak sulungnya itu.


Daren bukan anak kecil lagi, walau usianya baru memasuki usia 17tahun. ia paham segalanya. Hanya saja cara penyampaiannya yang masih kurang tepat. ia belum bisa mengendalikan ego dan emosinya.


Laras terdiam dan duduk bersandar di pinggir tempat tidur ia masih menangis. Begitu juga Martin. ia masih diam melihat lekat istrinya.


"Apa yang kurang pada diriku?" tanya Martin datar.


"Aku meninggalkan London demi dirimu, meninggalkan semua perusahaan-perusahaanku di sana demi dirimu. Dan membangun rumah tangga dan juga bisnis bersamamu. Aku pikir seiring waktu, kamu bisa mencintaiku dengan tulus. Tapi itu tidak merubah perasaanmu padaku. Kita sudah tidak muda lagi sayang, kamu mau mencari apa? Itu bukan cinta, tapi obsesi. Benar kata Daren cinta macam apa yang kamu berikan pada ku selama ini?"  Kini Martin menangis. ia merasa gagal memberikan cinta tulusnya pada Laras. Dan Laras hanya menangis sambil memeluk erat Martin.


"Maafkan aku."  hanya itu yang terucap di bibir Laras. Martin hanya diam tidak membalas pelukan Laras.


Daren pergi dari rumah. Ia pergi menuju rumah Ardan.  Dengan tangan yang masih berdarah. ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di rumah Ardan ia memarkirkan motornya sembarang. lalu ia masuk tanpa permisi. Daren mendapati Arsy dan Devan sedang membaca buku.


"Selamat malam! sapa Daren. Arsy dan Devan melihat ke arah Daren secara bersamaan. Lalu mereka berdua saling pandang. Arsy melihat Daren dari atas sampai bawah. Pandangannya terhenti di tangan Daren dan melihat darah menetes dari tangannya.


"Astaga! Kak Daren!"  Arsy berlari ke arah Daren.


“Tangan kakak, kenapa!” Arsy tampak panik lalu menarik lembut Daren agar duduk di kursi.


“Kak Devan! Ambilkan kotak P3K.” Devan bergegas berlari ke ruang makan untuk mengambil kotaknya.


Arsy berlari mengambil handuk di kamar tamu. Tak lupa mengambil tissu. Arsy mengusap kepala Daren mengeringkan rambutnya.


“Tangan kakak kenapa?” tanya Arsy sambil menerima kotak P3k dari Devan.


“Gak apa-apa. Cuma kena pecahan kaca.”,


“Astaga! Kakak, kenapa gak hati- hati” Arsy mulai mengobati tangan Daren. Sementara itu Devan membuatkan minuman hangat untuk Daren.


Arsy begitu hati-hati mengobati punggung telapak tangan Daren. Daren tampak meringis saat Arsy mengoleskan obat merah di tangannya.


“Arsy!” panggil Daren menatap lembut ke arah Arsy.


“Hm!" jawab Arsy lembut dan masih fokus membalut tangan Daren dengan perban.

__ADS_1


“Mana orang tuamu?"


“Mereka masih di perjalanan dari New York. Katanya tadi udah leading di Jakarta. Mungkin sebentar lagi sampai.”


“Oh!"


“Daren! Ini teh hangat untukmu." Devan meletakkan satu gelas teh hangat untuk Daren di meja.


“Terima kasih.” balas Deran datar dan sekilas melihat Devan.


“Kak Devan. Tolong pinjamkan baju buat kak Daren.” Devan hanya mengangguk lalu menuju kamarnya byag ada di lantai atas.


“Yah...! Basah Mas!" Suara Neha terdengar di ruang depan.


“Gak apa-apa!" sambung Ardan.


“Mama! Papa!" Arsy berdiri dan berlari kecil menghampiri orang tuanya.


“Hai sayang! Mama rindu!" Mereka berpelukan saling melepas rindu.


“Ma, Pa! Ada kak Daren.” Neha dan Ardan melihat bke arah ruang tengah lalu bergegas menghampiri Daren.


“Daren!" Sapa Neha Daren menoleh dan tersenyum tipis.


