
"Sudah bangun Tuan Putri." Sapaku kepada Siena yang baru bangun dan dalam posisi duduk diranjang.
Ini sudah hari keempat kami disini dan sudah menjadi rutinitasku untuk membawakan makanan kepada Siena yang bergadang untuk mengawasi kedua temannya yang tak kunjung sadar juga.
" Selamat pagi. "
Mata Siena terpejam seolah masih belum mau untuk bangun setelah dipaksa untuk terus-menerus begadang selama 3 hari ini.
Bukannya aku tidak mau menggantikannya berjaga pada malam hari, tapi aku sendiri juga dalam masa pemulihan. Jadi aku tidak bisa melakukannya.
" Makan apa hari ini? "
Pandangan Siena terarah kepada piring kayu yang kubawa.
" Ini bubur ikan. "
" Kok baunya seperti itu? Jangan-jangan kau pakai ikan busuk? Apakah itu benar-benar bisa dimakan? "
" Ikan busuk apanya? Ini bisa dimakan. Lagian ini ikan yang ditangkap Archilles pagi tadi, jadi ini masih segar. "
" Lalu bau yang agak menyengat ini datang dari mana? Kau kentut? "
" Bukan. Kau tahu kan, dua hari yang lalu aku pergi mencari tanaman. Ini tanaman baru yang kudapatkan. Jangan pikirkan baunya, bau ini tidak akan mempengaruhi rasanya. Lagipula bau ini akan hilang saat kau sudah memakannya kok. "
Ini aneh. Tapi ini benar-benar terjadi. Entah bagaimana bau menyengat ( yang agak seperti bawang putih ) dapat hilang saat dikunyah.
" Yaudah, siniin! "
Siena mengulurkan tangannya meminta piring yang kupegang.
" Tapi sebelum itu, kau harus cuci mukamu dahulu! Tidak bisakah kau membuka matamu untuk sejenak? Bahkan aku berfikir kau tengah mengigau untuk saat ini. "
" Tidak usah pedulikan aku. Aku terlalu lelah untuk berjalan. Setelah makan aku akan melanjutkan tidur. Kemarikan sini makanannya! "
Dia melambaikan tangannya sebagai bentuk penolakan dan kemudian menepuk kasur di depannya pelan seolah menyuruh untuk menaruh makanan itu didepannya.
" Huh. "
__ADS_1
Aku menghela nafas kemudian menaruh piring berisi makanan serta minuman ke atas meja yang menang disediakan disitu.
" Eh. Apa yang kau lakukan? "
..Dan mengendongnya.
" Katamu tadi kau lelah untuk berjalan? Akan kubawa kau kesana. Lagipula, bukankah sudah sering kuingatkan agar jangan makan diatas kasur? Bagaimana jika nanti akan ada semut yang naik ke atas kasur atau kasur itu menjadi kotor? Aku bahkan tidak yakin kau mau membersihkan noda itu! "
" Dingin!! Sekarang cuacanya sedang dingin! Aku tidak mau!! Lepaskan! Lepaskan aku! "
Siena meronta lemah dan merengek seperti anak kecil yang tidak mau mandi.
" Sekarang musim semi! Airnya tidak dingin! Jangan buat alasan. Diamlah! "
Aku mencengkeram tubuhnya sedikit keras yang mana itu mungkin membuatnya agak kesakitan.
" ..ouw.. Sakit.. sakit. Iya- aku menurutimu. Jadi hentikanlah! "
Dengan itu, aku mulai berjalan ke kamar mandi yang terletak dibawah.
" Oh. Nak Glen. Wah pagi-pagi sudah bermesraan ya. "
Dan siena? Dia malah tertidur lagi.
" Bukan-bukan. Saya hanya ingin mengantarkan dia untuk membasuh mukanya. Tapi sepertinya dia malah tertidur lagi. Huh. Sepertinya tidak jadi. Aku akan membawanya kembali ke kamar. "
Sekembalinya ke kamar aku menaruh Siena ke kasur secara pelan.
