TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 15 KERAGUAN


__ADS_3

17 Agustus sudah usai beberapa minggu yang lalu. semua murid dan guru beraktivitas seperti biasa. Begitu juga Neha dan Ardan. Ardan masih selalu setia antar jemput Neha. Sebelum masuk ke sekolah seperti biasa mereka mengobrol sejenak di dalam mobil, Mereka memberi semangat sebelum beraktivitas.


Neha tersenyum melihat Ardan yang selalu melihatnya sambil merebahkan kepalanya di setir mobil. Neha mengusap rambut Ardan dan memegang Pipinya melihat lekat wajah yang hampir dua bulan ini selalu membayangi pikirannya. Kenapa pria matang di depannya ini bisa membuatnya jatuh hati sampai rasa itu sulit di ungkapkan. Namun ia juga takut bagaimana jika sang Papa mengetahui hubungan mereka. Hal ini juga yang membuatnya ragu untuk melangkah lebih serius lagi.


“Kenapa kamu melihat Om, seperti itu?” tanya Ardan meraih tangan Neha yang memegang pipinya lalu mengangkat kepalanya.


“Om, serius gak sama hubungan ini?" tanya Neha tiba-tiba.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu. Kamu ragu dengan Om?" Neha menggenggam jemari Ardan dan menatap lekat wajahnya.


“Papa! Papa yang membuatku ragu! Neha takut Papa tidak menyetujui hubungan kita.”


“Kamu sendiri ragu atau tidak!”


Neha terdiam memikirkan semua kemungkinan terjadinya. Apa tanggapan orang-orang nanti, belum lagi tanggapan Laras, mantan istri Ardan yang tak lain tantenya, terlebih apakah Papanya akan merestuinya. Hati Neha terus berkecamuk memikirkan hal itu. Mungkin ini terlalu dini menanyakan kelangsungan hubungannya yang baru terjalin belum genap dua bulan. Tetapi mereka sudah sama-sama dewasa sudah tidak pantas lagi untuk menjalin kasih tanpa ikatan. Apa lagi Ardan yang seorang duda.


“Jika kamu ragu, jangan lanjutkan hubungan ini dan lupakan semuanya. Jika kamu yakin dengan semua kemungkinan yang terjadi kedepannya, Om akan perjuangkan dirimu untuk mendapatkan restu Papa kamu.”


“Neha yakin Om. Semalaman Neha tidak bisa tidur memikirkan hubungan kita. Neha yakin Om.”


“Pikirkan lagi Neha. Om sudah tua. usia kita berbeda sangat jauh. Kamu yakin 5 atau 10 tahun lagi, Om masih menarik di matamu? atau mungkin Om pergi lebih dulu! Pikirkan lagi Neha. Jangan kamu pikirkan hanya satu malam. Karena sebuah hubungan bukan di bangun atau di pikirkan satu malam. Sebelum terlambat!”


Neha tanpa sadar meneteskan air mata. Hatinya tidak ada keraguan sedikitpun. yang membuat ragu adalah Papanya. untuk masalah usia ia juga sudah matang-matang memikirkan hal tersebut. Menarik tidaknya laki-laki di depannya 10 tahun kemudian ia tidak menjadi masalah. Karena memang murni Neha benar-benar jatuh cinta dengan Ardan, apa lagi dengan semua perlakuannya dengan mantan istri-istrinya dahulu membuat Neha tidak ada lagi keraguan. Neha yakin Ardan menyayangi wanitanya lebih dari rasa sakitnya.


“I love you, Om”


“Yakin?”


“Hm!" Ardan menciumi punggung tangan Neha lalu memeluknya.

__ADS_1


“Kapan Nathan pulang ke Indonesia? atau Kita menyusul ke New York!” Neha melapaskan pelukannya dan melihat Ardan.


“Tidak perlu menyusul, Om. Minggu depan Papa dan Mama pulang Mereka liburan musim dingin.”


“Bagus kalau begitu! Nanti Om akan melamar kamu secepatnya.” Neha mengangguk dan tersenyum.


“ Ya sudah. Ayo masuk!”


Mereka berdua turun dari mobil. dan berjalan memasuki gedung sekolah. Mereka berjalan berdampingan saling melempar senyum. Ardan mengaitkan jari kelingkingnya di kelingking Neha. Mereka tidak berani menggenggam tangan secara terang-terangan di lingkungan sekolah. Takut banyak murid-muridnya yang melihat.