“Astaga! Tangan kamu kenapa!” Neha berlutut di hadapan Daren. Neha melihat Daren begitu kacau dan bajunya basah.


“Gak apa- apa kak. ”


Ardan yang melihat kondisi Daren yang tidak biasa pun langsung menghubungi Martin. Ardan sedikit menjauh dari ruang keluarga.


"Halo Martin. Devan Ada di rumah ku, kondisinya kacau dan tangan seperti terluka!" jelas Ardan cemas.


"Ardan. Aku titip Daren sebentar. Dia  bertengkar dengan Mamanya. Syukurlah dia menuju rumahmu bukan ke club malam. Biarkan emosinya mereda.” jelas Martin apa adanya


"Baiklah." jawab Ardan tanpa menanyakan  permasalahannya pada Martin. Setelah mematikan sambungan ponselnya Ardan kembali bke ruang tengah.


“Daren Mana?" tanya Ardan.


“Ganti baju, Mas! Ada di kamar tamu. Sekarang kita ganti baju juga ya.!"


“Arsy, Davan. Mama sama Papa ganti baju dulu ya.” Mereka berdua mengangguk dan tersenyum.


Neha dan Ardan masuk ke kamarnya. Ardan meletakkan ponsel dan melepaskan jam tangannya. Pikiran Ardan melayang memikirkan Daren. Apa yang terjadi pada Daren dan Laras? Kenapa Daren sampai kabur dari rumah.

__ADS_1


“Mas! Ini bajunya.” Neha menyodorkan baju tidur pada Ardan. Namun Ardan masih dalam pikirannya sendiri.


“Mas...!” Neha memegang lengan Ardan.


“Ouh! Maaf sayang!"


“Mas mikirin apa?"


Ardan tersenyum tipis lalu mengambil bajunya dari tangan Neha. Lalu mengusap lembut pipi Neha.


“Gak mikirin apa? Mas capek!" Ardan kemudian duduk di tempat tidur dan membuka kemejanya.


“Ya sudah. Aku buatkan jahe hangat ya. Sekalian mau siapkan makam malam buat anak-anak.”


“Pesan makanan saja, sayang. Kamu capek!"


“Ya sudah. Mas yang pesan ya. Aku buat jahe hangat sekalian tanya anak-anak sudah makan apa belum." Ardan mengangguk lalu Neha keluar dari kamar menuju dapur.


Neha menuju dapur dan membuatkan jahe hangat untuk Ardan sekaligus menyiapkan piring untuk nanti makan bersama.


“Sayang!” panggil Ardan. Neha melihat Ardan berjalan ke arahnya.


“Ya Mas!"


“Pesan nasi Padang aja ya. biar cepat.”


“Ya sudah. Gak apa-apa.”


Ardan lalu memesan nasi Padang yang tidak jauh dari rumah mereka.


“Kaliam mau nasi Padang gak?" tanya Neha pada anak-anak yang berkumpul di ruang Tengah.


“Mau Ma! tapi jangan Ayam bakar ya. Arsy mau rendang aja.”


“Sudah! Sudah Papa pesankan." sambung Ardan lalu ikut bergabung di ruang tengah.


Ardan duduk di samping Arsy lalu mengambil ponselnya dan mengecek isi ponsel sang anak. Karena sedari tadi Arsy sibuk dengan ponselnya.


“Papa!” pekik Arsy saat Ardan mengambil ponselnya.


“Cie... " Ardan melihat foto Arsy dan Daren lalu tertawa kecil membuat Arsy malu- malu dan mencuri pandang Daren.


“Apa sih Pa!" Arsy mengambil paksa ponselnya.

__ADS_1


Tak lama Neha ikut bergabung dan membawa minuman hangat bdan jahe hangat untuk semuanya.


Daren yang melihat Neha yang begitu perhatian dengan Ardan dan kedua anaknya pun merasa iri. Daren melihat Neha sepertinya sangat mencintai Ardan. Cinta yang di tunjukan seorang istri pada suaminya. Daren ingin sekali melihat Laras melayani Martin saat di meja makan, Namun kenyataannya ia tidak melihat sang mama melakukan itu pada sang papa.


__ADS_2