
Acara dance tengah berlangsung, Amara, Devan menjadi tim hore di tribun penonton, Daren Arsy dan Alex serta Bella dan juga Ardi begitu semangat melakukan gerakan dance yang di ajarkan Fatma.
Amara dan Devan begitu semangat memberi sorak semangat. Ardan dan guru lainnya juga ikut melihat di tribun penuh di bagian depan.
Johan melihat Amara lalu tersenyum kemudian Berdiri dan membawa air minum untuk Amara serta untuk Devan.
“Kalian minum dulu!" seru Johan di dekat Amara.
“Eh ... Bapak, Terima kasih ya, pak!" Amara menerima botol minumannya.
“Kak, ini minum dulu.” Amara memberikan botol satunya pada Devan.
“Terima kasih.” Johan duduk di samping Amara dan ikut bersorak Sorai.
Ardan terus melihat Amara dan Johan, ia ingin memastikan bagaimana mereka menutupi semuanya dari teman dan rekan kerjanya.
Ardan tersenyum saat melihat keduanya, yang memang pintar menyimpan semuanya. tidak terlihat saling jatuh cinta satu sama lain. Kedekatannya hanya terlihat murid dan guru. Amara memang seperti Laras pandai menyimpan rahasia dan perasaannya. Terlihat biasa saja Namun menyimpan rasa luar biasa.
Johan mengerim pesan untuk Amara, karena tidak mungkin berbicara sambil berbisik karena suara begitu riuh.
“Sudah makan?”
‘Ting’ suara ponsel Amara, ia pun langsung mengambilnya dari dalam sakunya. Tanpa melihat Johan ia pun membalasnya.
“*Belum, Bapak laper?”
“Iya sih! Tapi bagaimana kita berdua keluar?”
“Di kantin aja bagaimana, pak. Tapi nunggu mereka pentas, kan sebentar lagi mereka selesai!”
“ Ya udah, begini saja. Bapak duluan pesan makanan buat mereka dan buat kita berdua, jadi nanti kalian nyusul ke kantin.”
“Ok, sayang*!”
__ADS_1
Johan tersenyum saat membaca pesan kata sayang dari Amara, namun mereka tetap tidak melihat satu sama lain. Devan yang di sampingnya pun tiga menyadari jika Amara sedang bermain ponsel.
***
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN
Kandungan Neha memasuki 7 bulan, perutnya begitu besar Karena mengandung anak kembar. Neha dan Ardan mengadakan 7 bulanan, Syasa dan Bryan dan keluarga besarnya di undang termasuk keluarga Martin, Johan dan Bara beserta Fatma, sang istri
Acara pengajian dan santunan anak yatim pun berlangsung dengan lancar hingga selesai. Nathan dan Siena turut hadir bersama Jojo dan Naina. Jojo juga Hadir membawa kekasihnya, kebetulan kekasihnya juga orang Indonesia keturunan India. Mereka saling menggoda satu sama lain terlebih Nathan dan Ardan.
"kapan kau menikahkan mereka?" tanya Ardan pada Nathan seraya melihat Jojo dan kekasihnya.
"Joshua itu masih 19 tahun, perjalanannya masih panjang, biarkan dulu Jojo Bekerja dan belajar tanggung jawab," jelas Nathan.
"Aku pikir kamu akan segera menikahkan mereka, biar cepat nambah cucu," Nathan melihat Ardan, yang sedang santai makan buah potong apel. dan "Pletak" Nathan memukul kepala Ardan.
"Aduh!"
"Kau mau bilang aku udah makin tua!" semua orang melihat mereka dan tertawa.
"Pa!" Neha menghampiri Nathan dan Ardan, seketika mereka berdua berdiri dan menghampiri Neha yang berjalan, mereka berdua menuntun Neha yang kesulitan berjalan, kemudian membantu Neha duduk. setelahnya mereka duduk mengapit Neha. Semua orang melihat mereka tertawa geli, berebut membantu Neha.
"Kira-kira. Cucu ku nanti mirip kamu atau si tua itu," tanya Nathan sambil mengusap perut anaknya.
"Mirip Papanya dong.!" saut Ardan enteng sambil memakan buah apel.
