
ermm...
Shanum menggeliat memegang kepalanya yang masih terasa berat saat dirinya ingin bangun dari tidurnya ia juga merasakan hal yang sama di bagian perutnya
Rupanya sebuah tangan kokoh yang melingkar di atas perutnya. Shanum menatap ke arah pemilik tangan kokoh tersebut ternyata Frisyam yang telah tertidur lelap di sampinya
"Bee" ucapnya dengan suara lemah
Frisyam terperanjak dengan cepat ia mengusap wajahnya berusaha menetralkan penglihatannya
"Kamu sudah sadar sayang" Ucap Frisyam dengan lega
"Apa yang terjadi bee? "
"Kamu tiba tiba pingsan"
"lagi" Shanum menghela nafas kasar
"Jangan di fikirkan, istirahat saja" Titah Frisyam
"Tap---" Ucapan shanum terpotong tatkala Frisyam membungkam mulutnya
"Jangan di fikirkan lagi jika tidak aku akan melakukan lebih dari ini" Terah Frisyam membuat Shanum membulatkan matanya
"kamu kenapa sekarang jadi mesum" sambil mencubit pinggang Frisyam
"auhh.." pekik frisyam "Dan kamu sekarang mulai jahil"
"Kamu istirahat saja sayang sebentar lagi Papa mama Datang "
"Mama, papa? " keget Shanum
"Iya mereka telah kembali dari Indonesia" seolah Frisyam tau fikiran Shanum
"Bee kenapa kamu tidak membangunkan ku, aku harus menyiapkan penyambutan buat Mama Papa mu bee"
"Bagaimana bisa aku membangunkan orang pingsan" Jahil frisyam
Seketika wajah Shanum bersemu memerah malu dengan ucapannya sendiri
"Aku harus memasak untuk menyambut mama papa" ujar shanum hendak beranjak namun Frisyam menahannya
"Tidak perlu Sayang kamu masih lemah"
"Tapi aku ingin membuat kesan pertama bee" kekeh Shanum
"Melihatmu saja mama Sama Papa sudah bahagia sayang" ucap Frisyam
"Mana ada? "
Shanum berfikir bagaimana bisa kedua orang tua Frisyam sebahagia itu sedangkan mereka tidak perna Bertemu. logikanya
"Frisyam I'm coming " Terdengar suara Marlina menggema memasuki mansion
"Mama bisa tidak cerewet? " Tegur Papa Ardan
"Apa sih pa inikan rumah Kita suka suka mama dong"
"Terserah mama, Papa kebelet mau ke kamar mandi dulu" terah Ardan meninggalkan Marlina
"Bi' di mana anak bujang lapuk itu? " Tanya Marlina membuat pembantu Frisyam menahan tawa
"Di kamarnya nyonya"
Dengan langkah kaki lebar Marlina menaiki tangga menyelonong memasuki kamar putranya namun betapa terkejutnya melihat seorang wanita di bawah kungkungan putranya
"Frisyam" Teriaknya membuat kedua manusia itu terperanjak kaget
"Oh jadi ini kelakuan kamu, itu sebabnya kamu tidak ingin menikah karna kamu menyimpan wanita di rumah" Marah Marlina ia terus memukuli putranya tanpa memperhatikan wanita tersebut
__ADS_1
"Mom sakit" Rengek Frisyam yang telah tersungkur ke lantai
Tentu saja Shanum merasa kasihan melihat kekasihnya di pukuli ia hendak melerai
"Ma.. Tan.. Ny o.. " Gugup shanum ia tidak tau harus memanggil apa mama Frisyam
"Bu' ibu salah paham" Ujar Shanum kemudian ia mencoba menghalangi mama Frisyam
"Kamu jangan ikut campur, ini---" Ucapan Marlina terpotong tatkala melihat wajah wanita itu
"Sha... Shan.." Marlina membulatkan matanya, mulutnya mengangah lebar
"Ya? " Bingun shanum melihat eksperi mama Frisyam yang telah menghentikan aksinya namun seketika emosinya kembali meluap
"Frisyam apa kamu sudah gila? kamu menculik dan menyimpan istri orang"
"Apa?" Kini shanum yang menjadi kaget sekaligus bingung
"Mom sudah, mom salah paham" potong Frisyam yang tidak ingin ibunya berkata lebih ia takut Shanum akan kembali mengingat memory lamanya dan kembali kehilangan kesadaran
"Ta tapi " ucap Marlina gugup
"Ada apa ini? " tanya Ardan yang tiba tiba datang
"Pa dia" Marlina dengan cepat menghampiri suaminya
"Kenapa ma, dia calon mantu kita" Terah Papa Ardan
"Bukannya dia---" Dengan cepat Ardan memotong ucapan Marlina
"Sudah nanti Papa jelaskan, kamu capek bukan ayo kita istirahat" Balas Ardan kemudian menarik tangan istrinya
Shanum menghela nafas berat ia benar benar gugup apalagi sikap mama Frisyam yang aneh membuatnya merasa tidak nyaman
"Jangan di pikirkan mama memang seperti itu"
"Ini salah kamu bee, kenapa kamu tadi mengungkungku" Shanum mengerucutkan bibirnya
Shanum hanya terdiam jika ia terus membantah maka frisyam akan langsung menyosornya
"Kenapa kamu diam Sayang? "
"Nggak apa apa"
"Kamu mau di cium lagi"
"Bee apa apaan sih, membantah salah diam salah, bee suka sekali menyosor"
"Kenapa kamu nggak suka jika aku cium kamu? "
"Bukan gitu bee" Shanum menghembuskan nafasnya pelang percuma berdebat dengan pria posesif seperti Frisyam
"Baiklah tapi kamu harus istirahat karna sebentar malam Kita akan makan malam dengan mama papa"
"Aku ingin menemui Papa mama dulu" lanjut Frisyam sambil mencium pucuk kepala Shanum
"Tunggu bee"
"Ya?"
