
-PROLOG-
" Huh...Huh...Huh... Sial mereka tidak ada habisnya!... Eh! "
A-Apa yang barusan kukatakan?
Mulutku mengatakan sesuatu yang bahkan tidak ingin kuucapkan. Seolah mulutku berbicara sendiri tanpa sempat dikontrol oleh otakku.
Apakah aku sedang berkhayal? Aku tidak ingat sedang mabuk atau sebagainya.
Lantas, apa yang kumaksud tak habis?
Di tengah kebingungan, aku kembali dibuat tercengang akan apa yang kulihat di depanku.
" Eh, bukankah itu mayat? "
Aku melihat banyak sekali mayat yang bergelimpangan menimbulkan sungai darah di bawahnya.
Seolah semua inderaku satu persatu kembali hidup, kini aku mencium bau anyir dari darah dan organ tubuh yang begitu menyengat.
Indera perabaku tidak mau kalah, aku kini merasakan benda keras tengah berada digenggamanku.
Pedang?
Pedang berlumuran darah berada dalam gengaman tangan kananku. Pedang ini tampak sangat rusak bahkan kemungkinan bisa patah kapan saja.
Kenapa aku memegang pedang?
" A-Apakah aku yang membunuh mereka? "
Logika mulai mengalir dikepalaku seiring berjalannya waktu.
" T-Tidak-tidak. Ini tidak mungkin! "
Ketakutan. Aku membuang pedang berlumur darah ini.
Terhenyak oleh rasa terkejut, aku terjatuh ke belakang menimpa sesuatu yang keras.
Tanganku gemetar saat mencoba meraba benda di bawahku.
Ini dingin dan kenyal. Perlahan aku menengok ke bawah.
" Verdammt!( sial! )"
Sebuah besi yang telah koyak memperlihatkan beberapa daging serta darah merembes keluar, kini tepat di bawahku.
Aku bergegas mencoba bangkit kembali dan berdiri.
" Haha kau pasti bercanda! "
Di sekelilingku tidak ada tempat yang tidak ada gunungan mayat. Hanya pijakankulah satu-satunya tanah yang tidak ada mayat walupun genangan darah tetap ada disitu.
" Ouch "
Indera perasa sakit menjadi yang terakhir kembali hidup saat ini. Tubuhku terasa sakit dan berat. Tidak mampu menahan bobot tubuhku sendiri karena rasa sakit ini, akupun jatuh berlutut.
Suara percikan dari benturan genangan darah dengan tubuhku dan dentingan besi dari pergesekan baju besiku mengikuti gerakan berlututku.
Kebingungan sudah pasti memuncak saat ini.
Apa yang sebenarnya terjadi?!
Walaupun logika serta otakku berusaha mencerna akan apa yang sebenarnya terjadi ini, namun ini terlalu banyak.
Pandangan sayuku menyapu sekitar.
Tapi yang kulihat hanyalah lautan mayat bergelimpangan bersimbah darah. Lebih jauh pandanganku tertutupi oleh kabut tebal yang ada disekitar sini.
Apakah aku ada di tengah medan perang?
Mengingat banyaknya mayat di sekitar kemungkinan besar memang begitu. Namun, bukankah pakaian mereka itu seperti pakaian zirah ksatria pada zaman dahulu? Aku pernah melihat pakaian itu di museum dan film-film.
Memangnya masih ada pasukan yang menggunakan pakaian seperti itu?
" Tenang! Tenanglah! Ini tidak nyata, ini pasti hanyalah mimpi atau halusinasi!!"
__ADS_1
Walaupun tahu rasa sakit yang di alami tubuhku ini adalah nyata, namun aku terus berusaha menyangkal bahwa ini bukanlah kenyataan.
"Benar! I-Ini pasti karna aku terlalu lelah akibat over-training yang kulakukan akhir-akhir ini! Aku pasti berhalusinasi... Ha-ha-..."
" G-len! "
Huh?
Apakah seseorang sedang memanggilku? Suaranya dari belakang. Tapi aku terlalu lelah untuk berbalik.
" G-len? " Suara itu kembali memanggil namun lebih lemah dari sebelumnya.
Memaksakan tubuhku aku berbalik untuk melihat siapa yang sedari tadi memanggilku.
Namun apa yang kulihat?
Aku melihat sebuah hal yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Tepat di depanku ada seseorang yang hanya biasa digambarkan dengan dua kata " Sangat Cantik".
Belum pernah Aku lihat wanita secantik itu.
Rambutnya putih keperakan tergerai dan sebagian diikat kepang ke belakang.
Dia memakai baju besi bermotif indah namun sebagian telah compang camping serta berlumuran darah.
Matanya berwarna merah, semerah batu delima. Sebuah pedang yang telah patah dia pegang dengan dua tangan menancap ke tanah.
Apa yang dilakukan seorang gadis di tengah-tengah lautan mayat seperti ini?!
Apakah dia seorang gadis sungguhan?
Tidak tunggu, pakaiannya itu... bukankah itu pakaian ksatria? Dia seorang Prajurit?
Kupandang lebih teliti bukankah di dadanya itu ada luka sabetan senjata yang mengoyak baju besi hingga ada darah segar terlihat menetes ke bawah.
