Takdir Sang Putri

Takdir Sang Putri
Eps.49


__ADS_3

.


.


.


🧩🧩🧩🧩


Sebelumnya...


Jun menatap kediaman Lili "Apa penyakitmu memburuk Lili, sehingga kau meminta kami menjauhi mu?" batin Jun.


_____________


Para pangeran pergi dari kediaman Lili berniat untuk meredakan sang Ayah.


Dan ternya tak kunjung berhasil, akhirnya mereka pergi ke kediaman mereka masing-masing.


Kediaman Lotus Merah.....


"Aku tidak akan menyerah sampai aku mengetahui alasan mengapa Lili tidak ingin menemui kami!?" ucap Hui.


Hui berniat untuk menyelinap di tempat adiknya itu malam ini, saat malam tiba semua penjagaan di kediaman Lili semakin di perketat bahkan semua pelayan memakai cadar tipis.


Hui yang sudah bersiap-siap, terkejut karena penjagaan yang ketat dan pelayan yang sibuk mondar-mandir masuk kamar Lili, "Ada apa ini sebenarnya? mengapa penjagaan semakin ketat dan banyak pelayan!" tanya Hui.


Kemudian Hui melihat asisten tabib dan Hui menarik tangan asisten tabib itu.


"Kau diam atau aku bunuh kau" ancam Hui dan Asisten itu mengangguk "Sebenarnya apa yang terjadi di sini?" tanya Hui, "Maaf tuan karena semua orang di sini sangat merahasiakan masalah Putri!" jawab Pemuda itu.


"Baiklah jika kau tak ingin memberi tahu ku maka aku akan mencari tau!" ucap Hui tersenyum licik dan membuat pemuda itu pingsan dan mengambil baju yang di kenakan oleh pemuda tadi untuk berbaur.


"Hei nak! Kau di panggil oleh tabib!" ucap Pelayan tua.Hui mengangguk dan mencari tabib.


Ruang obat


"Ah! kau sudah ada di sini, bantu aku membawa obat ini kepada Putri sekarang" ucap Tabib memberi obat yang sudah di racik."Obat memang Lili sakit apa?"batin Hui dan tercium bau obat itu sangat pahit.


Kamar Lili.....


Lili yang terbaring lemas di temani oleh Jia dan 2 pelayan lainnya, Jia membangunkan Lili karena sudah waktunya minum obat, di sisi lain.


Hui mengikuti Tabib dan melihat bahwa kamar Lili sangat banyak pelayan seperti siap bertempur di medan perang.Sebelum itu tabib dan Hui di sterilkan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam membuat Hui semakin kebingungan "Untuk apa ini!" batin Hui.

__ADS_1


Namun Hui tetap mengamati apa yang terjadi sebenarnya, saat masuk di kamar Lili. Hui terkejut karena di dalam kamar adiknya itu bukan lagi tercium aroma Lavender tetapi aroma obat-obatan yang sangat menyengat hidung, dan Hui di buat terkejut sekali lagi karena melihat wanita cantik bercadar tipis tetapi sangat pucat dan kurus.


"Lili apa benar itu Lili, tetapi memang aku tidak melihat terlalu jelas tadi siang karena dia berdiri terlalu jauh ku kira aku hanya salah liat bahwa Lili semakin kurus ternyata dia benar-benar kurus" batin Hui.


"Berikan obatnya!" ucap tabib, Hui yang terkejut langsung memberi obat itu kepada Jia.


Jia membangunkan Lili dengan sangat pelan"Putri bangun!" Lili membuka mata dan di bantu Jia duduk saat meminum obat itu terlihat Lili sangat menderita karena obat itu, membuat Hui tak tega.


Sesaat Lili muntah darah membuat semua orang langsung membantu Lili. Sedangkan Hui tertegun dan kaget melihat adiknya yang begitu menderita.


Lili yang melihat pemuda yang terdiam, tau bahwa itu adalah gege pertamanya, Lili tersenyum, setelah selesai berganti pakaian "Tabib bisakah kau menyuruh asisten mu menemani ku sebentar?"ucap Lili dan tabib menyetujui itu.


Saat semua orang berada di luar, Lili menyuruh Hui duduk di dekatnya, dan Hui menurutinya.


" Kau tau kau seperti gege ku!"ucap Lili yang sebenarnya tau itu gege nya.


Hui bertanya"Maksud putri?" Lili tersenyum dan memegang tangan Hui"Kau tau, tadi siang ayah dan saudaraku ke mari dan aku malah tidak menyambut mereka dengan baik"ucap Lili dengan sedih.


"Mengapa putri tidak menyambut mereka?" tanya Hui.


"Aku tak ingin mereka mengetahui bahwa aku sekarang sedang sakit, dan aku juga tidak ingin mereka sedih kembali karena sakit ku ini" jelas Lili. Hui rasanya ingin menangis mendengar perkataan adiknya itu.


"Ketidak ingin mu ini melukai kami!" batin Hui.


"Pasti Ayah putri memaafkan putri!" ucap Hui.


