
“Johan! Bagaimana Amara?” tanya Fatma.
Mereka sudah sepakat memanggil nama saja saat di luar sekolah.
“Sudah dapat penanganan terbaik. Aretha juga sudah mendapatkan surat peringatan. permasalahannya sudah di selesaikan secara kekeluargaan tadi di rumah sakit.”
“Kekeluargaan. emangnya Keluarga? kalau aku jadi Amara udah tak masukin penjara!" Johan tertawa melihat Fatma yang justru lebih emosi.
“Kata Amara gak boleh dendam. Di sabarin aja.”
“Sebenarnya masalahnya apa sih, Jo?”
“Ngerebutin aku!"
“Dih...! Ogah! Sok kegantengan!" kesal Fatma mendorong bahu Johan. Johan hanya tertawa melihat Fatma yang sudah kembali ceria.
“Udah ayo jalan!" seru Fatma. Johan mulai menekan gas mobilnya lalu melaju meninggalkan sekolah Mahendra.
“Mau kama dulu!”
“Cari makan dong! Masak kamu ajak aku jalan gak di kasih makan. kembung makan angin doang!"
“Iya bawel.”
Disisi lain Daren Amara dan Devan berada di rumah sakit sepulang sekolah untuk menjenguk Amara. Devan duduk di dekat brankar Amara dan menunggu Amara bangun dari tidurnya. Sedangkan Daren dan Arsy asyik dengan dunianya sendiri. Mereka berdua duduk berdampingan sambil melihat ponselnya. Entah apa yang di lihat dia pasangan ABG tersebut.
Devan meraih jemari Amara dan tersenyum melihat wajah gadis yang ia Kagumi tengah berbaring. Tidur saja begitu cantik. Apa lagi jika sedang bicara tanpa jeda.
Amara membuka matanya dan melihat Devan sedang memandanginya lalu melihat tangan Devan yang menggenggam jemarinya. Amara tersenyum dalam hati dan ingin mengerjai Devan. Amara akan berpura-pura hilang ingatan.
“Ha ...! Siapa kamu pegang-pegang aku.” Devan terkejut dan langsung berdiri.
“Ini aku kak Devan!"
“Devan siapa? Itu berdua siapa?" Amara melihat Arsy dan Daren.
“Amara!" pekik Arsy lalu menghampiri Amara di ikuti Daren.
“Ini aku, Arsy! sahabat kamu dari bayi!”
“Eh ... Emang bayi sahabatan?"
Daren menahan tawa melihat akting adiknya. Karena ia tahu adiknya sedang pura-pura.
“Jangan bohong kamu! Ini apa pegang-pegang! Lepas!” Amara mengibaskan tangan Devan. Devan hanya bengong melihat Amara.
“Kak Daren! Amara kenapa. Ini pasti gegar otak gara-gara jatuh dari tangga. Aku panggil opa Banyu ya!” Amara menahan tawa melihat wajah panik Arsy dan Devan. Arsy lalu melangkah ingin memanggil Banyu. Namun, di cegah Daren.
__ADS_1
“Gak usah! Biarin aja dia gegar otak!"
“Heee!! Kakak macam apa kakak!” Arsy menepuk dada Daren.
Amara akhirnya tertawa melihat wajah Arsy dan Devan. Daren pun tertawa sambil merangkul Arsy.
“Kau lihat. Amara hanya bercanda!”
“Sial! Aku panik tahu!" kesal Arsy memukul kaki Amara beberapa kali.
“Kau ini buat orang panik!" ucap Devan sambil mengusap rambut Amara.
“Maaf! Kapan lagi bisa kerjain kalian!"
Mereka tertawa bersama tanpa tahu Laras dan Martin melihat mereka diam diam di balik pintu. Laras sadar rupanya membiarkan keadaan mengalir begitu saja ternyata lebih indah dan membuat damai di hatinya.
“Sore semua!” sapa Laras sambil membawakan makanan untuk semuanya.
“Sore Tante!" Laras menghampiri Arsy dan Daren Amara lalu mencium keningnya kemudian menghampiri Amara.
“Maaf ya! Mama baru kemari. Papamu baru mengabari Mama. Mama masak makanan kesukaan kalian semua!"
“Asyik!” balas Amara senang. akhirnya sang Mama memasak setelah sekian bulan tidak memasak untuknya.
“Adik bayi dalam perut apa kabar?" Amara mengusap perut Laras dengan tangan satunya.
