
Kami dihujani rentetan peluru tanpa henti dari depan!
Mendapat sergapan mendadak ini, kami tidak siap. Karena kami merupakan garda terdepan dari unit peleton kami, beberapa anggota kami terkena tembakan dan terjatuh bersimbah darah.
Melihat rekanku bertumbangan, aku tidak dapat berbuat banyak. Posisi kami benar-benar tidak menguntungkan, karena ini bukanlah posisi yang disepakati untuk kami serang.
" Serangan datang! Semua pasukan! Berlindung! Ulangi! Ada serangan! Berlindung! "
Aku mencoba memperingati unit di belakang kami dan memberikan perintah kepada unitku sendiri dengan radio komunikasi.
Unit paling depan benar-benar kacau.
Beberapa anggotaku yang mencoba menolong rekan mereka yang terkena tembakan malah ikut terkena tembakan. Sementara beberapa yang lain membalas menembak.
♪Brek♪
" Wakil komandan! Status! " Kapten Vince berbicara di radio.
" Serangan datang pada kami dari arah depan! Sepertinya menggunakan dua buah senapan mesin berat dan beberapa senapan serbu. Banyak orangku yang terluka! Kami berusaha bertahan sekarang! Unit Alfa meminta mundur! Ganti. "
" Negatif. Permintaan mundur tidak bisa dilakukan! Kita harus bertahan disini! Bagaimana dengan unit yang lain? Ganti! "
" Bravo sekarang sedang berhadapan dengan kurang lebih 10 orang. Tapi kami belum bisa memastikan! keadaan kurang menguntungkan untuk kami! Ganti! "
" Unit charlie mendapat serangan dari sayap kiri. Kami masih bisa menahan serangan musuh untuk saat ini. Ganti! "
" Unit Bravo dan Charlie jangan terlalu jauh! Mendekat 10 meter ke unit alfa. Unit Delta akan maju. Perintah kita adalah bertahan disini sembari menunggu keputusan dari markas! Mengerti! "
" Dimengerti! 3x "
♪Tut♪
Begitulah perintahnya. Kami harus bertahan di tengah rentetan hujan peluru. Sembari menyerang musuh sebisa mungkin.
Merangkak ke kanan, aku berusaha berlindung di balik pohon besar.
Mengintip dari sisi kanan pohon ini, aku mengarahkan dan membidik menggunakan teropong senjataku.
Kegelapan bukan penghalang bagiku karena aku kini menggunakan kacamata malam.
Lagipula senapan mesin berat itu juga pasti mudah ditemukan walaupun di tengah malam begini. Hal itu mengingat senapan mesin berat itu pasti menghasilkan percikan api di moncong senjatanya.
Benar saja. Jadi, disitu kalian keparat!
Aku berhasil menemukan lokasi penembak itu. Senapan mesin berat itu berada dijarak 30meter di arah jam 11 dari tempatku berada.
" Ternyata benar, posisi mesin itu terlindungi oleh sejenis gundukan parit. Pantas saja tembakan anak buahku tidak ada yang mengenainya. "
Mengubah pengaturan senjata menjadi semi-auto mengunakan jariku. Aku kemudian membidik dan menarik pelatuknya.
♪ Piu...Piu ♪
Tembakanku mengenai target dan membuat senjata itu berhenti sebentar sebelum orang lain mengantikannya dan membuat senjata itu menembak lagi.
Tembakan mereka lebih serampangan dari pada para penembak pertama. Mereka sepertinya berusaha mencariku. Namun, karena senjataku menggunakan peredam di moncongnya, posisiku tidak mudah ditemukan.
Mereka tidak belajar dari pengalaman rupanya. Aku kembali menarik pelatukku dan menumbangkan 2 orang yang menjalankan senjata itu lagi.
Sebenarnya tanpa kutumbangkan senjata itu juga seharusnya akan berhenti dengan sendirinya karena senjata itu sudah cukup panas dikarenakan sudah menembak terlalu lama.
Berhenti. Kali ini senjata itu telah benar-benar berhenti dan tidak digunakan lagi.
Kemudian sesuatu dilemparkan dari parit itu.
Tabir asap?
♪ Break ♪
" Waspada! Jarak 25 meter musuh menggunakan asap! "
Beberapa bayangan musuh muncul dari balik asap itu dan langsung bergerak ke arah pepohonan.
♪ Break ♪
" Jarak 25 meter. Arah jam 12 dari posisi kalian. 8 musuh menggunakan senapan serbu terkonfirmasi keluar dari asap dan terus bertambah! Tim Alfa bersiap untuk bertarung jarak dekat! "
" Roger! X7 "
Kami pun mulai baku tembak dengan beberapa orang yang mulai keluar dan menembak dari pepohonan.
♪ Break ♪
" Kerja bagus tim Alfa. Kami akan membantu! 60 menit lagi bantuan akan tiba. Bertahan! Ganti! "
Kapten berbicara di radio dan muncul dari arah belakang kami bersama 3 orang anggotanya.
Rupanya Kapten memisah dan membagi anggotanya untuk membantu juga di masing-masing sayap.
