TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 45 NEHA HAMIL


__ADS_3

Ardan di buat terkesima dan berdiri mematung saat melihat Neha sedang menggunakan lotion di kakinya. Neha tersenyum di balik cermin, melihat suaminya selalu bergairah saat melihatnya.


"Mas ... kenapa berdiri mematung?"


"Ah ... gak! Mas capek!”


"Yakin? Gak minta dulu sebelum ke Bandung?” Ujar Neha mulai membuka piyama tipisnya.


Neha berjalan menghampiri Ardan yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi, kemudian menarik lembut dan membawanya ke tempat tidur. Neha mendorong Ardan hingga Ardan terhempas di tempat tidur.


"Mas dua hari loh ... di Bandung. Jadi...,” Neha mulai melepaskan piyamanya dan mendekati Ardan.


Tangan Neha mulai nakal dan menjelajahi tubuh suaminya dari bawah ke atas


"Aku mau memintanya," bisik Neha lalu tersenyum.


Pandangan mereka bertemu, dengan senyum terus menghiasi wajah keduanya. Akhirnya mereka melakukannya hak dan kewajibannya masing-masing.


***


Pagi Harinya Ardan bersiap pergi ke Bandung. Neha menyiapkan keperluan Ardan Selama Dua hari di Bandung. Mulai dari baju dan keperluan kecil lainnya.


"kamu yakin tidak mau ikut?" tanya Ardan sambil memeluk Neha dari belakang.


"Tidak Mas! Aku di rumah saja mengurus anak-anak, tapi mas janji selesai seminar langsung pulang."


"Pasti!" kemudian mereka berpelukan.


Ini pertama kali mereka berjauhan selama dua hari. Neha sebenarnya ingin sekali ikut, akan tetapi ia memikirkan anak-anak sambungnya. Apa lagi kini mereka sudah beranjak remaja dan butuh pengawasan.


Neha merasa dua anak remaja itu adalah tanggung jawabnya. karena Neha sudah menganggap mereka sebagai anak sendiri.


"Kalau begitu mas berangkat, kamu berangkat ke sekolah hati-hati,"


"Iya Mas. Mas juga hati-hati, ingatkan Pak Heru, kalau ngantuk istirahat saja."


"Iya sayang."


Ardan berangkat bersama sopirnya pak Heru. Neha pun berangkat ke sekolah bersama anak-anak dengan mengemudi mobil sendiri.


"Ma ... Mama nanti pulang dulu atau nunggu kita pulang?" tanya Arsy.


"Sepertinyaama pulang dulu, Mama mau buat kalian. Kalian hari ini juga libur les, kan?"


"Iya Ma."

__ADS_1


"Nanti mama jemput kalian kalau sudah waktu jam pulang sekolah, kalian tunggu Mama."


"Siap Ma." jawab Devan dan Arsy serempak.


Sepertinya Neha tidak begitu kesulitan mengurus dua remaja tersebut. Mereka berdua juga tidak ingin merepotkan dan membuat khawatir Mama nya. Sikap mereka juga sangat manis. Sepertinya Andin memang mendidik anak-anaknya agar selalu bersikap manis dan sopan. Terlepas perbuatan jahatnya dahulu ia berhasil mendidik anak-anaknya menjadi anak baik. Di tambah ibu sambung mereka juga memiliki sikap bijak dan membimbing.


Akhirnya mereka sampai ke sekolah. Devan dan Arsy menuju kelasnya masing masing. Neha sendiri menuju ruangan guru.


Baru satu jam Neha berpisah dari Ardan. Ia tampak begitu tidak bersemangat. Biasanya di sekolah mereka saling menggoda dan bercanda sebelum aktivitas mengajar di mulai. Saat jam istirahat anak-anak TK Ardan terkadang juga menghampiri untuk bersama anak-anak TK.


"Ya Tuhan, lindungi selalu suamiku. Aku merindukannya," batinnya. sekilas melihat foto pernikahannya di meja.


"Pagi Bu Neha!" Sapa Bu Fatma.


"Pagi Bu!" balas Neha.


"Eum... Bu Neha sakit? Mukanya pucat banget!”


"Gak! Tapi sedikit sedikit pusing."


Neha memang sedikit pusing dari saat bangun tidur, ia sengaja tidak memberitahu Ardan. Jika Ardan tahu pasti Ardan membatalkan seminarnya di Bandung.


"Oh ... tapi lebih baik istirahat dulu Bu. Kalau gak saya ambilkan obat, bagaimana?"


“Bu Neha ke UKS saja!" Neha mengangguk.


