
Semenjak peristiwa di apartemen. Neha dan Ardan semakin dekat. Bahasa tubuh mereka sangat jelas terlihat. Neha merasa nyaman dan Aman bersama Ardan, begitu juga sebaliknya. Ia merasa di perhatikan sebagai pria dan Neha menemukan sosok pria yang ia cari selama ini. Namun Ardan belum memberitahu kedekatannya bersama Neha kepada Nathan begitu sebaliknya. Neha masih enggan memberitahu orang tuanya.
Neha sangat perhatian dengan kedua anak Ardan. Terlebih Arsy yang memang sangat membutuhkan kasih sayang dan figur seorang ibu. Kehadiran Neha membuat Arsy merasakan kasih sayang ibu perhatian dan nasehat. Walau Arsy belum mengetahui betul seberapa serius hubungan Sang Papa dengan Neha yang lebih sering ia panggil Kakak.
Saat ini Ardan dan anak-anaknya tengah menjemput Neha untuk berangkat ke sekolah. semenjak mereka mengetahui isi hati masing-masing. Ardan selalu mengantar jemput Neha pergi mau pun pulang ke sekolah.
“Pagi Om!" sapa Neha saat sudah masuk kedalam mobil duduk di samping Ardan.
“Hai...! Pagi Arsy, Devan!" sapa Neha melihat Arsy dan Devan duduk kursi belakang.
“Pagi kak Neha!” balas Arsy yang di luar sekolah memanggil Kakak sedangkan Devan hanya tersenyum tipis.
“Kalian sudah sarapan?" tanya Neha sambil memasang sabuk pengaman.
“Sudah Kak. Sarapan nasi goreng!" jawab Arsy. Ardan melajukan mobilnya dan membiarkan Arsy dan Neha mengobrol.
“Oh iya! Kakak buatkan pisang panggang coklat keju buat kalian berdua!'' Neha memberikan 2 kotak makanan berukuran kecil pada Devan dan Arsy.
“Terima kasih kak,'' balas Devan tersenyum.
Devan sejenak memperhatikan kotak makanannya. ia begitu terharu dengan perlakuan Neha akhir-akhir ini. ia merasa ada yang memperhatikan. Semenjak kepergian Sang Mama Iis tidak pernah lagi membawa bekal ke sekolah. Ardan sebenarnya bisa membuatkan mereka bekal, akan tetapi baik Devan dan Arsy tidak ingin merepotkan Sang Papa. sedangkan mereka tidak begitu menyukai bekal buatan asisten rumah tangganya. sedangkan Arsy mengintip isi di dalam kotak makanannya.
“Wah! Ini pasti enak bangat! Kak kita makan pas jam istirahat ya!” seru Arsy pada membuat Devan terkejut lalu spontan mengangguk.
Neha tersenyum melihat Ardan yang fokus menyetir lalu Neha meraih jemari Ardan dan menggenggamnya. Ardan tersenyum kemudian melihat sekilas anak-anaknya dari cermin mobil. Melihat anak-anaknya sedang sibuk dengan ponselnya. Ardan kemudian membalas genggaman Neha.
__ADS_1
Selang setengah jam mereka sampai ke sekolah. Devan dan Arsy turun lebih dulu sedangkan Neha dan Ardan masih berada di dalam mobil. Ardan meletakkan kepalanya di setir mobil dan melihat Neha yang sedang mengikat rambutnya. Sadar Ardan melihatnya, Neha mengerutkan dahinya.
“Om, lihat apa?”
“Melihat bidadari cantik di sebelah, Om!"
“Om bisa saja!” Neha terkekeh sambil menepuk Lengan Ardan.
“Jujur. Kamu memang sudah cantik dari kecil!”
“Om berlebihan!” Ardan tersenyum begitu juga Neha.
Saat membuka sabuk pengamannya Ardan tidak sengaja melihat Laras, Mantan istrinya. Orang yang dahulu sangat ia cintai. Namun karena suatu permasalahan orang yang tidak bertanggung jawab akhirnya mereka memutuskan berpisah. Laras memang sering datang ke sekolah Kate keluarganya dari dahulu adalah donatur tetap di sekolah Ardan. dan banyak berkontribusi di sekolah Ardan dari semenjak almarhum kakek buyut Laras, saat Kakek buyutnya tiada, Sang Mama lah yang melanjutkan menjadi Donatur dan saat ini Laras yang meneruskan menjadi donatur.