__ADS_1
Mendapat bantuan 4 orang anggota tim Delta, kami agak sedikit dapat bernafas kembali.
Baku tembak semakin intens terjadi di antara kami. Cukup lama baku tembak ini terjadi.
Meskipun aku dan timku telah menumbangkan lebih dari 20 orang, tapi tidak ada tanda-tanda musuh akan berkurang. Bahkan, mereka terus bertambah dan semakin kuat. Mereka terus keluar dari asap yang mana asap itu semakin mendekat.
Ini bahkan melebih perkiraan dari markas pusat. Ada apa ini sebenarnya?
Saat asap telah berjarak kurang dari 10 meter.
Segera aku menghampiri komandan.
" Ini aneh komandan! Mereka terus bertambah dan tidak ada habisnya! Apa yang harus kita lakukan? " Teriakku.
" Kita harus bertahan prajurit! Aku sudah meminta bantuan dari markas. Bantuan akan tiba dalam 50 menit! " Balasnya.
" 50menit? Anda bercanda?! Saat mereka sampai kita sudah dihabisi! Pasukan di depan itu berbeda dari pasukan sebelumnya! Operasi ini sudah gagal sepenuhnya. Meminta izin untuk mundur! "
Itu benar. Bahkan kita sudah sepenuhnya kalah jumlah sekarang.
Kapten Vince agaknya juga telah memikirkan ini. Dia termenung barang sebentar.
Bertepatan dengan apa yang barusan kuucapkan, seseorang yang menangani komunikasi dengan markas pusat menyela kami. Dia memberitahukan bahwa ini sudah bukan pertempuran melawan pemberontak lagi dan kita diperintahkan untuk mundur sesegera mungkin ke parimeter aman.
Mendapatkan perintah itu, Kapten Vince tanpa menunggu waktu lama langsung berbicara ke semua orang yang masih hidup melalui radio.
" Kepada semua regu! Kita mundur perlahan. Kekuatan musuh diluar informasi kita! Sekali lagi. Perintah mundur dari markas! "
Perintah mundur diucapkan komandan.
Kamipun mulai mundur perlahan sembari tetap melakukan baku tembak.
Anehnya mereka tidak mengejar. Malah, mereka seperti bergerak mundur kembali masuk ke dalam asap mereka.
" Mereka mundur? "
Sontak kami menghentikan tembakan dan laju kami.
♪ Srrr ♪
Aku mendengar sesuatu berdesis seolah ada udara telah bergesekan dengan sesuatu.
♪ Jduar.. Jduarr.. Jduarr.. ♪
Kupingku berdengung, tubuhku terlempar. Aku tidak mengetahui apapun lagi setelah bunyi ledakan-ledakan itu.
•
•
" Eghhh.."
Secara perlahan aku membuka mataku yang terasa berat. Perih. Begitu banyak debu yang masuk ke mataku menbuat mataku perih karena kacamata sudah terlempar entah kemana beserta helmku.
Meraih air minum dipinggangku aku menggunakannya untuk membasuh mataku dengan tergesa.
Keadaan begitu samar dan perlahan mulai jelas.
Ugh. Kenapa mereka mempunyai Artileri? Aku tidak ingat pihak kami akan menggunakan artileri di wilayah sini. Jadi, kenapa para pemberontak itu memiliki artileri.
Ah.
" Tim Alfa? Delta? Siapa saja? Sialll! "
Aku membuang radioku ke tanah. Radio itu telah rusak dan tidak berfungsi lagi.
Beruntung karna senjataku memiliki tali yang terhubung denganku, senjata ini tidak terlempar jauh dan tidak terlalu mengalami kerusakan.
Aku mencoba mencari seseorang di dekat sini. Namun kepulan asap telah menghalangi sinar matahari pagi dan hanya ada suasana penuh debu disini.
" Siapa saja? Ah. "
Aku menginjak sesuatu dibawahku. Jongkok aku membalikkan tubuhnya dan membersihkan wajah yang penuh debu.
" Komandan? "
Terbujur kaku komandan mendapatkan luka yang sangat parah.
Tidak mungkin untuk membawa jasad ini kembali ke kamp sekarang. Jarak kami terlampau jauh.
Aku mengambil apa yang tersisa dari dirinya. Kalung pengenal serta 2 klip amunisi serta 1 buah granat. Senjatanya sudah tidak dapat dipakai, namun amunisinya masih utuh.
Aku kembali berjalan ke sekitar dan mendapati 3 mayat lagi. Kali ini aku mendapatkan helm, 1 senjata jenis sub-machine, 3 pistol yang masih berfungsi, 6 klip megazin serta beberapa obat.
Dua senjata aku sampirkan ke punggungku. Semantara 3 pistol aku taruh di atas celana. Serta 4 klip megazine yang aku kantongi.
Berjalan perlahan kembali aku menemukan beberapa orangku yang masih hidup. Kami total ada 4 orang.
