
" Bocah. Tidak bisakah kau menunggu sebentar? "
Menggunakan pedang panjangnya dia menghentikan seranganku.
Menggunakan tangan kiriku, aku hendak memukulnya dikepala. Namun itu juga dapat ditangkis.
Dilain sisi. Kini rekan-rekannya mulai jatuh terkena serangan anak panah dari sudut yang tidak diketahui.
Anak panah itu, aku sangat yakin jika itu adalah milik Theo.
" Guh "
Dia menendangku lagi tepat di perutku, membuatku terlempar ke belakang.
Saat aku terlempar, aku melihat anak panah melesat dari belakang pemimpin penjahat mengarah ke dirinya.
Seolah dapat melihat apa yang ada di belakang tubuhnya, pemimpin penjahat itu berbalik dan segera menahan serangan anak panah dengan pedangnya.
(Bukk)
Aku terjatuh di tanah kemudian terbatuk-batuk.
Sesak nafas kurasakan akibat tendangan dari orang itu. Walau baju besi telah kupakai tapi dampak yang dihasilkan tetap saja ada.
Setelah agak mereda, aku bangkit.
" Sial. Seranganku tidak berhasil. "
Mengetahui, bahwa serangan panah tidak datang lagi kepadanya dia beralih kembali melihat ke arahku.
" Jadi kau masih bisa berdiri, bocah. Kuakui, kau memang bocah yang kuat. "
" Kenapa kau bisa mengetahui seranganku?! Bahkan tadi kau dapat mengetahui anak panah yang di arahkan kepadamu dari belakang?! Apakah itu sihir? "
Aku tahu ini adalah pertanyaan bodoh. Tapi aku kini sudah putus-asa.
Tenagaku sudah hampir benar-benar habis karena banyaknya luka yang ku derita.
Mungkin jika itu hanya untuk menahan mereka selama beberapa saat aku masih bisa. Tapi, untuk mengalahkan mereka aku tidak yakin, terlebih kekuatan orang ini jelas jauh dariku.
" Sihir? Apakah aku terlihat sebagai seorang magic caster bagimu? Hahaha Kau seharusnya tidak perlu untuk melawanku yang mana kemampuannya bahkan tidak kau ketahui. Mungkin kau memiliki bakat untuk bertarung, tapi kau terlalu ceroboh dan kurang pengalaman. Masih terlalu cepat beberapa tahun untukmu mengalahkanku, bocah. Biar kuberitahu satu hal untuk dirimu yang masih dapat bertahan saat sedang menghadapi kami sebagai hadiah. Di hadapan kemampuan 「 Pendeteksi kehadiran 」 milikku, semua seranganmu tidak akan bisa menjangkau diriku. Menyerah saja dan terima kematianmu! "
Aku tahu itu. Rencanaku memang kurang matang akibat informasi yang kurang dan disusun terburu-buru. Tapi di satu sisi aku juga tidak mempunyai waktu untuk dapat mempersiapkannya dengan lebih matang lagi.
Aku bahkan sangat bersyukur rencanaku bisa berjalan setengahnya walaupun akhirnya berakhir dengan kegagalan seperti ini.
Rencana nekat dan ceroboh? Tidak. Bagiku ini semua sudah cukup.
" Hahaha... Menyerah katamu? Apa bedanya jika aku menyerah dan tidak menyerah jika hasilnya adalah kematian itu sendiri?! Jangan bercanda! Aku akan membunuhmu sebelum kau sempat membunuhku dasar orang sinting! "
" Begitu ya. Kesimpulanmu memang benar. Maka dari itu, berputus-asalah lebih lama lagi, nak! 「 Peningkatan kecepatan 」「 Peningkatan kekuatan 」「 Teleportesen 」 "
Aku melihat tubuh dari orang itu bersinar sesaat saat mengucapkan 2 kata itu.
Cahayanya berwarna merah dan kuning.
Apakah itu mantra sihir?
Tubuh orang itu terlihat membesar sedikit dan menghilang setelah mengucapkan kata yang terakhir.
Merasakan suatu aura membunuh dari kiriku, aku mengarahkan pedangku ke samping kiri, menahannya dengan kedua tangan.
Tidak ada jeda waktu, aku langsung merasa pedang ini mendapatkan pukulan yang amat keras. Aku berusaha menahan pijakanku agar tidak terdorong.
Tapi kekuatan yang diberikan oleh ayunan pedang terlalu besar, aku akhirnya terpental jauh menghantam rumah.
Kekuatan orang itu bahkan lebih kuat daripada sebelumnya.
Apakah dia monster? Tidak, itu pasti berhubungan dengan sesuatu yang diucapkannya tadi.
Tubuhku terasa sangat berat dan sakit terutama di bagian kiri tempat dimana aku menahan pedang dan membentur dinding.
Tidak membiarkanku, dia datang dan menendang perutku disaat aku masih terengah-engah di tanah.
" Bangun!! "
Tendangannya membuatku terdorong ke belakang.