Mungkin karna lukanya atau sebab lain dia kini dalam posisi berlutut dengan pedang patah itu dia gunakan sebagai penyangga agar tidak jatuh. Dia terlihat sangat kelelahan.
" Kau tidak apa? Bertahanlah sebentar lagi! aku akan mencari cara agar kita keluar dari sini! "
Sebagai balasan atas ucapanku, Dia tersenyum.
Air mata menetes dari matanya.
Kali ini tubuhku yang bergerak sendiri. Aku berusaha mengapai ke arahnya. Walaupun tubuhku bergerak sendiri, namun rasa sakit akibat gerakan ini dapat kurasakan.
Tidak dapat kuhentikan, kini aku berlutut di depannya. Tanganku bergerak menyeka air mata yang membasahi pipinya.
" Jangan menangis! "
Sesaat kemudian dia mengucapkan,
" Warum ist das passiert, als wir uns verstanden haben? Aber, ɪch werde auf dich warten, leute, diefur mich bestimmt weren, solange ich dich weiterhin begleite, auch wenn der tod vor uns sein wird"
( Kenapa ini terjadi saat kita sudah saling mengerti? Tapi, aku akan menunggumu wahai orang yang ditakdirkan untukku. Selamanya Aku akan terus menemanimu, bahkan jika kematian yang akan ada di depan kita. )
Mendengar hal itu, entah kenapa air mata juga menetes membasahi pipiku. Hatiku sakit. Aku merasa ketakutan yang teramat dalam.
Apakah aku takut mati? Ya. Tapi terlebih dari itu, kini aku lebih takut berpisah dengan wanita di depanku ini.
Sebenarnya siapa dia ini?
Di tengah perasaan itu, aku merasa seolah kata-kata itu adalah hujan yang menguyur tanah kering. Ya. Itu benar-benar menyejukan hatiku.
••
♪Wuuusss♪
Angin bertiup menghilangkan kabut secara perlahan.
••
Karna kabut telah perlahan memudar, sontak aku menengok ke sekitar.
Melihat apa yang ada di balik kabut ini adalah sesuatu yang tidak ingin kulihat.
__ADS_1
Aku ingin memejamkan mata dan berharap yang kulihat dapat berubah atau paling tidak aku tidak dapat melihat sesuatu seperti itu.
Namun, tetap saja itu tidaklah merubah keadaan saat ini.
Banyak. Tidak! Sangat banyak tubuh tergeletak bersimbah darah. Lebih dari dugaanku, mungkin ada ribuan mayat yang membuat tanah-tanah telah berwarna merah.
Saat Kabut telah benar-benar menghilang. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Di belakang wanita ini atau lebih tepatnya di depanku, sebuah barisan besar pasukan terhampar memanjang.
Kalau berdasarkan perhitungan kasarku, lebar pasukan itu sekitar 100m. Aku tidak bisa memastikan berapa jumlah pasukan di belakangnya, tapi kemungkinan itu terdiri dari ribuan prajurit.
Jadi, aku benar-benar dimedan perang kah?
Apa yang sebenarnya terja-...Haha Sialan!
Aku melihat ke langit untuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi, apa yang kulihat adalah apa yang tidak dapat kupercayai.
Kau pasti bercanda!
Langit di atas mereka terlihat hitam!
Mendung? Tidak- tidak! Itu panah! itu anak panah!!
Ribuan anak panah menukik di langit dan itu menuju ke arah kami.
Lari? Sial, tidak akan sempat!
Melihat pemandangan itu, aku secara terburu-buru mengambil sebuah perisai yang telah rusak kemudian menaruh perisai itu di belakang punggungku, lalu memeluk gadis yang berada di depanku berusaha melindunginya.
Hanya ini yang bisa kulakukan. Kakiku sudah tidak kuat lagi untuk berlari. Bahkan kalau bisa pun, dengan jangkauan dari banyak anak panah itu tetap saja akan mengenai kami bagaimanapun juga.
Walaupun aku kira ini adalah tindakan yang sia-sia. Karena dengan perisai yang telah rusak ini, pastilah ribuan anak panah tersebut akan tetap menembus perisai serta tubuhku dan melukai gadis yang sedang kupeluk.
Tapi kurasa dengan perisai dan tubuhku ini, pastilah anak panah itu dapat tertahan sehingga persentase keselamatan gadis ini akan meningkat.
Lagipula mati demi melindungi gadis secantik ini kurasa tidak buruk.
Di saat aku mendekap dirinya, seolah telah pasrah dia kemudian menyenderkan badannya ke dadaku.
Dia mengeliat di pelukanku, kemudian sedikit membuat jarak antara tubuhku dengan dirinya.
"Hei! Jangan! Nanti kau terkena panah itu!!"
Sebagai balasan dia hanya memandang ke wajahku dan kemudian berkata,
"ɪch ʟiebe dich und werde dich immer lieben. Danke. "
( Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Terima kasih. )
Dia tersenyum dengan tulus kepadaku, air mata menetes dari matanya.
Dia meraih wajahku dengan kedua tangan yang gemetar, kemudian dia menciumku.
Mataku membelak menghadapi moment ini.
Segera setelah anak panah mendekat dan hendak mengenaiku..
*Jleb... Jleb...*
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
"Duakk" Aku terjatuh dari ranjangku.