“Terima kasih, Bu Fatma! Saya titip anak-anak!"


Fatma kemudian menuju kelas TK, sedangkan Neha menuju unit kesehatan. Ia ragu ingin meminum obat. karena ia takut tiba-tiba hamil. Karena ia sudah telat 2 Minggu. Dan belum memberitahu Ardan jika sudah terlambat datang bulan.


Di unit kesehatan. Neha sendiri ia duduk di brankar. kemudian ia mengambil tespeck kemudian Ia menuju toilet yang ada di unit kesehatan. Ia berdebar saat mengetesnya. hingga akhirnya ia tersenyum bahagia melihat hasilnya yang menunjukkan garis Dua.


"Terima kasih Tuhan, terima kasih!" Hanya itu yang terucap di bibirnya. Ia meneteskan air matanya saat melihat hasil tesnya.


Neha keluar dari toilet. kemudian ia berbaring setelah menyimpan hasil tesnya di tasnya. ia mengusap perutnya kemudian memejamkan matanya. Berharap rasa sakit di kepalanya mereda tanpa meminum obat sembarangan.


“Neha, kamu kenapa?” suara seseorang yang sangat Neha kenal. Neha kemudian membuka matanya.


"Opa?" Kenapa Opa ada di sini.” Neha bangun setelah Bryan berdiri di samping brankarnya.


"Ini, Opa lagi antar Aryan sekolah! Tadi malam Aryan gak mau pulang sama Mamanya meli, maunya sama Mama jane.”


“Mungkin lagi kangen sama Jane, Opa! dua Minggu mereka gak ketemu. karena Jane sama Amar ke Pakistan. Oh Ya! Jane sama suaminya mana?”


“Langsung berangkat ke restoranya. Hari ini pembukaan cabang baru!"

__ADS_1


“Oh ...!"


“Kamu kenapa?” tanya Bryan memegang kening cucu tertuanya itu.


“Sedikit pusing, mual! Maunya di dekat Mas Ardan, tapi hari ini Mas Ardan ke Bandung dua hari. Ada seminar.”


“Oh ... Ya sudah. Kamu istirahat dulu. Opa mau cari Johan dulu!" Bryan sekilas mencium kening Neha.


“What?” Bryan hanya tertawa lalu keluar dari UkS.


“Kayaknya Opa yang gak sabaran lihat Amara sama pak Johan. haduh... Amara masih kecil Opa. masak kisah Mama, Papa ke ulang sama sepupu sendiri! yah walau sepupu tiri sih!" gumam Neha lalu berbaring kembali. Kepalanya semakin sakit memikirkan Opanya.


Bryan memang benar-benar mendatangi Johan di lapangan basket dan sedang memberikan arahan pada murid SMP kelas Satu, adik kelas Amara dan Arsy. Bryan berdiri sambil melipat tangannya dan memperhatikan Johan yang sedang memberikan arahan pada muridnya.


Bryan tersenyum melihat kesabaran Dan kedekatan Johan dengan anak didiknya. Bryan beranggapan Johan memang pas untuk Amara yang terkadang emosinya seperti, Laras.


“Pak Johan!" seru Fatma tiba-tiba menghampiri Johan.


“Bu Fatma! Ada apa?" tanya Johan heran.


“Ini buat Bapak!" Fatma memberikan minuman pada Johan.


“Terima kasih, Bu Fatma!" Fatma tersenyum malu lalu kembali ke kelas TK. sedangkan murid-, murid Johan meledeknya.


“Cie ...!" ledek muridnya serempak, Johan hanya tersenyum dan bersikap santai.


Bryan melihat Johan dan Fatma sedari tadi. Ia merasa seperti orang kecolongan.


“Ini gak bisa di biarin ... bisa-bisa calon cucu mantu di ambil orang." gumam Bryan yang tidak terima Johan dekat dengan Fatma.


"Johan!" seru Bryan. Johan mencari sumber suara lalu menoleh ke belakangnya.


“Opa?" desisnya tak percaya melihat Bryan ada di sekolah.


“Anak-anak lanjutkan seperti tadi ya! Beni kamu awasi yang lainnya." ujar Johan sebelum menghampiri Bryan.


“Baik, Pak!" Johan kemudian menghampiri Bryan.


“Opa, Kenapa ada disini?" tanya Johan lalu menyalaminya.


“Tadi antar cucu, Aryan. Anaknya Jane sama raymond.”


“Oh!”


Johan mengajak Bryan duduk di bangku yang memang disediakan untuk yang menonton basket.

__ADS_1


__ADS_2