" Uhuk-uhuk. "
Aku kesulitan bernafas.
" Aku bilang bangun! "
Dia kembali datang dan menendangku tanpa rasa ampun.
" Ugh Uhuk... uhuk-uhuk..."
Dengan sisa kekuatan yang ada, aku bangun meski dengan badan bergetar.
__ADS_1
Aku mengarahkan pedangku ke arahnya dengan tangan gemetaran.
Ini bukan berarti aku takut terhadap dia. Hanya saja ini adalah tanda bahwa tubuhku telah mencapai batasnya.
" Bagus. Terus seperti itu! Kau cukup menghiburku, nak. "
Dia mulai melangkah maju dan mengibaskan pedangnya mengarah ke padangku.
Pegangan pedangku terlalu lemah, pedang itu terlempar ke udara.
" Apa yang sebenarnya kau gumamkan dari tadi? Kau mencoba berdoa ?! Percuma saj- "
" 「... Kemurkaan Tanaman 」"
Sebuah lingkaran sihir muncul di bawah kami dan dengan cepat mengeluarkan sulur tanaman yang mengikat tubuh dari lawanku ini. Namun ini sangat lemah yang bahkan itu hanya mengikat tubuhnya sampai perut saja.
" Perlawanan terakhir? Tapi apa yang akan kau lakukan dengan tanaman ini? Kau ingin mengikatku sampai mati? Atau kau ingin menggunakan senjata untuk menyerangku, saat aku tengah terikat? Percuma saja. Sihirmu ini sangat lemah hingga aku dapat lepas sesegera mungkin. "
Dia benar. Rencana terakhirku adalah mengikat lalu menyerangnya dengan pedang. Namun, bukan hanya pedangku yang kini terlempar entah kemana, mantra yang seharusnya bisa mengikat tubuhnya sekarang hanya bisa mengikat separuh tubuhnya saja. Rencanaku telah gagal lagi.
"Aaaa lepaskan! Lepaskan aku! "
" Sekarang apa lag- "
Sebuah benda tiba-tiba menghantam si pemimpin penjahat di depanku ini, membuatnya terbang bersama benda itu sampai menjebol tembok rumah.
Aku menengok kiri untuk melihat siapa yang melemparkan benda itu. Ternyata itu adalah Archiles yang telah beregenerasi.
Bukan hanya itu, aku bahkan melihat para pemuda yang sebelumnya berlatih denganku kini muncul dan bertarung dengan prajurit yang ditugaskan untuk menjaga tawanan.
Mereka terlihat seimbang.
" Tuan. "
Archilles membawakan pedangku yang telah terlempar.
" Terima kasih. "
" Itu sakit sialan. "
Aku tidak dapat berkata-kata lagi setelah melihat pemimpin penjahat berjalan keluar dari rumah yang telah jebol. Penutup wajahnya terlepas dan terlihat darah mengalir dari mulutnya.
" Jadi kau masih hidup Orc! Akan kubunuh kau! "
Archilles berdiri di depanku dengan mengacungkan tombaknya.
Sebuah cahaya warna terus hilang dan muncul dari tubuhnya.
Aku merasakan firasat sangat buruk datang dari orang orang itu.
Saat dia sudah akan melangkah, tiba-tiba ada sebuah langkah kuda berlari mendekat dari arah pintu masuk desa yang membuatnya berhenti.
" Bos! Ini gawat! "
Orang yang berada diatas kuda itu langsung menghadap pemimpin penjahat.
" Ada apa? "
" Mereka datang!! ''
" Tentara mana? "
" Dari panji yang dibawa itu merupakan panji kerajaan dibawah raja! Kemungkinan itu tentara Putri Es! "
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Tapi kelihatannya ekspresi dari pemimpin penjahat itu terlihat berubah dalam sekejap menjadi cemas.
" Sial. Aku tidak menyangka mereka akan langsung menerjunkan pasukan khusus dibawah raja langsung. Seberapa jauh mereka dan berapa jumlahnya?"
" Mereka bergerak dengan sangat cepat. Kemungkinan mereka akan segera sampai disini. Pandangan kami terhalang asap, kami tidak dapat memastikannya. Tapi paling tidak itu lebih dari 50 orang. "
Wajah dari pemimpin penjahat yang sebelumnya bertarung denganku dengan percaya diri berubah menjadi semakin pucat.
" Tarik mundur pasukan!! Kita mundur total! "
Tanpa menghiraukan kami, dia panik dan segera memerintahkan penarikan pasukannya.
" Bos! Apa yang akan kita lakukan terhadap tawanan? "
Orang yang sebelumnya menyakiti Siena datang kepada pemimpin itu. Sepertinya dia berharap untuk tetap membawa Siena.
" Apa kau tidak dengar?! Kita mundur. Tinggalkan tawanan. Itu hanya akan memperlambat kita! "
" Tapi bos.. gyah"
Sebagai jawaban, dia mendapatkan tebasan dibadannya.
