
Melihatku yang dapat mengalahkan kedua rekannya dengan mudah Orc yang memakai tombak tadi kaget dan tangannya tambah gemetaran.
Sementara Orc yang sombong tadi, dia memang terkejut akan kemenanganku. Tetapi, rasa marah dan kosombongan mengalahkan rasa keterkejutannya.
"Ghaaaaa"
''Bodoh."
Tanpa berpikir atau memang dia benar-benar bodoh, dia langsung menerjang ke arahku dengan kapak besarnya.
Dia mengayunkan kapak besarnya ke arahku secara miring dari kanan. Berusaha membelahku.
Menanggapi hal itu aku tidak hendak bergerak dari posisiku. Dengan percaya diri aku mencoba menahan ayunan kapaknya itu.
Ting
"Ughh"
Sialnya. Rupanya prediksiku salah. Kekuatan ayunan kapaknya benar benar kuat, pedangku hampir terpental. Bahkan tanganku terasa seperti kesemutan.
__ADS_1
Untung saja aku berhasil menahan serangannya. Sedikit kesalahan lagi dan tubuhku akan terpotong menjadi dua.
Menguatkan pijakan dan mendorong kapaknya, Aku mundur beberapa langkah berusaha menjaga jarak.
Aku Memperbaiki posisiku. Aku tidak akan meremehkan dia lagi. Aku mulai serius.
Tanpa menunggu dia menyerangku, aku berlari ke arahnya berinisiatif menyerangnya dengan kecepatan serta kelincahanku.
Mendapat serangan yang datang secara beruntun ke arahnya, dia kuwalahan.
Walau sempat ditangkis dengan kapaknya itu, namun dengan serangan beruntun yang tidak membiarkan jeda untuk Orc itu dapat menyerang balik, beberapa sabetan pedangku berhasilmengenai tubuhnya.
Setelah menerima luka sayatan yang memenuhi tubuhnya. Akhirnya dia tumbang juga dengan kepala yang berhasil kupisahkan.
Saat aku mulai melihat ke arahnya dan mengacungkan senjata kepadanya dia dengan cepat membuang senjatanya dan berlutut di depanku
Menyerah?
''Tu-Tuan saya mohon ampuni saya. S-Saya tidak ingin mati disini. S-Saya ingin melihat lebih jauh betapa luasnya dunia ini. Ja-jadi saya mohon belas kasihan Anda!''
__ADS_1
Dia memohon atas nyawanya dengan bersujud di hadapanku.
[ Auto-Battle Dinoaktifkan ]
[ Skill Learn Dinoaktifkan ]
Sebenarnya aku tidak ingin membunuh mereka jika mereka tidak menyerangku duluan. Aku hanya melakukan itu sebagai bentuk pertahanan diri saja. Tapi, bukankah ini saat yang tepat untuk mengorek sebuah informasi?
'' Baiklah. Aku akan mengampuni nyawamu. Tapi, sebagai imbalannya aku ingin kau membagikan informasi atas apa yang terjadi. Aku memiliki skill untuk mengetahui kebohongan. Jadi kuharap kau tidak bodoh untuk berharap bisa membohongiku.''
Aku mengatakan kebohongan tentang kemampuan tersebut untuk membohonginya.
Seseorang yang berada dibawah tekanan dan sedang ketakutan itu mudah untuk ditipu. Yah. itu hanya teori yang kubaca dibuku dulu sih. Namun, semoga saja dia percaya. Lagian mana punya aku skill hebat seperti itu.
Tapi aku tidaklah bodoh untuk mempercayai seekor monster yang baru kutemui, bisa jadi ini jebakan.
Aku ingin tahu bagaimana aku dapat keluar dari hutan sialan ini dan menemukan tempat pemukiman segera.
'' S-Saya tidak berani membohongi Anda. Baiklah, Tuan... Sebenarnya kami disini adalah anggota yang bertugas sebagai pemburu Elf sebelum serangan besar diadakan 2 bulan mendatang. Kami ditugaskan mengintai hutan ini dan memburu Elf yang berkeliaran serta yang bertugas berpatroli.'' Orc itu mengatakan semua itu, masih dengan posisi bersujud.
__ADS_1
Aku jadi merasa tidak enak kepadanya. Lalu bukankah dia terlalu berterus terang? Padahal Aku tidak ingin bertanya tentang hal itu.
Apakah itu tidak apa jika membagikan informasi sebuah penyerangan kepadaku? Atau dia berbohong kepadaku?