Martin bahagia melihat Laras sudah ceria dan mau bercerita lagi dengan anak-anak. Momen yang beberapa bulan ini hilang.
“Hah! Ini beneran?” Seru Arsy tiba-tiba sambil melihat Ponselnya, membuat yang lain terkejut.
“Arsy! Bikin kaget aja!” kesal Amara “Ada apa?” sambungnya lagi.
“Ada guru BK baru! Papa kemarin udah bilang kalau mau udahan jadi Guru BK. Terus cari ganti yang baru. Jadi Papa bilang mau fokus urusan sekolah aja.” Arsy berjalan menghampiri Amara.
“Siapa? cowok apa cewek!" tanya Amara penasaran membuat jengah Devan dan Daren. Karena melihat gadis- gadis pujaan lebih asyik membicarakan guru-guru mereka.
“Cowok dong! Ini Mama bilang guru baru itu lagi di rumah. Lagi ngomongin hal penting!”
“Kayaknya tambah masalah lagi!” Balas Amara.
“Kok?”
“Ya iya, Arsy! Pak Johan aja udah jadi rebutan sama kakak SMA. Itu teman Kak Daren. Ini ada guru baru udah pasti tambah keributan dan jadi rebutan.
“Iya juga! Tapi kita, kan gak kayak mereka!"
“Iya sih! Ah ... udah ah! Aku mau makan. Lapar!" Amara menyudahi pembahasannya masalah guru baru.
__ADS_1
Laras dan Martin hanya saling pandang. mencoba memahami anak-anak mereka yang sudah mengenal lawan jenis dan mulai tumbuh perasaan suka. Namun ada rasa Khawatir di hati Martin dan Laras terlebih pada anak perempuannya. Mereka takut Amara terbawa arus pergaulan di jamannya yang tidak benar.
“Arsy ayo makan. terus Nanti pulang!" seru Devan yang kesal dengan pembicaraan guru baru begitu juga Daren yang memilih diam sambil melihat Amara dan Arsy bergantian.
Arsy duduk di sebrang Daren dan tersenyum. Arsy belum menyadari jika Daren tengah cemburu.
***
Arsy dan Devan kini sudah kembali ke rumah. Devan yang masih kesal dengan Amara pun langsung menuju lantai atas sedangkan Arsy mencari sang Mama sambungnya lebih dulu.
“Mama! where are you?" seru Amara menuju ruangan makan. Namun tidak menemukan Neha dan Ardan.
“Ma!” serunya sekali lagi.
“Ya sayang! Mama di taman samping!” Arsy melangkah menuju taman samping rumahnya.
“Hai! Bagaimana Kondisi Amara!" tanya Neha sambil memeluk Arsy.
“Tangannya masih di balut. Udah bercanda.” Arsy melepaskan pelukannya.
“Kakak kamu mana?"
“Lagi ngambek sama Amara! Tadi sampai langsung ke kamar.” Arsy tertawa kecil lalu terdiam saat melihat tamu sang Papa.
“Maaf!" ujar Arsy sedikit menunduk.
“Arsy! Ini kenalkan Pak Bara!" Arsy melihat Bara sejenak dan tersenyum lalu menghampiri Bara kemudian menyalaminya.
“Bara!"
“Arsy, Pak!"
“Pak Bara ini. Nantinya yang menggantikan Papa menjadi guru BK di sekolah. Beliau aktif mulai hari Senin!”
“Oh ... Iya! Semoga betah dan gak bosan ngurusin murid yang bermasalah ya, Pak. Karena sepertinya akan tambah keributan!" Semua tertawa mendengar ucapan Arsy.
“Keributan seperti apa lagi?" tanya Bara yang melihat Arsy yang begitu ceria. Dimatanya Arsy gadis yang ceria dan pintar.
“Ngerebutin Bapak!"
“Kamu bisa saja!" balas Bara melihat Arsy.
“Lihat saja nanti, Pak!”
“Baiklah! Kalau begitu saya pamit! Sampai ketemu hari Senin!" pamit Bara lalu beranjak dari duduknya kemudian menyalami Ardan Neha dan Arsy kemudian ia pulang.
Ardan mengantarkan Bara sampai pintu depan sedangkan Arsy dan Neha duduk di ruang tengah. Arsy menceritakan saat Amara mengerjainya dan kekesalan Daren dan Devan soal membahas guru baru.
__ADS_1