" Gadis ini. Dia terlalu memaksakan dirinya. "
•
Aku pergi dari kamar dan kembali membawa tumbukan daun obat.
Duduk dipinggir ranjang, aku mulai merapalkan mantra seperti yang dilakukan Siena setiap hari.
Seolah merespon akan mantra yang kupanjatkan, tanganku mulai bercahaya dan sebuah lingkaran yang memiliki sebuah motif aksara di dalamnya muncul tepat dibawah tanganku ini.
__ADS_1
Tak berselang lama, tanpa perlu untuk ku remas, aku merasakan ada air yang mulai mengalir ke bawah. Air itu mulai berkumpul di bawah tanganku tanpa satupun yang menetes seolah air itu seperti di atas daun talas namun dalam keadaan terbalik.
Perlahan, karena aliran di dalam gengamanku telah berhenti kurasakan disaat itu pula air di bawahku juga mulai jatuh ke bawah tepat menuju lingkaran yang kumaksud tadi.
Ketika air itu melewati lingkaran, warna air berubah dari sebelumnya berwarna hijau tua menjadi biru dan terus jatuh menuju dahi dari Siena yang kemudian terserap masuk.
Bercahaya sebentar, itu menandakan bahwa mantra obat ini berhasil terserap oleh si pasien.
Aku kurang paham akan cara kerjanya, tapi itulah yang dikatakan Siena jadi kurasa memang begitu.
Baiklah. Selesai sudah.
Sekarang, bagaimana dengan ini? Aku menatap bubur gandum ikan yang ada diatas meja. Aku tidak tahu kapan dia akan bangun. Tapi, makanan itu akan menjadi tidak enak lagi jika sudah dingin.
•
".. Makanan apa yang sebaiknya kubuatkan nanti? Menu ikan lagi apa ya? Aem..( mengunyah ) "
Sembari mengunyah makanan di depanku. Aku memikirkan makanan pengganti untuk siena nanti.
Akan merepotkan jika aku tidak memikirkan dan mengingat kembali bumbu apa saja yang diperlukan untuk membuat makanan itu.
Disini bumbu makanan benar-benar berbeda dari bumbu yang kukenal.
Yah, disini ada sih bumbu yang sama, yaitu garam dan gula. Tapi jumlahnya sangat sedikit. Bahkan menurut Fenrid, kedua bumbu itu memiliki harga yang mahal. Jadi membeli dalam jumlah besar tentu tidak mungkin, apalagi di desa pinggiran seperti ini.
Alternatif lain, tentu saja mengambil tumbuh-tumbuhan di dalam hutan yang memiliki rasa yang sama seperti rempah-rempah. Tapi itu, akan sangat beresiko bagi penduduk desa biasa untuk berkeliaran di dalam hutan yang penuh monster.
Yah, Itu tidak berlaku sih buatku. Monster yang kutemui dipinggiran desa relatif lemah walaupun tetap berbahaya. Jadi selama dua hari ini aku bersama ( memaksa ) beberapa pemuda untuk menemaniku mengumpulkan tanaman di dalam hutan. Dengan adanya mereka, jumlah tanaman yang dapat kukumpulkan menjadi semakin banyak.
kemudian sebuah ide muncul di kepalaku.
".. Mungkin aku buat boulettes poisson aja deh. Itu tidak terlalu memerlukan banyak bumbu juga. "
( Note: Boulettes de poisson, gampangnya bakso ikan goreng saus pedas. )
Nanti biar kusuruh Archilles buat cari ikan lagi, sementara aku akan mencari tanaman rempah lagi.
__ADS_1
Selesai makan aku segera pergi dari kamar untuk mengobati kedua Elf yang masih tak sadarkan diri sebelum pergi mencari tanaman di dalam hutan.