Lili tersenyum dan mengambil liontin miliknya dan memberikannya kepada Hui "Ini aku berikan kepada mu! Aku harap kau menjaganya dengan baik" ucap Lili membuat Hui terkejut melihat liontin itu namun, setelah itu Lili tiba-tiba muntah batuk berdarah kembali.


Hui panik dan memanggil tabib"Tabib-tabib Putri"seru Hui.


Tabib langsung memeriksa tubuh Lili dan memberi obat itu kembali dan menyuruh putri beristirahat.


Ruang obat...


Tabib menghembuskan nafas, Hui yang mengetahui itu bertanya"Ada apa tabib?" tabib itu melihat ke arah Hui"Putri semakin hari semakin parah, itu membuatku pusing!"keluh Tabib.


"Bagaimana jika kita meminta tabib Wei untuk mengobati Putri?" saran Hui.


"Aku sudah mencobanya namun putri tetap bersikeras bahwa aku bisa menyembuhkannya" ucap tabib."Jika putri berkata demikian, maka tabib pasti bisa menyembuhkannya" ucap Hui dan, kemudian Hui kembali ke kediamannya dengan menyelinap seperti awal kedatangannya, saat di kamar.


Hui menatap liontin pemberian Lili dan menggenggamnya dengan erat "Tak kan ku biarkan kau menderita, namun kali ini saja aku merahasiakannya dari mereka Lili" ucap Hui kepada dirinya sendiri.


Karena di Liontin itu tertulis kata 'rahasia'

__ADS_1


Keesokan harinya....


Lili merasa membaik membuat semua pelayan senang, "Jia aku ingin menghirup udara segar" ucap Lili.


"Baik putri tetapi udara semakin dingin karena sudah mulai musim salju jadi putri gunakan mantel untuk keluar" ucap Jia, Lili di bantu Jia bersiap-siap



Lili terlihat cantik meski wajahnya sedikit pucat dan kurus, Lili pergi ke kolam teratai kesukaannya.


"Jia apakah Ayah masih marah kepadaku?" tanya Lili sambil menatap kuncup bunga teratai yang masih kuncup, Jia yang merasa kasihan kepada Lili berkata"Putri mungkin Kaisar hanya marah sesaat"hibur Jia.


Lili menatap langit"Aku harap seperti itu Jia" pasrah, angin mulai dingin Jia meminta Lili masuk ke dalam dan untuk menemui tabib untuk memeriksa keadaan Lili.


"Bagaimana keadaan ku sekarang tabib?" tanya Lili.


"Keadaan putri semakin baik, tetapi untuk sekarang putri jangan sampai kelelahan karena penyakit ini bisa kambuh lagi" ucap tabib sekaligus memperingatkan, Lili mengangguk dan tabib pergi dari kamar Lili.


"Jia aku bosan, kita jalan-jalan lagi ya!" rengek Lili.


"Putri selalu begini, sehat sedikit sudah ingin melakukan banyak aktivitas" omel Jia, Lili cemberut dia sadar jika Jia benar namun sangat sulit menahan jiwa Liar nya itu.


"Jia tolong! Ini saja yah!" bujuk Lili.


Jia menghembuskan nafasnya, dan memperbolehkan Lili pergi namun hanya batas 2 jam karena setelah itu Lili harus minum obat.


Lili berjalan-jalan di taman istana karena dekat kediamannya, dan juga merupakan tempat favorit ke dua setelah kolam teratai, Lili duduk-duduk di gazebo taman.


"Jia lihat bunga itu mekar!" seru Lili.


Jia mengangguk, Lili berjalan ke arah bunga itu dan jongkok di tanah."Hei bunga mengapa kau mekar sedangkan yang lain bersembunyi dan gugur!"ucap Lili kepada bunga itu.Jia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Lili.


Saat hendak bangun kepala Lili sedikit pusing dan hampir jatuh namun di tahan oleh Jia "Putri tidak apa-apa!" ucap Jia, Lili menggeleng dan tersenyum.


Mereka berjalan pergi menuju kediaman saat di jalan, tiba-tiba Lili batuk berdarah dan Jia dengan sigap membantu menghilangkan darah yang keluar dari mulut Lili.


Di sisi lain ada seorang Lelaki tampan namun termakan usia memperhatikan mereka berdua, Ia terkejut saat mengetahui Lili batuk mengeluarkan dan tubuh Lili seperti sangat kurus berbeda dengan sebelumnya.


"Yang Mulia" ucap pelan Kasim.


"Tunggu aku ingin tau apa yang di sembunyikan anak itu?" ucap Kaisar yang bersembunyi menatap Lili dan Jia.


Lili sadar bahwa sejak tadi ayahnya itu mengawasi mereka namun membiarkannya.

__ADS_1


"Putri sekarang lebih baik kita kembali karena sepertinya kondisi Putri agak memburuk" ucap Jia di setujui oleh Lili. Kaisar Li kembali setelah mereka pergi, "Ada apa sebenarnya ?" batin Kaisar Li.


__ADS_2