
" Gl.. en? Bang..un! Hei... Bang..un-"
Mendapati seseorang yang mencubit pipiku, reflek aku memegang tangan itu dan menariknya. Mendapati bahwa tangan itu adalah milik Siena aku memutar tombak ditangan kiriku dan menangkap tubuh nya yang jatuh. Hampir saja aku menusuknya.
" Apa yang kau lakukan? Itu berbahaya! Bagaimana jika aku tadi menusukmu!!"
" A-Aku tidak sengaja. "
" Jangan lakukan hal itu lagi!"
"Ba.. Baik. Lalu, bisakah kau melepaskanku sekarang?"
Melepaskan tangan kiriku dari pinggangnya, aku melepaskan dekapanku.
" Bangunlah! " Perintahku kepadanya.
Bangun, dia sedikit merapikan pakaiannya.
" Jadi? Kau sudah mendapatkan apa yang kau cari? " Lanjutku.
" Sudah. Itu. Tidak banyak memang, tapi untuk saat ini, kurasa itu cukup."
Dia menunjuk kepada seikat tanaman berwarna hijau yang tergeletak ditanah.
" Segini cukup kah? Bukankah tanaman ini masih kecil-kecil? "
" Cukup. Ini kecil karena ini baru tumbuh setelah musim dingin beberapa hari yang lalu. Tapi justru pada musim inilah tanaman ini memiliki efek yang lebih bagus. "
Aku melihat dia mulai memetik daun-daun itu dan mulai mengerusnya dengan batu.
" Digerus? Mau kau buat apa itu? "
" Sebenarnya ini lebih bagus bila ada air. Tapi disini tidak ada air, jadi akan kugunakan ini langsung kepada luka mereka. Tanaman ini sangat baik untuk pengobatan."
" Begitu ya. "
Aku terus mengamati apa yang dilakukannya. Setelah selesai mengerus tanaman obat ini, dia lalu membalutkan tanaman yang telat halus itu diluka dari para Elf. Beberapa tetesan dari ekstrak tanaman itu juga dia minumkan ke dalam mulut mereka. Bukan hanya kepada para Elf, Siena juga melakukan hal yang sama kepada Archilles.
Merasa cukup mengamati cara Siena mengobati mereka, aku mencoba mengalihkan pandanganku. Aku melihat sisa dari tanaman obat yang tidak terpakai ditanah.
Disaat Siena masih sibuk mengobati mereka, aku mencoba mengambil sisa dari tanaman obat yang tidak dipakai. Penasaran, aku mencoba mencicipi tanaman ini.
" Ini tanaman obat. Harusnya bisa dimakan, bukan? Hm. Ini rasanya agak gurih, dan pedas tapi agak pahit juga. Ini mirip suatu bumbu rempah-rempah? Mirip rasa bawang? Tidak. kurasa bukan. Apa ya?"
__ADS_1
Aku terus mengunyah daun ini untuk menganalisis rasanya. Tapi yang jelas. Kurasa ini bisa dijadikan bumbu masakan. Aku bosan memakan daging tanpa rasa itu.
Merasa cukup untuk kegiatan analisisku. Aku menaruh kembali daun yang tersisa dan tidak jadi kumakan, lalu menghampiri Siena.
" Kau masih lama kan? Aku akan pergi mencari kayu bakar sebentar. "
" Apakah tidak apa? " Dia menengokku dan menghentikan kegiatannya.
" Tidak apa. Pusing ku sudah agak mereda setelah tidur sebentar tadi. Aku pergi dulu."
" Berhati-hatilah!"
" Ya-ya. "
Berkeliling sebentar, aku menemukan beberapa ranting kering dan dedauanan kering. Saat aku kembali, Suasana telah menjadi agak gelap.
" Maaf lama. Kau sudah selesai? "
" Sudah. Harusnya tanaman itu sudah meresap ke mereka sekarang. Perlu sedikit waktu hingga tanaman itu mulai bekerja. "
" Begitu kah? Kalau begitu kita memang harus sedikit lebih lama disini. Tapi, apakah tidak apa? Bukankah disini jalur dari para kobold itu? "
Aku mulai mempersiapkan untuk menyalakan api unggun.