" Sudah kubilang tinggalkan. Cepat mundur! "
__ADS_1
Dia memerintahkan lagi.
Menuruti perintah yang diberikan secara serentak pasukan itu segera berlari menuju gerbang desa.
" Hah.. Hah.. kita selamat. "
Aku jatuh berlutut sembari terengah-engah.
•
Meskipun kini badanku masih sangat lelah dan terluka, aku masih punya beberapa tanggung jawab. Aku harus membantu mengobati mereka yang terluka dan mengumpulkan mayat-mayat yang ada.
" Tuan. Anda harus beristirahat! Anda sendiri sudah berkorban melindungi kami. Jangan memaksakan diri! "
Archilles menyuarakan kekuatirannya saat dia datang membawakan kembali tanaman obat setelah membantu mengumpulkan mayat-mayat yang ada.
" Kau sudah selesai mengumpulkan mereka? Bagus, taruh saja itu disini. "
" Tuan.. "
Mungkin dia khawatir dengan wajahku yang kian memucat saat ini.
Jujur. Saat ini aku memang tengah memaksakan diri.
Terduduk bersender di salah satu tembok rumah, aku terus menerus membuat obat dengan mantra pengobatan yang diajarkan Siena kemudian menaruh hasil mantra itu di dalam gelas meski tengah menderita pusing yang sangat hebat.
Mungkin pusing ini diakibatkan oleh apa yang dinamanakan Mana yang kian habis karena aku tidak henti-hentinya menggunakan mantra pengobatan atau malah karena aku sudah kehilangan banyak darah.
Meski pendarahanku entah bagaimana bisa berhenti karena aku meminum obat buatanku tadi, tetapi lukaku belum menutup dan masih terasa menyakitkan.
[[ Peringatan: Mana Anda telah habis. Penggunakan segala jenis mantra dan kemampuan tidak dimungkinkan. ]]
Seperti yang dikatakannya. Meskipun aku mencoba untuk merapalkan mantra lagi, aku tidak mendapatkan apa-apa. Lingkaran sihir tidak muncul.
" Berapa lama sampai Manaku penuh? "
[[ Jawaban : Dua Hari ]]
" Maaf Tuan?''
" Ah. Maaf Archilles. Aku tadi hanya mengecek berapa mana yang tersisa. Ternyata sudah habis. Jadi, apa yang kau katakan tadi? Apakah obatnya cukup untuk semua orang? "
" Sebenarnya itu.. um.. Anda sudah berusaha dengan sangat keras Tuan. Tapi, untuk semua penduduk yang ada, sepertinya masih kurang. "
" Begitu ya. "
" Tapi kami sudah cukup memilah dan menggunakan obat anda sebijak mungkin. Kami hanya menggunakan obat yang anda berikan untuk mengobati orang yang terluka parah. Selebihnya, saya yakin mereka yang tidak saya sebutkan tadi tidak memiliki luka yang mengancam nyawa. "
" Bagaimana dengan Siena dan teman-teman nya?"
" Mereka sudah dibawa ke kamar mereka dan mendapatkan obat anda. Jadi, seharusnya mereka tidak apa-apa sekarang. "
" Begitu. Terima kasih. Kalau begitu, aku akan beristirahat sekarang. "
Tidak lama setelah itu, sebuah pasukan berkuda dengan jumlah besar datang memasuki desa.
Mereka memakai pelindung mencolok berwarna biru muda dan senjata lengkap.
Pedang ada dipinggang kiri mereka dan perisai dipunggung mereka. Pelindung besi mereka menutupi seluruh tubuh tak terkecuali kuda yang mereka pakai juga memiliki pelindung besi. Kuda itu besar dan terlihat kuat karena mampu membawa beban yang terhitung sangat berat itu.
Mereka berhenti ditengah-tengah desa tidak sampai mendekat kesini dalam formasi sejajar.
Salah satu penunggang mendekat ke arah kami yang berkumpul di depan rumah Fenrid di alun-alun desa.
" Siapa yang berwenang disini?! "
,
Orang itu berteriak kepada kami.
" S-Saya. "
Fenrid yang duduk karena kakinya terluka menyaut.
" Kau masih dapat berjalan? Segera bangun dan temui Putri! "
Fenrid mengangguk, kemudian perwakilan itu kembali ke barisan pasukan.
Fenrid yang dibopong oleh dua pemuda berjalan ke arah pasukan itu.
Dia berlutut bersama 2 orang lainnya, kemudian duduk karena tidak kuat untuk terus-menerus berlutut.
Dia berbicara dengan orang yang berdiri paling depan dan memiliki pakaian yang berbeda sendiri.
Aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi beberapa kali dia seperti menunjukku.
Tidak lama, pasukan itu kemudian berputar dan pergi meninggalkan beberapa orang pasukan tetap disini. Mungkin ada sekitar 10 orang.
Pasukan yang ditinggal itu segera datang kemari dan membantu orang-orang disini.
__ADS_1