Neha tertawa melihat Papa dan suaminya selalu berdebat. Neha begitu bahagia keluarganya selalu rukun dan harmonis. terlebih Nathan dan Siena, mereka hampir tidak pernah bertengkar. Neha banyak belajar dari sang mama, bagaimana menjaga hubungan dan mengatasi masalah dalam rumah tangga. Siena mengajarkan kuncinya adalah komunikasi, jujur dan saling terbuka.
Sementara itu Johan duduk bersama Daren di samping Amara, sebisa mungkin Daren menutupi hubungan sang adik dengan guru idola di sekolah. Keberadaan Daren di tengah hubungan Amara dan Johan bisa membuat alasan untuk Amara dan Johan berduaan, dan tidak ada yang akan mencurigai mereka. sedangkan Arsy duduk lesehan di dekat kaki Daren. untuk Devan sendiri sedang bersama Jojo dan Naina bermain game.
“Acara sudah selesai. Kalian gak makan?" tanya Siena pada semuanya.
“Mau Tante, lapar. Kak Daren makan yuk!” ajak Amara sambil memainkan alisnya dan sekilas melihat Johan. Daren mengangguk paham maksud sang adik agar mengajak Johan makan bersama dengan yang lainnya.
__ADS_1
“Pak Johan, ayo makan bersama. Ada opa sama Oma dan yang lainnya.” Johan sekilas melihat Fatma bersama Bara yang tengah asyik makan, namun mereka berdua terlihat canggung dengan keberadaan Johan, lalu melihat Amara yang sudah berdiri.
“Ayo!" balas Johan lalu semuanya melangkah menuju ruang makan.
“Pak Johan duduk sini,” ujar Daren menyuruh Johan duduk di samping Amara. Johan hanya mengangguk dan duduk di samping Amara.
“Aku duduk di samping pacarku.” sambung Daren di sambut gelak tawa semuanya.
“Bucin banget jadi cowok!" saut Amara.
“Kak Daren itu udah bucin sama Amara dari Amara TK!" saut Arsy menambah gelak tawa di meja makan.
“Makanya jangan cantik-cantik jadi cewek.” sambung Daren menakup pipinya. Arsy menarik paksa tangan Daren lalu mengalungkan tangannya di lehernya.
“Aku memang terlahir cantik, tuan Garmond!" ucap Arsy di buat imut dan terlihat aneh di mata Daren.
“Hi..., awas mau makan.” Daren berpura pura jijik dan mendorong wajah Arsy.
“Awas ya!” kesal Arsy dan langsung mendapat kecupan dari Daren di pipinya.
Johan hanya tersenyum dan sekilas memperhatikan Amara yang sedari tadi tidak mau tau perdebatan antara kakak dan calon kakak iparnya itu. Ia sengaja bersikap santai agar tidak menimbulkan kecurigaan banyak orang padahal sedari tadi tangan satunya sudah menggenggam jemari Johan di balik meja tanpa ada yang tahu.
Mereka makan bersama diiringi canda dan tawa. Sesekali Daren menjali Arsy menambah gelak tawa.
“Oh iya, Siapa nama adik kalian?" tanya Ardan pada Daren.
“Alano Garmond,” balas Amara lalu tersenyum.
Setelah selesai makan Bara dan Fatma pamit lebih dulu, sebab Fatma benar- benar malu menghadap Johan. Begitu juga keluarga Syasa. Mereka pamit karena hari sudah mulai malam.
Daren dan Arsy masih duduk di ruang tengah sementara Devan masih melanjutkan bermain game bersama Jojo dan Naina. Johan sendiri duduk bersama Ardan dan saling bertukar pikiran. Amara sendiri justru memilih tidur di sofa, tidak peduli suara riuh Devan dan Jojo bermain game bersama Naina dan Keseruan Arsy bersama Daren.
Setelah selesai berbicara dengan Ardan, Johan berpamitan pulang, namun sebelum ia menghampiri Amara dan sekilas mengusap lembut rambutnya dan tersenyum melihat Amara tertidur.
__ADS_1
“Mimpi indah sayang," batin Johan tersenyum melihat Amara lalu pamit dengan semuanya.