Ardan memperhatikan Laras, rupanya perut Laras tampak membuncit. Ternyata Arsy tidak berbohong jika Laras tengah hamil anak ke tiga. Ardan hanya tersenyum tipis dan semakin yakin Laras tidak akan pernah kembali dengannya. Mungkin ini saatnya ia harus benar-benar melupakan Laras dan fokus dengan masa tuanya dan anak-anaknya. ia akan benar-benar membuka hati untuk orang lain tidak terkecuali Neha.
“Ya sudah. Ayo masuk!” ajak Ardan pada Neha lalu keduanya keluar dari mobil.
sepanjang jalan koridor sekolah Mereka berjalan berdampingan dan saling tersenyum satu sama lain. Ingin rasanya Ardan menggenggam jemari Neha. Namun itu tidak mungkin begitu juga Neha. Karena di lingkungan sekolah. Mereka juga harus menjaga jarak dan sikap.
“Pak Ardan saya masuk dulu,” ucap Neha saat sampai di depan rumah guru.
“Iya, Bu Neha. Selamat mengajar! balas Ardan sekilas memegang ujung jemari Neha dan mendapat balasan dari Neha.
Neha tersenyum malu dan mengangguk kemudian masuk ke dalam ruangan guru sedangkan Ardan menuju ruangannya.
__ADS_1
Di ruangannya Neha tersenyum membayangkan Ardan. Sampai-sampai guru yang lain heran melihat Neha yang akhir-akhir ini selalu tersenyum.
“Assalamualaikum!" salam seseorang di ambang pintu. Rupanya kepala sekolah yang mengucapkan salam dan ada seseorang pria belakangnya.
“Wassalamu'alaikum!" balas mereka serentak.
Semua melihat kepala sekolah dan pria tampan yang berada di sebelahnya. Semua guru tampak penasaran dengan sosok yang datang dengan kepala sekolah.
“Selamat pagi Bu, Pak! perkenalkan ini guru baru namanya Pak Johan Budi Utomo. Beliau mengajar mata pelajaran olahraga di kelas SMP. usianya baru 26 tahun dan masih bujang.” jelas kepala sekolah dan di sambut ramah para guru lainnya. Guru-guru perempuan yang masih belum bersuami begitu antusias dan memperbaiki rambut dan penampilan mereka dan Johan hanya tersenyum dan mengangguk sedangkan Neha hanya tersenyum tipis.
Johan sendiri dari awal masuk ia sudah melihat Neha lebih dulu dan langsung tertarik. Terlebih Neha yang bersikap biasa saja menyambut kedatangannya dan itu membuat dirinya penasaran.
“Silahkan pak Johan, Anda boleh duduk di tempat Anda.” ujar Kepala sekolah memberitahu mejanya yang ternyata hanya berbeda dua meja dari meja Neha.
“Terima kasih Pak!” balas Johan lalu tersenyum kemudian mencuri pandang Neha yang sedang merapikan buku di atas meja kemudian Johan melangkah menuju mejanya.
Tak lama bell masuk berbunyi, semua murid masuk ke kelasnya masing-masing. Guru-guru yang lain juga keluar untuk mulai mengajar di kelas masing-masing. Neha keluar bersama rekannya Fatma tanpa menghiraukan tatapan Johan padanya.
Di ruangan lain Ardan sedang bersama Nadia dan kepala sekolah serta ketua OSIS SMA dan anggota OSIS lainya, mereka membahas acara yang akan di adakan saat 17 Agustus nanti. Mereka menyusun berbagai acara yang nantinya akan di ikuti semua siswa-siswi yang bersedia ikut lomba.
“Oh ya Pak! Maaf, interupsi! ” sela salah satu anggota OSIS.
“Ya! Ada tambahan Rico?” tanya Ardan.
“Begini pak! Selama saya sekolah disini, setiap ada acara 17 Agustus hanya murid-murid saja yang ikut serta lomba. Nah! bagaimana tahun ini jika guru-guru semua ikut terlibat dan berpartisipasi mengikuti lomba. Sepertinya akan lebih meriah.”
__ADS_1
Ardan dan guru lainnya saling pandang. Mereka menganggap ide salah satu anggota OSIS tersebut tidak buruk.
“Ok! Ide bagus. Untuk lomba khusus guru silahkan kalian yang menentukan. Saya berikan kalian kebebasan untuk menyusun acaranya. Tapi ingat ya , jangan yang aneh-aneh!" balas Ardan dan di angguki guru lainnya.