__ADS_1
" Jadi cuma kita yang berhasil selamat? "
" Tidak tahu wakil komandan. Mungkin masih ada beberapa yang terpisah. Apakah kita perlu untuk mencari mereka? "
" Negatif. Kita sudah terlalu lama disini semenjak bombardir itu dilakukan. Kita harus mundur sekarang. "
" Roger. "
♪ Dor..Dor ♪
Dan apa yang kutakutkan terjadi. Beberapa rentetan tembakan kudengar dari berbagai arah.
Mungkinkah itu tim penyapu musuh? Sudah pasti lawan kita sudah bukan pemberontak lagi.
Kami berusaha berjalan dengan mengendap-endap. Namun pada akhirnya kami ternyata terkepung juga. Padahal kami sudah berada agak jauh dari lokasi itu.
Kami tidak mungkin selamat jika begini terus. Tidak memiliki banyak pilihan. Pilihan kami hanyalah menembus barisan musuh yang berada di arah kami hendak mundur. Sebagai pemimpin mereka aku mengutarakan pilihan ini. Mereka setuju.
" Kemuliaan untuk kesatria! " Salah satu anak buahku mengengam tangannya dan mengarahkan ke depan dan memandangku.
Benar. Tidak ada jalan lagi.
" Kemuliaan untuk ksatria! " Aku meneriakkan dengan lantang sembari mengepalkan tanganku ke depan.
" Kemenangan untuk negara! 3x."
Ketiga orang lainnya membalas kepalan tanganku dengan mantap sebagaimana tekad kami berempat.
Aku kemudian mengambil granat dipinggangku, menarik pinya kemudian melemparkannya ke kanan jauh. Setelah itu mengambil lagi untuk ku lempar ke arah kiri.
♪ Jduarr.. Jduarr ♪
Menunggu sekitar 30 detik setelah bunyi ledakan itu kami mulai berlari ke depan.
Tidak perlu waktu lama aku langsung bertemu dengan musuh. Meskipun sudah banyak musuh yang teralihkan ke arah kanan dan kiri. Namun disisi lain, ditengah masih banyak musuh yang bertahan. Baku tembak terjadi diantara kami. Keadaan samar dengan banyaknya debu di sekitar, namun bidikanku selama ini tidak pernah meleset.
Aku berada di depan sementara ketiga anak buahku menjaga setiap sisi. Kehabisan amunisi aku langsung mengisi ulang dengan amunisi yang ada. Tidak ada waktu untuk disia-siakan aku terus menembak setiap musuh yang terlihat.
Tidak ada habisnya. Aku terus menerus kedatangan musuh dari berbagai arah yang membuat langkah kami semakin melambat.
" Ugh "
Beberapa peluru nyasar menyerempet bahu dan pahaku, membuat rasa panas disana.
Tapi aku masih dapat bergerak. Menembakan setiap peluru yang ada, aku bahkan tidak menghitung sudah berapa banyak orang yang terkena peluruku ini. Tapi yang pasti, setiap musuh yang terlihat dijalurku pasti tidak luput dari terjangan peluru.
Peluru senjata laras panjangku sudah kehabisan peluru. Menganti senjata menggunakan senjata mesin ringan aku kembali menembaki musuh yang muncul dan terus maju hingga senjata inipun juga habis pelurunya. Luka sudah mulai memenuhi tubuhku. Tapi bukan luka yang terlalu serius hingga aku tidak bisa berjalan.
" Bagaimana keadaan amunisi kalian? "
Aku mencoba bertanya kepada orang-orang di belakangku, namun tidak ada satupun jawaban.
Aku menengok ke belakang dan mendapati di belakangku tidak ada siapa-siapa lagi.
Aku bahkan tidak mengetahui sudah berapa lama.
Dengan napas yang terengah-engah dan terasa berat, aku membuang senapan, kemudian aku beralih menggunakan pistol. 5 pistol dengan 75 peluru. Aku tidak boleh menyia-nyiakan ini.
sebenarnya kakiku terasa tidak kuat lagi untuk berlari. Luka di kakiku sudah mulai terasa sakit. Ini benar-benar keadaan yang buruk.
" Sial. Matiiii kaliaann.."
•
« Waktu untuk bantuan datang : 0 »
•
Awan debu telah menghilang. Kini langit telah kembali cerah.
Setelah kehabisan tenaga, terengah-engah aku hanya menaruh tangan ke belakang kepala menandakan telah menyerah.
Di hadapan banyak orang. Aku tidak ingin melakukan gerakan yang mencurigakan terlebih dengan tubuh yang tertutupi debu dan darah seperti ini.
" Sebutkan nama dan kesatuanmu, prajurit! "
Salah satu orang menghampiri diriku sementara orang-orang lain menodongkan senjata kepadaku.
" Glen Allsbert. Regu Alfa zero. Wakil komandan divisi peleton ke -8. " Ucapku lirih tak bertenaga.
Pandanganku semakin samar dengan banyaknya darah yang mengalir keluar dari tubuhku.
" Turunkan senjata kalian! Bawakan unit medis secepatnya! " Orang di depanku memberi perintah kepada pasukannya.
" Kau sekarang aman prajurit! "
Aku menurunkan tanganku yang mana kemudian bergetar tanpa henti. Pandangaku sayu kemudian samar dan aku tidak sadarkan diri.
__ADS_1