“Mau Om, antar ke kelas TK,” ujar Ardan saat di depan ruangan guru.


''Gak usah, Om. Malu di lihat guru yang lainnya.”


“Ya sudah. Masuklah. Nanti Istirahat temui Om di ruang BK. Nanti Istirahat sama-sama. Sekalian anak-anak. Tadi pagi Om lupa kasih uang jajan mereka.”


“Selamat pagi Bu, Pak!” sapa Neha saat masuk ke ruangan guru.


“Pagi!” jawab serempak semua guru yang sudah hadir. Fatma rekan kerja Neha menghampiri nya di mejanya.


“Pagi, Bu Neha! Wah... Aura yang sedang jatuh cinta memang beda ya!” goda Fatma sambil melirik Johan yang sedari tadi mencuri pandang Neha.


“Bu Fatma bisa saja,” balas Neha malu.


“Iya Bu Neha. Aura yang cintanya terbalaskan itu beda sekali sama orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan.” Neha dan guru lainnya terkekeh mendengar celotehan Fatma. Fatma memang salah satu guru yang menghidupkan suasana.


Fatma terus melihat Johan dan tatapannya seakan mengintimidasi Johan. agar Johan sadar diri.


“Kapan Bu lamarannya?" Fatma semakin memanas-manasi Johan.

__ADS_1


“Jika tidak ada halangan, doakan saja minggu depan Papa saya pulang dari New York dan Pak Ardan akan membicarakan lamaran.”


“Saya yakin di terima Bu! secara Pak Ardan, kan sahabat Ayahnya Bu Neha. pasti tanpa tapi langsung nikah. sah!”


“Ahem!” suara deheman Johan terdengar, lama-lama telinganya panas mendengar ucapan Fatma.


Semua guru menolah ke arah Johan yang berjalan keluar tidak terkecuali Fatma. Fatma berdiri menghadap ke arah Johan sambil menyilangkan tangannya di dadanya.


“Tumben pak Johan mau ke kelas duluan. Bel aja belum di pencet! ” ujar Fatma. Johan menoleh kebelakang ke arah Fatma lalu berhenti di ambang pintu kemudian menekan bell masuk kelas.


“Sudah bunyi Bu. Mari!” balas Johan datar dan menahan kesal. Semua guru menahan tawa melihat ekspresi kesal Fatma. Mereka semua tahu jika Fatma dan Johan sedang perang dingin.


Tak lama guru satu persatu keluar menuju kelas tempat mereka mengajar, termasuk Neha dan Fatma dan satu lagi rekan kerjanya Nurul. Mereka berjalan berdampingan menuju kelas TK. Namun saat hendak sampai di kelas Fatma melupakan sesuatu.


“Astaga ada yang lupa!” cicitnya.


“Apa Bu Fatma?" tanya Nurul.


“Buku tugas anak-anak, sebentar saya ambil. Bu Nurul sama Bu Neha duluan saja.” balasnya lalu sedikit berlari.


Nurul berlari kecil menuju ruangan guru. Setelah sampai ia menuju mejanya dan mengambil buku tugas anak-anak didiknya. saat hendak keluar ia melihat jam dinding yang rupanya jamnya mati. lalu ia melihat jam tangannya.


“Jamnya mati? Kayaknya kemarin ada baterainya di mana ya!" Fatma menuju lemari penyimpan dan mengambil bateri kemudian ia meletakkan bukunya di meja Johan.


Fatma menarik kursi lalu ia naik di atasnya namun ia juga tidak sampai kemudian ia turun dan menarik meja dan ia naik di atas meja untuk mengganti baterai jam dinding kemudian mencocokkan jarum jamnya dengan jam tangannya.


“OK! Sudah benar lagi.”


Tak di sangka ada seseorang yang memperhatikannya. Namun seseorang itu hanya melihatnya dari ambang pintu tanpa membantunya. Fatma masih melihat jam dindingnya tanpa sadar ia mundur dan akhirnya ia terpeleset. Beruntung orang yang sedari melihatnya tadi sigap berlari ke arahnya dan menangkapnya.

__ADS_1


__ADS_2