Tentara Malaikat: Sisi Gelap

Tentara Malaikat: Sisi Gelap
Permohonan dari si Orc


__ADS_3

"Sial. Sakit sekali."


Rasa sakit memenuhi punggungku, terutama ditangan kiri serta daerah perutku.


Dengan terhuyung-huyung dan tertatih, aku berjalan pelan menuju Si Orc yang tersisa. Sekarang tubuh Orc itu sudah tidak menampakkan babak belur lagi. Regenerasi Orc benar-benar hebat. Aku berharap hal itu dapat juga kulakukan. Namun kutahu itu tidaklah mungkin.


''Jadi, apakah kau juga ingin bertarung denganku?''


Aku mengarahkan senjataku ke arah Orc terakhir ini.


Sialan. Tangan dan senjataku bergemetar. Aku terlalu lelah bahkan untuk mengangkat senjata ini. Kuharap dia tidak mengangap aku takut kepadanya.


''Ti-Tidak Tuan. Saya tidak berani melawan Anda!''


Ah. Syukurlah. Dengan begitu aku menurunkan senjataku.


''Bagus. Kalau begitu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?''


Aku berjalan ke arah pohon lalu bersandar dan duduk dibawah pohon itu.


''Angkat kepalamu!!''


Mengangkat kepalanya dari tanah, Orc itu menjawab,

__ADS_1


''Sa-saya tidak tahu Tuan. Jika saya kembali pasti saya akan mendapatkan masalah karena pulang sendirian. Selain itu saya ingin pergi ke dunia luar. Ta-Tapi saya tidak tau harus kemana dan bagaimana.''


Sepertinya dia masih ketakutan dan kebingungan disaat bersamaan. Terdiam, kurasa dia tengah berpikir saat ini.


"Terserahlah. Lakukan semaumu! Asal kau tidak mengangguku maka tidak masalah."


Menatapku dengan mantap dia kemudian berucap,


'' Saya ingin melayani Anda Tuan! "


" Hah? Apa yang kau katakan? Kau bilang mau melayaniku? "


'' Benar, Tuan. Saya telah melihat kekuatan luar biasa dari Tuanku. Selain itu saya tidak ingin kembali ke desa saya lagi. Saya ingin melihat berbagai hal di dunia dan belajar banyak hal sembari melayani Tuan.''


Jadi itu alasannya. Tapi pelayan kah? Aku tidak membutuhkan pelayan. Selain itu, sejauh ini aku bisa melakukan apapun sendiri. Terus buat apa mempunyai pelayan?


Sebaiknya aku pikirkan matang-matang sebelum menerima atau menolaknya.


''Tapi saat ini aku tidak membutuhkan pelayan. Aku tidak bisa menerimamu. lagipula aku tidak pernah punya pelayan sebelumnya. Jadi tidak usah."


" Tapi, Tuan... "


" Sudahlah! Aku capek. Gini aja, jika untuk menjadi teman seperjalanan sampai kau menemukan tempat yang ingin kau tinggali, maka tidak masalah. Bagaimana? "

__ADS_1


Saat aku mengatakan hal itu, dia terlihat kecewa. Tapi aku tidak memperdulikannya.


Aku lebih memilih untuk memikirkan tubuhku saat ini.


Luka memenuhi tubuhku lagi. Sakit. Sakit sekali. Seluruh tubuhku merasa perih dan sakit. Terutama aku kini mengalami pusing hebat yang menderaku. Denyut jantungku juga tidak mengalami penurunan. Sepertinya pendarahanku lumayan parah.


Aku melihat keadaan sekeliling dengan pandangan yang mulai kabur. Ada banyak lubang hantaman serta pepohonan yang roboh akibat hantaman palu si monster itu.


Pertarunganku rupanya lumayan mengerikan juga.


Dimana keempat Elf yang tertawan tadi?


Apakah mereka kabur saat aku tengah bertarung? Yah. Kurasa mereka akan baik-baik saja karna mereka sudah kabur. Tapi bukankah itu ada yang ketinggalan? Mereka meninggalkan teman mereka?


"Ah.."


Pandanganku sudah benar-benar kabur dan mataku sendiri terasa sangat berat.


Sial. Aku akan tamat lagi.


"Tuan? Tadi Anda bilang teman seperjalanan? Tapi, kemanakah Tuan akan pergi? "


"Aku berniat pergi...(Terkantuk-kantuk)..ke Tenggara...(memejamkan mata)"

__ADS_1


'' Tuan? Tuan? Bangun Tuan!"


Tanpa kusadari mataku memejam sendiri dan aku pingsan.


__ADS_2