" Seharusnya tidak apa. Kobold itu beraktivitas pada siang hari. Pada malam hari mereka cenderung jarang muncul. "
" Untuk membandingkan kobold dan serigala, itu jelas berbeda. "
" Yah kau benar. "
Cukup mudah untukku untuk menyalakan api. Begitu api menyala aku mengambil daging terbungkus daun dari barang bawaan kami.
" Daun ini benar-benar hebat. Tidak kusangka apa yang dikatakan Archilles itu benar.Tidak kusangka daun ini dapat membuat daging awet hingga seharian. "
Daun yang kumaksud adalah daun yang memiliki kemiripan dengan daun talas. Ini besar namun tidak seperti daun talas yang rapuh, ini lebih kuat dan wangi.
" Oh, daun yarpaq, ya? Itu memang bisa membuat makanan tahan lebih lama. Tanaman itu adalah tanaman yang bisa tahan dicuaca dingin juga. "
" Jadi ini Namanya yarpaq ? Aku juga dengar hal serupa dari Archiles. Namun aku tidak mengetahui tentang nama daun ini darinya. Lalu yang itu namanya apa? "
Aku menunjuk ke arah sisa dari tanaman obat.
" Ini tanaman bitkiləri. "
__ADS_1
" Bitkiləri? "
"Benar. Tanaman ini banyak tersebar dihutan ini. Bahkan kau bisa menyebut jika hutan ini adalah satu-satunya tempat tanaman itu tumbuh. "
" Ditempat lain tidak bisa kah? Lalu, apakah bisa dibudidayakan?"
" Aku juga tidak tahu. Itu hanya apa yang diberitahu teman-temanku yang terbaring disana. "
Dia menunjuk ke arah Elf yang masih pingsan.
" Walaupun itu tidak akurat, namun itu adalah informasi yang berguna. "
Mengambil sisa daun yang tidak terpakai. Aku memotongnya dan membuatnya halus. Melumuri pada daging yang telah kupotong dan kutusuk, hanya ini satu-satunya cara aku menggunakan bumbu yang baru kutahu ini.
" Kau akan apakan itu? Tanya siena kepadaku yang tengah melumuri tanaman bitkiləri halus ke daging yang telah siap dipanggang ini.
" Rasa dari daun ini agak gurih dan enak. Aku akan menggunakannya sebagai bumbu. Memangnya kamu belum pernah menggunakan seperti ini sebelumnya?"
" Belum. Biasanya tanaman ini langsung diekstra untuk dibuat potion."
" Potion? Apa itu? "
" Itu adalah ramuan yang diolah dari tanaman-tanaman seperti ini. Terkadang itu ditambahkan juga dengan sihir untuk memperkuat efek dari penyembuhan luka atau menyembuhkan stamina. "
"Begitu ya. Aku paham. Yah, mudah-mudahan saja caraku ini berhasil. Ini sudah kulumurkan. Bisakah kau panggang ini sendiri?"
Aku menggulurkan daging siap dipanggang kepadanya.
" Baiklah. "
Setelah daging ini setengah matang dan mulai berair. Aku menyuruhnya untuk mengoleskan kembali tanaman obat itu untuk membuatnya lebih meresap ke dalam daging itu. Aku juga melakukan hal serupa.
Setelah selesai satu dan dirasa telah matang, Kami menaruhnya diatas daun bekas aku menaruh daging tadi. Daun ini benar-benar serba guna dengan tidak adanya bekas darah atau bau amis diatasnya. Kurasa daun ini mampu menyerap semua itu.
Setelah beberapa lama, semua daging panggang telah selesai. Aku membuat 10 tusuk daging panggang berukuran sedang.
Ini tidak akan habis jika hanya aku dan Siena yang memakannya. Karena itulah aku bangun lalu menuju ke Archilles. Pelan aku memerintahkannya untuk bangun.
'' Bangun, Archilles! Waktunya makan!"
Merespon perintahku, Archilles membuka matanya dengan perlahan.
" Bangun! Waktunya makan!" Ulangku kepadanya yang tengah mengumpulkan kesadaran.
__ADS_1
'' Baik, Tuan."
Kami bertiga mulai makan daging panggang di depan api unggun. Sekilas aku melihat siluet mata hewan disekitar kegelapan.