"Apa maksud mama tadi, kenapa mama bilang kamu nyulik istri orang? "
"Nggak, mama itu suka asal bicara" Ucap Frisyam di balas anggukan kecil oleh Shanum kemudian ia meninggalkan kamarnya
Frisyam hendak memasuki kamar orang tuanya namun di balik pintu terdengar perdebatan keduanya
"Pa bukannya dia Shanum mantan menantu Kita?"
"Iya ma dan dia akan menjadi menantu kita lagi"
__ADS_1
"Tapi bagaimana dia berada di sini? Bukan kah dia menikah dengan hamson, apa jangan jangan anak kita benar benar menculik istri sahabatnya? " Celetuk Marlina
"Anak kita tidak segila itu ma"
"Aku masih waras mom" ucap Frisyam menyelonong masuk
"Lalu apa, kamu mau mengelak apa?"
Frisyam menghela nafas kasar "Dad, Apa dedy tidak menceritakannya? " Tanya Frisyam sambil menatap sang ayah
"Bagaimana aku mau menceritakannya sedangkan mama mu tidak memberi cela sedikit pun buat Papa bicara" terah Ardan
"Memangnya ada apa ini? " Bingung Marlina
"Makanya kamu diam dulu biar papa jelaskan" seru Ardan
"Tidak... Aku tidak ingin Papa yang menjelaskannya tapi mama ingin Frisyam" terah Marlina
"Baiklah ma syam yang akan menjelaskannya" Ucap Frisyam sambil mengenggam tangan ibunya
Frisyam akhirnya menceritakan perihal Shanum dan Hamson membuat Marlina menangis
"Dan sekarang Frisyam berencana menikahinya lagi, apa mama setuju, Syam butuh restu mama"
"Bagaimana mungkin mama tidak merestui kalian, mama tidak ingin putra mama yang sudah lapuk ini menjadi gila" Ucap Marlina terisak
Ardan menggeleng melihat istrinya yang masih sempat sempatnya bercanda meskipun menangis
"Jadi apa rencana mu nak" lanjut Marlina lagi
"Sudah mah itu kita bahas sebentar saja saat makan malam" potong Ardan
"Iya pah"
Makan malam telah tiba, semuanya telah berkumpul di meja Makan. Grogi itulah yang Shanum rasakan
"Jadi kapan kalian akan menikah" Ucap tiba tiba Marlina membuat Shanum tersedak
"Pelan pelan sayang" Frisyam menyodorkan air putih yang di sambut baik oleh Shanum
"Minggu depan" Frisyam membalas ucapan ibunya membuat Shanum kembali tersedak
"Kenapa kamu suka sekali tersedak? " tanya Frisyam
"Tidak Apa apa bee"
"Baiklah pernikahan akan terjadi minggu depan jika Shanum setuju" terah Marlina
"Bagaimana Shanum apa kamu ingin menikah dengan anakku, apa kamu mencintainya? "
"Iya aku mencintai mas Frisyam bu" Balas Shanum
"Jangan panggil Ibu panggil mama saja" Terah Marlina
"iya ma"
"Baiklah pernikahan akan terjadi minggu depan" ucap Marlina dengan senyum mengembang
Sedangkan Ardan merasa sangat bahagia bagaimana tidak ia tidak menyangka putranya akan kembali menikah dengan wanita pilihan pertamanya
*Sudah Ku katakan dia yang terbaik untuk mu nak* batin Ardan
*Jelas aku merestui kalian Shanum adalah wanita tangguh dan menantu ferfeck* Batin Marlina
*Tinggal satu minggu lagi kamu akan menjadi milikku selamanya* Frisyam
*Bukan kah ini terlalu terburu buru* Fikir shanum namun tak Bisa ia pungkiri dirinya juga bahagia
Bersambung..
__ADS_1
Beri like, hadiah atau support komen 😚